
Hari yang menegangkan akhirnya tiba, seluruh murid kelas dua belas akan menghadapi ujian yang sesungguhnya sekarang. Ketegangan terlihat dari wajah-wajah mereka saat ini, meski tidak semuanya terlihat jelas tetapi di dalam hati mereka ada rasa yang sama pastinya.
Memulai semuanya dengan doa, agar setiap usaha mereka dalam mengerjakan soal ujian berjalan dengan lancar. Tentunya harus di lakukan dengan benar dalam suasana yang tenang, semua siswa siswi sudah mulai mengerjakan ujian mereka.
Tidak ada suara kelas yang riuh di pagi hari, juga tidak ada suara guru yang mengajar saat di kelas. Sesekali hanya terdengar lembaran kertas yang di buka, fokus mereka sudah sepenuhnya pada soal ujian dengan hati berharap nilai mereka memuaskan.
Ditempat lain, Joy sedang duduk di kursi meja belajar didalam kamarnya. Ia sedang menatap sebuah pigura yang ada gambar dirinya dan Jhony di sana. Kecemasan juga melanda hatinya saat ini, memikirkan ujian yang juga di hadapi oleh Jhony selain itu ia juga memikirkan kekasihnya yang sebentar lagi akan berangkat keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Ia teringat ucapan yang tanpa sengaja ia dengar di balkon rumah Jhony, saat itu ia masih setengah sadar dalam tidurnya. Ia mendengar Jhony mengatakan tidak bisa berjauhan dengannya, itu juga yang sedang ia rasakan saat ini. Batu beberapa hari saja tidak bertemu dengan Jhony, kerinduan di hatinya sudah begitu besar bagaimana jika mereka nanti akan berpisah selama bertahun-tahun? Membayangkannya saja membuatnya sedih sekarang.
Ketika lamunannya masih terbang entah kemana-mana, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Toko tok tok
"Sayang, apa mama boleh masuk?" suara mama Silvi terdengar dari luar.
"Iya ma." jawabnya singkat setelah tersadar dari lamunannya.
"Kamu sedang apa?"
"Lagi belajar ma." tanpa melihat ke atas meja, Joy langsung menjawab pertanyaan mamanya.
"Serius, kamu sedang belajar? Bukannya lagi main biro jodoh?" jari mama Silvi menunjuk ke atas meja, membuat Joy mengikuti arah yang di tunjuk sang mama.
"Ah... ini.. hehe.. " Joy cengengesan, bingung harus berkata apa.
"Kamu kenapa sayang? Akhir-akhir ini mama perhatikan sepertinya kamu ada masalah dan tampak kebingungan!" mama Silvi menunggu putrinya bercerita kepadanya, ia juga merasa khawatir karena tingkah laku Joy sudah tidak seperti biasanya.
"Eh.. " Joy menundukkan kepala nya, ia kelihatan bingung mencari kata-kata yang tepat.
"Enggak apa-apa kalau kamu belum bisa cerita, mama enggak akan maksa kamu. Tapi.. kamu harus memperhatikan dirimu sendiri, mama enggak mau kalau kamu terus kepikiran dan malah mengganggu kesehatan kamu nantinya." tangan-tangan lembut seorang mama menyentuh pipi putrinya, kecemasan terlihat jelas di wajah polos Joy sehingga dapat ditebak oleh mama Silvi.
Joy berdiri dan mengajak sang mama untuk duduk di tepi tempat tidurnya.
"Sebenarnya.. begini ma, apa.. apa aku terlalu berlebihan jika merasa takut untuk membiarkan Jhony keluar negeri?" kedua alis mama Silvi mengkerut, bingung yang terlukis di wajah mama Silvi.
"Maksudnya?" mama Silvi masih ingin mendengar penjelasan dari putrinya, tentang arti 'takut' yang dimaksudkan tadi.
"Ya.. aku merasa tidak bisa berjauhan dengan Jhony, dan juga nantinya di sana pastinya banyak cewek-cewek yang cantik juga." raut kebingungan di wajah mama Silvi kini berganti dengan senyuman.
"Oh... mama tahu sekarang, kamu takut kalau nak Jhony berpaling dari kamu dan mencari gadis lain, benar begitu?" melihat anggukan kepala Joy membuat tawa mama Silvi yang tertahan pun pecah sudah, rona merah tidak dapat di tutupi lagi dari wajah Joy saat ini.
Ia sebenarnya sangat malu memberitahukan masalahnya kepada sang mama, namun ia ingat ucapan Jhony yang mengatakan bahwa masalah akan menjadi ringan jika diceritakan kepada orang lain. Jadilah ia mencoba menceritakan masalahnya ini kepada sang mama.
