
Setelah Jhony menarik sebuah kursi untuk Joy, ia kemudian berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya. Lalu ia berjalan kembali, menghampiri Joy dan duduk di samping Joy.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau kamu mau datang kemari, setidaknya aku bisa menjemputmu" Jhony menyampirkan ke belakang telinga untaian rambut yang sedikit menghalangi pandangannya di wajah Joy.
"Aku tidak ingin merepotkanmu, lagi pula... aku ingin memberi kejutan" kekehan indah Joy memudarkan rona merah yang tadi menghiasi wajah cantiknya.
"Kamu berhasil Joy, aku sungguh tidak menyangka kamu akan datang kemari!"
"Benarkah?" Joy melihat keseriusan dari pancaran wajah Jhony, senyum bahagianya tak pernah surut mulai dari Joy melihatnya.
"Sungguh, aku malah memikirkan untuk ke rumahmu malam ini saat pulang dari kantor. Aku... sangat merindukanmu" Kedua tangan Jhony menggenggam erat tangan Joy, keduanya masih saling berhadapan.
"Aku juga.."
Jhony mengangkat genggaman tangannya dan mengecup tangan Joy cukup lama, hingga ia memejamkan mata sejenak. Merindukan tangan yang menggenggam satu sama lain setiap harinya, dan perhatian-perhatian kecil yang mereka berikan kepada sesama membuat mereka terjebak di dalam kerinduan saat tidak bertemu sehari saja.
Meski mereka masih bisa saling memberi perhatian lewat telfon, namun itu terasa berbeda saat bisa melihat orang yang mereka cintai dihadapannya.
"Oh iya, apa yang kamu bawa?" memperhatikan bungkusan yang ada di atas meja, Jhony yakin bungkusan itu di bawa oleh Joy.
"Ini... kue yang aku buat, aku membawa separuh untuk cemilan momy dan kamu"
"Benarkah? Kebetulan aku sudah lapar" baru saja tangan Jhony hendak meraih bungkusan tersebut, namun tangannya di tahan oleh Joy.
"Tunggu, kamu kan belum makan siang. Kalau kamu makan kue ini dulu, ***** makanmu nanti hilang karena sudah kenyang. Lagi pula, aku ingin momy yang mencoba kue ini dulu"
Melihat ekspresi wajah Joy yang sangat beeharap saat ini, Jhony jadi tidak tega memakan kue yang di bawa kekasihnya itu terlebih dahulu. Meski dia sangat ingin mencicipinya, namun dia menahan dengan semua tenaga karena tidak ingin melihat Joy kecewa.
"Baiklah, aku akan makan setelah momy mencobanya nanti"
"Terima kasih, maaf ya... " Joy menampilkan wajah menyesal.
"Tidak apa-apa sayang, aku ngerti kok" Jhony mengapit kedua pipi Joy yang putih dan menggemaskan itu dengan kedua telapak tangannya.
"Aku juga berharap rasanya enak, bahkan saat ingin membawa kue itu kemari saja aku menghadapi kegugupan melebihi saat akan ujian hah..."
"Hehehe.. kenapa bisa begitu?" Jhony merasa bingung dengan ucapan Joy.
"Tentu aku gugup, jika kue ini tidak enak aku akan sangat malu sama momy. Bagaimana aku tidak bisa membuat kue yang enak, padahal cara membuatnya tidak begitu sulit"
"Tenang saja, aku dan momy mempunyai sifat yang sama. Kami tidak pemilih dalam hal makanan, pasti kue kamu akan cepat habis malah aku tidak yakin kue nya akan bersisa hingga besok" tangan Jhony sudah terangkat untuk mengelus kepala Joy, hingga tidak lama setelahnya pintu ruangan mereka berada pun terbuka setelah terdengar dua kali ketukan di sana.
"Maaf saya mengganggu tuan muda, saya ingin menyampaikan bahwa tamu di ruangan nyonya sudah pulang" sekretaris nyonya Riska yang datang.
"Baik mbak, terima kasih aku akan segera kesana" sekretaris yang di ketahui Joy bernama Wulan itu mengangguk sebentar sebelum keluar dari ruangan dan menutup kembali pintu tersebut.
"Ayo kita keruang momy!" seru Jhony, ia berdiri dan meraih bungkusan yang tadi di bawa Joy.
"Em.." Joy mengangguk dan mulai berdiri, keduanya mulai berjalan keluar dari pintu yang sudah di buka Jhony.
Melihat Jhony dan Joy yang berjalan mendekatinya, sekretaris tadi sigap berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendahului Jhony dan mulai mengetuk pintu yang di yakini Joy itu adalah ruangan nyonya Riska, Jhony menggenggam tangan Joy dengan satu tangan masih memegang bungkusan kue yang di bawa Joy.
tok tok tok suara pintu di ketuk.
Terdengar suara dari dalam yang menyahuti.
"Masuk..."
ceklekk.. pintu di buka dari luar, pemandangan yang pertama terlihat oleh Joy adalah sosok nyonya Riska yang sedang fokus dengan beberapa berkas di atas mejanya dan laki-laki paruh baya yang di kenal sebagai ayah dari Siska sahabat Jhony sedang duduk di hadapan nyonya Riska.
"Momy sedang sibuk? Selamat siang paman!" suara Jhony terdengar menyapa mamanya juga ayah Siska tamoak sedang menunggu nyonya Riska memeriksa beberapa berkas yang ia bawa.
