Let See The True Love

Let See The True Love
116.



Rina sedang menikmati kopi paginya di sebuah kafe di dekat kantor, karena pertemuannya dengan Harry yang tiba – tiba itu membuat malam harinya cukup sulit untuk dilewati.


Tidur malamnya terganggu, bahkan hingga dini hari ia belum juga bisa untuk mengistirahatkan pikiranya yang kacau. Disaat matanya mulai tidak mampu lagi menahan kantuk, akhirnya ia terlelap sejenak dan terbangun lagi saat alarm di ponselnya berbunyi dengan sangat keras.


“Lelah sekali, jika tidak ada acara penyambutan owner baru hari ini pasti aku sudah rebahan di kasur hingga sore hari.”


Rina meracau tidak jelas, kantong matanya cukup jelas memperlihatkan bahwa ia tidak cukup tidur tadi malam.


“Hai Rin, kamu enggak apa – apa?” Sapa Joy yang baru saja datang.


“Menurut kamu?” Rina malah bertanya balik.


“Sepertinya kamu habis ngalami malam yang buruk ya?”


“Em... Begitulah Joy.”


Keduanya mulai berjalan masuk kedalam kantor sambil bercerita.


“Apa kamu siap untuk penyambutan hari ini?”


“Kalau tidak ada penyambutan owner baru, aku juga enggak bakal mau masuk Joy. Lihat ini, dan ini lagi...” Menunjuk lutut dan juga matanya. “Kakiku masih sangat sakit dan penampilanku juga tidak begitu enak dilihat, aku hanya tidak ingin dibilang karyawan yang tidak disiplin. Apalagi aku masih baru Joy, kamu akan jadi bahan pembicaraan juga karena sudah membawa teman yang tidak baik kedalam kantor.”


“Benar juga sih, tapi...” Ucapan Joy terhenti saat melihat beberapa orang berlari ke depan lobi.


Keduanya segera berbalik dan mencari apa yang membuat mereka semua berlarian keluar, ternyata rombongan owner baru mereka sudah sampai di depan kantor. Seluruh karyawan yang berada di lobi diminta untuk tetap disana dan berjajar rapih untuk memberikan sambutan kepada atasan baru mereka, tidak terkecuali Rina dan Joy.


'Gawat nih, gimana cara alihin perhatian Rina nih. Duhhh... aku belum kasi tau lagi, kalau owner baru yang datang adalh Harry' Joy.


“Joy... Kenapa diam, ayo baris. Nanti keburu mereka masuk, enggak enak kalau kita masih belum berbaris di sana.”


Rina menarik tangan Joy untuk ikut berbaris dengan rapih. Joy kehilangan kata – kata, ia masih belum menjelaskan kepada Rina siapa sebenarnya owner baru mereka.


Ia semalam bahkan lupa untuk memberitahukannya kepada Rina, bahkan ia juga melewatkan waktu untuk berbagi telepon dengan Jhony. Jadinya, pagi – pagi tadi ia hanya bisa mengirimkan pesan yang hingga sekarang belum juga dibalas oleh kekasihnya.


Kembali di lobi utama perusahaan yang cukup terkenal dikotanya, mata Rina melirik di kejauhan beberapa orang yang turun dari sebuah mobil mewah. Seseorang yang ia yakini adalah pemilik perusahaan, dan satunya lagi adalah asisten pribadi darinya. Tapi ada seseorang lagi yang belum terlihat jelas, namun ia segera menundukkan kepalanya saat Joy menyenggol lengannya.


“Ih... Joy. Aku belum sempat melihat jelas wajah owner baru kita!”


“Mereka akan segera lewat, lagian kamu kan bisa melihatnya dengan puas nanti saat dia sudah sepenuhnya menjabat sebagai owner disini!” Kesal Joy.


“Enggak sama Joy, aku pengen pamer sama yang lain kalau aku uda lihat duluan hihi...”


Hah... “ Joy menghela nafasnya kasar, pikirannya yang kini tidak menentu jadinya.


‘Kamu belum tahu aja siapa yang akan jadi owner barunya, Rin. Semoga saja kamu enggak terlalu terkejut nanti.’


