
Malam sudah semakin larut, Siska sedang mondar-mandir di balkon kamar yang mereka tempati. Ia begitu penasaran apakah sesuatu terjadi dengan hubungan Jhony dan Joy, yang sebenarnya dia harapkan adalah putusnya hubungan dari keduanya.
Sedangkan diatas kasur, Rina sudah tertidur pulas saking pulasnya terdengar dengkuran suara dengkuran yang cukup pelan.
Tak berapa lama kemudian suara deru mobil terdengar, Siska sangat yakin itu adalah suara mobil yang di kendarai oleh Jhony. Siska lalu bergegas turun ke lantai bawah, tanpa mengenakan sandal kamarnya dia berlari menuruni anak tangga agar tidak menimbulkan suara.
Lalu Siska mengintip di jendela ruang tamu villa yang sedikit pencahayaan, karena lampunya sudah di padamkan mengingat waktu yang sudah malam jadi semua pengurus villa sudah tidur.
Cukup lama Siska menunggu pergerakan di dari dalam mobil, namun tidak ada tanda-tanda keduanya akan turun dari mobil. Siska semakin gelisah di tempatnya, dia kemudian berpikir bahwa keduanya tidak berselisih. Namun sesaat kemudian terlihat Joy keluar dari mobil kemudian menutup kembali pintu mobil dengan keras, lalu Joy berlari menjauh dari mobil tanpa memandang kembali ke sana.
"Sepertinya mereka memang sedang bertengkar" seringai licik terlihat dari wajahnya "Bagus, seperti nya keluargaku mendekati Jhony sudah datang. Aku tidak akan membuang waktu lagi" Siska berdialog sendiri di balik gorden dan tersenyum penuh kemenangan.
Sebelum Joy membuka pintu, Siska bersembunyi di sudut ruang tamu yang tidak terlihat. Bukan karena tempatnya yang strategis untuk bersembunyi namun lebih kepada kondisi ruangan dengan pencahayaan yang minim lah, sehingga membuat Siska tidak terlihat oleh Joy yang langsung berlari menuju ke arah tangga dan naik ke lantai atas.
Melihat Joy sudah naik ke atas, Siska kemudian keluar dari tempatnya bersembunyi dan kembali melihat ke arah mobil Jhony.
Di sana Jhony sudah keluar dari mobil dan berjalan ke arah villa, tempat Jhony memarkir mobilnya memang cukup luas karena itu adalah tempat khusus menyimpan mobil di villa. Itu juga mengharuskan nya berjalan cukup jauh ke arah villa.
Jhony senyum sendiri mengingat apa yang dilakukan oleh Joy padanya tadi, dia dari tadi mengelus pipinya hingga ke arah bibirnya. sehingga membuat Siska mengira bahwa Jhony di tampar oleh Joy tadi, Siskka berjalan ke arah dekat pintu untuk menyambut Jhony berharap dia mendapatkan perhatian dari laki-laki yang dicintainya itu
ceklek.. pintu villa terbuka dan tampak Jhony berjalan masuk sambil memandang ke bawah, Jhony masih tersenyum membayangkan wajah Joy tadi namun dengan sekuat tenaga dia menahan untuk tidak tertawa.
Siska yang melihat Jhony berjalan sambil menundukkan kepala itu pun berpikir bahwa Jhony sedang ada masalah, ia tersenyum dan berjalan mendekati Jhony.
"Jhony.. kamu baru pulang?" Jhony mendongak dan seketika raut wajahnya berubah datar.
"Ya.." Lalu Jhony bergegas berjalan menaiki tangga.
"Kamu sudah makan malam? Kalau be.."
"Tidak perlu repot aku sudah makan malam, aku mau istirahat ke atas dulu.." Tanpa mendengar jawaban dari Siska, Jhony pun melanjutkan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Siska sebenarnya merasa sedih dengan perlakuan Jhony, namun dia masih mengira bahwa Jhony bertengkar dengan Joy dan membuat mood nya tidak baik.
"Tidak apa-apa, kita lihat besok pasti menyenangkan melihat keduanya bertengkar dan tidak saling bicara hm.." Siska tersenyum dan menyusul untuk masuk ke kamarnya bersama Joy dan Rina.
