Let See The True Love

Let See The True Love
90.



Kembali ke sekolah dan melepas masa liburan yang menyenangkan adalah hal yang menyebalkan bagi beberapa siswa, terkadang mereka malah merasa waktu liburan menjadi sangat pendek dalam satu harinya.


Kebahagiaan terukirdi wajah Joy dan Jhony, karena saat liburan mereka tidak memiliki waktu bertemu sebanyak saat bersekolah.


Namun untuk semester ini, bukan lagi waktunya main-main bagi Jhony dan juga teman seangkatannya yang sebentar lagi harus menghadapi ujian kelulusan.


"Tidak terasa kita kembali menghadapi semester baru lagi, rasanya baru saja memulai semester pertama" suara Joy terdengar saat Jhony mulai fokus mengemudikan mobilnya di jalan raya, saat baru saja keluar dari komplek rumah Joy.


"Hmm.. benar, sungguh waktu tidak ada yang tahu.. secepat itu waktu berlalu, rasanya aku baru saja mengenalmu haha.." Jhony menebar candaan untuk menggoda Joy.


"Kau bisa saja, haha.. Tapi memang benar, waktu terus berjalan dan tidak dapat di hentikan. Kita memang harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, apa lagi... sebentar lagi kau akan menghadapi ujian kelulusan" diakhir kalimat suara Joy terdengar lirih.


Jhony memperhatikan Joy sejenak, dan mendapati pandangan matanya yang ksong kedepan. Dari sana ia tahu jika Joy masih memikirkan dirinya yang akan melanjutkan pendidikan di luar negeri.


"Apa aku... tidak usah keluar negeri saja ya? Bukankah di sini juga banyak universitas yang bagus, benar kan?" sungguh hati Jhony semakin tidak bisa meninggalkan Joy sendiri di sini jika terus melihat Joy yang tampak sedih dan berat untuk berpisah dengannya.


"Apa? Ke, kenapa tidak jadi? Apa karena aku?" Joy memandangi Jhony yang masih fokus mengemudi dan kembali menambahkan ucapannya "Maafkan aku... harusnya aku tidak bersikap egois dan seperti anak kecil begini" Joy menundukkan kepalanya merasa bersalah, karena sudah membuat Jhony goyah dengan keputusannya yang semula kuat.


"Tidak... ini harusnya terjadi, jika kau merasa senang aku pergi itu baru hal yang aneh Joy. Tidak apa-apa, aku akan mencoba membicarakannya kepada momy!" Jhony tersenyum ke arah Joy.


"Jangan... momy sudah mendaftarkanmu dengan susah payah, jadi tidak boleh batal. Lagi pula, biaya yang momy keluarkan pasti sangat besar. Aku tidak apa-apa, bukankah aku bisa ke sana kapanpun aku mau saat liburan?" Joy mencoba meyakinkan Jhony dan juga menghibur diri.


"Benar, kau bisa kesana kapan saja. Tapi jika itu menggangu pikiranmu terus, pasti tidak akan baik!" makin memaku pandangannya kepada Jhony, Joy merasa senang dengan perhatian dari Jhony. Semakin hari cintanya semakin besar kepada Jhony, lelaki yang selalu bisa menjaga perasaannya.


"Tapi aku benar tidak apa-apa, pasti hanya perlu setidaknya tiga hari.. bukan mungkin satu minggu saja aku akan terbiasa berjauhan dengan mu, hehe.." memaksakan senyuman yang masih terlihat jelas seutas kesedihan di sana.


Sampai di parkiran sekolah, Joy baru saja melepas sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu. Tetapi tiba-tiba Jhony menahan lengannya dengan perlahan dan membawa Joy untuk menatap ke arahnya.


"Sayang, dengarkan aku. Aku akan selalu menghubungimu saat ada waktu luang, dan juga aku akan menjaga hati ini untukmu sama seperti kau menjaga hatimu untukku" Jhony mengarahkan tangan Joy ke dadanya.


Joy tidak dapat menahan tangisnya, matanya sudah berkaca-kaca dan tampak penuh untuk segera di tumpahkan.


"Hiks.. hiks.. aku.. aku akan.. selalu menjaga hatiku dan sambil menunggumu di sini" Joy menenggelamkan diri di dalam pelukan Jhony, Jhony hanya bisa menepuk perlahan bahu Joy yang mulai sesegukan.


"Sudah, tenang lah. Apa kau mau kita tertangkap basah berpelukan di area sekolah huhh?" Jhony memegang kedua bahu Joy dan menepis air mata yang mengalir dengan ibu jarinya.


Joy menggelengkan kepala dan dengan segera menghapus air matanya.


"Ayo kita keluar.."


"Gadis pintar, bagaimana aku tidak sayang kepadamu" mengusap pelan kepala Joy, lalu ia segera turun dan memutari mobilnya hingga berada di sisi satunya untuk membuka pintu untuk Joy.


