Let See The True Love

Let See The True Love
86.



Teriknya matahari terasa menyengat saat berada terlalu lama di bawahnya, namun tak juga menyurutkaan niat para pekerja kantoran untuk menikmati makanan enak yang berada di restoran dengan letak strategis itu.


Keramaian tampak menyelimuti suasana restoran dimana Joy dan juga Jhony pergi untuk makan siang, hampir seluruh pengunjung adalah pegawai kantoran.


Mereka rela mengantre cukup lama untuk mendapat makanan yang menggugah selera itu, karena pengunjung yang begitu ramai, pemilik restoran bahkan sampai membuat ruangan tambahan.


Selain ruangan terbuka yang luas, mereka juga menyediakan tempat makan yang berada di taman kecil di bagian belakang restoran. Jika ada yang ingin menjaga privasi, ada pula beberapa ruangan yang bisa di pesan di lantai dua. Bagi pebisnis, mereka bisa memilih pilihan tersebut dengan jumlah orang yang berbeda-beda di setiap ruangannya, dan bila ruangan masih tersedia tentunya.


Kali ini Jhony memilih pilihan ruangan privasi untuk dua orang, selain jam istirahat yang pastinya sangat ramai di restoran ini, ia juga ingin menikmati waktu berdua bersama Joy yang semakin berkurang akhir-akhir ini.


"Di sini sangat ramai, apa kau sering datang kemari?" Joy membuka pembicaraan, setelah seorang pelayan keluar dari ruangan mereka untuk mencatat makanan yang mereka pesan.


"Benar, hampir setiap hari restoran ini ramai pengunjung. Mungkin karena tempatnya yang cukup strategis dan tentunya di kelilingi oleh gedung-gedung perkantoran yang cukup ramai" mereka berada diruangan yang memiliki jendela kaca yang cukup untuk masuk cahaya dan menerangi tempat tersebut.


Di bawahnya mereka bisa melihat beberapa orang yang juga makan di bagian taman belakang.


"Tentu akan sangat menyenangkan, bila bisa makan siang bersama teman-teman sambil membicarakan pekerjaan kantor atau hal-hal lainnya" cetus Joy sambil melihat kebawah, matanya terlihat jelas membayangkan apa yang di ucapkannya.


"Kau terlihat menginginkan suasana seperti itu" Jhony tersenyum samar.


"Hmm... sangat..."


"Bukankah akan melelahkan jika bekerja?" Joy melirik sekilas ke arah Jhony.


"Bagaimana denganmu? Apa kau juga lelah harus bekerja seharian?"


"Em... cukup melelahkan, namun ada kepuasan tersendiri saat kita bisa menyelesaikan satu masalah dalam pekerjaan" Jhony menyandarkan punggungnya di kursi.


Tok tok tok permisi... ketukan di pintu membuat Joy menahan ucapan yang hendak ia suarakan.


Tidak lama kemudian seorang pelayan membawakan dua gelas jus yang mereka pesan, serta satu botol air mineral ukuran sedang.


"Silahkan di nikmati" ucap pelayan wanita tersebut.


"Terima kasih" Joy yang membalas ucapan pelayan tersebut.


Karena cuaca yang lumayan panas, keduanya memilih jus untuk mendinginkan tenggorokan mereka. Bersamaan mengangkat gelas yang ada di hadapan mereka dan mulai menyedot minuman dingin itu perlahan.


"Oh iya, tadi kamu mengatakan adakalanya kelelahan meliputi saat bekerja? Apa selama ini kamu juga begitu?" setelah meletakkan gelas yang ada di tangannya, Joy tampak antusias menunggu jawaban dari Jhony, dia ingin tahu bagaimana rasanya bekerja atau menjadi karyawan kantoran seperti Jhony saat ini.


"Tidak juga, namun akan terlihat jelas aku berbohong jika aku mengatakan tidak lelah. Tapi... aku juga senang dan bangga pada saat aku bisa membantu perusahaan, melewati masa sulit dan bekerja cukup keras bahkan lembur. Semua sudah pernah aku rasakan, meskipun aku belum lama bekerja"


"Aku bertambah penasaran sekarang, huh... " seutas kekecewaan terlukis di wajahnya.


"Kenapa kau tampak murung sekarang?"


"Tidak.. tidak ada apa-apa" Joy mencoba tersenyum, namun itu malah semakin memperjelas bahwa ia sedang menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.


"Katakanlah Joy, aku tahu ada hal yang tidak kau ceritakan bukan?" Joy tahu Jhony tidak akan berhenti bertanya sebelum ia menceritakannya.


"Kau selalu bisa menebak isi hatiku Jhon, apa kau ini dewa hah?"


"Hehehe.. benar, aku adalah dewa bahkan di hadapanku saat ini ada seorang dewi" Joy memutar bola matanya malas mendengar gombalan Jhony.


"Aku gagal menyembunyikannya" mendesah kuat, tahu bahwa dia harus menceritakan kepada Jhony apa yang membuat dirinya frustasi.


Namun lagi-lagi, mereka di ganggu oleh seorang pelayan yang kembali masuk membawa makanan yang mereka pesan.


