
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, Jhony bergegas berjalan keluar dari kelas nya dia ingin segera menuju ke kelas Joy. Seperti janji nya pagi tadi, dia kan nengantarkan Joy pulang ke rumah. Jhony tersenyum mengingat nya akan bertemu dengan Joy, entah mengapa dia sungguh senang bisa pulang dan pergi ke sekolah bersama Joy. Tadi siang dia juga harusnya pergi ke kantin bersama Joy, namun karena harus mengikuti rapat Osis diapun akhirnya tak bisa bertemu Joy. Namun Jhony sudah memberi kabar bahwa dia tetap akan mengantar pulang karena tak ada jadwal rapat saat pulang nanti.
Situasi di kelas sudah sepi, Joy masih duduk di kursi sambil melihat ke luar jendela. Melihat beberapa siswa yang berjalan melewati pagar sekolah seharusnya sekarang dia juga bisa berjalan dengan nyaman namun karena kejadian kemarin lalu jadi dia harus merepotkan orang lain, Rina sudah pulang terlebih dahulu karena ada les privat setelah pulang sekolah. Jhony berjalan menghampirinya saat melihat Joy masih duduk manis melihat ke arah jendela.
"Lihatin apa? Serius banget?" suara Jhony terdengar hingga Joy mengarahkan wajahnya ke asal suara
"Ohh, kak Jhony sudah datang. Maaf kak aku nggak dengar kakak datang, ayo kita pulang.. ahh.." meraih tas ranselnya Joy beranjak berdiri dan hendak melangkah. belum sempat langkahnya bertambah dia lun meringis, kakinya terasa begitu sakit dan membuat nya menghentikan ayunan langkah selanjutnya.
"Ada apa?" tanya Jhony panik dan tergesa memegang kedua bahu Joy, keduanya pun mengalihkan pandangan ke arah kaki Joy yang sakit. Di luka Joy yang mulai mengering ternyata kembali mengalir darah, akhirnya Jhony mendudukkan Joy kembali di kursi yang sebelumnya diduduki olehnya.
"Kenapa bisa berdarah lagi ya, padahal tadi nggak kenapa napa" wajah Joy berubah panik
"Mungkin karena kamu tiba tiba berdiri tadi, jadi luka nya tersentak. Nggak usah panik ya, sebentar aku bersihin darahnya dulu kamu ada bawa obat salep nya nggak?" Jhony berjongkok di hadapan Joy sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celana untuk membersihkan darah yang mengalir ke kaki tulang kering Joy, dengan perlahan dan hati hati Jhony membersihkan luka yang juga tampak berdarah.
"Kak Jhony.. biar aku aja yang bersihinnya" mencoba meraih sapu tangan yang di genggam Jhony, dia merasa tidak enak melihat Jhony yang berjongkok di hadapannya yang saat ini sedang mengenakan rok sekolah.
Jhony mendongak ke atas melihat Joy yang tampak tak nyaman, lalu dia menyadari bahwa Joy tak nyaman dengan posisi nya saat ini yang berada di depannya dengan segera dia melepas tas ranselnya dan di letakkan di atas pangkuan Joy "Ini pegangin tas ku, mana salepnya" tersenyum kepada Joy dan menyodorkan telapak tangan nya kepada Joy meminta salep untuk di oleskan ke kaki nya, Joy lalu mengambil salep yang berada di saku tas nya dan di berikan kepada Jhony.
"Tahan ya, aku bakalan pelan oleskannya" dengan telaten Jhony mengoleskan salep di luka Joy, tak ada sakit yang di rasa Joy malahan jantungnya kini yang berdebar tak karuan. Entah mengapa dia jadi salah tingkah dan tangannya terasa berkeringat, dia pun teringat pertanyaan Rina saat istirahat tadi yang menanyakan bagaimana rasanya saat Joy berdekatan dengan Jhony apa ada rasa jantung berdebar tak karuan. Dan sekarang Joy pun mempunyai jawabannya, dia selalu merasa berdebar debar dan juga salah tingkah seperti sekarang ini.
