Let See The True Love

Let See The True Love
12.



"Kak Jhony, ini papa ku" Joy mengenalkan papa kepada Jhony, dan kemudian Jhony terlebih dulu mengulurkan tangan untuk menyalami papa Joy.


"Halo om, saya Jhony. Temannya Joy" jelas Jhony dengan tegas.


"Halo, saya papanya Joy. Yuk di ajak masuk teman nya Joy.." papa berkata sambil memandang Joy yang agak gugup seperti kedapatan mencuri, dan sedikit ragu untuk mengajak Jhony untuk masuk. Papa pun mengernyit kan dahi, melihat tingkah anaknya. Sepertinya Joy menaruh hati kepada orang yang ada di hadapan nya saat ini.


"Nggak usah om, ini saya mau pamit pulang dulu. Mungkin mama sudah pulang, takut beliau khawatir" Jhony menolak dengan halus ajakan papa nya Joy.


"Oh, baiklah kalau begitu. Om masuk dulu ya" melirik ke arah Joy dan tersenyum sekilas


Mereka berdua memandangi papa Joy yang sudah hilang di balik pintu rumah. Joy masih tampak sedikit kaget, seperti kepergok saat pacaran. Jhony kembali memandang Joy yang masih melihat ke arah pintu rumah nya, sesaat kemudian Jhony kembali berpamitan kepada Joy.


"Ehemm Joy, aku pamit pulang dulu ya"


"Oh, iya kak. Terima kasih udah anter aku ya kak"


"Jangan sungkan gitu, kita kan searah rumah nya"


"Kalau besok aku jemput boleh?" Toba tiba Jhony bertanya, membuat Joy sedikit kaget bercampur senang dan tak dapat menyembunyikan senyum di bibirnya.


"Kalau nggak ngerepotin kakak!"


"Nggak lah, besok aku jemput ya" dengan perasaan yang gembira Jhony menegaskan kembali bahwa besok ia akan menjemput Joy, segera berbalik berjalan ke mobil dan masuk kedalam mobil melajukan mobil ke jalan raya.


Joy masih bergeming di depan rumah nya, sembari melambai tangan pada mobil yang sudah tak tampak. namun sejurus kemudian dia pun melompat kegirangan, karena mendapati kenyataan bahwa besok ia akan di jemput oleh kakak kelas yang di sukainya itu. Setelah itu, dia kemudian masuk ke dalam rumah namun masih dengan senyum yang tergambar jelas di wajahnya. Joy melangkah menuju dapur dan mengambil minum, saat hendak menuang air di gelas sebuah suara mengagetkan nya.


"Wah wah, sepertinya ada yang lagi senang nih?" Suara mama Silvi mengagetkan dan seketika Joy mengelus dadanya.


"Mama kagetin aja, nanti kalau jantung Joy copot gimana?" Joy mencebikkan bibirnya, namun tingkahnya malah membuat mama Silvi semakin geram.


"Mama penasaran aja, ada apa dengan anak mama yang mulai dari masuk pintu rumah udah senyuman senyum aja, hahh?" Mama penasaran dan mengernyit kan keningnya


"Nggak ada apa apa koq ma, Joy naik ke atas dulu ya ma. Udah gerah nih, mau mandi dulu" Elak Joy tak ingin menjawab pertanyaan dari mama Silvi


"Ya udah gih, kamu bau banget. Habis mandi cepat turun, kita makan malam bareng ya nak" Sembari menjepit hidung mama Silvi masih menggoda anaknya


"Ih,, mama. Tau deh yang udah mandi" melangkah dengan cepat menuju ke atas dimana kamarnya berada.


****


Suara dentingan di atas meja makan yang menandakan mereka sedang fokus pada makanan di piring masing masing, Joy hanya diam dan kadang mengulas sedikit senyum yang masih terlihat walau ia menunduk. Mama dan papa saling melirik dan memberi kode kepada masing masing seakan berkata 'kenapa anak kita koq senyam senyum nggak karuan, diam diam lagi?' begitulah mungkin isi kode mereka. Namun tak lama kemudian papa membuka suara untuk menanyakan kegiatan belajar anaknya.