Di kamar lain, Jhony sedang berada di kamar mandi saat ini. Kedua sahabatnya sudah tertidur pulas karena kelelahan bermain di pantai seharian.
Selesai mandi Jhony pun merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur, dia kembali mengingat kejadian di mobil sehingga ia kembali tersenyum.
"Kau memang manis Joy, sepertinya aku ingin memimpikan mu lagi ah..." Ia meremas rambutnya yg masih lembab, dengan tubuh masih tertelungkup dia mulai memejamkan matanya yang sudah mulai lelah hingga dirinya mulai berlari ke alam mimpi.
*****
Keesokan harinya semua anak gadis sudah berada di ruang dapur membantu bi Iyem menyiapkan sarapan, Joy bersikap seolah tidak ada apa-apa dengan Jhony karena dia masih sibuk membuat roti lapis ke sukaan Jhony.
Siska merasa aneh dengan sikap Joy yang lebih cuek dan seakan-akan tidak ada masalah dengan hubungannya bersama Jhony, tapi Siska tidak mau ambil pusing, dia juga sibuk membuat sarapan untuk nya sendiri.
Rina yang sesekali melirik ke arah Siska mengetahui bahwa sahabatnya di perhatikan oleh Siska, maka dari itu dia terus memperhatikan gerak gerik Siska.
Beberapa saat kemudian para lelaki mulai menuruni tangga sambil tertawa, ketiga nya sedang menggoda Jhony yang kemarin pulang terlambat tanpa ada kabar sama sekali. Namun akhirnya mereka mendapat kabar Jhony dari pengurus villa, sehingga mereka tidak khawatir dan membiarkan sahabatnya memiliki waktu bersama Joy. Itulah yang mereka bahas saat ini, mereka menanyakan kepada Jhony apa yang di lakukannya bersama Joy hingga larut malam. Namun Jhony hanya diam dan tersenyum, tak berniat menjelaskan apa-apa kepada Sahabatnya sehingga membuat mereka semakin mengejeknya.
Di dalam dapur tepatnya di meja makan, mereka bertiga sudah di sambut hidangan yang menggoda lidah yang dibuat khusus oleh para gadis yang kini sudah tersenyum manis, Jhony melihat ke arah Joy yang sedang melirik ke arahnya dengan senyum malu-malunya yang selalu membuat Jhony merasa gemas.
Jhony menghampiri Joy yang berdiri di samping Siska dan masih tersenyum, membuat Siska merasa bahwa Jhony sedang menghampirinya dan langsung mengulas senyum tang paling manis untuk Jhony.
Namun sesaat kemudian raut kecewa tidak dapat ia sembunyikan lagi ketika Jhony melewatinya dan berhenti di hadapan Joy.
"Selamat pagi" Jhony menyapa Joy.
"Selamat pagi... Ayo kita sarapan dulu" Balas Joy masih tersipu malu, ia kembali teringat dengan apa yang ia lakukan kemarin.
"Apa kamu yang membuat sarapannya?"
"Tidak, aku membuatnya bersama bi Iyem, Rina dan kak Siska"
"Non Joy yang bikin sendiri itu tuan muda, bibi cuma kasi tahu aja kalau tuan muda suka roti lapis untuk sarapan" Bi Iyem ikut menimpali pembicaraan Joy dan Jhony, Siska tampak sangat kesal, ia langsung duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Benarkah itu? Kalau begitu aku ingin segera mencoba nya.." Jhony begitu senang mendengar bahwa Joy yang membuat sarapan untuknya.
Joy hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Senangnya yang di buatkan sarapan, aku dapat apa yah?" Harry melirik Rina yang sedang sibuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri, sehingga Harry hanya bisa mendesah dan menarik kursi untuk duduk di samping Rina.
Sedangkan Siska sudah duduk terlebih dahulu dan menikmati sarapan nya dengan wajah yang tampak kesal.
Jhony menarik kursi untuk Joy, setelahnya dia pun duduk di samping Joy dan mulai menikmati makanannya.
'Kenapa mereka malah semakin dekat, bagaimana bisa seperti ini. Aku tidak akan membiarkan mereka semakin dekat, aku harus segera memisahkan mereka' Sambil menikmati sarapannya Siska sambil memikirkan cara untuk memisahkan Joy dan Jhony yang kini semakin dekat.
.
.
.
Stay save readers😉