Let See The True Love

Let See The True Love
104.



Beberapa saat kemudian, Joy sudah sedikit tenang serta isak tangisnya juga mulai reda. Ia menceritakan kepada Jhony mengapa ia begitu sedih, gadis itu mengatakan bahwa ia teringat kembali jika Jhony akan segera berangkat ke luar negeri. Itulah yang menjadi pemicu gadis itu menangis, selain itu ia juga memikirkan apa yang dikatakan kekasihnya tadi. Tentang bagaimana orang tua mereka yang bekerja mati-matian agar mereka mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman.


Tidak ada yang salah dari perkataan yanv di ucapkan oleh Jhony, semua kembali lagi pada pemikiran masing-masing. Apakah bisa menerima kesibukan keluarganya, atau malah tidak setuju dengan kesibukan yang membuat waktu untuk berkumpul hanya sedikit.


"Jangan bersedih lagi, aku mungkin tidak akan bisa bertahan jika kau terus berarti seperti ini." Jhony membelai pipi Joy yang masih lembab oleh air matanya.


Joy menundukkan kepalanya, sebenarnya hatinya sudah lebih tenang. Hanya saja ia merasa terlalu malu untuk melihat wajah Jhony yang sangatlah dekak sekarang.


"Kita kan kembali menyusuri jalanan sebelum semakin siang, berbaringlah di bahuku jika kau merasa lelah dan ingin tidur. Mengerti!"


"Em.. baiklah." anggukan kecil dati Joy membawa Jhony kembali mengemudikan mobilnya, melewati jalanan yang mulai turun naik dan berbelok kanan kiri. Mereka sebenarnya sudah hampir sampai di tujuan, karena dari jalanan sudah mulai tampak hamparan beberapa kebun teh yang masih sedikit berkabut.


Baru lima belas menit mobil berjalan, Joy sudah mulai merasa ngantuk. Mungkin karena ia habis menangis, matanya terasa perih dan susah di buka. Perlahan tubuhnya mulai lunglai bergoyang kekiri dan kanan, Jhony membawa mobilnya agar lebih pelan supaya tidur Joy tidak terganggu. Jhony bahkan membawa kepala Joy untuk bersandar di bahunya, setelah itu ia kembali mengemudi dengan santai.


Matahari perlahan mulai terlihat mengintip dari balik gunung, cahanyanya mulai menyilaukan mata bagi yang melihat.


Mobil Jhony sudah terparkir di halaman villa sejak setengah jam yang lalu, seorang penjaga villa sudah menghampirinya tadi.


Jhony meminta penjaga villa itu membawakan tas miliknya dan Joy kedalam villa, dengan sangat pelan semua dikerjakan oleh penjaga villa.


Ia tahu jika tuan mudanya sedang bersama kekasihnya, mereka sudah di beritahu oleh sang nyonya beberapa hari sebelum kunjungan mereka hari ini.


Sebuah jaket milik Jhony membungkus tubuh Joy dengan rapih, setelah sampai Jhony merasakan tangan Joy yang dingin. Jadilah ia meminta penjaga villa mengambil jaketnya yang berada dikursi penumpang bersama dengan tasnya, dan memakaikannya kepada Joy.


Jhony memperhatikan wajah Joy dari kaca spion yang tergantung di atas dashboard mobil. Menatap lekat wajah gadis yang teramat ia cintai, tidak akan pernah ada kata bosan meski setiap hari bertemu dengan dia itupun ia kadang masih merindukannya.


Joy akhirnya mulai menggerakkan kaki dan tangannya, ia melenguh dan sedikit bergumam kecil.


"Ugh... dimana ini, ah.. apa kita sudah sampai?" memandang sekitar, lalu beralih kepada Jhony "Sejak kapan kita sampai? Kenapa tidak membangunkanku?" gadis itu mengucek matanya yang terasa berat dan buram.


"Kita baru saja sampai, apa kantukmu sudah hilang?" mencermati kekasihnya yang menguap sebentar dan meregangkan otot-ototnya yang terasa keram karena terlalu lama dalam posisi tidur tadi.