"Maaf mengganggu, ini makanannya tuan, nona!" menata makanan di atas meja, dan setelahnya ia meminta ijin untuk keluar "Silahkan menikmati makanannya, saya permisi"


"Baiklah, terima kasih" dan lagi-lagi hanya Joy yang membalas ucapan sang pelayan, entah mengapa Jhony malah kesal dengan pelayan wanita yang sedari mengantar minuman selalu melihat ke arahnya dengan senyuman yang di nilai cukup nakal oleh Jhony.


Sebab pelayan tersebut dengan tidak sopan melihat Jhony dari wajah dan turun sampai kebagian tubuh Jhony. Itu sangat membuatnya risih, karena sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan karyawan restoran yang tadi.


"Tentu tuan, mari makan. Sepertinya ini sangat enak" sambil menunjuk makanan dia piring yang cukup besar.


*****


Selesai makan, mereka bergegas pergi dari restoran tersebut. Jhony memilih langsung ke kasir dan tidak meminta bil kepada pelayang yang akan langsung mengantarkan keruangan mereka. Itu semua karena ia tidak ingin berlama-lama lagi melihat wajah pelayan yang membuatnya kesal tadi.


Jadilah mereka kini berada di dalam mobil, belum juga Jhony menyalakan mesin mobilnya namun Joy kembali bertanya kepada Jhony.


"Kenapa kau seperti terburu-buru Jhon?" mengarahkan kepalanya sepenuhnya melihat Jhony.


"Tidak, aku hanya sedikit risih dengan pelayan wanita tadi" ucap Jhony jujur.


"Ada apa dengan pelayan wanita tadi?" raut wajahnya juga mulai tampak kesal.


Jhony menyalakan mobilnya dan perlahan mulai keluar dari parkiran restoran, setelah mobil sudah melaju normal di jalan raya barulah Jhony mulai berbicara kembali dengan Joy.


"Pandangan yang di arahkannya kepadaku tampak aneh, dan senyum di wajahnya juga sedikit membuatku tidak nyaman. Makanya aku jadi risih di sana" dengan mata yang masih fokus di jalanan, Jhony mengatakannya dengan lantang.


Joy tersenyum mendengar ucapan Jhony, dia sungguh senang sekarang mendapati Jhony yang cukup tegas dengan wanita yang tampak ingin merayunya. Dia jadi tidak khawatir jika harus berjauhan dengan Jhony saat ia melanjutkan kuliah diluar negeri.


"Kau tampak lucu, beberapa lelaki pasti akan sangat senang saat ada wanita yang mulai menggodanya"


"Kau... ah.. jangan samakan aku dengan mereka Joy" Jhony melirik ke arah Joy sejenak, tampak sedikit kesal dengan ucapan Joy tadi.


"Maaf sayang... aku mengatakan kebenarannya bukan?"


"Sudahlah... aku tidak ingin membahasnya, ayo kita singgah ke cafe dekat kantor sebentar. Aku butuh sedikit kafein untuk menghilangkan stress" Joy mengangguk, namun ia merasakan penyesalan sudah menggoda Jhony tadi.


*****


Mereka sudah duduk di area yang tidak begitu ramai pengunjung cafe, Jhony sedang meminum es kopi yang ia pesan dengan sedotan. Sedangkan Joy memesan es krim karena ia tidak begitu suka dengan kopi.


Jhony teringat dengan cerita Joy yang tertunda, ia langsung menagih cerita kekasihnya itu saat ini.


"Ayo ceritakanlah sekarang Joy, mengapa kau tampak tidak senang saat memikirkan tentang bekerja di kantor? Bukankah kau bisa bekerja sambil kuliah?"


Kembali terdengar ******* kuat dari Joy, sebelum ia memulai ceritanya.


"Bagaimana aku bisa senang, jika papa tidak memperbolehkan aku untuk kuliah sambil bekerja" wajahnya kini sudah di tekuk.


"Ah... ck... sebenarnya papa tidak salah sayang, jika saja aku menjadi seorang ayah dan anakku ingin besaekolah sambil bekerja juga aku tidak akan setuju. Itu akan menyulitkanmu dalam belajar, itu akan sangat berat untukmu"


"Tapi aku yakin bisa menjalaninya dengan baik, setidaknya aku harus mencoba" diakhir kalimatnya, terdengar ada keraguan disana.


"Jika kau begitu menginginkannya, bagaimana jika kau bekerja di perusahaanku saja" aku akan meminta momy untuk memberimu pekerjaan yang tidak begitu susah. Jadi kau hanya perlu duduk manis di ruangan mu sampai jam pulang kerja!"


"Tidak... apa bedanya dengan aku tidak bekerja, dan hanya di rumah duduk santai dan menunggu waktu untukku pergi kuliah"


Rasanya percuma saja ia memberitahu Jhony, jika solusinya tidak begitu memuaskan seperti ini.


.


.


.


stay save readers


bantu dukungannya ya man teman, dengan cara like komen vote dan hadiah tentunya. Jangan lupa ya, terima kasih.


terima kasih😉