
"Tidak terasa sudah sampai!" suara Jhony tiba-tiba mengisi keheningan.
"Eh.. Iya, sejak kapan sampainya. Seperrinya kita baru saja keluar dari parkiran mall" Joy terkekeh kecil saat ia telah menyelesaikan kalimatnya.
"Benar juga, kenapa kalau kita sedang berdua waktu terasa begitu cepat ya. Seperti ingin memisahkan kita saja, hehe" tangan Jhony memegang tengkuknya, merasa aneh dengan ucapannya.
Keheningan mulai mengambil alih suasana saat ini, keduanya seakan kehabisan kata-kata, Jhony yang memainkan setir mobil dan Joy yang sedari tadi memainkan tali sling bag nya.
Di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar namun terkesan cukup mewah serta rumah tersebut tidaklah asing bagi keduanya, di depan rumah Joy mobil Jhony masih senantiasa terparkir di dalam halaman yang cukup luas tersebut.
Mereka sudah sampai sejak sepuluh menit yang lalu, namun baik Jhony maupun Joy belum juga turun dari mobil bahkan keduanya seperti terpahat di atas kursi jok mobil milik Jhony.
Entah apa yang membuat keduanya seperti enggan untuk berpisah, namun merasa bingung melakukan apa.
Joy mengangkat pergelangan tangannya dan melihat jam melingkar di sana.
"Masih cukup awal, apa kamu mau masuk dulu? Bagaimana kalau minum teh dulu bersama papa dan mama" ucap Joy menawarkan Jhony untuk masuk dan berbincang sejenak dengan ayah dan ibunya.
"Bolehkah?" Jhony tampak ragu, sebenarnya ini bukan kali pertama dirinya mengunjungi rumah Joy dan bertemu kedua orang tua Joy. Namun entah mengapa, tiba-tiba saja Jhony merasa ragu untuk masuk.
"Kenapa enggak!? Ini masih tergolong awal Jhon, kenapa kamu jadi aneh sih?" Joy memberi pertanyaan kepada Jhony sambil memperhatikan perubahan raut wajah dari Jhony, tidak ada yang aneh hanya saja Joy merasa Jhony seperti orang linglung.
"Baiklah, ayo kita masuk" ajak Jhony, sejurus kemudian tangannya hendak membuka pintu mobil namun di tahan oleh Joy.
"Jhon.. ada apa? Tolong jawab dengan jujur, enggak boleh ada kebohongan dalam hubungan kita kan!?" Jhony tampak berpikir sejenak, sebenarnya sebelum ia mengatakan kepada Joy bahwa ia akan pergi keluar negeri untuk berkuliah,
"Sebenarnya.. aku.. tidak bermaksud untuk meninggalkanmu dan melanjutkan study keluar negeri. Hanya saja.."
"Hei.. kenapa membahas itu lagi? Itu adalah pilihanmu dan aku tidak bisa seenaknya memintamu untuk membatalkannya kan?" Joy memperhatikan Jhony yang juga membalas tatapannya "Aku tahu ini sedikit berat, dan kalau aku mengatakan bahwa hatiku tidak apa-apa menunggumu di sini selama kamu melanjutkan kuliah di luar negeri. Itu bohong, aku pasti akan merasa kesepian dan sangat merindukanmu. Hanya saja ... menurutku itu egois bahkan sangat jika aku memintamu untuk kuliah di sini saja agar kita dapat terua bersama. Aku enggak mau menghalangi cita-cita kamu sama papa kamu, dia pasti sedang menantikan kesuksesan dari putranya dari sana" diakhir kalimat, tangan Joy terulur untuk menunjuk ke arah langit yang di penuhi oleh bintang, dengan cuaca yang cerah bintang pun senantiasa menghiasi langit malam.
Jhony kemudian menarik tangan Joy untuk di genggam, menciumi kedua punggung tangan yang terlihat kecil dalam genggamannya.
"Terima kasih atas pengertiannya sayang, aku sungguh senang dan lega mendengar ucapan kamu. Rasanya aku ingin segera keluar negeri untuk kuliah, supaya aku bisa cepat menyelesaikannya dan kembali kesini untuk melamarmu" suara tawa Joy terdengar seketika, saat Jhony selesai dengan ucapannya.
"Apa yang kau pikirkan, lulus saja belum. Bagaimana bisa kamu sudah memikirkan untuk ke luar negeri" keduanya akhirnya tertawa bersama.
*****
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, ujian tengah semester dimulai hari ini.
Kini saatnya mereka menguras otak mereka yang sudah menampung materi selama beberapa bulan terakhir.
