
Dari jendela di sebuah kamar lantai dua, sang nenek melihat kedua orang yang tengah berada di taman bunga yang selalu ia rawat. Jhony dan Joy yang sedang berbincang tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan mereka.
Saat Jhony tertawa lepas saat bercanda dengan Joy, sang nenek juga mengulas senyuman yang dan tak kalah senangnya dari cucunya.
Karena beliau yang membesarkan Jhony saat orng tuanya sibuk memperluas usaha mereka, jadilah sang nenek selalu mempunyai ikatan yang tak biasa dengan sang cucu. Kebahagiaan yang di rasakan oleh Jhony sungguh bisa mengubah suasana di hati nenek, bahkan tawanya saja bisa menular kepada nenek yang sejak tadi melihat keduanya.
"Coba saja kau bisa melihat putramu tumbuh dengan baik Surya, ia sama persisnya dengan dirimu. Kelakuannya juga sangat usil seperti mu, lihatlah... sekarang dia sudah memiliki kekasih seperti kau yang memacari Riska di usia muda dan tetap bersama dalam susah dan senang. Mama hanya bisa berharap, dia terus bahagia seperti sekarang ini." sang nenek terkenang akan mendiang putranya.
Hari semakin siang, makan siang sudah tersedia di atas meja makan panjang yang pagi tadi mereka jadikan tempat untuk sarapan. Nenek, Jhony dan Joy sudah bersiap untuk makan siang, tetapi suara deru mobil di halaman villa menghentikan ketiganya dari kegiatan tersebut.
"Kalian mendengarnya? Sepertinya ada yang datang!" suara nenek mengalihkan pandangan mereka kepadanya.
"Ehmm... benar nek, mungkin saja itu momy yang datang."
"Bisa jadi nak, pergilah dan sambut dia."
"Baiklah nek.."
"Kau ikutlah dengan Jhony, sayang." senyum merekah di wajah yang sudah jelas terhias garis-garis halus itu.
"Baik nek." Joy begitu senang mendapati sikap nenek yang begitu berjiwa muda, itu juga yang membuat mereka bisa dengan cepat akrab.
Sampai di depan pintu, nyonya Riska sudah berjalan ke teras villa sambil menunggu sang supir menurunkan satu buah koper dan beberapa kantong plastik yang di yakini Jhony itu adalah belanjaan bahana makanan. Ada pula beberapa paper bag yang di pegang oleh sang mama, itu juga di yakini sebagai hadiah untuk neneknya Jhony.
"Selamat datang momy.." Joy memberikan salam kepada nyonya Riska.
"Hallo sayang... " mulai menautkan kedua belah pipi mereka.
Jhony cukup senang melihat kedekatan antara momynya dan Joy.
"Momy kenapa siang sekali sampainya? Apa jalanan macet berat?"
Jhony yang penasaran mengapa sang mama terlambat datang, langsung mengutarakan pertanyaannya.
"Momy belanja dulu tadi, nak. Momy rasa akan sedikit merepotkan pengurus villa jika kita tidak membawa bahan makanan dan meminta mereka yang berbelanja. Lagi pula mereka akan kebingungan dengan jenis daging atau sayuran yang kita inginkan, Jhon."
"Benar kata momy, tapi momy jadi repot seperti ini."
"Tidak sayang, ini hanya sedikit saja di banding dengan belanja bulanan kita yang bisanya tidak cukup si bagasi mobil. Hehe.." nyonya Riska terkekeh mengingat berang belanja bulanan yang biasa ia dan Jhony beli, meski sudah menaruh semua di bagasi, masih tetap saja tidak muat dan bahkan kadang sebagian disimpan di kursi penumpang bagian belakang mobil.
"Haha... momy masih ingat saja. Ayo masuk mom, biar Jhony bantu bawakan brang-barangnya."
"Tentu saja." nyonya Riska tersenyum melihat Jhony yang begitu bersemangat.
Belum juga kaki mereka berjalan masuk, deru mobil kembali terdengar mendekat. Kali ini siapa lagi yang datang, semua jadi bertanya-tanya. Beberapa pengurus villa juga sudah menunggu di depan pintu untuk menyambut nyonya mereka.
Mereka bertiga serentak berbalik dan melihat ke arah mobil yang sudah berhenti tepat di sebelah mobil nyonya Riska. Saat dilihat kembali, ternyata itu adalah mobil ayahnya Joy. Begitu pas nya mereka datang bersamaan seperti ini, semua mata memandangi orang-orang yang baru saja keluar dari mobil.
"Mama, papa... " Joy terkaget melihat kedua orang tuanya yang juga baru sampai.
"Apa anda baru sampai nyonya Riska?"
"Benar nyonya Silvi, aku baru saja sampai. Mari kita masuk." kedua wanita yang sudah begitu dekat itu pun berjalan pergi meninggalkan Jhony, Joy serta ayahnya Joy yg baru saja menghampiri mereka.
"Begitulah mereka kalau sudah bertemu, papa selalu di lupakan. Ckckck..."
"Haha... Jangan bilang papa cemburu ya!" Joy tidak dapat menahan tawanya saat melihat wajah sang ayah yang kini tampak menggemaskan.
