Let See The True Love

Let See The True Love
18.



Tiga hari telah berlalu, Joy pun kini sudah masuk sekolah kembali. Padahal dia tak ingin ijin sekolah namun apa daya, kakinya tak dapat dibawa berjalan karena akan menimbulkan rasa sakit yang sangat sakit saat melangkah. Mau tidak mau dia harus meliburkan diri selama tiga hari, sebenarnya dokter menyarankan untuk beristirahat selama satu minggu tetapi karena kegigihan nya meminta agar menjadi tiga hari saja. Kini Joy telah usai bersiap di dalam kamar nya, dia tampak tersenyum di pantulan cermin meja rias nya. Setelah beberapa saat dia pun mengambil tas sekolahnya dan bermaksud berjalan keluar, belum sempat membuka pintu seseorang sudah membuka nya terlebih dahulu.


"Hai, anak mama sudah p mendapat anggukan dari Joy


Mereka pun kini berjalan menuju ke dapur, di sana sudah duduk dua orang laki laki. Yang satu nya adalah papa nya Joy, namun yang satunya Joy tak dapat melihat wajahnya karena posisinya yang membelakangi mereka. Saat sudah hampir sampai di meja makan papa Joy menyadari anak nya sudah turun bersama sang istri, dia segera menyapa sang anak yang menatap bengong kepada sosok yang membelakanginya.


"Selamat pagi Joy, bagaimana perasaan mu hari ini? Kau sungguh akan bersekolah?" tanya papa Joy penuh khawatir


"Iya pa.." tak lama orang yang membelakangi Joy berbalik melihat ke arah Joy.


"Hai Joy, apa kabar?" orang tersebut menyapa Joy yang tampak kaget


"Ah, hai kak Jhony.." Joy pun tersenyum melihat sang kakak kelas lah yang menjemputnya


"Ayo sayang kita duduk dan sarapan" pinta sang papa saat di lihat nya Joy yang terbengong di tempat


"Iya pa.." lalu mama Silvi kembali membantu Joy berjalan ke arah meja makan dan mendukukkan nya di salah satu kursi, mulai mengikuti papa nya dan Jhony yang sudah mulai sarapan terlebih dahulu. Karena tampak dari piring di depan mereka yang sudah terisi.


Mereka makan sambil sesekali papa Joy bertanya kepada Jhony tentang sekolah nya, Joy yang melihat ke duanya yang akrab hanya bisa tersenyum. Tak di sangka oleh nya kakak kelas nya ini bisa semudah itu akrab dengan seseorang apalagi dengan papa nya. Mama Joy yang melihat anaknya memperhatikan interaksi sang ayak dan teman nya itu juga ikut tersenyum, karena pagi ini sebelum dia naik ke atas untuk memanggil anaknya itu Jhony sudah sampai di sana mereka sejenak berbincang dan Jhony mengatakan akan menjemput dan mengantar Joy pulang. Awalnya mama Silvi merasa tidak enak dan sungkan untuk membiarkan Jhony mengantuk Jemput sang anak, namun melihat ke sungguhan Jhony yang datang pagi pagi sekali membuat nya percaya jika dia bisa menjaga putri satu satunya itu.


Selesai sarapan Joy dan Jhony berpamitan kepada ke dua orang tua Joy untuk segera berangkat sekolah, Jhony membantu Joy berjalan masuk ke mobilnya di sebelah kemudi lalu setelahnya dia pun berjalan ke arah sebaliknya menundukkan sedikit kepala nya saat melihat kedua orang tua Joy yang masih melihat mereka di teras rumah.


"Senang melihat anak kita punya teman yang sopan ya pa" suara mama Silvi tiba tiba terdengar


"Emm, iya ma. Dia juga sangat baik, menurut mama apa dia suka sama putri kita?" papa Joy bertanya sambil melihat ke arah istrinya.


"Apa sih papa, anak kita masih sekolah mana boleh pacaran?" memukul pelan bahu sang suami, mama Silvi kurang menyetujui anaknya untuk berpacaran saat masih sekolah


"Nggak apa dong ma, mana tahu bisa buat dia tambah semangat belajar. Apalagi kalau yang pacaran sama dia juga pintar, kan jadi bisa membantu putri kita kan ma?" sedikit candaan yang di lontar kan oleh papa Joy membuat mama Silvi menyikut pelan dada suami nya.