"Ah tidak... tapi ini ada beberapa yang harus momy tanda... Joy... kau kah itu sayang!?" tadinya dia tidak mengira Joy juga ikut masuk ke dalam ruangannya, karena ia tidak tahu Joy datang mengunjungi mereka hari ini.
Nyonya Riska segera meletakkan berkas yang tadi sedang ia pegang, dan mulai berdiri kemudian berjalan menghampiri putranya dan Joy.
"Baik sayang, bagaimana dengan mu dan juga orang tuamu? Apa semuanya sehat-sehat saja?"
"Semuanya sehat mom, benar kita sudah lama tidak bertemu aku kangen sama momy" layaknya ibunya sendiri, Joy merasa begitu merindukan nyonya Riska yang hampir dua bulan tidak bertemu dengannya.
"Ahh... sudah lama sekali kita tidak berkumpul, karena momy sangat sibuk jadi kita belum bisa berkumpul keluarga hehe.."
"Tidak apa-apa mom, momy pasti sangat kelelahan"
"Tidak ini sudah biasa untuk momy, mari duduk nak, tuan Ferry mari ikut duduk di sini sebentar... Jhony apa yang kamu pegang itu sayang?" baru menyadari Jhony memegang sesuatu sedari tadi, sekretaris yang tadi membukakan pintu juga sudah keluar sejak mereka sudah masuk kedalam.
Kemudian mereka duduk dengan posisi Joy yang duduk di samping nyonya Riska, Jhony duduk bersebelahan dengan tuan Ferry berhadapan dengan Joy dan mamanya.
"Ini... kue dari Joy mom, dia yang membuatnya sendiri untuk kita" Jhony mengangkat bungkusan itu dihadapannya.
"Benarkah, apakah boleh sekarang kita mencobanya"
Pertanyaan nyonya Riska membuat Joy dan Jhony saling pandang, dan sesaat kemudian Jhony tersenyum jahil.
"Kata yang bawa kit harus makan siang dulu mom, menurutnya kita akan jadi tidak ***** makan lagi jika kita memakan kue sebelum makan siang. Tentu karena perut kita akan terasa kenyang pastinya hehe.." Jhony terkekeh setelah menyelesaikan ucapannya, Joy menyenggol lengan Jhony perlahan. Dia merasa tidak enak dan takut jika nyonya Riska tersinggung.
"Itu benar nak, momy sampai lupa. Ini sudah jam makan siang, apa kalian tidak kekantin untuk makan siang?"
"Tapi... bukankah pak Sastro sudah membawa makanan dari rumah, mom?"
"Benar, tapi ini hanya cukup untuk momy dan juga pak Ferry saja nak.Kalian berdua pergilah ke kantin, atau pergi ke restoran yang ada di ujung jalan saja nak. Momy dengar makanan di sana enak-enak, bawalah Joy kesana hm..." permintaan mamanya tidak dapat di tolak, bahkan Jhony juga tidak berniat menolak nya. Karena itu juga sebuah keuntungan baginya, agar bisa berduaan dengan Joy.
"Baiklah kalau begitu, kami akan pergi ke restoran yang momy maksud. Apa ada yang ingin momy pesan?"
Nyonya Riska tampak menggelengkan kepalanya.
"Tidak sayang, makan lah dengan tenang. Jangan terburu-buru untuk kembali kekantor, kalian pasti ingin menikmati waktu berdua jadi... santai saja ok" nyonya Riska mengedipkan sebelah matanya kepada Joy yang dengan antusias menatapnya.
"Baiklah mom, momy memang yang terbaik. Aku akan mengambil kunci mobilku terlebih dahulu" Jhony sudah berdiri namun langkah nya tertahan saat suara nyonya Riska kembali terdengar.
"Bawalah Joy bersama mu sayang, dia pasti ingin tahu seperti apa ruangan kerjamu dan jiga letak-letak ruangan lainnya"
Jhony melihat kearah Joy yang tampak tidak percaya dengan ucapan nyonya Riska, saat nyonya Riska melihat kearah Joy, ia tiba-tiba tertawa pelan.
"Pergilah bersama Jhony, sayang. Sekalian kamu bisa lihat-lihat suasana kantor seperti apa, jangan merasa tidak nyaman. Anggap seperti di rumahmu" nyonya Riska mencolek hidung Joy, gemas dengan ekspresi wajah pacar anaknya ini yang berhasil mengundang tawanya.
"Em.. Baiklah mom, aku pergi dulu mom, paman Ferry. Sampai bertemu lagi" ucap Joy.
"Tentu sayang, setelah itu kau harus kembali lagi kemari untuk menemani momy ya!" nyonya Riska berseru senang.
"Pasti mom, aku akan membawanya kembali kemari. Ayo Joy... " setelah menganggukkan kepala kepada nyonya Riska dam tuan Ferry, keduanya segera keluar dari ruangan nyonya Riska.
"Lihatlah mereka, sangat bahagia ketika bertemu. Tapi.. aku juga merasa Joy selalu membawa energi positif di setiap kehadirannya" nyonya Riska berbicara seolah hanya untuk dirinya sendiri.
Namun tuan Ferry tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dipikirkan oleh istri sahabatnya itu.
.
.
.
stay save readers
yuk bantu aku dengan like dan kasi rat bintang lima dan lain sebagainya jika sudah menikmati cerita Me~.
Terimakasih😉