Seluruh karyawan yang berada disana tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka sebelum pemilik perusahaan sampai di lift, namun karena begitu penasarannya Rina, ia melirik sekilas saat semua pejabat tinggi itu baru saja melewati ia dan Joy.


Rina begitu terkejut saat pandangannya bertemu dengan seorang laki – laki yang amat ia kenal dan wajahnya tidak pernah hilang dalam ingatan Rina. Lama kedua orang itu saling mengikat pandangan, hingga akhirnya Rina yang tersadar segera menunduk kembali. Jantungnya berdebar semakin cepat, seakan mengejar langkah kaki lelaki tadi.


‘Apa yang terjadi sebenanya, kenapa ... kenapa dia ada disini?’ Gumam Rina didalam hati.


Sampai di dalam lift, sebelum pintu tertutup Harry masih terus melihat ke arah Rina meski gadis itu sudah menundukkan kepala. Senyum kecil terlukis di wajahnya, ia tidak bisa menepis rasa senang yang begitu besar di dalam hatinya. Gadis yang selama ini ia cari, ternyata ia temukan didalam perusahaan yang akan segera ia ambil alih.


Hingga pintu lift tertutup, Rina segera mengangkat kepalanya dan melihat kedepan. Pandangan kosong yang terlihat jelas dimatanya membuat Joy merasa bersalah.


“Rin, ayo kita naik ke atas.”


Tanpa menjawab ucapan Joy, Rina langsung berjalan kearah lift yang tadi baru saja di naiki oleh Harry. Ia berjalan dengan gontai, seakan tubuhnya bisa saja terbang jika tertiup angin.


Ramai karyawan yang baru datang menunggu di depan lift, mereka tampak ingin segera mengabarkan berita yang baru saja mereka alamai.


“Kamu lihat kan tadi, owner baru kita ternyata masih muda ya.”


“Iya benar, boleh nih caper – caper dikit hihihi... “


“Benar juga, kira – kira uda punya gebetan belum ya?”


“Emang kenapa? Kamu mau anti buat jadi kekasihnya?”


“Hushh... Jangan sembarangan ngomong, aku cuma penasaran. Lagian ... mana mungkin dia suka sama kita yang dari kalangan biasa kaya gini.”


“Bener juga sih, apa lagi gue denger – denger dia itu lulusan dari luar negeri loh.”


“Pantesan cakep banget...”


“Eh liftnya, yuk naik.”


Begitu percakapan dua orang wanita yang sedang membicarakan owner baru mereka, yang selain tampan. Lelaki itu juga punya segudang prestasi, dan soal pendidikan tidak perlu diragukan lagi kehebatannya yang kini akan segera menjadi pengusaha muda yang tidak dapat dianggap remeh.


“Rina, kamu enggak kenapa – napa kan?” Tanya Joy yang tampak khawatir dengan sahabatnya itu.


Gelengan pelan diberikan Rina sebagai jawaban, namun itu tidak membuat Joy tenang. Apalagi dengan perubahan sikap dari Rina, sangat membuatnya semakin khawatir.


‘Apa yang harus aku lakukan nih, Harry... cepat – cepatlah ajak Rina untuk membereskan masalah kalian. Kasihan Rina, gadis ceria yang selalu tertawa dan bahagia semakin enggak terlihat sekarang.’


Joy hanya bisa menggumamkan apa yang sedang ia harapankan saat ini untuk sahabatnya.


Lift membawa keduanya sampai dilantai yang mereka tuju, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Rina. Ia hanya membisu dan mematung di dalam lift, sedangkan matanya masih sama. Seakan begitu banyak beban yang ia rasakan sekarang, dan sulit baginya untuk menuntaskan beban itu.


Untuk menghargai privasi masing - masing, Joy memilih untuk tidak menyinggung masalah Harry saat ini.


“Selamat bekerja ya, Rin.” Putus Joy.


Hanya anggukan yang di berikan oleh Rina kali ini, setelah itu ia berlalu ketempat duduknya. Beberapa orang tampak berkumpul, beberapa orang yang tadi juga melihat Harry datang membuat kehebohan yang pasti juga mengundang keingintahuan kepada yang lainnya.


Selamat membaca readers


Stay save ya😉