Let See The True Love

Let See The True Love
26.



Lama kedua saling menatap menelisik kedalam mata masing masing, namun Joy yang memutus tatapan nya terlebih dahulu tangan nya kini sudah berkeringat dalam genggaman Jhony. Tak begitu lama akhirnya Jhony melepas genggaman tangannya karena melihat Joy yang sudah memalingkan wajahnya, Jhony yakin sekarang ini gadis di hadapan nya pasti sedang gugup karena dirinya pun sangatlah gugup.


"Ayo kita kesana" mengalihkan suasana yang sudah canggung, Jhony menunjuk sebuah kursi taman yang ada di sana


"Hmm..iya" melangkahkan kaki nya mengikuti Jhony yang sudah berjalan di depannya


Lama mereka hanya duduk memandang matahari yang mulai kembali ke tempat peraduannya, menikmati pemandangan dari atas gedung yang cukup tinggi dan begitu indah. Semilir angin sore berhembus menerpa helaian rambut Joy yang terurai, saat Jhony melihat nya dia pun merapihkan nya dengan jari tangannya membawa helaian rambut ke belakang telinga Joy. Joy yang mendapati perhatian Jhony yang manis kembali berdebar, sungguh laki laki yang di samping nya ini sangatlah perhatian 'bagaimana bisa aku menolak nya jika dia tetap begitu manis kepadaku' Joy membatin.


"Aku sangat suka tempat ini, karena di sini aku bisa menenangkan pikiran apalagi saat mengingat papa" mengalihkan pandangan nya ke depan tampak membayangkan sesuatu, Jhony tampak sedih mengingat ayahnya


"Kalau boleh tahu, papa kak Jhony dimana?" merasa ragu untuk bertanya, namun Joy juga tak bisa hanya diam dia jiga ingin mengetahui hal yang lebih pribadi lagi dari Jhony. Karena dia sudah memutuskan untuk menerima perasaan lelaki itu, Jhony memandang ke arah Joy saat ini.


"Beliau sudah meninggal, dua tahun sudah kepergian nya meninggalkan kami" kembali menunduk kan kepala, dia masih saja merasakan kepedihan jika membicarakan ayahnya.


"Maaf kak.. aku nggak bermaksud membuat kakak sedih" Joy beringsut mendekat dan menepuk punggung Jhony


"Tidak apa apa Joy, aku senang kamu bertanya setidaknya aku tahu kamu peduli padaku" Jhony tersenyum kepada Joy yang masih mengelus punggungnya.


Setelahnya mereka hanya menikmati waktu mereka di sana dengan melihat matahari terbenam, hanya hembusan angin sore yang terasa sejuk. Jhony melihat jam yang berada di pergelangan tangannya, sudah pukul setengah enam lalu dia pun mengajak Joy untuk turun karena mereka harus berkemas dan kembali ke sekolah membawa sisa barang yang mereka jual. Dia tak ingin terlalu larut mengantar anak gadis orang untuk pulang ke rumah.


"Sudah setengah enam, ayo kita turun Joy. Kita harus berkemas dan kembali ke sekolah duku" Jhony segera berdiri dan di ikuti oleh Joy, namun saat Jhony hendak berbalik tangan nya di tahan oleh Joy.


"Kak.." Joy berucap dengan lirih


"Iya, ada apa? Apa kamu masih ingin duduk di sini?" Jhony merasa heran mengapa Joy menahannya


"Bukan, aku mau ngomong sesuatu" Jhony kini sudah kembali berdiri berhadapan dengan Joy


Jhony mengernyitkan kening nya menunggu apa yang ingin di katakan oleh Joy "Katakan lah Joy, tak perlu ragu ok" Jhony baru menyadari bahwa tangan Joy masih memegang lengan nya saat ini


"Aku..aku menerima.. pernyataan kakak yang tadi" sejurus kemudian Joy melepas genggaman tangannya dan berbalik membelakangi Jhony, berusaha menyembunyikan kegugupannya sudah pasti wajahnya juga merah sekarang ini.


Jhony terdiam sejenak, dia tak menyangka gadis yang dia sukai menerima perasaan nya. Kemudian dia mulai tersenyum melihat tingkah Joy yang membelakanginya saat ini, dia pun meraih lengan Joy dan membalik tubuh Joy perlahan.