"Tentu saja tidak nak... wanita memang seperti itu. Butuh waktu untuk bersama teman-temannya berbincang atau sekedar keluar untuk belanja." papa Joy pun tersenyum kepada Jhony dan juga Joy yang masih menunggunya untuk masuk bersama. "Benar, di mana nenekmu nak? Apa kalian menunggu kami? Jika ya, aku sangat menyesal kalian harus menunggu cukup lama agar bisa makan siang bersama!"
"Syukurlah, ayo." ketiganya masuk secara bersamaan.
Sampai di dapur.
"Sudah ku katakan, jika datang kemari jangan membawa banyak barang Riska. Di sini sudah banyak barang yang kau kirim setiap minggu nya, kau begitu boros menghabiskan uang hasil keringat karyawanmu."
"Hahaha... Ibu masih saja lancar mengomel ya, aku senang mendengar ocehanmu itu bu." nyonya Riska yang di omeli oleh sang mertua pun tertawa, ia tampak begitu senang dengan setiap ocehan beliau.
"Kau ini selalu saja bisa menjawab kalau di marahi, berikanlah karyawanmu kesejahteraan juga yang sama seperti kau berikan kepadaku nak."
"Tentu ibu, aku akan selalu ingat nasehatmu ini. Jangan cemaskan mereka, aku akan selalu memperhatikan semua karyawan ku, bu." nyonya Riska tampak senang bertemu dengan mertuanya. "Oh iya bu, ini orang tuanya Joy." melihat kebelakang ada seorang wanita yang hampir seumuran dengan menantunya itu.
"Benarkah, dimana?" nyonya Riska memberi celah bagi sang mertua untuk melihat mama Joy. "Sama persis seperti Joy, ternyata dia mendapat kecantikannya darimu ya, nak!" memegang kedua tangan mama Silvi, nenek Jhony memperhatikan wajahnya lekat-lekat.
"Anda bisa saja nyonya, maaf tidak menyapa dengan benar. Selamat siang nyonya, senang bertemu denganmu." mama Silvi menautkan kedua belah pipinya kepada nenek Jhony.
"Selamat siang nak, kudengar kau datang bersama suamimu. Dimana dia?"
"Papa nya Joy ada... " menoleh kebelakang, mama Silvi tidak menemukan sosok suaminya. "Sepertinya mereka masih di luar, papanya Joy selalu begitu. Kalau sudah bertemu dengan anak gadisnya, pasti ada saja yang di bicarakan begitupun Joy."
"Ternyata gadis itu dekat dengan papanya, dia punya sifat yang baik. Meski baru mengenalnya, aku tahu dia sangat menyayangi cucuku Jhony." mama Silvi tersenyum lebar mendengar pujian yang di lontarkan nenek Jhony untuk Joy.
Mama Silvi cukup bersyukur karena di karuniai seorang putri yang cantik, pintar dan baik hati seperti Joy. Meski sering mendengar pujian dari orang lain, tetapi itu tidaklah membuta gadis itu merasa tinggi hati.
"Selamat siang nyonya, maaf membuat anda menunggu lama" papa Joy memberikan salam kepada nenek Jhony, seketika sang nenek menolehkan kepala ke sumber suara.
"Ah... inikah papanya Joy? selamat siang nak, kalian berdua tampak mirip jika di sandingkan seperti ini." nenek Jhony memperhatikan wajah kedua orang tua Joy, senyumnya merekah sejak kedatangan menantu juga orang tua Joy ke kediamannya itu.
"Mari kita duduk dan nikmati makan siang terlebih dahulu, sudah waktunya tidak baik jika menunda lagi." ucap nyonya Riska.
"Benar... Aku sampai lupa mempersilahkan kalian untuk makan siang, kami baru saja kan memulainya tadi. Tepat sekli sekarang kalian semua sudah datang kemari, ayo kita makan siang bersama."
"Tentu kami tidak akan menolaknya, merupakan kebahagiaan bisa berkumpul bersama keluarga di sini." papa Joy tampak senang dengan ajakan nenek Jhony untuk makan bersama.
Mereka pun langsung bergerak ke meja makan, menempati kursi-kursi yang memang sudah tersedia di sana. Kursi yang semula kosong, sekarang sudah terisi hampir semuanya.
Karena ruangan makan yang cukup besar dengan dinding kaca yang menampakkan kolam renang yang ada diluar sana, sepuluh kursi untuk meja makan panjang. Jadilah setengah kursi sudah di tempati, mereka memulai makan siang dan sesekali diselipi candaan yang membuat semua yang ada di sana tertawa.
Tampak harmonis layaknya keluarga yang sudah lama tidak berjumpa, suasana hangat keluarga terasa begitu nyaman.
.
.
.
Hai readers...
maaf keun lama ngak up, Me lagi sibuk ngantor juga. Jadilah upnya senin kamis🤣🤣🤣
Tapi ini beneran lagi sibuk"nya, jadi mohon maaf sebesar"nya karena ngak bisa up setiap hari ya...
Semoga tetap menunggu ceritanya, tolong bantu like komen fav like dll nya ya..
stay save our readers😘😘
thanks😉