Keduanya berjalan memasuki gedung sekolah yang sudah ramai di padati siswa siswi yang sedang bercengkrama untuk melepas rindu setelah dua minggu tidak bertemu.


"Masuklah, jika tidak ada pelajaran tambahan aku akan memgantarmu pulang sore nanti"


"Em.. baiklah"


"Selamat belajar"


"Sampai jumpa"


Begitulah mereka berpisah untuk masuk ke kelas masing-masing, beberapa kata atau kalimat yang bisa memberi semangat dalam belajar tidaklah salah.


Lambaian tangan keduanya mengakhiri percakapan mereka di depan kelas Joy, Jhony kemudian kembali berjalan ke kelasnya.


Setelah punggung Jhony tidak terlihat lagi, Joy juga masuk ke kelas dan meletakkan tas ranselnya di ataa meja.


"Entahlah Rin, aku... " kalimat Joy menggantung, membuat Rina semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Kenapa sih, cerita dong.. Masalah sama orang tua?" Joy menggeleng "Pelajaran?" lagi Joy menggeleng "Lagi dapet?" lagi-lagi Joy hanya menggelengkan kepalanya.


"Terus apa dong girls, ayo cerita sama aku. Apa... kamu ada masalah sama kak Jhony" ragu, tetapi akhirnya Joy menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?" mata Joy memandangi Rina yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Aku.. apa aku terkesan egois dan posesif saat aku merasa takut jika kak Jhony kuliah keluar negeri?"


"Bukannya kalian udah diskusikan masalah ini?" Joy mengangguk lagi.


"Kenapa? Apa kamu jadi berubah pikiran untuk membiarkan kak Jhony melanjutkan pendidikan di luar sendirian?"


"Aku hanya.. takut dan tidak tenang!" menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya.


"Huhh... memang sulit, tapi jika itu cita-citanya aku rasa kamu harusnya mendukungnya" Rina menggenggam tangan Joy, seolah memberi kekuatan untuk Joy yang tampak muram.


"Tapi bagaiman aku bisa percaya dengannya, jika di sana ia hanya sendiri dan tiba-tiba ada wanita yang mendekatinya dan... ah.. di sana adalah negara dengan kehidupan bebas, aku takut... Jhony terpengaruh" setelah mengucapkan kalimatnya, mulut Joy terasa keluh dia melipat bibirnya untuk menelan kembali kekhawatirannya itu.


"Aku mengerti, tapi laki-laki butuh sedikit kebebasan agar dia bisa melihat mana yang baik atau tidak. Dan juga jika dia jodoh kamu, meski ke ujung dunia juga dia bakal balik lagi temuin kamu yang sudah pasti cintanya"


"..." tidak ada lanjutan dari Joy.


"Oh iya, dan juga sepertinya kamu belum tahu. Harry juga akan melanjutkan perguruan tinggi dengan Jhony, jadi sudah pasti dia tidak sendirian. Hemm!?" Joy segera melihat ke arah Rina, mencari celah kebohongan di wajahnya. Rina yang tahu sahabatnya meragukan ucapannya segera menabahkan kalimatnya " Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya langsung kepada Harry. Karena kak Jhony belum tahu soal keputusan Harry, karena baru beberapa hari yang lalu Harry memberi tahukannya kepadaku"


"Benarkah?" Rina memejamkan mata sejenak dan mengangguk pasti.


"Benar, apa kau kini semakin tidak percaya padaku? Aku tidak akan menipu dirimu yang tampak menyedihkan seperti ini" Rina menyelipkan untaian rambut yang mengganggu penglihatannya di wajah Joy.


"Percayalah kepadanya Joy, aku yakin kak Jhony tidak akan mencari wanita lain. Dia sangat menyayangi kamu, dan aku lihat... dia malah tidak akan bisa kehilangan kamu" akhirnya bel masuk memberi tanda agar Rina segera kembali ke tempat duduknya, bersamaan dengan pemilik kursi yang ia duduki tadi telah kembali.


"Belajar Joy, udah bel" putus Rina, dan diangguki oleh Joy.


Sementara Joy sejenak masih dalam pikirannya tentang Jhony, Rina tahu tidak akan mudah memang untuk membiarkan seseorang yang kita cintai tinggal jauh di negara lain. Tapi ia juga seperti menguatkan dirinya sendiri yang ternyata akan di tinggal pergi oleh Harry.


.


.


.


Hai readers tersayang yang masih beberapa ini🤣, mendekati end season pertama nih.. Yuk kasih semangat buat aku yang lagi cari, ide buat season keduanya biar lebih seru lagi cerita aku...


Aku hanya menuangkan hoby aku buat menulis, yang dulunya suka menulis di diary skrg aku tulis di sini...


Terima kasih banyak untuk readers" yang sudah menyempatkan siri untuk singgah dan membaca karya ku😊


Tetap stay save ya, jaga kesehatan selalu...


thanks😉


Salma Me~Lisa😘😘