"Hmm,, gimana kegiatan belajar kamu di sekolah sayang?" Berdeham setelah menelan makanan dan bertanya, mereka ingin mengetahui perkembangan sekolah anak mereka


"Lancar lancar aja pa, seru juga mengenal teman teman baru" Setelah berhasil menelan makanan nya Joy pun menjawab papa Andreas


"Syukurlah kalau begitu, papa senang kalau kamu betah sekolah di sana" Papa tersenyum kepada laras


"Hmm sama teman ma" jawab Joy


"Oh, yang kemaren itu?" Tanya mama penuh selidik


"Iya ma" Jawab Joy singkat


"Jhony sudah pernah antar kamu sebelumnya sayang?" Kali ini kembali papa yang bertanya, mama seketika menoleh kearah suaminya


"Papa tahu namanya? Koq bisa pa?" Tanya mama penasaran


"Iya ma, tadi ketemu di depan pas papa pulang" Jawab papa menjelaskan kepada mama, tentang pertemuannya dengan Jhony tadi


"Oh begitu ya.." Mama masih mengangguk kan kepala


"Apa kamu lagi dekat sama dia sayang?" Papa menatap mata Joy, mencari kejujuran dalam mata Joy


"Kita masih teman koq pa, kata Kak Jhony juga rumah kami searah. Jadi nggak masalah diantar pulang Joy, lagian kita juga baru kenal pa" Jawab Joy jujur karena memang mereka baru berteman dan masih mengenal satu sama lain, papa hanya mengangguk.


****


Di kediaman rumah Jhony juga sedang berlangsung makan malam bersama, namun hanya mama Riska dan Jhony yang makan berdua. Mereka menikmati makanan yang memang di masak oleh asisten rumah tangga, karena kesibukan nya mama Riska tidak bisa memasak untuk Jhony. Dia akan memasak saat hari libur saja.


"Kamu tadi antar teman lagi ya sayang?"


"Hhmm.." jawab Jhony hanya dengan deheman


"Nggak mau kasi tau lagi nih, siapa yang kamu antar?" Melirik kearah anaknya yang masih setia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya


"Ada deh ma, mama kepo banget deh! Privasi ma" Jhony mengejek mamanya


"Ahh, anak mama udah gede sekarang. Pakai privasi segala yah.." Mama Riska mencolek lengan Jhony dan tersenyum smirk, namun Jhony hanya mengedikkan bahu tak ingin menanggapi lebih lanjut pembicaraan mamanya


"Oh iya sayang, perusahaan kita mau adakan acara saat ulang tahun yang ke 20 tahun nanti. Rencananya akan ada bazar, music dan event lainnya. Mama mau kamu ajak teman teman kamu buat partisipasi di sana, kita juga akan membuat pasar malam yang akan di adakan selama beberapa hari. Kamu sama siska mama jadiin panitia untuk merekrut partisipan di sekolah ya sayang?" Mama menjelaskan rencana kegiatan yang akan di laksanakan saat ulang tahun perusahaan nya.


"Benaran ma, boleh buat stand stand makanan juga ya?" Jhony tampak tertarik dengan ide yabg di sampaikan mama Riska


"Heemm.. Boleh sayang, ajak teman teman kamu ya. Makin rame makin seru dong pastinya.


"Oke ma, besok Jhony bakalan buat pengumuman nya di mading" Mama melihat sorot mata anaknya yang begitu antusias dengan acara ulang tahun yang akan di adakan beberapa minggu lagi.


"Andai papa masih hidup, beliau pasti sangat antusias seperti kamu sekarang ini sayang" Mama menatap nanar ke arah Jhony, mengenang akan mendiang suami nya yang begitu ia cintai.


Begitulah sosok ayah Jhony, seseorang yang berwibawa, penyayang dan dia juga sering memberi santunan kepada panti panti yang memang sudah terdaftar dalam anggaran penerima bantuan. Apalagi di saat acara ulang tahun perusahaan, beliau akan berkunjung dan memberi semangat dan motivasi bagi penyandang cacat, yatim piatu atau pun maupun orang tua yang di titipkan di panti jompo.