
"Hei girls, lagi lamunin apa sih. Sampe aku panggil-panggil aja enggak denger?" menyenggol bahu Joy agar tersadar dari lamunannya.
"Hah? Kenapa Rin?"
"Ye... malah tanya balik dia" menoel pipi Joy sekarang, yang di toel malah menyengir aneh.
"Enggak cocok tau kamu cengar cengir gitu, ada apa sih kamu akhir-akhir ini kayaknya suka enggak fokus deh Joy?"
"Ehm.. enggak ada apa-apa Rin, memangnya aku kenapa? Biasa aja tuh!" tak ingin kebohongan nya terlihat jelas, Joy akhirnya menundukkan kepalanya menutupi kegelisahan yang akhir-akhir ini mengikutinya.
"Hei... kamu enggak bisa membohongiku teman, kita bukan baru saja berteman tetapi sudah sangat lama. Jangan bohong, ayo katakanlah..." melihat Joy yang masih ragu untuk berbicara, ia juga tidak bisa memaksakannya.
"Baiklah kalau jika belum bisa menceritakannya sekarang, beri tau aku jika sudah ingin membicarakannya. Tapi sekarang kita ke kantin dulu, aku lapar..." Rina merengek di depan Joy dan berhasil membuat sahabatnya itu tersenyum.
"Kau selalu bisa mengubah suasana, Rin"
"Begini juga tidak apa-apa, tersenyum saja sudah lebih enak di lihat haha..."
"Rina... " setelah meneriaki Rina yang sudah kabur, Joy juga berlari mengejar sahabatnya yang selalu bisa membuat moodnya kembali lebih baik.
Sampai di area kantin, Joy mengedarkan pandangannya mencari sosok sahabatnya.
"Hei... lagi nyariin aku yah. Hehe.. aku ke toilet dulu tadi" Rina memberi penjelasan mengapa dia baru datang, karena Joy memandangnya aneh seakan bertanya 'sembunyi dimana anak ini'?.
"Enggak tanya" Joy berjalan meninggalkan Rina yang masih berdiri di tempatnya.
"Cuma kasi tau aja kok" Rina akhirnya mengikuti Joy.
"Enggak mau tau juga tuh, bu pesen kayak biasa dua ya" dengan cueknya Joy berjalan mencari kursi dan meja yang bisa mereka tempati untuk makan siang.
"Yess.. berhasil, Joy udah balik hahaha.."
"Apa an sih kamu, Rin. Aku dari tadi juga disini kali"
"Iya, raga kamu aja yang ada. Tapi jiwa kamu enggak tau deh kemana"
"Hushh sembarangan" Joy menepuk lengan Rina cukup kuat, sehingga membuatnya mengadu kesakitan.
"Rasain tuh, udah sadarkan kalau jiwa aku kembali" Rina menggeleng.
"Ini kayaknya monster yang rasukin raga kamu deh Joy, tenaganya jadi kenceng banget. Apa jangan-jangan tulang ku retak lagi, gara-gara di pukul kamu"
"Rina.. udah deh, entar aku tabokin kamu ya"
"Ok, ok piss.. becanda Joy hahaha.." Rina mengangkat tangan nya dengan dua jari membentuk V.
"Kamu sih, bercanda mulu dari tadi"
"Habis kamu nggak ada respon sama sekali pas di kelas, aku kan jadi bingung kamu kenapa Joy"
"Hah.. begitulah Rin, beberapa hari ini aku malah semakin memikirkan keberangkatan Jhony. ck padahal aku sudah mengatakan padanya, kalau aku akan baik-baik saja di sini. Tapi.. belum juga dia menghadapi ujian kelulusan, aku sudah khawatir saja"
"Ternyata itu masalahnya" Rina mencoba merangkai kalimat untuk menenangkan Joy, ia menatap sahabatnya yang memandang ke sembarang arah. Ia sebenarnya tahu bahwa sahabatnya sedang berusaha mengalihkan perhatiannya ketempat lain, untuk menghindari bertemunya tatapan mereka.
"Joy.. kamu dan kak Jhony bukan baru pacaran kan? Dan kamu juga tau bagaimana perasaannya terhadapmu, seharusnya aku yang merasakan hal yang kamu rasakan Joy. Hubungan aku sama Harry sepertinya enggak ada kepastian gini" tak bisa di pungkiri bahwa hubungan Rina dan Harry memang terkesan santai dan tidak pernah menyinggung ke arah yang lebih serius.
"Rina.. ah maaf, harusnya aku tidak seperti ini" Joy merasa tidak enak sudah membuat Rina teringat dengan hubungannya yang ia tahu tampak tidak terlalu harmonis.
"Tidak apa-apa Joy, santai aja lagi. Aku juga enggak terlalu serius menjalani hubungan dengannya, kalau bisa lanjut ya aku bersyukur. Kalau pun tidak lanjut, aku akan menjadikannya cinta monyet ku yang enggak terlalu penting" Rina tersenyum memandangi Joy dengan wajah bersalahnya.
"Kamu kuat banget Rin, aku salut sama kamu" mencoba memberi kekuatan kepada Rina, Joy menggenggam tangan Rina.
