Let See The True Love

Let See The True Love
96.



Jhony mengantarkan Joy hingga ke dalam rumah, tak ingin melewatkan waktu dengan keluarga Joy, ia memilih bercengkramah sebentar bersama papa dan mama Joy. Sedangkan Joy sudah naik ke atas membawa paper bag yang berisi foto-foto mereka dari cafe tadi, rencananya ia akan memajang semua foto itu di dalam kamarnya.


Sampai di atas, ia langsung membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Dengan cekatan semua foto-foto di dalam paper bag sudah tertata rapih di atas meja belajar, meja rias dan juga meja lampu tidur di sebelah ranjangnya.


Ia melihat hasil tataannya sejenak, masih tersisa beberapa foto lagi dan ia berencana untuk memajangnya didinding kamarnya yang masih kosong.


Entah mengapa rasanya ia ingin meletakkan foto yang ada Jhony di setiap sudut kamarnya itu. Ia tersenyum mendapati kegilaannya yang menata setiap tempat dengan foto mereka berdua, namun ia terlalu menyukai Jhony.


"Apa yang aku lakukan, aku harus segera mandi. Jhony kan masih menunggu di bawah" menyimpan semua barang kembali ke dalam paper bag, ia mulai berjalan menuju lemari.


Ia tampak terburu-buru mengambil handuk dan pakaian ganti lalu sedikit berlari memasuki kamar mandi.


Sedangkan di bawah, kedua orang tua Joy sedang berbicang dengan Jhony yang sangat handal melayani pembicaraan dengan kedua orang tua Joy.


"Bagaimana sekolahnya nak Jhony? Apa ada kendala?"


"Sampai sekarang tidak ada kendala pa, semuanya masih berjalan dengan lancar-lancar saja"


"Baguslah kalau begitu, semoga kedepannya berjalan dengan baik. Begitu pula dengan hubungan kalian, haha..."


"Iya pa, terima kasih pa. Papa memang the best" Jhony cengengesan saat hububgan nya dengan Joy mendapat dukungan penuh dari papanya Joy.


"Wah.. apa yang sedang kalian ceritakan" menatap bergantian kedua orang laki-laki yang berada di ruang tamu tersebut yang tampak bergeming, seakan tidak ingin menceritakan apa yang mereka bicarakan "Oh begitu ya, main rahasia-rahasia sekarang hm..." kini mama Silvi sudah duduk di sebelah papa Joy, setelah meletakkan dua cangkir teh panas di atas meja beserta beberapa cemilan lain.


"Mama mau tau saja, ini urusan laki-laki ma" papa Joy yang membalas ucapan mama Silvi, sedangkan Jhony hanya bisa tersenyum mendapati papa Joy yang mengedipkan sebelah matanya kepada Jhony.


"Papa gitu deh" memukul pelan bahu sang suami, ia kembali melihat ke arah Jhony "Oh iya, kalian habis dari mana saja nak?" tanya mama Silvi kepada Jhony kemudian.


"Ah.. itu, kami pergi ke cafe yang agak jauh dari sini ma"


"Begitu rupanya.. kalau saja kamu enggak memberi kabar, mungkin mama sangat cemas tadi"


"Maaf ma" menggaruk belakang lehernya, karena merasa bersalah kepada mama Silvi.


"Haha... enggak apa-apa nak Jhony, asal ada kabar dari kalian mama bisa tenang tungguin kalian pulang. Iyakan pa?" meminta pendapat dari sang suami.


"Benar kata mama, asal di kabarin kita ngak bakalan khawatir. Karena tahu putri kita aman bersama pacarnya hehe..." candaan dari papa Joy membuat Jhony ikut tertawa, ia selalu merasakan kebersamaan yang menyenangkan dalam keluarga Joy.


Lama mereka bertiga bercengkrama dengan di sisipkan candaan-candaan dari kedua orang tua Joy membuat waktu yang berlalu tidak terasa sama sekali. Joy pun akhirnya turun dari kamarnya setelah selesai membersihkan diri, kini ia ikut untuk mengobrol bersama.


*****


"Kenapa kau tersenyum terus dari tadi? Apa ada yang lucu?" Jhony berhenti sejenak saat mereka sudah berada di teras rumah Joy, Jhony sudah akan pulang kerumah setelah lama berbincang dengan orang tua Joy.


"Ah.. aku hanya senang" mengangkat tangan di udara dan memperlihatkan jari dimana cincin yang di berikan Jhony sore tadi di sematkan, bahagia.. sudah pasti apa yang di rasakan Joy saat ini adalah kebahagiaan yang tidak ternilai.