"Sayang.. kamu percaya enggak sama takdir dan jodoh yang diberikan Tuhan?" Joy mengedikkan bahunya, ia dilanda kebingungan yang cukup membuat gelisah. "Gini loh.. kamu harus percaya yang namanya jodoh, seperti saat ini Jhony akan keluar negeri anggaplah kalian belum pernah bertemu dan saat dia pulang nanti dan kalian masih sama-sama sendiri dan belum memiliki pasangan yang lain maka dia adalah jodoh kamu. Lain halnya jika suatu saat dia pulang dan salah satu dari kalian atau keduanya sudah memiliki pasangan baru, maka dia bukan jodoh kamu dan kamu bukan jodoh dia."
"Tapi ma, ini enggak benar. Mana bisa aku lupain Jhony!"
"Itu tergantung hati kamu dan hatinya Jhony, mama mengatakan itu hanya sebagai untuk contoh. Jika kamu sudah yakin dengannya, kamu enggak akan meragukannya bukan?" Joy setuju dengan kalimat akhir dari mama Silvi, 'tidak meragukannya' Jhony bahkan sudah berkali-kali meyakinkan Joy bahwa dia menjadi wanita satu-satunya untuk lelaki itu.
Joy menghela nafasnya dengan sangat berat, hatinya yang tadi seperti tersumbat batu besar sedikit demi sedikit mulai terkikis. Memang ada baiknya jika menceritakan hal berat didalam hati kepad orang yang kita percayai, buktinya sekarang ia mulai bisa tesenyum tipis tidak ingin sang mama menyadarinya.
Malam harinya setelah selesai makan malam, semuanya kini sedang berkumpul di ruang keluarga. Joy beserta kedua orang tuanya sudah duduk manis di depan televisi untuk menyaksikan serial yang selalu mereka tonton bersama.
Sambil menikmati beberapa cemilan yang sudah di siapkan oleh mama Silvi dan Joy, mereka juga sesekali mengobrol saat iklan berlangsung, kegiatan rutin ini selalu mereka lakukan demi membangun keharmonisan dalam keluarga.
"Sayang, sepertinya ada sedang menunggu kabar seseorang nih." sindir papa sambil melirik ke arah Joy.
"Hush.. papa jangan gitu dong, entar ada yang ngamuk." bukannya membela, sang mama malah ikut menggoda putri mereka.
"Terus aja ledekin Joy, senang deh papa punya komplotan sekarang." wajah Joy sudah masam saja sekarang, ia memilih memandangi televisi yang sedang menampilkan iklan.
"Haha.. ada yang ngambek nih ma, mau keripiknya lagi ma. Aaa.. " mam Silvi tersenyum mendapati sikap manja sang suami, Joy melirik dengan sinis saat sang mama menyuapi papanya keripik yang diminta tadi.
"Episode ke berapa ini dramanya? Mau ngalahin drama yang lagi di tonton ngak usah di sini juga kali.." sindiran balik dari Joy membuat kedua orang Tuanya menertawaknny, tetapi Joy juga ikut-ikutan tertawa bersama mereka.
Begitulah keluarga mereka, selalu ada saja yang bisa menyatukan mereka. Baik dalam kondisi marahan seperti apa pun, saat berkumpul di ruang keluarga mereka akan kembali akur seperti tidak ada masalah apapun sebelumnya.
Setelah lelah tertawa mereka kembali fokus pada layar televisi, karena serial yng terjeda oleh iklan tadi sudah mulai kembali.
Baru saja masuk dalam adegan seru, tiba-tiba ponsel Joy yang sejak tadi ia lirik berbunyi dan menandakan adanya panggilan video.
Tangan Joy dengan cepat meraih ponselnya dan melihat kedua orang tuanya.
"Ma, pa Joy ke kamar dulu ya, selamat malam.." secepat itu juga Joy meninggalkan ruang keluarga dan menaiki tangga, papa dan mama Joy masih bisa melihat putrinya yang sudah mengangkat panggilan video itu saat berada di pertengahan tangga menuju kelantai dua.
Keduanya pun saling bertatapan, gelengan bingung menghiasi ekspresi mereka sekarang ini.
Didalam kamar Joy sedang duduk sambil bersandar pada headboard kasurnya, senyum sumringah terus terpancar di wajahnya.
"Ahh... aku kangen sama kamu sayang.." tatapan Jhony tampak redup.
"Aku juga, kamu udah makan malam belum? Momy dimana? Kantor atau udah pulang?"
"Oh.. kamu enggak temani mama?"
"Sudah aku tawarin buat temani mama, cuma mama bilang ingin sendiri dan istirahat." Joy mangut-mangut mengerti apa yang diucapkan oleh Jhony.
