
Sampai di rumah sakit, Jhony memarkirkan mobilnya. Sebelumnya saat di jalan, Joy sudah menelfon mama Silvi dan mengatakan bahwa dia mendapat sedikit musibah serta kini sedang ke rumah sakit.
Namun Joy mengatakan bukan hal besar, dia berbohong hanya terkena sedikit lecet saja. Bukan tanpa alasan dia begitu, dia hanya tidak ingin mama Silvi merasa cemas dan panik.
Jhony pun segera membawa Joy ke unit gawat darurat, sampai di sana Joy kembali menjelaskan apa yang telah terjadi dengan tangan nya. Jhony yang duduk di samping Joy, tampak sedikit mengeraskan rahangnya. Entah mengapa setelah mendengar penjelasan Joy yang kedua kali, dia tetap saja merasa kesal dengan yang terjadi kepada kekasihnya itu.
Selama pemeriksaan dan pemberian obat, Joy tampak meringis kesakitan. Wajahnya juga pucat pasih, tangan nya mencengkeram kuat sprei kasur rumah sakit.
Jhony dengan sigap mengambil alih cengkeraman tangan Joy dan memegang nya kuat, berharap segala rasa sakit Joy dapat teralihkan kepadanya.
Saat tangan Joy sudah terbuka sepenuhnya, ada rasa panas dan sakit menerpa di telapak tangannya. Joy mulai menitikan air mata dalam diam, Jhony segera menenangkan Joy dengan mengelus bahunya perlahan sehingga membuat Joy yang tadi yang terisak pelan menjadi sedikit keras.
Apalagi kekita melihat tangan nya yang perbannya sudah di buka terlihat membekas, saat dokter membersihkan kulitnya bahkan ada darah yang keluar di sana. Jhony yang melihat Joy semakin keras menangis pun segera memeluknya, agar suara tangisan Joy tenggelam didalam dadanya saat ini.
Jhony sungguh merasa kan kesakitan yang sama melihat Joy seperti ini, selama ini dia tidak pernah melihat Joy menangis dan hanya senyum dan tawa di bibir gadis mungilnya itu.
"Tenanglah sayang... semua akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi hm.." Mengusap punggung Joy sambil berucap Menenangkan hati Joy.
"Hm... Hiks...Hiks.." Joy tak dapat menjawab, dia hanya bergumam dan mengangguk serta suara tangis yang masih terdengar di sana.
"Bagaimana luka nya dok, apa berbahaya?" Jhony menanyakan kondisi luka di tangan Joy.
"Untungnya luka nya tidak terlalu parah, namun harus lebih perhatikan juga dan tidak boleh terkena air terlebih dahulu. Tidak perlu rawat inap, tetapi untuk beberapa hati kedepan sebaiknya lakukan prosedur rawat jalan saja. Karena jika tidak di tangani dengan baik, mungkin saja luka nya berbekas dan akan lebih lama penyembuhannya" ucap dokter yang menangani luka Joy.
"Baik dok, apa ini sudah selesai?" Jhony bertanya kepada dokter, sebab dari yang Jhony lihat Joy tampak tak dapat berkata apa-apa lagi karena sakit di tangannya sekarang.
"Sudah, kalian hanya perlu menunggu resep dari dokter dan mengurus administrasi. Setelah itu kalian bisa datang kembali besok untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya" Lanjut sang dokter.
"Terima kasih dokter" Jhony sedikit membungkuk hormat setelahnya dokter yang tadi merawat Joy pun berlalu dari sana.
Kini tinggallah Joy dan Jhony di sana, Joy masih tampak sedikit sesegukan. Rasa perih masih menjalar di telapak tangannya, rasa panas dan tak nyaman pun dirasakannya saat ini. Kulitnya yang tadi terbakar oleh asap zat kimia yang mengepul, semakin terasa sakit saat di bersihkan.
Untuk beberapa hari kedepan, dia tidak mungkin bisa Bersekolah.
"Aku urus administrasi dulu, kamu tunggu di sini sebentar ok!" Jhony berdiri dan hendak pergi ke loket administrasi, namun tangannya di tahan oleh Joy sehingga Jhony pun berbalik menatap Joy.
"Kakak... Tunggu mama atau papa datang saja kak, biar mama atau papa saja yang urus administrasi nya" Joy merasa tidak enak jika Jhony mengurus administrasi nya, dia merasa sudah banyak merepotkan Jhony jadi dia tidak mau sampai Jhony membayar biaya pengobatannya juga.
"Kenapa memangnya Joy..?" Jhony mengubah posisi nya hingga aepenuhnya menatap Joy.
