Let See The True Love

Let See The True Love
118.



Adanya Harry yang berdiri di antara mereka membuat Rina salah tingkah, ia tidak berbicara sama sekali dn menyisakan Harry dan Joy saling bercerita. Sesekali mata Harry melirik kearahnya, namun gadis itu tampak tidak peduli sama sekali dengan kehadirannya.


Kebetulan yang begitu indah mereka hanya bertiga sejak tadi di depan lift, hingga lift terbuka tidak ada satu orang pun kecuali mereka bertiga.


"Rin... yuk masuk, sebentar lagi jam istirahat kita selesai." Panggil Joy yang sudah berdiri di dalam lift bersama Harry.


"Eh, i-ya." Rina yng tersadar bergegas masuk ke dalam lift.


Joy sengaja tidak menyisakan ruang kosong tepat disampingnya, dan Harry sudah berdiri tegap disisi satunya. Membuat Rina mau tidak mau harus berdiri disebelah Harry.


Didalam lift, Joy memilih sibuk sendiri dengan ponselnya. Ia meratapi ponselnya yang sama sekali tidak ada pesan dari Jhony, sudah satu malam dan hampir satu hari laki - laki itu tidak ada kabar sama sekali. Ia merasa kalut, meskipun tidak ia perlihatkan kepada Rina. Sebab ia tahu pasti, bahwa sahabatnya jug memiliki masalah yang cukup sulit untuk diatasinya.


ting... lift terbuka di lantai yang di tuju, Joy keluar terburu - buru.


Harry menahan pergelangan tangan Rina, dan tangan satunya memencet tombol menutup pintu lift.


"Kami akan bicara dulu joy, kau atasan langsung Rina kan? Aku akan pinjam dia dari mu sebentar." Pinta Harry kepada Joy.


"Kau... lepaskan tanganku Harry!" Bentak Rina yang tidak digubris sama sekali oleh Harry.


"Baiklah, bicaralah biar semuanya jelas." Joy melambaikan tangannya untuk mengiringi pintu lift yang tertutup.


"Untung aja sepi, kalau ramai... bisa - bisa Harry dituduh menculik Rina nih, haha... Semoga semua masalah klian bisa beres secepatnya." Setelah mengucapkan harapannya, Joy berjalan kembali ke ruangannya sambil tersenyum.


Didalam lift Rina menepis tangan Harry yang masih memegangi pergelangan tangannya. ia tampak kesal, bahkan matanya sudah berkaca - kaca.


"Apa yang kau lakukan? Kita sudah tidak ada urusan lagi, kenapa menahanku."


"Kita harus bicara Rin, kamu harus dengar alasan aku keluar negeri dengan tiba - tiba."


Rina memalingkan wajahnya dan melihat kepintu lift, ia begitu enggan menatap kedua mata Harry yang selalu membuatnya luluh jika sedang marah kepada laki - laki itu.


"Mau kemana kita sekarang?"


"Keatas, kita kan bicara di taman atas gedung."


"Tidak, disana mungkin saja kan banyak orang. Aku tidak ingin ada rumor yang akan membuat keadaan kantor terasa tidk nyaman nanti." Dengan cepat Rina menegaskn bahwa ia tidak mau ke atas untuk berbicara, tempat itu adalah tempat umum untuk karyawan. Pastinya kan begitu banyak orang yang ada di sana, apalagi di jam - jam istirahat seperti ini.


"Baiklah kalau begitu." Pintu lift yang baru saja akan terbuka kembali tertutu, dengan cepat tangan Harry menekan tombol yang tertera di dinding didalam lift.


"Maaf." Tangan satunya dipakai untuk menahan karyawan lain yang hendak naik.


Beberapa orang mundur seketika saat melihat tangan Harry yang terangkat dan kata maaf yang diucapkan olehnya.


Rina bersembunyi di balik bahu Harry, agar terhindar dari pandangan karyawan lain yang hendak menaiki lift tersebut.


"Apa kau lihat dibelakangnya? Ada seseorang dibalik bahunya."


"Benar, aku melihatnya. Sepertinya seorang wanita."


"Benarkah, wah.. wah... Apa itu kekasihnya?"


"Bagaimana kira - kira orang yang menjadi kekasihnya ya?"


"Iya, aku juga penasaran!"


"Ini bisa jadi berita besar kalau tadi kita bisa lihat wajah orang itu, kyakk..."


Begitulah gosip yang mulai bermunculan, hampir saja merek terpergok berdua di dalam lift.


Rina menghela nafasnya dengan kasar, ia tidak sadar saat ini sedang menggenggam dengan erat lengan atas Harry.


"Apa kau begitu tidak ingin lepas dariku, smpai -sampai menekan lenganku dengan sangat erat."


Wajah takut Rina tiba - tiba berubah kesal, tanpa sengaja ia mendorong Harry hingga membentur pintu lift.


Bukk...


"Aughh... " Harry meringis kesakitan.