Pagi-pagi sekali Jhony sudah datang bersama dengan Joy pastinya, meski pulangnya mereka sulit bertemu. Namun mereka sepertinya enggan untuk terpisah, buktinya pagi ini mereka sengaja datang bersama untuk melepas rindu.
"Nanti pulangnya aku kabari lagi ya Jhon"
"Iya sayang, beneran jangan lupa kabarin ya. Dan kalau bisa, aku akan usahakan agar dapat pulang bareng kamu" Jhony membalas ucapan Joy.
"Enggak perlu di pikirkan kak, jika tidak bisa, biar aku naik bus saja"
"Baiklah kalau begitu, aku akan kabari juga kalau seandainya nggak ada perubahan dan bisa pulang cepat"
"Oke, semangat ya.." ucapan Joy menggantung, kepalanya melihat sekitar "Semangat sayang, dah.." setelah mengucapkan kalimatnya, Joy berjalan cepat ke arah ruang kelasnya dan menyisakan Jhony yang masih mematung memandangi punggung dan rambut Joy yang terlihat indah.
Senyum manis terulas di bibirnya, dia merasa bahagia dan bersemangat untuk mengerjakan ujian hari ini.
'Joy.. kamu manis banget sih kalau udah malu-malu gitu, gimana aku nggak cinta coba? Huhh.. " hati Jhony seakan bersorak sorai dan bergemuruh, senang dengan kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Joy tadi.
Selama ujian, mereka juga jarang bertemu, hanya saat Jhony menjemput Joy dan setelahnya mereka pulang masing-masing karena memang Jadwal mereka yang berbeda.
*****
"Oh iya, bukankah hari ini hari terkahir ujian tengah semester, sayang?" suara mama Silvi terdengar saat di tengah-tengah acara makan malam mereka.
"Iya ma"
"Bagaimana perasaan kamu?"
"Pastinya lega ma, tinggal tunggu hasilnya aja" Joy tersenyum manis kepada ibunya.
"Bagaimana menurut kamu dengan pelajaran yang di ujian? Apa ada kendala?"
"Tidak pa, semuanya berjalan dengan lancar" dengan lebih keyakinan Joy menjawab pertanyaan sang ayah.
"Bagus lah nak, semoga kamu mendapatkan nilai yang bagus" doa sang mama.
Mereka melanjutkan makan malam yang di selingi sedikit candaan dan tawa, mereka tampak harmonis dan tidak heran bila mereka juga menjadi keluarga yang penuh kasih sayang.
Tidak jauh berbeda dari keluarga Joy, Jhony juga sedang makan malam bersama nyonya Riska.
Meski hanya berdua saja, tetapi mereka sesekali juga meluangkan waktu untuk berkumpul baik untuk membahas masalah di sekolah bahkan ada pula pembahasan tentang urusan kantor.
"Bagaimana ujiannya Jhon? Apakah lancar?"
"Begitulah mom, semuanya berjalan dengan lancar tidak ada hambatan sama sekali"
"Baguslah nak, mama harap semua nya bisa berjalan dengan lancar. Oh iya, apa kamu benar-benar akan melanjutkan study di luar negeri?"
"Tentu mom, seperti yang sudah Jhony janjikan kepada daddy. Jhony akan melanjutkan kuliah di luar negeri, dan sebisa mungkin lulus dengan cepat" ada sering aneh di wajah Jhony yang terlihat oleh nyonya Riska, meski penasaran namun ia tetap bersikap biasa.
"Baiklah kalau begitu, tapi.. apa Joy juga akan menyusulmu ke sana ?" inilah yang sebenarnya nyonya Riska pikirkan, dia berpendapat bahwa seringai tadi menandakan jika Jhony akan pergi keluar negeri bersama Joy.
"Aku juga belum tahu mom, tapi Jhony rasa Joy akan melanjutkan studynya di dalam negeri"
"Benarkah? Wah jadi ada yang LDR nih?" ejek sang mama kepada Jhony yang tiba-tiba saja menjadi sedikit murung.
"Tidak apa-apa sayang, jarak bukanlah masalah karena saat ini tek-nologi sudah canggih. Kita bisa saling bertatapan meski dengan jarak yang cukup jauh, bahkan kau bisa pulang ke tanah air jika ada waktu libur panjang, hm..?"
Jhony membenarkan ucapan sang mama denga anggukan-anggukan kecil dan menampilkan senyum yang paling manis di hadapan sang mama.
.
.
.
stay save readers
yuk bantu dukungan nya dengan komen, like dan pastinya tap love dan beri hadiah buat Me.
thanks😉