
Saat sampai di atap villa, Jhony mengedarkan pandangannya mencari sosok yang begitu ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Joy, baru sebentar ia tidak melihatnya saja sudah membuatnya merindukan sosok gadis yang penuh kelembutan itu.
Dari jauh dia sudah memperhatikan Joy yang sedang berbicara dengan Harry, hanya ada mereka berdua serta seorang pengurus villa yang sedang membantu membawakan barang-barang yang mereka perlukan untuk acara barbeqiu. Jhony berjalan mendekati Joy dan Harry yang sedang asyik berbicara, Harry yang melihat Jhony berjalan mendekati mereka pun segera melambaikan tangannya.
"Habis dari mana bro, lama banget?"
"Tadi perut ku tiba-tiba enggak enak, hehe" Jhony bingung harus menjawab apa, jadilah dia mengatakan bahwa perutnya sedang tidak enak.
"Dasar kamu, makan apa aja sih sampai gitu"
"Enggak tau juga, yuk lanjut barbeqiunya" Jhony mencoba mengalihkan pembicaraan, dan segera meraih bahan-bahan makanan yang sudah siap di panggang.
Di dapur, Siska hendak berjalan keluar dari dapur setelah kekesalannya sedikit menguap. Namun ketika baru keluar dari pintu dapur, tangannya di tarik oleh seseorang yang tidak lain adalah Erick. Erick juga membekap mulut Siska agar tidak berteriak, dan membawanya ke arah kolam renang.
"Apa-apaan sih Rick" Siska merasa sangat kesal mendapati perlakuan dari Erick yang menarik dan membekap mulutnya tadi.
"Kamu yang apa-apaan Sis, kenapa sih kamu enggak biasa biarin Jhony dan Joy menjalin hubungan dengan tenang?" Erick berbicara dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Maksud kamu apa?"
"Jangan pura-pura Sis, di sini cuma ada kamu sama aku jadi kamu enggak perlu bohong. Aku udah tau kalau kamu masih suka sama Jhony, aku sudah dengar apa yang di katakan okeh Rina dan... aku sudah memperhatikan semenjak kita kemari kamu selalu saja mencari perhatian Jhony" Siska membelalakkan matanya, mendapati kalimat yang di ucapkan Siska barusan.
"Jangan mencampuri urusanku Rick" Siska hendak pergi, namun tangannya di tahan oleh Erick.
"Tidak Sis.. tolong jangan rusak persahabatan kita, dengan kamu mengganggu hubungan Jhony dan Joy maka persahabatan yang sudah kita jalani dari kecil akan hancur" Erick menatap dalam kedua bola mata Siska, ia sungguh tidak ingin Siska merusak hubungan yang sudah terjalin sejak mereka masih duduk di taman kanak-kanak hingga sekarang ini.
"Aku tetap akan mencoba Rick, kamu nggak punya hak buat halangi keinginan aku" Siska menepis kedua tangan Erick yang tadi memegang bahunya dan berjalan meninggalkan Erick sendirian.
"Sis, kenapa kamu enggak bisa lihat kepadaku. Apa hati aku enggak pantas kamu terima, sampai kapan kamu akan menerima cintaku"
Erick hanya bisa mendesah dengan keras, begitu kecewa terhadap sikap yang Siska tunjukkan kepadanya. Ia terlalu payah untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini tersimpan, seperti saat ini, belum sempat juga ia mengatakannya Siska sudah pergi lebih dulu.
Akhirnya ia juga berjalan pergi dari kolam renang, mengikuti Siska yang terlebih dahulu naik ke atas.
Baru saja Siska sampai di atas, dia sudah di suguhkan pemandangan yang menurutnya tidak menyenangkan. Joy dan Jhony sedang bersenda gurau, mereka tertawa bersama bahkan tidak hanya mereka karena Harry juga ikut dalam candaan mereka.
Siska perlahan berjalan mendekati mereka, dia dengan susah payah mengubah ekspresi wajahnya agar terlihat biasa.
"Wah ... apa yang kalian tertawakan, sepertinya seru.." Siska memandangi Joy, Jhony dan Harry bergantian, namun Joy dan Jhony hanya diam.
"Ah.. Sis, tidak kami hanya..." melihat Joy dan Jhony yang hanya diam saja, Harry inisiatif untuk menjawab Siska.