"Gimana hari pertama ujiannya? Lancar tidak?"
"Ya, semua berjalan dengan lancar." tapi dari yang terlihat oleh kedua mata Joy, Jhony tidak baik-baik saja sekarang.
"Kamu ngapain aja seharian ini, pasti seru bisa main dirumah seharian tanpa belajar." Jhony mencoba mengulas senyumannya, sebenarnya saat ini ia sangatlah lelah.
Setelah belajar dengan giat saat di sekolah, di rumah ia juga sering mengurus pekerjaan yang ada di kantor untuk mengurangi sedikit beban mamanya.
Namun ia tidak pernah mengeluh kepada Joy maupun sang mama, ia tidak mau dua orang wanita yang sangat ia cintai merasa khawatir kepadanya.
"Ngapain ya...?" seperti berfikir keras "Jalan-jalan ke mall, terus ke salon dan juga pergi ngafe.."
"Haha.. kau kamu mau melakukannya, kenapa enggak pergi tadi dan cuma menyebutkannya sekarang."
"Huh.. kalau aku bisa pergi tanpa kamu, aku juga akan melakukannya tapi aku enggak bisa.. aku.. aku kangen.. sama kamu hiks, hiks.." air matanya sudah mengalir deras.
Setelah Joy mengunjungi Jhony di hati pertama libur, hingga sekarang mereka belum bertemu lagi. Hanya lewat panggilan video saja yang mereka lakukan setiap harinya, dan setiap kali telepon Joy selalu terlihat sedih dan tak jarang ia juga menangis.
"Loh kok malam nangis, sayang... Hei.. " Joy meletakkan ponselnya dengan kamera menghadap ke langit-langit kamar, hanya suara Jhony yang ia dengar tanpa melihat wajah lelaki yang sangat ia rindukan saat ini.
"A, aku malu.. jangan melihat wajahku dulu." suara nya masih tersenyum sedikit bergetar, sesekali terdengar ia membersit ingusnya.
"Baiklah kalau begitu, dengarkan aku Joy." mode serius sekarang. "Dengarkan aku baik-baik ok!" hanya terdengar deheman dari Joy. "Aku harus menyelesaikan ujian dengan baik saat ini, tapi kamu harus percaya padaku. Aku enggak pernah lupa memikirkan kamu sayang, aku juga merindukanmu tetapi aku punya kewajiban lain sekarang. Setelah semua ujianku selesai, kita akan pergi liburan."
"Sungguh?" Joy mengangkat ponselnya kembali, wajahnya yang masih dipenuhi air mata terlihat tersenyum begitu saja.
"Haha.. tentu saja, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu sayang... Jadi kau jangan sedih lagi, ok!" anggukan cepat dari Joy.
"Pintar, gadis manis. Sudah malam, ayo tidurlah. Besok malam aku akan menelfonmu lagi jadi istirahatlah dengan baik,mengerti!"
"Tentu, kau juga harus jaga kesehatan. Dan juga.. apapun masalah yang sedang kau hadapi, jika kau bersedia ceritakanlah padaku juga. Bukankah.. kau yang mengatakan semua akan lebih baik jika sebuah masalah di ceritakan kepada orang lain."
Jhony menatap lekat wajah kekasihnya itu, wajah yang selalu ia rindukan saat ini sedang memberinya kekuatan untuk menghadapi masalah yang bermunculan saat ini dalam perusahaan nya. Selain itu, ia juga sedang memikirkan hubungannya dengan Joy yang harus LDR nantinya.
"Em.. benar, tapi untuk saat ini aku belum bisa mengatakannya. Tapi kau tenang saja, aku pasti akan mengatakannya padamu."
"Aku akan menantikannya, kalau begitu selamat malam.. sayang." nada suara yang begitu lemah masuk kedalam pendengaran Jhony.
"Selamat malam juga, baby.. I love you."
"I love you to." senyum keduanya berakhir ketika Joy memutuskan panggilan video dati ponselnya, mereka mempunyai kesepakatan soal itu. Sang gadis lah yang harus memutuskan panggilan lebih dulu, baik panggilan telefon atau video.
"Aku akan membuat kejutan untukmu sayang, tunggulah sebentar lagi." Jhony tersenyum memikirkan rencana yang sudah lama ia pikirkan untuk Joy.
.
.
.
hai readers 🤗🤗
salam sehat untuk semua readers, untuk pra readers yang sudah singgah dan membaca karya ku, tolong dibantu like, komen, fav atau vote nya, agar cerita ku ini bisa lebih berkembang dan lebih baik laik untuk kedepannya. Maafkan jika ada salah dalam penulisan kata" nya, serta jika ada kata yang sulit dipahami mohon di maklumi.
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
stay save😉