Let See The True Love

Let See The True Love
111.



"Sudah, jangan menangis lagi. Setelah sampai di sana, aku akan langsung menghubungimu. Dan juga saat liburan kalau bisa aku akan pulang." Jhony mengulas senyuman kepada Joy yang masih menekuk wajahnya.


Setelah drama perpisahan tadi dimulai, Jhony di buat kualahan membujuk Joy agar berhenti menangis. Karena tanpa sadar gadis itu menangis tanpa henti, dengan sabar Jhony menunggu Joy hingga tenang.


"Janji, kau akan selalu menghubungi ku saat waktu luang?"


"Ya, aku janji padamu. Tapi nanti pasti ada perbedaan waktu, kau harus bersabar jika aku menghubungi di tengah malam. Atau sebaliknya."


"Baiklah, aku akan menunggu mu menghubungiku. Jangan lupa!"


"Ya, aku akan mengingatnya." Jhony mencubit pipi Joy, entah mengapa gadis itu terlihat seperti anak kecil hari ini.


Ia seakan merengek ingin minta di belikan mainan. Sekali lahi Jhony mengecup kening Joy dan mengelus pipi gadisnya dengan lembut. Ia tidak bisa memperlihatkan kesedihannya untuk berpisah dengan Joy, karena Joy bisa saja lebih berat untuk berpisah dengannya sekarang.


"Kemarikan tanganmu." meraih tangan Joy, Jhony memperhatikan jari manis Joy yang melingkar indah sebuah cincin yang ia berikan. Cincin tersebut belum pernah sekalipun dilepas oleh Joy, Jhony sangat senang mendapati Joy yang selalu memakai nya, begitu juga dengan kalung yang ia berikan. Masih melingkar dengan indah di leher Joy.


"Tolong jaga untukku saja... " Joy memiringkan kepalanya menatap Jhony. "Jaga hatimu hany untukku saja, aku akan menjaga hatiku untuk dirimu saja." mendapat pernyataan dari Jhony membuat Joy begitu bahagia, perasaannya begitu bahagia dan sulit untuk di gambarkan.


"Ya... aku akan menjaganya hanya untukmu Jhony."


Suara panggilan untuk penumpang yang akan melakukan penerbangan terdengar, inilah saat-saat yang berat bagi keduanya. Perpisahan yang selalu di takutkan, tetapi ini semua untuk kebaikan dan tidak dapat dihindari lagi.


Jhony masih menatap Joy dengan raut sendu, Joy menahan air matanya agar tidak terjatuh kembali.


"Jhony... Apa kau tidak dengar?"


"Aku dengar, aku... akan segera pergi. Sampai jumpa lagi sayang." Jhony menunduk mengecup tangan Joy yang berada dalam genggamannya, kemudian kecupan juga di daratkan di kening dan terakhir di pipi gadis itu. "Ingatlah untuk selalu menungguku!" Jhony berdiri.


"Nak, jaga kesehatanmu disana. Selalu beri kabar, ok!" Jhony mengangguk mendapati permintaan sang mama.


Jhony mengangguk pelan "Momy juga jaga kesehatan, aku berangkat mom." Jhony memeluk erat nyonya Riska, setelah itu ia mengambil tasnya ranselnya, ia berjalan menuju pintu keberangkatan luar negeri dan sesekali berbalik dan melambaikan tangannya.


Joy menatap Jhony hingga sosok tersebut tidak lagi terlihat, barulah air matanya mengalir deras. Ia menahan isak tangisnya sekuat tenaga, nyonya Riska yang melihat kesedihan Joy segera merangkul Joy dan mengusap lengannya di sisi lain. Mencoba memberikan kekuatan kepada gadis mungil yang menjadi kekasih hati putranya itu.


"Ayo kita pulang sayang, momy akan memgantarmu."


"Tidak perlu mom, Joy akan pulang dengan taksi saja."


"Jangan menolak sayang, ini juga keinginan Jhony tentunya."


Joy tampak berpikir sejenak.


"Baiklah mom."


"Ayo sayang." nyonya Riska menuntun Joy berjalan ke mobil yang sudah menunggu di lobi bandara.


"Kalau begitu, kami pamit dulu tante."


"Baiklah Erick, hati-hatilah di jalan."


"Baik tante."


"Siska juga tante, sampai jump lagi."


aa


"Iya sayang, terima kasih."


"Kalau begitu kami duluan tante." putus Harry.


"Baiklah Harry, sampai jumpa lagi."


"Baik tante."


"Hmm... Joy, jangan sedih ya... " Rina memeluk sahabatnya sejenak sebelum berlalu masuk kedalam mobil yang di kemudikan oleh Erick.