"Wahh.. harum sekali, apa sudah ada yang matang? Aku mau dong!" Namun Rina justru datang pada waktu yang tidak tepat bagi Siska, karena Harry belum juga menyelesaikan ucapannya.
"Ini sudah ada yang matang, aku sengaja menyimpannya untuk mu" Harry memyodorkan sepiring daging serta sayur yang sudah dia panggang dan sebenarnya itu memang khusus untuk Rina.
"Benarkah, terima kasih" Rina dengan cepat menyambar piring yang di pegang oleh Harry.
"Aku juga mau..." Ucapan Siska menggantung karena tatapan yang diberikan oleh semua orang kepadanya.
"Wah... apa sudah selesai panggangannya? Aku sudah ingin mencobanya.." Erick langsung meraih piring yang sedang di pegang oleh Jhony.
"Hei.. itu untuk Joy!" Jhony berseru.
"Biarkan saja, ambil yang lain saja. Sepertinya yang itu enak, aku mau yang itu saja" Joy tersenyum kepada Erick dan Jhony bergantian, Jhony pun mendengus kesal dan segera mengambil panggangan yang lain yang sudah mulai matang.
"Terima kasih Joy, kamu selalu bisa menjinakkan nya hahaha..." Erick tersenyum kepada Joy, dia senang Jhony mendapatkan gadis yang sangat baik seperti Joy.
"Kak Erick apa an sih, kok menjinakkan. Memangnya kak Jhony apaan!" Joy terlihat kesal namun di buat-buat, dia tahu bahwa sahabat kekasihnya itu hanya bercanda.
"Upss.. sorry bercanda hehe.. " Siska yang sedari tadi menyaksikan percakapan Erick dan lainnya merasa di kucilkan, bahkan tidak ada yang mau berbicara dengannya.
"Hehe.. ok kak, nggak masalah" Joy tersenyum "Um.. Kak Siska tunggu sebentar ya, tunggu kak Jhony bawakan hasil panggangannya dan kita makan bersama" Melihat Siska yang sedari tadi hanya diam, Joy pun memintanya menunggu untuk makan bersama.
"Ah.. tidak perlu Joy, aku bisa ambil sendiri kok" Siska berlalu dari sana dan menghampiri Jhony yang sedang mengambil hasil panggangan sekaligus menata kembali daging dan sayur yang masih belum di panggang.
Erick pun akhirnya berjalan mendekati Harry dan Rina yang sedang menikmati makanan yang sudah selesai di panggang oleh Harry.
"Ehem... Jhon bisakah aku meminta beberapa" Jhony berbalik dan mendapati Siska berdiri tepat di belakang nya, ia segera melihat ke arah Joy.
Di tempat duduk nya, Joy mengangguk dan tersenyum sambil memandangi Jhony yang seakan meminta persetujuannya.
"Sebentar.." Jhony kembali sibuk mengambil piring dan menyimpan beberapa tusuk daging dan sayur di piring tersebut dan langsung di serahkan kepada Siska "Ini, saus nya ada di sana" Jhony menunjuk ke arah meja besar di dekat Rina dan Harry duduk.
""Terima kasih.." Jhony hanya mengangguk "Em.. Jhony.. aku.." Jhony kembali menoleh ke arah Siska dengan mimik wajah tidak suka.
"Jika bukan hal penting, aku harap kamu tidak perlu menyampaikan nya Sis.." Jhony menoleh ke arah Siska sepenuhnya "Dan juga... aku harap kita tidak terlalu dekat seperti dulu lagi, karena sekarang aku sudah memiliki pacar dan aku harus menjaga perasaan kekasihku. Maafkan aki Siska" Jhony berjalan menuju ke tempat duduk Joy dengan melewati Siska di depannya.
Siska memejamkan matanya yang sudah berkaca-kaca, sehingga buliran bening mengalir di kedua pipi dan bertemu di ujung dagunya.
'Bagaimana aku bisa bersikap biasa kepadamu Jhon, kita sudah begitu dekat sebelum Joy muncul dan mengambil seluruh hati kamu. Tapi tidak hanya sekarang, dari dulu bahkan kamu tidak membiarkan aku menjaga hati kamu'
Siska menundukkan kepalanya sambil menahan sesegukan yang mungkin terdengar, sekuat tenaga dia berusaha bersikap biasa saja.
.
.
.
Hai..Hai..Hai...
Sabar Sis.. kan masih ada bang Erick(⌒▽⌒)
Stay Save readers😉