"Sedikit, sudah jam berapa sekarang?" melihat sekitaran halaman villa yang besar, Joy terkagum.


"Baru setengah delapan, ayo kita masuk." menunjuk kerumah besar yang ada di depan mereka, tampak kokoh dengan dua pilar besar yang menyanggah bagian depan rumah tersebut.


Belum juga kaki mereka naik ke teras villa, seorang wanita paruh baya sudah di depan pintu menunggu kedatangan kedua orang yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan. Wanita paruh baya itu tidak dapat menahan senyum di bibirnya melihat kehangatan keduanya, sepasang kekasih yang tampak sangat cocok di matanya.


"Selamat datang tuan muda, selamat datang nona." wanita paruh baya mengulas senyum yang begitu manis.


"Hallo bibi, dimana nenek?"


"Nyonya besar ada di kamarnya, tuan muda. Sepertinya.. nyonya besar belum bangun."


"Baiklah kalau begitu, aku akan melihat ke kamarnya saja."


"Tentu tuan muda, nyonya besar pasti sangat senang melihat anda sudah datang dan langsung menemuinya." Jhony segera masuk dengan masih meggandeng tangan Joy, ia seakan enggan melepas tangan yang sedari tadi terpaut erat.


Joy merasa sedikit canggung, jantungnya sedari tadi berdebar tak karuan. Apalagi ketika mereka baru saja sampai di depan kamar nenek Jhony, kepanikan semakin menjalar kehatinya sekarang.


Ia langsung menahan pergelangan tangan Jhony saat lelaki itu hendak membuka pintu kamar sang nenek.


"Tunggu sebentar.." Jhony menoleh ke belakang.


"Ada apa?" Jhony merasa heran dengan sikap Joy.


"Aku.. tunggu sebentar ya, aku ingin menyiapkan dulu." Joy merapihkan pakaian dan penampilannya sejenak.


"Apa kau merasa gugup?" Joy mengangguk "Tidak perlu gugup, bukannya kau sudah pernah bertemu dengan nenek sebelumnya?" Jhony sudah mengubah posisi dengan memegang kedua bahu Joy, menatap lekat wajah pucat Joy membuatnya tahu betapa gugup nya gadis itu saat ini.


"Iya sih, tapi... saat itu aku hanya bisa menyapa sebentar dan tidak berbincang dengan beliau. Makanya aku merasa gugup sekarang."


"Jangan takut, nenek bukan orang yang galak. Dia sangat baik, dan lemah lembut jadi usir semua kekalutanmu itu oke." dari ucapan Jhony, rasanya Joy bisa percaya sekarang. Meski masih tidak bisa mengusir semua kecemasannya.


Tak ingin neneknya terkejut, Jhony duduk dengan perlahan dibahu kasur diikuti Joy di belakangnya. Tangannya meraih tangan kurus sang nenek, terasa dingin di bagian yabg teraba oleh Jhony.


Mata sang nenek kemudian berkedip sesaat, merasa ada seseorang sedang memperhatikannya ia pun menoleh disebelah kiri dimana Jhony duduk di sana.


Senyum terhias indah di wajah seorang nenek yang usianya saat ini sudah menginjak tujuh puluh tahun. Tangan kanannya terangkat untuk memegang pipi Jhony yang juga tersenyum kepada neneknya.


"Sayang.. kapan kau sampai, kenapa tidak ada yang memberitahuku? Aku juga ingin menyambut cucuku." suara serak efek baru bangun tidur terdengar oleh Joy, sejak tadi ia bersembunyi di balik punggung Jhony.


"Kami baru saja sampai nek, nenek tidak perlu repot-repot untuk menyambut kami."


"Kau tidak sendiri nak?" anggukan Jhony membenarkan ucapan sang nenek "Ibu juga datang bersama mu? Dimana dia sekarang?" begitu rindunya ia dengan menantu yang sudah di anggap anak perempuan untuknya, ibu Jhony adalah menantu dari sang nenek sedangkan ayah Jhony adalah putra satu-satunya dari wanita paruh baya itu.


