Let See The True Love

Let See The True Love
103.



Hari-hari yang dijalani seluruh murid yang mengikuti ujian telah selesai, lega.. tentu saja namun masih ada yang mereka pikirkan saat ini. Yaitu hasilnya, entah itu akan bagus atau tidak semua sudah selesai.


Pengumuman kelulusan akan dilaksanakan satu minggu kemudian, setelah berakhirnya masa ujian.


Segala surat yang di perlukan untuk keberangkatan Jhony sudah selesai di urus, tidak lama lagi ia akan meninggalkan kotanya untuk belajar di luar negeri beberapa tahun mendatang.


Dua buah koper besar sudah bertengger di dalam kamarnya, ia sengaja membereskannya lebih awal karena setelah ini ia bermaksud mengajak Joy beserta keluarga mereka untuk berlibur keluar kota.


Jhony sudah merencanakannya dengan orang tua Joy, begitu juga dengan mamanya. Ia sudah meminta sang mama untuk meluangkan waktunya untuk berlibur, karena sang mama juga pekerja keras dan jarang mengambil waktu untuk liburan dan beristirahat.


Jhony baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di bagian pinggang, dan handuk kecil di tangan kanan nya untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia kemudian membuka lemari dan mengambil pakaian yang hendak di kenakannya, baru saja ia berjalan menuju ke sebuah sofa panjang di ujung tempat tidurnya suara ketukan menghentikan langkahnya. Jhony berbalik dan membuka pintu kamarnya, seorang wanita paruh baya yang cantik yaitu mama nya sudah ada di sana.


"Momy.. " senyum terlukis indah di wajahnya yang masih sangat cantik.


"Hem.. baru selesai mandi, sayang?"


"Iya mom, ayo mom masuk dulu." mengajak sang mama duduk di sofa yang tadi menjadi tujuannya. "Momy enggak ke kntor hari ini?"


"Enggak sayang, momy pengen habisin waktu akhir pekan sama anak mama yang sebentar lagi pergi keluar negeri."


"Mom.. kita akan keluar kota besok, momy ingat kan?"


"Tentu saja momy ingat nak, hanya saja.. sepertinya itu tidak cukup melepas kerinduan yang akan momy rasakan saat kamu disana, hah... momy jadi terdengar egois kan?" kedua mata sayu nya menatap Jhony dengan tatapan penuh kasih, kesedihan tergambar jelas di sana.


"Tidak, ini bukanlah egois tapi ini adalah bukti cinta dan kasih sayang momy padaku. Aku tahu itu dengan jelas, mom.. berjanjilah padaku bahwa momy akan menjaga kesehatan saat aku di luar negeri. Dan juga.. aku hanya pergi sebentar saja, aku juga bisa pulang saat ada liburan panjang." sama dengan sang mama, Jhony juga ikut merasa kesedihan harus meninggalkan orang yang paling ia cintai sendiri di sini.


Namun itu semua ia lakukan agar dengan segera ia dapat meringankan tanggung jawab sang mama.


"Tentu saja sayang, momy akan selalu menjaga kesehatan momy agar momy bisa melihatmu sukses secepatnya. Momy malah mengkhawatirkanmu sayang, rasanya momy tidak tenang membiarkanmu sendiri di sana."


"Percayalah padaku mom, aku akan bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan pendidikan ku di sana. Lagipula, sudah ada yang menahan hatiku di sini mom." Jhony tersenyum kepada mamanya yang sedang menatapnya dengan intens.


"Haha.. momy tahu itu dengan pasti, tapi momy tetap saja merasa cemas. Akan lebih menenangkan jika ada seseorang yang mendampingi, andai saja Siska juga kuliah di sana!" Jhony mengernyitkan keningnya, bingung dengan apa yang mamanya katakan.


"Maksud momy?" Jhony menatap dalam kedua bola mata mamanya.


"Ya.. maksud momy, setidaknya dia.. dia bisa menjaga pola makanmu. Bukankah dia sangat handal dalam memasak, setidaknya mama tidak perlu mengkhawatirkan pola makanmu di sana." merasa ia telah melakukan kesalahan dengan menyebutkan nama Siska tanpa sengaja, sehingga ia harus mencari alasan mengapa menghubungkan Jhony dengan Siska kembali.


"Tidak perlu mom, Jhony akan cepat terbiasa dengan makanan di sana. Lagi pula kita sudah pernah ke sana, jadi tidak akan sulit untuk menyesuaikan diri di sana nanti."


"Ah.. benar, kita sudah pernah ke sana dan kau juga menikmati semua makanan di sana bukan? Sepertinya momy salah, jika berfikir kau akan kesulitan di sana. Maaf nak, momy tadi hanya asal bicara karena terlalu khawatir padamu."