"Apa kau hanya menyukai cincin yang ku berikan? Bukannya diriku?" Jhony membuat posisinya sepenuhnya berhadapan dengan Joy, ia sedikit nenundukkan kepalanya memandangi wajah cantik kekasihnya itu. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus pipi Joy yang terasa dingin oleh hembusan angin malam.


"Tentu saja tidak, aku menyukainya karena dirimu yang memberikan ini. Aku sangat bahagia, sangat.. sangat bahagia. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, terima kasih sudah bersabar mengahadapi sifat kekanakan yang ada dalam diriku" Joy membalas tatapan hangat yang di berikan Jhony kepadanya, keduanya mengunci tatapan mereka untuk saling mengalirkan perasaan yang begitu dalam terhadap pasangannya.


"Aku lebih berterima kasih kepada mama Silvi, karena sudah melahirkan putri cantik dan manis sepertimu. Aku juga berterima kasih padamu yang sudah mau menjadi kekasihku selama ini, dan menghias hari-hariku yang biasa menjadi lebih berwarna dan indah. Untuk ke depannya tolong tetaplah bersamaku, mari kita lewati hari-hari yang indah bersama-sama" mata Joy tampak berkaca-kaca mendapat ungkapan yang penuh makna untuknya dari Jhony, tangan Jhony tidak tinggal diam melihat genangan air mata Joy. Ia mengusap perlahan sudut mata Joy, menyapu air yang akhirnya turun dipipi gadis itu.


Jhony memeluk Joy sesaat dan memberi tepukan ringan di punggung Joy yang mulai terisak pelan, menenangkan tangis kebahagiaan yang juga hampir membuat air matanya turun.


"Jangan menangis lagi, bukankah kau sangat bahagia? Mengapa sekarang kau jadi menangis?" ejek Jhony, dan berhasil membuatnya mendapat pukulan didadanya dari Joy.


Jhony menjauhkan tubuh Joy sedikit agar dia bisa melihat dengan jelas wajah Joy yang saat ini masih basah oleh air matanya.


"Tenang saja, aku pastikan hati ini tetap milikmu. Jadi jangan pernah meragukan cintaku hm..?" kembali mengusap air mata Joy yang terjatuh untuk kesekian kalinya, Jhony begitu menyayangi Joy dan tanpa Joy ketahui. Hatinya begitu sakit untuk berjauhan dengan gadis yang teramat ia cintai, ia hanya bisa memendam segala kekacauan dalam hatinya dan tak ingin Joy melihat sisinya yang begitu rapuh.


"Aku mencintaimu Joy ku, sayang" mengecup sekilas kening Joy.


"Aku juga mencintaimu Jhony ku" keduanya berpelukan, memberikan kehangatan di malam yang semakin larut dan dingin ini.



"Aku pulang dulu Joy, masuklah sekarang. Angin malam semakin dingin, kau bisa flu nanti!" Jhony hendak dimana mobilnya terparkir di halaman rumah Joy.



"Tidak, kau pulang dulu baru aku masuk. Aku ingin melihatmu pulang.." lirih Joy dan tampak ia sama sekali tidak ingin masuk sebelum Jhony pergi mengendarai mobilnya.



"Kenapa kau sangat keras kepala, sayang.. ayolah, masuk kedalam kau bisa melihatku dari kaca di sana. Oke!" Joy menggeleng.



"Hm... aku akan tetap di sini sampai kau masuk ke dalam mobilmu saja"



"Baiklah kalau begitu" Jhony melepas jaketnya dan menyampirkan nya di bahu Joy "Aku pulang.. sampai jumpa besok baby" merapihkan sedikit jaket yang sudah terpasang dan memegang kedua tangan Joy dan mengecupnya di sana.



Lalu Jhony kini benar-benar masuk ke dalam mobilnya, membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan. Mobil Jhony kini sudah tak terlihat, Joy segera masuk ke dalam rumah sambil memegang dengan erat jaket yang di sampirkan Jhony di bahunya. Rasa hangat yang tercipta dari jaket itu mengingatkannya dengan pelukan Jhony, bahkan wangi dari parfum Jhony masih terasa di indera penciumannya sekarang.



Joy berjalan naik ke atas menuju ke kamarnya, jari-jari lentiknya masih senantiasa memainkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.



Seutas senyuman tergambar di wajahnya, kian membuat kecantikannya memancar dengan indah.


.


.


.


hai.. hai.. readers


tetap semangat ya, jangan lupa juga dukung karya aku dengan like komen fav vote dll semoga menghibur hari-hari kalian semua


stay save🤗


thanks ya😉