
Di sekolah, bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Hampir seluruh siswa siswi sudah dalam perjalanan pulang selain kelas dua belas yang harus mengikuti les tambahan di sekolah.
Seperti yang sudah mereka bicarakan tadi pagi, jika Jhony mengikuti les, maka Joy harus pulang sendiri.
Disinilah Joy sekarang, berada satu mobil dengan Rina serta ayah dari Rina yang menjemput mereka.
Tidak ingin meninggalkan sahabatnya pulang dengan menaiki angkutan umum sendirian, Rina akhirnya membujuk Joy agar mau pulang bersama dengan nya. Meski Joy sudah menolak untuk ikut, karena menurutnya akan merepotkan ayah sahabatnya.
"Joy jangan merengut, enggak ngerepotin kok. Iya kan, yah?" Rina meminta persetujuan dari ayahnya atas ucapannya itu.
"Kasian paman harus antarin aku dulu batu pulang ke rumah, Rin" Joy kembali mendengus dan mengalihkan tatapannya ke arah jendela.
"Haha... tidak apa-apa nak Joy, biasanya juga Rina yang ngerepotin. Ini tidak masalah buat saya, lagian juga kita searah" ayah Rina menimpali pembicaraan keduanya.
"Tapi kan pam.."
"Sudah ah, kita udah mau sampai juga kali, Joy"
"Hah... " menghela napasnya kasar, tawa kembali terdengar dari dua orang ayah, anak yang berada di depan sana.
Sampai di rumah Joy.
"Terima kasih paman, hati-hati di jalan"
"Sama-sama nak, Joy"
"Sampai jumpa lagi" Joy mengangguk kan kepalanya sejenak.
"Sampai jumpa baby, hahaha.."
Joy kembali memanyunkan bibirnya mendengar balasan yang terdengar dari mulut Rina.
"Enggak usah manyun gitu, jelek tau gak sih... hahaha.." menertawakan sahabatnya yang masih memandang ke arah mobil "Yuk, yah.. kita jalan" kembali melihat ke arah Joy "Dah..." mobil berjalan di iringi lambaian tangan dari Rina yang di balas oleh Joy, seutas senyum kembali terlihat di wajah gadis itu.
Bagaimana pun rasa kesalnya kepada Rina, tetap saja mereka akan cepat berbaikan. Tampak sekali kedekatan mereka tidak dapat terpisahkan lagi, apalagi di saat kedua sedang di tinggal kekasih masing-masing untuk belajar.
"Kamu ya, suka sekali gangguin nak, Joy. Kasihan loh dia" ayah Rina menegur puterinya yang sangat jahil mengerjai sahabatnya sendiri itu.
"Apa sih ayah, belain anak lain, anak sendiri malah di omelin" giliran Rina yang merengut.
"Ya ampun Rina... ayah kan mengatakan yang sebenarnya, jangan suka jahil sama teman-teman di sekolah. Nanti nggak ada yang naksir kamu baru tahu rasa nak"
"Ayah mulai lagi deh, lagian anak ayah ini sudah punya pacar" lirih Rina, namun ayah Rina mendengar sedikit ucapan putrinya itu.
"Apa kamu bilang tadi? Pacar siapa, kamu punya pacar?" pertanyaan ayah Rina membuatnya terdiam seperti sedang berpikir bagaimana cara mengalihkan topik yang sedang di bahas oleh ayahnya.
Rina menyayangkan mulutnya yang keceplosan menyebut kata pacar, karena beberapa waktu ini ayahnya sering menanyakan tentang pacar kepada Rina.
Bukan nya tidak ingin memberitahukan nya kepada sang ayah, namun Rina merasa hubungannya dengan Harry mungkin hanya hubungan sesaat dan setelah mereka lulus bisa saja mereka tidak akan bertemu lagi. Mengingat Harry yang akan melanjutkan pendidikan di luar negeri bersama Jhony, memberi keyakinan kepada Rina untuk mengakhiri hubungan mereka nanti.
Tidak seperti Joy dan Jhony yang tampak begitu serius dengan hubungan mereka, sehingga kedua belah pihak orang tua pun sudah pernah bertemu. Sedangkan dia dan Harry, masih belum sampai tahap perkenalan dengan orang tua Harry.
"Sudah lah yah, ayah salah dengar. Fokus saja dengan jalanan di depan sana" memutus pembicaraan mengenai pacar, Rina mengalihkan pandangan matanya ke arah jendela.
"Kau mulai lagi mengalihkan pembicaraan, terserah padamu"
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan dari keduanya, mereka tampak punya pemikiran masing-masing yang membuat mereka berfikir sangat keras hingga sampai di rumah mereka masih saja tidak dapat masuk dalam percakapan serius lagi.
Malam harinya, Joy sekeluarga sedang makan malam bersama. Makan malam berlangsung dengan tenang, terselip pembicaraan ringan saat selesai makan. Namun setelah nya, Joy terlebih dahulu meminta ijin untuk naik ke kamarnya.
Bukan tidak ada alasan ia melakukannya, Jhony sudah berjanji akan menghubunginya saat selesai makan malam.
Dan itulah yang di lakukan Joy setelah naik ke atas, didalam kamarnya dia mulai menuliskan pesan kepada Jhony bahwa ia sudah selesai makan malam.
Benar saja, tak berselang beberapa saat sebuah telepon masuk keponselnya yang sudah pasti itu adalah Jhony orang yang sedang di tunggu Joy.