"Sudah selesai, ayo kita pulang nanti tante khawatir kalau pulang terlalu sore" Jhony kembali berdiri dan menaruh salepnya di tas ransel Joy, lalu dia pun mengambil tas nya yang tadi di simpan di pangkuan Joy beserta tas ransel milik Joy. Kemudian dia membantu Joy berdiri
"Apa masih sakit?" sambil membantu Joy berjalan, Jhony memperhatikan raut wajah Joy
"Tidak terlalu kak" jawab Joy seraya menggeleng kan kepalanya
Sampai di tempat dia memarkir mobilnya, Jhony segera membuka pintu mobil dan membantu Joy masuk ke dalam. Setelah sudah memastikan Joy duduk dengan nyaman di kursi penumpang kini Jhony berjalan ke arah kurai kemudi kemudian masuk dan duduk di samping Joy. Diapun meletakkan tas nya ke kursi penumpang yang berada di belakang, dan mulai menyalakan mobilnya untuk di bawa ke jalan raya.
"Kak Jhony.. terima kasih ya sudah mau repot repot antar jemput Joy ke sekolah" dengan sedikit ragu akhirnya Joy mengucapkan kalimatnya yang sejak tadi pagi ingin dia ucapkan.
"Kenapa harus terima kasih, kan kita juga searag Joy nggak masalah"
"Tetap aja kak, walau pun kita searah tapi kakak udah repot bantuin aku berjalan" Joy memelintir tali tas yang berada di pangkuannya
"Oke oke, aku terima ucapannya tapi kamu jangan merasa terbebani dengan ini hemm.." Jhony melirik sekilas ke arah Joy dan tersenyum, sama halnya dengan Joy, dia juga tersenyum melihat Jhony yang menatapnya sekilas dan kembali fokus ke arah jalanan
"Oh iya kak, kakak kenal sama Dina?" Joy penasaran dengan apa yang di katakan oleh siswi yang bernama Dina yang mengatakan bahwa Jhony adalah calon pacarnya, dia pun mencoba mencari tahu kebenarannya
"Dina?" Jhony tampak berfikir
"Iya, Dina katanya dia adik kelas kakak dulu waktu di SMP" Joy memperhatikan bagaimana perubahan raut wajah Jhony sekarang, namun Jhony tampar berfikir keras untuk mengingatnya.
"Ehh..enggak kenapa napa kak. Dia cuma bilang kalau dulu pernah satu sekolah aja sama kakak" jawab Joy tak bermaksud menceritakan yang sesungguhnya, menurutnya jawaban Jhony sudah membuktikan kalau mereka belum ada hubungan yang lain selain kenalan saja Joy pun tersenyum lega.
"Oh..Iya nih Joy apa kalian udah dengar ada yang meminta kita meramaikan acara ulang tahun perusahaan ?"
"Oh yang di tempel di mading itu ya kak?"
"Iya benar, acaranya tinggal seminggu lagi jadi masih bisa bersiap"
"Tadinya aku sama Rina mau ikutan kak, cuma kami belum buat rencana lagi setelah kecelakaan kemarin"
"Oh gitu, memangnya rencananya kalian mau bikin stand apa?"
"Rencana nya sih mau jual pernak pernik yang di sukai cewek dan pasangan gitu kak, aksesoris gitu"
"Coba aja Joy nanti aku siapin satu stand buat kalian, soalnya sudah ada beberapa tim yang ikut mendaftarkan standnya dan kebetulan aku juga jadi panitia acara untuk sekolah kita"
"Beneran kak?"
"Iya beneran, kamu mau nggak"
"Boleh deh kak, aku mau" Joy tampak senang
"Oke, nanti kamu mulai diskusi sama Rina untuk nama stand nya serta daftar barang barang yang mau di jual di sana ya. Soalnya kami juga mau mengurus budget yang di perlukan buat setiap stand nya, biar nggak over pengeluaran nya" jelas Jhony yang langsung di angguki oleh Joy
*****
Tak lama mobil Jhony sudah memasuki halaman rumah Joy, seperti tadi pagi Jhony dengan sigap keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu mobil di sebelah Joy. Mama Silvi sudah menunggu di depan pintu saat ini, tadi saat mendengar suara mobil tiba di depan rumah dia pun bergegas keluar. Dia yakin bahwa itu adalah mobil Jhony yang mengantarkan Joy pulang, dia pun kini memperhatikan setiap gerak gerik Jhony yang membantu Joy dengan penuh perhatian dia pun tersenyum.
.
.
.
stay save readers,, yuk bantu aku biar lebih semangat menulis nya klik like atau komen di kolom komentar guys. Jika berkenan boleh di beri hadiah atau fav serta vote.
terima kasih😉