"Aku pulang dulu, sampai jumpa besok."


"Em." Joy mengangguk mengerti.


Setelah mobil Erick sudah melaju keluar dar area bandara, nyonya Riska kemudian kembali mengajak Joy untuk berangkat pulang. Didalam perjalanan pulang. Joy hanya diam sambil menatap keluar jendela mobil. Sesekali tangannya masih bergerak untuk mengusap pipinya, membuat nyonya Riska yakin jika gadis itu masih menangis.


"Mau sarapan dulu?" suara nyonya Riska membuat Joy menatap ke arahnya, dengan raut bertanya. "Kamu sudah sarapan?" Joy mengangguk.


"Sayang sekali, tante merasa lapar karen buru-buru tadi dan belum makan." nyonya Riska sengaja mengatakan jika dia belum makan.


"Kalau begitu kita singgah untuk sarapan dulu saja mom... "


"Sungguh?" Joy mengangguk.


"Baiklah kalau begitu."


"Kita singgah sarapan di tempat bisa ya pak!"


Di waktu yang sama di dalam pesawat, Jhony sudah duduk di kursi penumpang sesuai dengan yang tertera di tiket pesawat. Ia menatap ponselnya yang kini terbuka di bagian galeri foto, dan menampilkan seorang gadis berambut hitam panjang dengan senyuman termanisnya di sana. Tangannya otomatis terarah ke wajah gadis di dalam foto tersebut, seolah wajah itu dapat digapainya. Raut wajahnya kini tidak dapat di baca sama sekali, rasa cemas, sedih dan takut semua berkumpul jadi satu dan semakin menyesakkan dada.


Lama ia menatap foto itu sampai seorang pramugari menghampiri dan mengingatkannya untuk me-non-aktifkan ponselnya karena pesawat akan segera lepas landas. dengan segera ia memati daya ponselnya dan hendak menyimpan ponselnya kedalam tas, sebelum seorang gadis menabrak lengannya sehingga membuat ponsel yang di pegang pun terjatuh.


"Ah... Sorry, aku nggak sengaja." seorang gadis baru saja akan berjongkok untuk mengambil ponsel Jhony yang sudah ia jatuhkan.


"Tidak apa-apa, biar saya ambil sendiri." ucapan Jhony tidak juga menghentikan gadis tersebut, sehingga kepada kedua orang itu sling menghantam.


Tukkk... suara benturan kepala mereka terdengar begitu keras, membuat beberapa orang yang duduk di dekat sana menoleh sejenak dan mendapati keduanya sedang memegang kepala masing-masing.


"Aww... sakit... " keluh gadis itu.


"Hah... Aku sudah bilang akan mengambilnya sendiri l, kenapa kmu malah ikutan meraih ponselku." kesal Jhony.


"So, sorry, aku cuma eng, enggak enak aja. aduh... sakit bnget, ini kepala apa batu sih?" gadis itu dengan beraninya menowel kepala Jhony.


Namun dengan cepat pula tangannya di tepis oleh tangan Jhony, raut wajah Jhony mulai tidak bersahabat dan memerah. Gadis itu kembali sadar jika laki-laki di depannya itu benar-benar kesal padanya.


"Ma, maaf... Saya permisi." Gadis itu berjalan melewati kursi yang di duduki Jhony, sambil kepalanya menoleh kiri dan kanan.


Jhony kembali mendengus kesal saat melihat layar ponselnya yang terlapis anti goresnya sudah pecah tak beraturan. Ia melanjutkan niatnya menyimpan ponselnya kedalam tas, menghela nafasnya kasar kemudian ia bersandar sambil memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, ia mendengar suara seorang gadis seperti sudah berada di dekatnya.


"Pe, permisi... "


Perlahan Jhony membuka matanya.


"Maaf mengganggu, sa, saya mau masuk ke dalam." ragu-ragu gadis itu mengutarakan niatnya, ia menunjuk kepada kursi kosong yang da di sebelah Jhony. Karena mengingat pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas, maka semua orang harusnya sudah duduk nyaman di kursi yang sudah di tentukan tanpa terkecuali.


Jhony menoleh kursi kosong di sebelahnya dan kemudian kembali melihat ke arah gadis tersebut, gadis itu mengangkat sebuah kertas yang tertulis nomor kursi yang sesuai dengan nomor kursi sebelahnya.


Jhony memgumpat dalam hati, entah mengapa dia merasa kesal dengan gadis tersebut yang sudah mengganggunya sebanyak dua kali dalam pertemuan yang tidak terduga itu.


.


.


.


Stay save readers🤗


tolong bantu like, komen, love atau fav dll juga ya😘


terima kasih😉