"Hah... ma, maaf. Aku enggak sengaja." Mengetahui kesalahannya, Rina kemudian membantu Harry untuk berdiri. "Dimana yang sakit, disini? Atau ini? Apakah ini sakit?" Kepanikan melanda Rina yang tergagap.


"Hahaha... Ternyata kamu masih perhatian sama aku kan?" Tawa Harry menyadarkan Rina seketika dari kepanikannya. "Udah enggak sakit. Ayo kita kekantor ku saja." Harry menggenggam tangan Rina dan membawanya masuk kedalam ruangan khusus miliknya.


'Kenapa dia bertindak seenaknya begini, menyeretku entah kemana. Tempat ini begitu sepi, dimana ini sebenarnya?'


Tidak ada satu orang pun disepanjang menuju ruangan tersebut, bahkan meja sekretaris juga kosong. Terlihat jika bagian itu belum di isi oleh siapa pun, karena ruangan yang transparan karena berdinding kaca itu masih kosong hanya ada meja dan kursi sedangkan peralatan lain tampak masih belum ada disana.


"Ke, kenap kita kesini?" Rina masih berdiri didepan meja kerja Harry tanpa berani untuk duduk.


"Kita akan membicarakan hal penting, dan katamu tadi kau tidak ingin orang - orang melihat kita bersama." Harry melepas jas dan sedikit melonggarkan dasinya, ia kemudian mengajak Rina duduk di sofa yang berada didalam ruangannya.


"Kemarilah, kita bicara sebentar."


"Tolong le, lepaskan tanganku Harry."


"Baiklah..." Harry mengangkat kedua tangannya seakan - akan ia menyerah, namun matanya tertuju ke sofa memberi kode agar Rina duduk di tempat yang di tunjuk olehnya.


"Jangan berlama - lama, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda kemarin." Rina beringsut duduk di sofa yang berseberangan dengan Harry, seakan memperjelas status keduanya.


Wajah Harry tampak kecewa mendengar ucapan Rina, gadis di depannya saat ini sudah jauh berbeda dari yang dulu. Itu semua terjadi karena kesalahannya, jadi ia tidak layak menyalahkan gadis di depannya yang sekarang terlihat jelas menjaga jarak dengannya.


"Maafkan aku Rina, maafkan aku untuk kesalahanku dulu yang meninggalkanmu tanpa memberi alasan apa pun padamu." Harry memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku menyesal, seharusnya aku mengatakan ini sejak dulu." Rina masih memperhatikan lelaki yang sekarang berbicara di depannya.


"Untuk apa kau mengatakannya sekarang?"


"Untuk mendapatkan maaf darimu, Rin."


"Itu tidak perlu lagi Harry, sekarang kita tidak memiliki hubungan lain selain hubungan bos dan anak buah."


"Tapi bagiku itu perlu Rin, bahkan aku akan meminta maaf berkali - kali hingga kau benar - benar memaafkanku. Atau... " Harry kemudian berdiri dan berjalan ke depan Rina, bersimpuh dihadapan gadis yang begitu ia sayangi dan meminta maaf. "Aku akan berlutut seperti ini yg terus, agar kau memaafkanku Rin."


"Harry! Apa yang kau lakukan, jangan seperti ini." Rina hendak berdiri, namun pergerkannya di tahan oleh Harry.


Harry memegang kedua tangan Rina dan kembali meminta maaf.


"Ini tidak akan cukup jika aku hanya meminta maaf padamu Rin, ini tidak akan cukup... " Suara lelaki itu terdengar serak seakan menahan tangis.


Perasaan Rina semakin kacau, mata gadis itu sudah berkaca - kaca.


"Itu semua tidak perlu lagi Harry, kita sudah tidak memiliki hubungan apa - apa. Masa llu biar kan berlalu, untuk sekarang aku akan terus berjalan seperti ini. Jadi tolong lepaskan semua rasa bersalahmu, aku enggak akan menyimpan rasa kesal yang berlarut." Rina akhirnya berhasil bangkit dari duduknya, karena pegangan tangan Harry sudah terlepas di pergelangan tangannya.


"Aku akan kembali bekerja, permisi." Rina hendak berjalan kearah pintu, namun tiba - tiba Harry menahan dengan memeluknya dari belakang.


Tubuh Rina membeku di tempatnya berdiri, deru nafas yang berhembus diatas kepalanya merasa yakin jika ini bukan mimpi.


"Perlu Rin, aku memerlukan maaf darimu. Aku... masih mencintaimu, dan aku pulang kembali hanya untukmu. Aku mohon maaf kan aku, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Dengarkan penjelasanku dulu Rin, aku mohon." Dengan sisa - sisa suaranya, Harry memohon kepada Rina untuk mendengarkan penjelasan darinya.


Luruh sudah air mata Rina, ia tidak dapat menahan derai air mata yang kian deras. Begitu pun ia menyadari bahwa dirinya belum bisa benar - benar melupakan lelaki yang sedang memeluknya saat ini, bahkan debaran jantungnya masih sama saat dulu pertama kali bertemu dengan Harry.