
Terima kasih sebelumnya kepada readers semua yang sudah berkenan membaca karya ku yang tidak seberapa ini, saya bersyukur masih ada yang mau memberi apresiasi dari like, fav, vote dll.
Seberapa pun yang saya terima, tidak membuat saya berhenti berterima kasih.
Semoga semua readers ataupun author lainnya tetap di berikan kesehatan🤗😇
Hujan sore ini membuat suasana sejuk semakin terasa, sejak tadi Joy tertidur dengan kepalanya yang bersandar di Jhony ditempat yang sama di balkon lantai dua rumah Jhony.
Setelah berbincang cukup lama, rasa kantuk menerpa Joy akibat angin yang semilir dan cuaca yang mulai mendung sangat cocok untuk tidur siang tentunya.
Melihat Joy mulai terus menguap, Jhony memiliki ide untuk menyatukan kursi santai mereka agar lebih luas dan nyaman untuk Joy tidur. Jadilah mereka berdua lanjut bercerita di kursi yang sudah di satukan, dengan Jhony masih bercerita lama kelamaan Joy akhirnya tidak bersuara yang menandakan ia sudah tertidur. Seperti mendongengkan anak kecil untuk tidur, Jhony tersenyum miring mendapati kekasihnya yang sudah pulas tidurnya.
Jhony bergerak perlahan turun dari kursi, takut jika membangunkan gadisnya itu. Ia berjalan masuk ke kamar untuk mengambil selimut, karena diluar cukup dingin apa lagi Joy mengenakan dress berbahan lembut dan sejuk. Meski lengan dan dress nya cukup panjang, namun cuaca dingin di luar juga cukup menusuk hingga ke tulang.
Jhony kembali dengan membawa sehelai selimut, ia kembali duduk di samping Joy dan menutupi tubuh gadis itu hingga ke bahunya. Pelan dan ringan sekali Jhony menyelimuti Joy, namun ia sendiri tidak tertutup selimut karena sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini dan juga suhu tubuh laki-laki tentu berbeda dengan perempuan.
Jhony menatap lekat waja polos Joy saat tertidur, sangat jarang ia memiliki kesempatan untuk memperhatikan wajah gadis ini jika ia tidak tertidur seperti ini.
"Wajahnya sangat polos saat tidur begini, setiap kali aku memikirkan akan meninggalkanmu untuk sementara waktu.. rasanya sangat berat. Apa aku bisa bertahan untuk beberapa tahun di sana.." tangan Jhony terangkat untuk merapihkan rambut yang menutupi wajah Joy, namun gerakannya bertahan karena mengingat gadis itu akan terganggu dengan apa yang dia lakukan.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan malah ikut tidur disana, dengan ditemani hujan dan juga angin yang bertiup lembut membelai keduanya dalam mimpi.
Kurang lebih satu jam sudah keduanya tertidur, sementara saat ini sudah pukul setengah empat. Joy sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu, namun dia enggan untuk berpindah karena saat ini ada yang lebih hal yang mencuri perhatiannya.
"Wajahnya ternyata setegas ini, kenapa aku batu menyadarinya.." ia mengubah posisi menjadi miring dan menghadap Jhony yang sedang tidur. "Alisnya begitu tebal.. bulu matanya panjang.. hidungnya juga mancung, dan.. " terhenti sejenak saat menatap bibir Jhony, tangannya juga melayang dan terhenti dibagian hidung Jhony. "Ah, tidak... apa yang aku pikirkan sih.." Joy sudah ingin kembali berbaring, tetapi Jhony meraih pergelangan tangannya dan kemudian ia juga mengganti posisi tidurnya menjadi miring ke arah Joy. Jadilah keduanya saat ini saling berhadapan, tangan Joy masih berada dalam genggaman tangan Jhony.
"Kenapa berhenti tadi, aku sedang menantikannya." Jhony mengucapkan kalimatnya, namun masih dengan mata tertutup.
"Hah..? Ma, maksud kamu apa?" Joy pura-pura tidak mengerti apa yang di maksudkan Jhony dengan ucapannya tadi.
"Jangan pura-pura sayang, aku akan memperjelasnya." masih dengan mata tertutup Jhony membawa punggung tangan Joy untuk di kecup, setelahnya ia letakkan di pipinya.
Perasaan hangat terasa mulai dari tempat dimana Jhony mengecupnya tadi, seakan terbawa oleh aliran darah hingga ke hatinya. Semua perlakuan Jhony padanya sangat ia sukai, begitu banyak kebahagiaan yang ia rasakan lewat dari cinta dam kasih sayang yang diberikan Jhony untuknya.
Mata Jhony terbuka, mata mereka bertemu satu sama lain. senyum merekah diajak keduanya, kicauan burung dan gerimis hujan yang turun seakan menjadi nyanyian lagu cinta yang mengiringi kisah cinta mereka hari ini.
