
Mobil Jhony kini sudah terparkir di halaman rumah Joy, waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit keduanya masih belum ada tanda tanda akan keluar dari mobil.
"Em.. Joy.. aku mau bicara sebentar" Jhony berucap dengan perlahan sambil memperhatikan raut wajah Joy
"Boleh, kakak bicara aja" Joy membalas tatapan Jhony
"Sebenarnya aku mau bilang, kalau aku suka sama kamu dari saat MOS" menundukkan kepalanya sejenak melihat jari jarinya yang saling meremas tak karuan, jantungnya kini berdegup kencang tanpa bisa di kendalikannya "Hanya saja, aku takut perasaan ku hanya sementara dan sepihak jadi aku belum mengungkapkannya sampai hari ini.." Jhony berhenti sejenak lalu menatap Joy kembali "Aku beranikan diri untuk mengutarakannya padamu, karena aku sudah memantapkan hatiku untuk menyukaimu meskipun nanti akan di tolak oleh mu aku tidak peduli yang terpenting adalah aku sudah memberitahu kan padamu perasaan ku ini" senyum menawan tergambar di wajah tampan Jhony saat ini, membuat Joy tak bisa untuk tak membalas dengan senyuman manisnya.
Kedua nya tampak salah tingkah setelahnya, lalu Jhony menggenggam kedua tangan Joy secara tiba tiba dengan kedua tangan nya.
"Joy.. aku berjanji akan menjagamu, aku juga berjanji akan terbuka padamu karena akan ada waktu dimana kita akan di uji. Kita memang masih muda tapi aku tak akan menganggap hubungan kita saat ini hanya main main, aku sungguh ingin menjalani hubungan yang serius dengan mu" kecupan manis mendarat di kedua punggung tangan Joy saat ini, mata Joy membelalak lebar sungguh di luar dugaan nya bahwa Jhony akan mengatakan kata kata yang begitu indah di dengar dan menyentuh hatinya yang terdalam.
"Kak, aku tak bisa janji untuk tak membuat kak Jhony kesal atau marah. Tapi.. aku janji akan berusaha menjadi pacar yang baik untuk kakak" tanpa di duga Joy kemudian mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Jhony dan mengelusnya perlahan, Jhony memejamkan matanya merasakan sentuhan gadis yang hari ini telah resmi menjadi kekasihnya.
Sungguh kebahagiaan mereka saat ini tak dapat di gambarkan, perasaan mereka terbalaskan dan saling menerima satu sama lain. Jhony kembali mengecup telapak tangan Joy sesaat dan kembali tersenyum.
"Aku turun dulu, kamu tunggu di sini ya" suara Jhony kemudian terdengar, meminta Joy untuk menunggu di dalam mobil dan dia pun segera turun dari mobil membuat Joy merasa bingung apa yang akan di lakukan oleh Jhony. Namun sesaat kemudian penasaran nya pun terjawab sudah, saat pintu mobil di sebelahnya terbuka dan terlihat Jhony mengulurkan tangan untuk membantu Joy keluar dari dalam mobil.
Mendapati perlakuan manis dari Jhony membuat wajah Joy bersemu merah, untung saja ini di malam hari jadi tidak terlalu jelas terlihat wajahnya.
"Terima kasih kak" jawab Joy sembari meletakkan tangan nya di tangan Jhony yang terulur.
Keduanya berjalan ke arah pintu rumah dengan tangan yang masih terpaut, sesekali mereka saling menatap sejenak tanpa mengucapkan kata seolah tatapan mereka yang berbicara.
sampai di depan rumah Joy, Jhony pun segera mengetuk pintu.
Tok..tok..tok..
Mereka menunggu sejenak di sana, kini tangan mereka tak lagi saling terpaut. Pintu rumah seketika di buka oleh mama Silvi, kedua orang tua Joy memang sudah menunggu anaknya. Karena sebelum pulang tadi Joy sudah memberi kabar baru menuju ke rumah, jadilah papa dan mama Joy menunggu di ruang keluarga saat ini.
"Sayang, sudah pulang?" tanya mama Silvi kepada Joy
"Iya ma.."
"Nak Jhony, terima kasih sudah repot repot anterin Joy ya" mama Silvi tampak tak enak sudah merepotkan Jhony.
"Sama sama tante, nggak ngerepotin koq tan"
"Masuk dulu yuk, di dalam ada papa nya Joy.."
"Oh nggak usah dulu tan, udah bau gini juga. Besok aja tante saya kemari lagi, terima kasih tante" Jhony mengangguk tak enak sudah menolak ajakan mamanya Joy
"Oh iya sih, seharian sudah panas panasan pasti nggak enak. Ya sudah hati hati nyetirnya nak" mama Silvi mengingatkan untuk berhati hati kepada Jhony
"Baik tante, kalau begitu saya pamit dulu salam buat om ya tan. Selamat malam tante" berpamitan kepada mama Silvi Jhony tak lupa menitip salam kepada papa nya Joy
"Baiklah nak Jhony, malam"
"Aku pulang dulu ya Joy, dah.."