"Ah nggak tahu deh, terserah papa" Akhirnya mama Silvi memilih berlalu masuk ke dalam rumah, namun papa Joy masih berdiri sambil memandangi punggung sang istri yang sudah berjalan masuk meninggalkan nya sendiri di depan pintu rumah nya.


Di dalam mobil Jhony, Joy hanya diam tenggelam dalam lamunannya. Lebih dari pada itu, dia merasa tak enak dengan sikap Jhony yang begitu baik untuk menjemputnya pergi ke sekolah.


"Apa masih sangat sakit kaki kamu?" tanya Jhony memecah keheningan, Joy pun tersadar kembali dari lamunannya tadi.


"Oh, masih di beri obat nggak?" masih dalam keadaan fokus menyetir dan memperhatikan jalanan Jhony kembali bertanya kepada Joy


"Ada kak, Joy juga ada bawa obatnya. Mama udah siapin semua tadi" kini Joy memberanikan diri menatap Jhony yang masih tetap fokus menyetir, diperhatikan nya benar benar wajah yang menarik hati nya untuk berdebar tak karuan. Dengan gerakan tiba tiba dia mengelus dadanya dan mengalihkan pandangan ke arah samping jendela kaca mobil menyembunyikan wajahnya yang entah mengapa saat ini terasa panas.


Gerakan Joy tak sengaja di perhatikan oleh Jhony, sesekali Jhony kembali melirik ke arah Joy merasa bingung apa yang di lakukan gadis tersebut. Setelah beberapa saat kemudian Joy kembali melihat ke arah jalanan, dan mengatur wajahnya agar tampak biasa. Jhony kembali melirik ke arah Joy saat ini melihat wajah sang gadis yang tampak gugup, saat berada di lampu merah Jhony kembali memperhatikan wajah Joy dan kali ini mereka dapat saling menatap karena Joy tiba tiba memalingkan wajahnya ke arah Jhony karena dia merasa sedang di perhatikan.


Lama tatapan mereka terkunci, namun semua harus berakhir saat dari arah belakang mobil lain mengklakson mobil Jhony yang tak juga jalan. Kembali fokus ke jalan raya, Jhony dan Carol tersenyum simpul dan ada rona merah yang tampak di wajah mereka.


Hingga sampai di parkiran keadaan sekolah masih sepi karena masih pagi sekali, Jhony dengan cepat turun dari mobil dan berputar membuka kan pintu untuk Joy dan membantunya berjalan masuk ke kelas. Saat Jhony membantu memapahnya berjalan, Joy merasa jantungnya berdebar kian kuatnya. Sesekali dia pun mendongak untuk melirik wajah Jhony namun lagi mereka bertemu tatap dengan cepat Joy menunduk menyembunyikan rasa malunya saat tertangkap sedang memperhatikanb Jhony, Jhony membawa nya sampai ke dalam kelas yang masih kosong, hanya ada satu dua siswa saja yang datang.


"Aku ke kelas dulu ya Joy, oh iya istirahat nanti aku ke sini lagi" Jhony pamit untuk ke kelas dan Joy mengangguk, dia berjalan ke arah pintu kemudian berbalik kembali melihat Joy yang masih memperhatikan nya Jhony pun melambai sejenak dan berlalu dari sana.


Joy tersipu malu sendiri mendapati dirinya di perlakukan begitu istimewa oleh Jhony, wajahnya tak lepas dari senyum mulai dari Jhony berjalan pergi hingga sekarang ini.


"Hei,, kesambet kamu pagi pagi gini udah senyam senyum sendiri?" suara Rina membubarkan senyuman nya, dia pin memegangi dadanya yang merasa kaget akibat teriak Rina tadi.


"Apa an sih Rin teriak teriak kagetin aja deh" Joy memukul pelan lengan Rina


"Hehe.. siapa suruh senyum senyum sendiri gitu, jadi bikin aku penasaran. Emang ada apa sih?" menatap heran ke arah sahabatnya yang masih senyum cengengesan


"Rahasia.." jawab Joy santai


.


.


.


stay save readers


agak kurang fit jadi absen beberapa hari, selamat membaca😉