Let See The True Love

Let See The True Love
88.



Saat matahari mulai kembali ke peraduannya, Joy masih duduk manis sambil menunggu Jhony menyelesaikan pekerjaannya. Ponselnya kini sedang dalam genggamannya, saat mereka baru selesai berbicara tadi, Joy sengaja mengambil ponselnya dan mengarahkan kameranya kepada Jhony dengan diam-diam mengambil gambar Jhony yang sedang fokus bekerja.


Ia tersenyum melihat hasil tangkapan kamera ponselnya itu, berkali-kali ia membuka rangkaian foto yang ada galerinya itu untuk di lihat.


Seharian di ruangan Jhony membuat dirinya merasa sedikit bosan, tapi sesekali Jhony malah mengajaknya berbicara dan bercanda untuk mengusir kebosanannya itu. Sesekali Jhony juga meninggalkan nya sendiri di dalam ruangan untuk mengurus sedikit pekerjaan yang memang perlu melibatkan karyawan lain.


"Beres..." suara Jhony terdengar bersamaan dengan tangannya yang mulai merapihkan berkas-berkas yang ada di atas meja.


"Apa kita sudah akan pulang?" Joy berdiri dan berjalan menghampiri Jhony.


"Tentu, aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku. Sekarang waktunya kita pulang"


Joy tersenyum dan mengangguk pasti kepada Jhony, namun ekspresinya berubah saat ia mengingat sesuatu.


"Apa momy juga sudah pulang?" matanya memandangi wajah Jhony yang tampak lelah.


"Sepertinya belum, biasanya momy akan sedikit terlambat untuk pulang. Ia tidak akan pulang sebelum semua karyawan pulang"


"Begitukah?" Jhony terlihat menganggukkan kepalanya "Kalau begitu, momy benar-benar CEO panutan ku" wajah Joy tampak serius mengatakan bahwa nyonya Riska adalah panutan baginya.


"Kau bisa saja, ayo kita pulang" Jhony sudah berdiri dan mengambil kunci mobil yang tergelatak di atas mejanya.


"Sebelum pulang... kita pamit kepada momy dulu Jhon!"


"Tentu sayang, anak yang baik kesayangan momy.. hehe" kekehan terdengar dari mulut Jhony saat mengatakan kalimatnya, ucapannya tadi adalah yang sebenarnya. Entah mengapa, Jhony merasa nyonya Riska begitu menyayangi Joy. Dia selalu menanyakan kabar Joy, dan setiap hari juga Jhony lah yang memberikan kabat Joy kepada ibunya itu.


"Jangan terus mengacak rambutku, aku sudah merapihkannya tadi. Akan aneh jika aku berpamitan dengan kondisi berantakan seperti itu kan?!" Joy melototkan matanya di hadapan Jhony.


"Hahaha.. baiklah tuan putri, aku akan merapihkannya untukmu baby" tawa Jhony terdengar dan perlahan Jhony mulai merapihkan rambut Joy yang tadi di acak olehnya.


"Kenapa akhir-akhir ini kau semakin hebat mengeluarkan kata-kata manis, rasanya jantungku selalu berdebar tidak karuan saat kau memanggilku dengan sebutan 'sayang, manis, baby' ah... bisa-bisa aku harus memeriksakan jantungku nanti" Joy menatap lekat kedua mata Jhony yang selalu bisa menarik perhatiannya.


"Apakah sekarang aku yang sedang di gombalin pacar ku? Jantungku juga berdebar dengan kencang!" kedua tangan Jhony terdiam dengan fokus matanya yang masih memperhatikan wajah Joy.


Gelagapan Joy salah tingkah, ia kemudian mundur selangkah ke belakang.


"A, ayo kita pulang.. sebentar lagi akan semakin gelap"


"Disini ada banyak lampu, kenapa takut gelap?" maju selangkah, kembali di hadapan Joy.


"Jho, Jhony aku tidak sedang bercanda" pukulan lemah mendarat di bahunya, Jhony hanya menyambutnya dengan tawa kecil.


"Ayo kita pulang, kau pasti sudah lelahkan seharian menungguku bekerja?"


"Ini karena siapa aku jadi menunggu di sini?" Joy menampilkan raut wajah kesal yang dibuat-buat.


"Iya maafkan aku baby, aku tidak ingin kau pulang dengan hati yang masih kesal padaku" Jhony merangkul bahu Joy, dan membawanya keluar dari ruangan kantornya.


Sepanjang jalan ke ruang nyonya Riska, Joy masih saja mengomeli Jhony. Namun Jhony hanya tersenyum mendapati ocehan Joy yang dianggap lucu dan membuat Joy semakin menggemaskan.


Saking seriusnya Joy mengomeli Jhony, tanpa sadar mereka sudah berada di depan ruang nyonya Riska.