"Hai, aku merindukanmu" sapa Joy yang langsung mengucapkan kata yanh sedari tadi ia pikirkan, rindu.
"Halo Joy, aku juga sangat merindukanmu" keduanya tertawa sejenak.
"Sepertinya kita baru saja bertemu pagi tadi, tapi kenapa aku sudah merindukanmu seperti ini?" suara Joy kembali terdengar kembali.
"Entahlah Joy, apa kita sudah saling tergila-gila haha..."
"Tidak, aku masih waras dan aku memang merindukanmu!" sanggah Joy.
"Kau benar, apa kau makan dengan baik?"
"Begitukah? Kalau begitu aku akan mematikan teleponnya" Jhony sengaja mengatakannya, karena ingin mendengar reaksi Joy selanjutnya.
"Ya... kenapa dimatikan?"
"Kau bilang mengantuk, jadi aku hanya ingin membiarkan mu istirahat Joy"
"Aku kan mengatakan jika aku makan dengan baik, aku tidak serius dengan kata mengantuk tadi hah... Apa kau sudah makan malam? Momy sudah pulang?"
"Ahh... begitu, aku sudah makan malam. Tentu saja belum, mungkin sebentar lagi momy pulang. Aku baru saja selesai mandi, jadi baru menelponmu"
"Bagaimana lesnya tadi, apa selesainya lama?"
"Tidak juga, hanya saja aku singgah ke perpustakaan sebentar bersama Harry untuk mengembalikan buku yang kami pinjam"
"Kau pasti sangat lelah? Setiap hari hanya pelajaran yang kau pelajari, bahkan sampai bisnis pun harus kau pelajari"
"Tidak juga, aku hanya cukup menyesuaikan jadwal yang aku punya"
"Kerja bagus, berikan otakmu istirahat agar ia lebih efektif dalam bekerja nanti saat ujian"
"Pasti Joy, apa yang kau lakukan sekarang?" pertanyaan Jhony membuat Joy terdiam dari aktivitasnya selama menelpon, ia baru menyadari bahwa ia sedang berguling-guling di atas kasur sambil membelai boneka beruang besar yang di berikan Jhony kepadanya sambil tersenyum.
"Itu, aku... sedang duduk di sambil membaca buku" setelah ia mengatakannya panggilan telepon yang semula hanya panggilan suara berubah menjadi panggilan video, dengan sigap Joy bangkit dan berjalan ke arah meja belajar serta duduk di sana. Barulah ia mengangkat kembali panggilan video dari Jhony.
"Ha, hai... kenapa tiba-tiba kau membuat panggilan video?" Joy tergagap saat menjawab, nafasnya sedikit terengah karena buru-buru bangun dari posisi baringnya.
"Ternyata memang sedang membaca buku, buku apa yang sedang kau baca?" Jhony bertanya, karena melihat Joy sedang memegang sebuah buku di tangannya.
"Ini bu, maksudku bukan buku pelajaran ini... majalah haha.."
"Itu terbalik Joy, apa kau mulai belajar membaca dengan arah terbalik seperti itu" Jhony tersenyum meledek, membuat Joy merasa kelas karena seperti di kerjai oleh Jhony yang sedang menertawakannya.
"Sudahlah jika ingin meledek, aku matikan saja"
"Jangan... maaf kan aku sayang, aku janji tidak akan menggoda lagi hehe... kau sungguh lucu"
Mereka sama-sama terdiam, namun tatapan mata mereka masih terpaku lewat kamera ponsel dan menyambungkan telepon video tersebut.
"Ada apa?" suara Jhony kembali terdengar kali ini, matanya pun juga ikut meredup memandangi Joy yang sepertinya ikut terbawa suasana.
"Apa... kita akan seperti ini setiap hari, ketika kau mulai kuliah di luar negeri?" lirih suara Joy yang terdengar oleh telinga Jhony.
"Joy..."
"Maaf, aku jadi memikirkan lagi" dengan cepat Joy mengalihkan kamera agar ia dapat menghapus air matanya, dan kembali mengarahkan ponselnya kembali ke wajahnya.
"Kalau begitu, aku matikan dulu ya. Aku lelah dan ingin istirahat, bye Jhony. I love you"
"Em.. baiklah, bye sayang. Love you to" Jhony menunggu Joy yang mematikan panggilan terlebih dahulu.
Menghela nafasnya kasar, Jhony merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Joy. Sebenarnya ini juga sangat sulit baginya, namun dia akan berusaha untuk bisa sukses. Ini juga demi Joy, ia akan berjuang dengan keras.
Jhony memegang ponselnya kembali yang tadinya tergeletak di atas meja, membuka aplikasi chat menulis beberapa kata disana dan mengirimnya untuk Joy.
Joy meninggalkan ponselnya di atas meja dan masuk ke kamar mandi sejenak untuk mencuci muka, membersihkan bekas air matanya yang terasa tidak enak.
Ia sempat mendengar ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk, saat keluar dari kamar mandi dengan segera Joy meraih ponselnya dan ia kemudian berjalan ke arah kasur serta duduk di tepi ranjangnya.
(Jhony)
"Besok aku akan menjemputmu seperti biasa, tunggu aku"
Joy tersenyum melihat pesan yang masuk dari Jhony, begini juga bagus. Mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama sebelum nantinya akan terpisah untuk waktu yang cukup lama.
.
.
.
stay save readers
jangan lupa ya buat dukungannya dengan cara like, komen favoritkan dan juga vote..
terima kasih😉