"Aku nggak mau aja kalau kakak sampai repot-repot mengurus biaya administrasi nya kak" Ujar Joy dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Aku nggak merasa repot, aku senang kalau kamu mau terima aku bantu Joy. Untuk saat ini jangan pikirkan hal itu hmm, kesembuhan tangan kamu adalah yang utama. Kamu mau cepat bisa sekolah lagi nggak?" Jhony membelai lembut pipi Joy yang masih lembab karena air matanya nya terus mengalir dari mata indah nya, dia juga mengusap pelan air mata di sudut mata Joy.
"Tapi... Bagai... " Ucapan Joy terhenti.
"Ssttt... Udah jangan bicara lagi, kalau kamu nggak terima aku bantu. Jadi aku siapa buat kamu? Aku kan pacar kamu Joy, jadi tolong jangan merasa tidak enak dengan ku" Jhony menatap hangat kedua bola mata Joy saat ini, mendapati dirinya di tatap dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Joy pun kembali meneteskan air matanya.
Joy berhamburan memeluk Jhony, rasanya hatinya ikut menghangat mendapati dirinya di perlakuan dengan sangat istimewa oleh Jhony.
"Sudah puas menangisnya princess?" Merasakan baju seragamnya yang basah, Jhony kembali bersuara.
"Hhmmm... " Joy menggeleng dan masih tetap dalam posisi memeluk Jhony.
Jhony tersenyum jahil dia berpikir untuk menggoda Joy saat ini, dia tidak ingin melihat gadisnya yang masih menangis sedih.
"Apa kau ingin seseorang memergoki kita sedang berpelukan, hemmm..?" Jhony mengelus punggung Joy mencoba menghentikan sesegukan Joy.
"Kak... " Joy mendongakkan kepalanya menatap Jhony yang sekarang sudah tersenyum jahil menatap wajahnya, namun sesaat kemudian dia pun menjauh dari Jhony dan duduk ke atas kasur. Kedua pipi Joy sudah merona hebat, seperti ulasan blush on yang begitu tebal.
Joy mencebikkan bibirnya dan berpura-pura kesal kepada Jhony, sontak saja Jhony tertawa melihat tingkah Joy dan mengusap kepala gadisnya.
"Sorry sayang... Oh iya, aku urus administrasi nya dulu ya. Kamu tunggu di sini dulu, nanti aku jemput lagi" Setelah mendapat anggukkan dari Joy, Jhony pun segera menuju ke loket pembayaran administrasi nya.
Tak lama kemudian, mama Silvi pun sampai di unit gawat dan segera bertanya pada suster yang berjaga di sana.
Mendapat pertanyaan dari keluarga pasien, suster tersebut pun langsung mengarahkan mama Silvi ke brangkar dimana Joy sedang duduk. Karena gorden yang tertutup membuat mama Silvi sulit melihat pasien yang berada di sana.
Namun karena mendapat arahan dari suster mama Silvi pun dengan mudah mengetahui dimana Joy di rawat.
"Sayang... Apa yang sebenarnya terjadi kenapa tangan mu di perban seperti ini...?" Mama Silvi yang baru saja sampai langsung mencecar Joy dengan pertanyaan nya.
"Mama... " Joy langsung berdiri dan memeluk sang mama.
"Katakan pada mama nak, bagaimana ini bisa terjadi?" Mama Silvi memegang tangan kanan Joy yang terluka.
"Tidak ada apa-apa ma, ini semua karena kecerobohan Joy. Tapi Joy bersyukur tidak ada orang lain yang terkena uap zat kimia itu" Joy memiringkan kepalanya menatap wajah mama nya.
"Tapi... Apa ini berbahaya nak? Bagaimana rasanya? Apa sakit sekali?" Mama Silvi masih mencecar Joy dengan pertanyaan-pertanyaan nya saat ini.
"Tidak ma, hanya perlu di periksa lagi besok agar luka nya tidak berbekas. Dan ini... Tidak begitu sakit" Joy mengangkat tangan nya dan melihat perban yang di lilit oleh dokter tadi, dia berlagak tidak sakit di depan mama Silvi agar sang mama tidak bertambah khawatir padanya.
Joy tahu saat ini mama Silvi sangatlah ketakutan, karena dari kecil hingga sekarang Joy tak pernah sekalipun mendapat luka yang serius hingga bersarah dan membengkak di bagian tubuhnya.
Mama Silvi dan papa Joy sudah menjaga putri satu-satunya dengan sangat baik, sampai tak ingin putrinya merasa sakit sedikitpun.
.
.
.
Stay Save Readers
yukk bantu aku yukkk.. Like dan komen nya di tunggu ya guys... tolong jangan pelit kasi aku like nya🤗🤗
Thanks Before😉