"Tidak mom, momy tidak salah apa-apa. Jhony mengerti kekhawatiran momy, tenang saja mom aku akan menjaga diri dengan baik di sana." gerakan Jhony selanjutnya membuat nyonya Riska tersentuh, Jhony memeluk mamanya dan memberi tepukan di punggung wanita paruh baya itu.


Nyonya Riska mengatakan bahwa ia kan segera menyusul, sama halnya dengan nyonya Riska. Ayah Joy juga tidak bisa langsung pergi bersama dengan Jhony dan Joy, berhubung ini adalah hari senin pekerjaannya tentu sangatlah banyak. Jadilah ia juga akan menyusul setelah membereskan pekerjaan yang ada.


"Apa ini namanya liburan keluarga? Hah... kenapa semua orang tua jadi sibuk begini!" Joy mengeluh di dalam mobil, saat ini ia bersama dengan Jhony sedang menuju ketempat tujuan.


"Kau mengeluh seperti anak kecil sayang, mereka memang punya banyak kesibukan. Tidak seperti kita yang hanya memiliki satu kewajiban yang pasti, yaitu belajar." Joy selalu bisa mengubah suasana dengan bertingkah lucu, itu juga salah satu hal yang membuat Jhony sering tersenyum saat mengingatnya.


Seperti sekarang ini, ia bahkan menertawakan tingkah laku kekasihnya itu.


"Tapi kan kita sudah membuat janji untuk pergi bersama, bagaimana bisa pekerjaan tiba-tiba datang juga seperti ini." cebiknya, dan menatap keluar jendela mobil.


"Ya.. seperti itulah dunia kerja, kita akan merasakan nya nanti setelah lulus. Jadi jangan berpikir negatif, apa kau tahu merek mungkin sangat menyayangkan karena mereka tidak bisa bersama kita sekarang. Mereka pasti sangat ingin berlibur bersama kita juga, bersama keluarganya! Tapi pekerjaan mereka juga untuk keluarga, dari hasilnya itulah kebahagian lain keluarga bisa tercipta. Apa kau setuju?" Jhony berusaha mengubah cara pikir Joy, sedikit demi sedikit agar kekasihnya berpikir sedikit lebih dewasa.


Joy menatap kearah Jhony, wajahnya masih terlihat sedikit kebingungan.


"Tidak.. kau membela mereka karena kau juga sering bekerja dengan momy di kantor!" sebuah sorot tajam dari matanya ia tampilkan saat ini, Jhony kembali terkekeh setelah sesaat melihat wajah gadis itu.


"Haha.. bukan begitu sayang, kau ini semakin menggemaskan saja." Jhony menghentikan kalimatnya sejenak "Sebenarnya, aku tahu di hati mereka pasti sangat ingin bisa berkumpul dan bercerita bersama orang-orang yang mereka sayangi. Seperti saat ini, kebahagiaan terbesarku adalah bisa bersama mu. Entah apa kau percaya atau tidak, tapi sesungguhnya aku sangat sulit menggambarkan bagaimana perasaan ku sekarang." tangan hangat Jhony menggenggam jemari Joy yang sedikit dingin karena saat ini masih sangat pagi, bahkan ini bisa di sebut subuh sebab kini batu pukul lima lewat lima belas menit.


Mereka sengaja berangkat pagi-pagi sekali, agar tidak terkena macet atau panas saat matahari mulai terbit.


Joy memandangi tangannya yang di genggam oleh Jhony, seketika saja ia merasa sudah menjadi sangat egois. Layaknya dia, tentu saja orang tua mereka juga pasti merindukan waktu yang mereka habiskan bersama. Akan sangat menyenangkan bila mereka dapat berkumpul, bercanda bahkan membicarakan hal-hal yang ringan sekali pun akan menjadi momen indah bagi mereka.


Ia kembali mengingat bahwa mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama, matanya berkaca-kaca. Setumpuk cairan menggenang di sana dan siap untuk di tumpahkan, lalu dengan segera ia mengalihkan pandangannya agar Jhony tidak melihat air matanya yang kemudian terjatuh seiring dengan kedipan matanya.


Jhony memandang aneh kepada Joy yang memalingkan wajahnya ke arah jendela di samping gadis itu, ia mengira Joy masih marah padanya.


"Sayang.. apa kau masih marah?" gelengan lemah terlihat oleh Jhony. "Lalu, kenapa kau.. " kalimat Jhony terhenti ketika tangannya merasakan genggaman Joy semakin menguat. "Kau menangis!"


Jhony menepikan mobilnya di bahu jalan, dengan segera membuka sabuk pengamannya ia kemudian meraih tubuh Joy dan dilihatnya kedua sudut pipi kekasihnya itu basah karena air mata yang masih mengalir.


"Kenapa kau menangis?" ia mengusap pelan pipi Joy, isak kecil masih terdengar di sana.


Tatapan yang menggambarkan kesedihan terlihat jelas dimata gadis itu, ia pun tak kuasa melihat Jhony yang begitu mencemaskannya.


.


.


.


stay save readers😉