"Momy akan menyusul kemari nanti, nek?"


"Lalu kau datang dengan siapa?" melihat ke belakang Jhony.


"Halo nenek.. " ada sedikit keraguan tetapi Joy meyakinkan diri untuk muncul dengan perlahan dari balik punggung Jhony, seutas senyum lebar tersungging di bibirnya.


"Ini.. seperti nya aku pernah melihatnya. Bukan begitu Jhon?" Jhony tersenyum kepada sang nenek.


"Benar nek, dia gadis yang Jhony ceritakan kepada nenek. Inilah 'Joy' nya Jhony, dia cantik seperti yang kukatakan bukan?" menyebutkan nama 'Joy' yang dalam arti lain adalah sukacita.


"Ah.. tentu saja, dia gadis yang sangat cantik dan manis. Kemari sayang, bantu nenek bangun dulu Jhony aku ingin melihatnya dengan jelas." Jhony membantu neneknya untuk duduk sambil bersandar pada sandaran kasur, kemudian Joy berpindah duduk lebih dekat dengannya.


Jhony sedikit memundurkan duduknya, sehingga sekarang Joy yang duduk di depannya.


"Jam berapa kalian memulai perjalanan, sepagi ini sudah sampai di sini. Apa kau sudah meminta ijin kepada orang tuanya untuk membawa putri mereka kemari?" Sang nenek memegang kedua belah pipi Joy yang terasa dingin, ia dapat mengetahui bahwa keduanya datang kemari saat keadaan masih gelap setidaknya sekitar jam dua subuh mereka sudah menuju kemari.


"Tentu saja nek, aku tidak mau di laporkan kepolisi saat mereka tahu putri mereka tidak ada di rumah hehe..." Jhony terkekeh, membuat sang nenek tergelak.


"Benar, jika anak laki-laki ini nakal maka pukul saja dia sayang. Jika dia menyakitimu, katakanlah kepada nenek agar aku bisa menghajarnya untuk mu."


"Haha.. baiklah nek, aku akan menghajarnya jika dia tidak baik pada ku." akhirnya tawa Joy terdengar lebih baik sekarang, rasa gugupnya segera hilang saat nenek Jhony bersikap hangat kepadanya.


"Kita harus sarapan bukan? Aku akan bersiap, kalian berdua tunggulah aku di ruang makan." nenek Jhony sudah bersiap untuk turun dari atas kasur.


"Apa nenek mau ku bantu ke kamar mandi?"


"Tidak, tidak perlu mengkhawatirkan ku sayang. Aku bisa sendiri, Jhon.. bawalah Joy berkeliling sebentar saat nenek bersiap." setelah berdiri, sang nenek tampak sangat kuat dan juga tidak selemah tadi.


"Baiklah nek, aku akan terima perintahmu dengan baik." Jhony bergaya seolah menjadi prajurit yang mendapat perintah untuk mengawal sang putri.


Sebuah senyuman kembali terbit di wajah sang nenek, ia begitu terhibur dengan kedatangan Jhony dan juga Joy saat ini. Cucu satu-satunya itu selalu bisa mengubah suasana hatinya. 'Kau sangat mirip dengan ayahmu, cucuku sudah dewasa...'


Pandangan mata sang nenek tertuju pada sebuah pigura yang berdiri kokoh atas disebuah lemari yang terbuat dari kayu disamping meja riasnya.


.


.


.


Halo" Me mau ingetin buat bantu like karya aku ya, Let See The True Love yang sebentar lagi mau tamat.


Oh iya, Me juga ada novel baru judulnya Cinta Antara Kita.. sekilas aja ya ceritanya itu tentang cinta segitiga, untuk lebih jelasnya silahkan mampir dan tinggalkan jejak komen like dll ya..😘😘


terima kasih🙏🏻


stay save😉