"Apa sudah selesai omelannya? Kita sudah di depan pintu ruang momy, apa kau akan terus mengomeliku hingga di dalam?" Jhony terkekeh melihat Joy yang masih tampak kesal padanya.


"Huhh... aku tidak akan menang mengomelimu, kau tak akan mau membalas omelanku dan masih tersenyum seakan tidak bersalah padaku"


"Bukan begitu... aku tahu aku salah, dan aku akan mendengar omelan mu jika kita masih akan tetap di sini"


"Ya sudah, ayo kita pamit kepada momy"


*****


Sudah cukup lama mereka tidak bertemu dengan Jhony. Sama seperti nyonya Riska, mama Silvi juga begitu menyayangi Jhony. Anak lelaki yang sopan juga tampan, mereka juga sering menanyakan kabar Jhony kepada Joy, putri mereka yang adalah kekasih Jhony.


"Apa yang harus aku belikan untuk oleh-oleh mama dan papa ya? Sudah lama aku tidak ke rumah mu, aku merasa sedikit canggung" Jhony bertanya kepada Joy yang juga sedang dalam pikirannya sendiri.


"Em... kurasa tidak perlu Jhon, kamu kayak baru pertama kali kerumah ku aja" Joy tersenyum melihat Jhony yang tampak sedikit tegang.


"Tidak, ini tidak boleh. Aku harus membeli sesuatu, kita akan berhenti di toko buah si dekat sini sebentar, ok!"


"Terserah padamu saja, sebenarnya ini tidak perlu. Tapi jika kau begitu ingin membelikan sesuatu, maka belilah dulu baru kita pulang"


Setelah membeli satu paket buah-buahan, mereka kini kembali menghadapi jalanan yang cukup macet di malam hari.


"Kau tampak senang sekali, apa karena sudah membeli buah hatimu jadi tenang dan bahagia?" saat Joy memperhatikan Jhony yang sedang tersenyum, ia pun tidak dapat menahan kalimat yang ingin di ucapkannya itu.


"Tentu saja, setidaknya aku tidak datang dengan tangan kosong"


"Benar-benar... papa dan mama sudah cukup senang kamu bisa datang ke rumah Jhon!"


"Begitukah? Apa kamu nggak senang kalau aku datang? Hanya papa dan mama yang senang?"


"Apa an sih kamu, kan kita lagi bahas mama dan papa"


"Aku cuma bercanda Joy, kamu kok serius banget?"


Jhony menggenggam tangan Joy dengan mata yang masih fokus ke jalanan.


"Maafin aku ya, kita jangan bertengkar lagi. Aku tidak bisa bekerja dengan baik jika kita punya masalah" seutas senyuman terlukis di wajah Joy, ia juga membalas genggaman tanga Jhony.


"Iya, aku juga tidak akan bisa lama-lama marah sama kamu. Aku hanya kepikiran kamu keluar negeri, kamu harus sering-sering hubungi aku ya!"


"Ternyata ini yang sedari tadi kmu pikirkan.. Pasti Joy, aku akan selalu menyempatkan diri untuk menghubungi kamu. Aku malah lebih khawatir saat meninggalkan kamu sendiri di sini tanpa pengawasan dariku, aku tidak rela laki-laki lain memperhatikanmu" Kali ini Jhony sudah terlihat begitu serius dengan ucapannya.


"Tidak, aku tidak akan menerima laki-laki lain yang mencoba merayu ku. Aku malah berpikir..." Joy tampak ragu mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Katakan Joy, jangan memendamnya sendiri. Kau bebas mengutarakan ketidak sukaanmu terhadapku atau sikapku bahkan apapun itu, agar kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik" Jhony meyakinkan Joy.


"Kita tahu, di sana.. tempat dengan kehidupan yang bebas... aku hanya takut jika kau..."


"Aku tahu sekarang, kau takut aku akan terpengaruh dengan kehidupan di sana dan berhubungan bebas dengan wanita-wanita di sana? begitu kah?" Joy mengangguk kan kepalanya.


"Mmm... " Joy mengangguk.


"Sayang... tenang lah, aku akan selalu menjaga kelakuanku. Dan untuk kehidupan bebas di sana, tidak semua orang di sana berhubungan dengan bebas juga Joy... Aku hanya ingin kau mempercayai aku. Ok!" Jhony menatap Joy sejenak saat menekankan kalimatnya itu.


Sebenarnya ini tidak lah salah jika Joy merasa ragu dan takut dengan cinta dari Jhony, bukan hal yang tidak mungkin bagi pasangan kita untuk berpaling apalagi saat berhubungan jarak jauh. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, namun kembali lagi kepada diri masing-masing untuk menjaga cintanya.


.


.


.


stay save readers


Me~ kembali lagi, semangat yukk bacanya dan juga jangan lupa kasi like dan komennya ya.


thanks😉