"Joy benar kamu menerima perasaan ku? Tak perlu terburu buru, kamu bisa memikirkannya lagi" Jhony berusaha meyakinkan dirinya jika dia tidak salah mendengar kata kata Kok tadi


"Be, be-nar kak, sebenarnya aku juga suka sama kak Jhony" Joy sudah menundukkan kepala nya karena malu


"Apakah kamu sudah yakin dengan perasaan kamu ke aku?" Jhony kembali bertanya kepada Joy, dan langsung di angguki oleh gadis tersebut


"Terima kasih Joy," Jhony memegang kedua tangan Joy dan mengecupnya, perlakuan Jhony kali ini benar benar membuat debaran jantung Joy kian bertalu tak beraturan, sesaat Joy menahan nafasnya karena gugup dan bingung.


"Mulai hari ini kita pacaran hmm.." kedua tangannya memegang pipi Joy dan mengangkat wajah gadis di hadapannya untuk melihat matanya, Joy hanya mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih Joy, terima kasih sudah mau menerima perasaan ku. Aku sayang sama kamu" Rasanya Jhony ingin mencium Joy saat ini, namun dia menghalau segala pikirannya itu. Dia tidak boleh melakukan hal yang di luar batas, karena mereka masih sekolah tidak pantas bagi mereka berbuat seperti itu.


"Sama kak, aku juga suka sama kak Jhony" kini Joy sudah berani menatap lekat mata Lelaki di hadapannya ini, Jhony mengelus kepala Joy dan mencium tangan nya sekali lagi


"Ayo kita turun ke bawah, Harry dan Rina pasti sudah menunggu kita"


"Ayo, kita sudah lama meninggalkan mereka kak" Joy mengangguk kan kepala


Jhony membawa tangan Joy dalam genggaman nya, rasanya dia tak ingin melepaskan jemari Joy yang terpaut di jarinya. Rasanya dia ingin memberi tahu satu sekolah bahwa dia sudah berpacaran dengan gadis yang sangat di sukai nya saat pertama kali di lihatnya ini. Saat di dalam lift awalnya mereka hanya berdua saja, namun sampai di lantai dimana mama Jhony berada lift terbuka dan terlihat nyonya Riska yang akan masuk ke dalam lift. Nyonya Riska hanya seorang diri, dia tampak tersenyum kepada Jhony dan Joy saat berjalan memasuki lift. Joy dan Jhony juga tersenyum kepada nyonya Riska.


"Sayang, kalian belum pulang?" tanya nyonya Riska, karena melihat anaknya yang masih berada di gedung perusahaan nya ini


"Belum mom, sebentar lagi kami baru turun dari taman atas" jawab Jhony kepada sang mama dan masih tersenyum penuh arti, Joy hendak melepas genggaman tangan Jhony namun genggaman Jhony semakin erat dan tak membiarkan nya lepas.


"Sayang, tangan Joy akan kesakitan nanti" nyonya Riska melihat jari keduanya yang terpaut semakin erat pun menggoda sang anak di selingi tawa, seketika mata Joy membelalak tak percaya pada nyonya Riska dan sang anak yang sudah tersenyum kemudian dia pun menunduk.


"Mom, sudah jangan mengejek lagi" melihat pacarnya yang sudah sangat malu, dia pun berusaha menghentikan sang mama.


"Baiklah mom akan diam hehe.. tapi sayang kamu harus ingat pesan mama hmm. Jadilah laki laki sejati yang tak melakukan hal buruk kepada wanita, jangan keterlaluan ya pacarannya. Kalian juga masih sekolah jadi harus sewajarnya saja ok" nyonya Riska memegang bahu anaknya dan juga Joy, dan mengingatkan Jhony bagaimana harus berperilaku yang baik.


"Baik mom.."


"Baik tante.." berbarengan dengan Jhony


Mereka pun tertawa bersama di dalam lift sungguh perkataan nyonya Riska membuat Joy tenang dan yakin dengan pilihan nya, dia pun menatap wajah ibu pacarnya saat ini yang tampak lelah. Nyonya Riska membelai lembut kepala Joy dan juga pipinya, dulu dia begitu menginginkan hadirnya anak perempuan di dalam keluarga mereka namun Tuhan berkehendak lain dan dia dinyatakan tidak bisa memiliki anak lagi. Maka dari itu dia sangat menyayangi Siska anak sahabat suaminya itu, dia bahkan sudah menganggap Siska sebagai anak perempuannya.


.


.


.


stay save readers, tetap jaga kesehatan ya jangan lupa jaga aku juga biar tetap rajin menulis ok😁 like dan komennya serta dukungan lainnya


thanks😉