*****
Jhony mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, bahkan ini sangatlah pelan menurut Joy. Satu tangannya ia gunakan untuk mengemudi, satunya lagi menggenggam tangan Joy dan tampak nya enggan untuk ia lepaskan.
Sesekali jari-jari Jhony memainkan permata yang ada di atas cincin Joy, cincin yang ia berikan beberapa bulan yang lalu untuk kekasihnya itu.
"Fokuslah mengendarai mobil Jhon!"
"Aku juga sedang fokus sekarang, aku tidak menoleh kemana-mana bukan?"
"Hah.. tentu saja, kau memang selalu bisa mendebat perkataan ku."
"Tidak.. aku hanya memberitahukan padamu kalau aku sudah fokus mengemudi, kau saja yang selalu mengganggu ku dengan mengajakku bicara, sayang.."
"Begitukah? Baiklah aku akan diam." setelah itu, Joy benar-benar duduk dengan diam dan tidak lagi mengajak Jhony untuk berbicara.
"Hei.. kau marah?" Jhony menoleh sejenak ke arah Joy, namun gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa berbohong, maafkan aku sayang. Tentu aku akan fokus dengan kemudi ku, aku membawa orang spesial dan ini aku ingin terus seperti ini dulu apa tidak boleh?" mendengar penjelasan Jhony yang membuat hatinya terenyuh, lagi-lagi Joy menggelengkan kepalanya.
"Hehe... kau imut sekali sayang, sebentar lagi kita sampai." mengelus sejenak kepala Joy, dan kembali menggenggam tangan gadis nya.
Mobil Jhony akhirnya sampai di halaman depan rumah Joy, setelah Jhony membukakan pintu mobil Joy segera keluar. Dan kini mereka berjalan berdampingan menuju pintu rumah Joy, sama seperti tadi Jhony tetap senantiasa menggandeng tangan Joy.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali mereka menunggu sebentar, bisa saja orang didalam rumah sudah mendengar dan sudah akan membukakan pintu. Benar saja, setelah beberapa saat kemudian mama Silvi terlihat membuka pintu rumah dengan lebar.
Mereka di sambut dengan senyuman lebar dari mama Silvi, melihat anak nya pulang dengan di antar oleh kekasihnya mama Silvi sangat bahagia melihat senyum dari putrinya.
"Mama.." Joy langsung memeluk sang mama, dan mengecup pipi kiri dan kanan secara bergantian.
"Selamat malam ma." Jhony memberi salam kepada mama Silvi.
"Malam nak, ini kenapa putri mama jadi manja sih." mama Silvi melirik ke arah Jhony seakan bertanya kepada kekasih putrinya, apa yang membuat Joy bertingkah seperti ini.
"Haha.. mungkin Joy kangen sama mama kali, ma." senyuman tersungging di bibir Jhony.
"Ah.. kalai begitu kamu sering-sering saja pergi seharian, pulang-pulangnya kangen-kangenan begini lagi hehe.." mama Silvi malah menggoda putrinya, membuat wajah yang di goda langsung berubah masam dan mencebikkan bibirnya.
"Mama gitu deh, senang ya anaknya enggak ada di rumah?" Joy berlagak kesal dengan sang mama.
"Haha.. bukan gitu sayang, kan kamu jadi kangen sama mama kalau lama-lama enggak di ruma. Mama mau donk di kangenin sama putri mama." mama Silvi membelai dengan sayang kedua pipi gadis kecilnya yang kini sudah remaja.
"Ayo masuk nak, papa tungguin tuh di ruang keluarga. Sejak pulang kerja tadi, papa cariin kamu nak. Setelah mama bilang kamu ke rumah nak Jhony, baru dia enggak cariin kamu lagi." sambil berjalan ke ruang keluarga, mama Silvi berceloteh tentang papanya Joy yang mencari putrinya.
"Papa enggak marah kan seharian ini Joy ke rumah Jhony, ma?" mama Silvi dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok sayang, papa hanya khawatir kalau kamu keluyuran kemana-mana sayang."
"Oh.. gitu."
Sampai di ruang keluarga, Joy juga berhamburan untuk memeluk papanya.
"Papa..muach, muach.." sama seperti yang ia lakukan terhadap mama Silvi, Joy juga menautkan kedua pipinya di pipi sang papa membuat papa Joy melotot kearah mama Silvi yang mengulum senyumannya.
"Anak papa sudah pulang ya, kamu tampak senang sekali." Joy mengangguk pasti.
"Sudah makan belum?" lagi papa Joy mendapat anggukan dari Joy.
Kening papa Joy mengkerut bahkan kedua alisnya hampir menyatu, wajah bingung tergambar jelas di wajahnya saat ini melihat tingkah putrinya itu.
.
.
.
Hai readers
tolong bantu like, love komen dan fav karya yang tidak seberapa ini, salam dari Me🤗
terima kasih😘
stay save all😉