"Iya kak, hati hati di jalan kak.."
Kedua nya tampak malu malu di depan mama nya Joy, mama Silvi yang sedari tadi memperhatikan anaknya saat dia berbicara dengan Jhony pun merasa curiga kepada sang putri. Joy masih saja menatap mobil Jhony yang sudah hampir tak terlihat lagi, membuat sang mama merasa harus menggoda anak nya.
"Ehemm.. besok kan ketemu lagi kenapa di liatin sampe segitu nya sehh" mama Silvi mencolek dagu Joy dan mencubit pipi anaknya dengan gemas
"Ihh.. mama apa an sih" senyum malu malu tergambar di wajahnya, dia pun segera masuk ke dalam rumahnya.
"Besok janjian mau kemana sayang?" tanya mama Silvi penasaran
"Maksud mama?" Joy merasa bingung dengan pertanyaan mamanya
"Tadi kata Jhony, besok dia mau datang ke rumah. Besok kan hari libur, jadi nggak sekolah terus Jhony datang buat apa dong?" mama Silvi balik bertanya pada anaknya
"Mau datang buat main aja kali ma!" seru Joy
"Masa sih, nggak ada janjian gitu mau kemana?" masih mencoba bertanya kepada sang anak, kali ini Joy hanya mengedikkan bahunya
Sampai di ruang keluarga, Joy segera menuju ke sofa tempat sang ayah tengah bersantai sambil nonton tayangan ke sukaan nya.
"Malam papa, muachh.." Joy mencium pipi papanya secara tiba tiba
"Malam sayang, sudah pulang? Siapa yang antar kamu nak?" tanya sang papa kepada Joy
"Oh, mandi gih sayang kamu bau deh seharian nggak mandi kan. Bau keringat" goda sang papa
"Ah.. papa gak asyik, orang uda pewe juga" cemberut Joy mendapati papa nya yang mengatainya bau
"Iya tapi memang kamu bau sayang, bau acem hahaha.." canda papa Joy sambil tertawa
"Bau bau gini tapi masih tetap cantik kan pa?" Joy kembali tersenyum kepada sang papa
"Iya cantik ratu adem, sana mandi"
"Ya udah deh hehe, da pa ma" pamit Joy dengan senyuman lebar
Papa Joy yang melihat tingkah sang anak yang aneh pun bertanya pada sang istri dengan isyarat, namun istrinya hanya mengedikkan bahu dan mengangkat alisnya lalu keduanya pun tersenyum di sana.
Selesai membersihkan diri, kini Joy sudah duduk di atas kasurnya dan memandangi ponselnya. Dia memperhatikan salah satu kontak di ponselnya, siapa lagi pemilik kontak tersebut kalau bukan Jhony. Joy berniat mengedit nama kontak tersebut yang sebelumnya di beri nama 'Kak Jhony' tapi dia ragu untuk mengubahnya, akhirnya dia meletakkan kembali ponselnya di atas kasur. Tak lama ponsel itu pun berbunyi, tanda pesan yang terdengar dengan cepat Joy meraup ponselnya dan membuka pesan tersebut. Tampak nama 'Kak Jhony' yang terlihat di kotak pesan
(Kak Jhony)
"Malam Joy, lagi ngapain sekarang?"
(Joy)
"Malam Kak, Lagi baring baring aja di kamar. Kak Jhony lagi ngapain?"
(Kak Jhony)
"Capek ya, aku lagi mikirin kamu!"
(Joy)
"Kak Jhony...😤"
(Kak Jhony)
"Beneran aku lagi mikirin kamu lagi ngapain udah tidur apa belum, makanya aku kirimin kamu pesan jadi aku tahu kamu lagi ngapain😁"
(Joy)
"Iya ya😆"
(Kak Jhony)
"🤗.. capek nggak?"
(Joy)
"Banget..😵"
(Kak Jhony)
"Ya udah, istirahat gih. Selamat malam, sampai ketemu besok 💙"
Tadinya saat berbagi pesan denga Jhony, Joy rasanya sudah ngantuk berat tapi ketika Jhony mengirimkan pesan terakhir nya. Joy langsung melotot ke layar ponselnya, di sana ada emotikon hati berwarna biru seketika membuat Joy berteriak kegirangan namun setelahnya dia membekap mulutnya sendiri.
(Joy)
"Selamat malam kak, sampai besok ❤"
Joy mengurimkan tanda hati berwarna merah kepada Jhony, lalu dia pun menutup wajahnya dengan bantal nya dan berteriak di sana agar tak di dengar oleh ke dua orang tuanya. Tak jauh berbeda dengan Joy, di seberang sana Jhony juga melakukan hal gila lain. Jhony masuk ke dalam kamar mandi nya dan meneriakkan kalimat 'aku suka kamu Joy...'
.
.
.
stay save ya readers ku sayang💜, aku bingung nih bikin ceritanya gimana lagi. Yuk di komen biar aku bisa dapat ide2 keren dari readers yang kece, jangan lupa Like ya guys..
thanks😉