"Tit..tit.. permisi eneng-eneng cantik, bibi bawain pesanan nya nih. Ayo dimakan mumpung masih panas, hehe..." bibi kantin datang membawa makanan yang di pesan oleh Joy tadi.
"Terima kasih bi" jawab Joy dan Rina bersamaan.
"Ah, eneng kompak banget"
"Tuh... udah kayak paduan suara aja neng, kalau gitu bibi balik dulu ya neng. Selamat menikmati" ucap bibi kantin yang bersiap kembali ke tempatnya.
Joy dan Rina hanya tersenyum kali ini, dan membiarkan bibi kantin kembali mengerjakan tugasnya menyajikan makanan yang di pesan murid-murid lainnya.
Berhubung jam istirahat, kantin pun terasa penuh meski ada beberapa siswa-siswi memanfaatkan waktu jam istirahat ke perpustakaan untuk belajar.
"Kenapa makanan bibi hari ini enak banget ya? Padahal kelihatan sama aja dengan yang biasa kita pesan" dengan lahap Rina menyendokkan makanan nya kedalam mulut.
"Perasaan kamu aja kali Rin, tapi kok kamu makan nya rakus banget sih?" Joy keheranan melihat sahabatnya yang makan dengan lahap, belum habis makanan di dalam mulutnya sudah di tambah sesendok lagi.
"Itu makanya, rasanya beda banget. Pokoknya ini enak banget deh sumpah, apa bibi ada tambahin jampi-jampi kali ya. Hehe.."
"Uhuk..uhuk.. " Joy tersedak mendengar ucapan Rina yang tidak masuk akal itu, tiba-tiba seseorang menepuk pelan punggungnya dan tangan satunya menyodorkan gelas es yang di pesan oleh Joy tadi.
"Pelan-pelan makannya, enggak ada yang rebut makanan kamu sayang" dengan mata terbelalak Joy melihat ke arah sosok yang sejak tadi berada dalam pikirannya, mulutnya sedikit menganga dan belepotan.
"Ka, kamu ada disini" Joy memegang tangan Jhony yang masih memegang bahunya, seperti melihat hal yang tidak nyata namun ingin memastikan kebenarannya.
"Iya, ini aku Joy" Jhony duduk di samping Joy setelah mengambil kursi kosong yang ada di belakang nya.
"Mulutnya di tutup, entar lalat masuk ke dalam baru tau rasa" Rina terkekeh dengan ucapannya sendiri, melihat tingkah laku sahabatnya itu membuatnya tidak bisa untuk tidak menggodanya.
"Eh, kok kamu bisa kesini. Tadi kan bilang enggak bisa makan bareng di kantin?"
"Aku lagi malas dan sedang lelah untuk belajar, jadi hari ini aku mau istirahat dulu. Dan juga... aku kangen sama kamu" di akhir kalimat Jhony berbisik di dekat telinga Joy agar tidak terdengar oleh orang lain, membuat Joy terlihat geli saat nafas Jhony berhembus ke telinganya.
Wajah Joy seketika bersemu merah, bagai sihir ucapan Jhony membuat Joy terdiam tak berkutik.
Ia ingin menyanggah ucapan Jhony, namun ia merasa malu kepada Rina yang sedang memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Ah.. kenapa tiba-tiba aku kayak nyamuk ya disini" Rini merengut kesal, melihat kedekatan dua sejoli itu.
"Haha.. sebentar lagi Harry datang Rin, kamu enggak bakal jadi nyamuk lagi!"
"Benarkah?"
Jhony mengangguk dengan mantap, membenarkan ucapannya tadi.
Dan benar saja, tidak lama kemudian Harry datang dan segera duduk di samping Rina yang baru saja menghabiskan makanannya.
Sedangkan Joy, ia merasa tidak ***** makan lagi. Karena orang yang sangat ia rindukan sudah duduk di sampingnya, ia tidak ingin melepaskan kesempatan untuk melepas rindunya.
Tetapi ucapan Harry selanjutnya membuat Jhony mendengus kesal.
"Itu bakso kamu nggak mau lagi Joy? Buat aku aja sini, aku laper nih makanan Riba udah di habisin aja" tangan Harry sudah meraih mangkuk yang ada di hadapan Joy dan hendak menarik mangkuk tersebut kehadapannya, namun Jhony segera menahan pergerakan tangannya.
"Tidak bisa, ini punya ku. Kamu pesan lagi sana" sungut Jhony.
"Ah, Jhony pelit.. " Harry kemudian berdiri dan melangkah pergi untuk memesan makanan untuk dirinya, sedangkan Jhony, Joy dan Rina menahan tawa melihat kelakuan Harry yang seperti anak kecil.
.
.
.
stay save readers
Loha.. readers sekalian, terima kasih untuk perhatiannya terhadap karya aku ya. Ini karya baru dan dengan penulis yang masih amatir, jadi mohon di maklumi kalau ada kesalahan tata letak kata dan juga typo dimana2...😥
salam sehat selalu by Me🤗
Terima Kasih😉