Let See The True Love

Let See The True Love
110.



Melihat wajah kekasihnya yang tampak sedih, Jhony memeluknya erat Joy yang tampak lemah.


"Apa kau sakit?" Joy mengangguk, membuat Jhony bertambah kalut. "Dimana yang sakit? Kau tidak demam!" mengurai pelukan mereka, Jhony menatap lekat wajah Joy yang tidak penampilkan ekspresi apapun.


"Disini sakitnya... " Joy menunjuk dadanya, rasa sedihnya membuat sesak di dadanya.


"Kau ini... " Kembali Jhony memeluk begitu erat tubuh Joy, rasa sedihnya sama dengan Joy saat ini. Rasanya begitu berat untuk berjauhan dengan gadis yang kurang lebih dua tahun ini mengisi hari-harinya dengan tawa dan kebahagiaan yang sulit ia rasakan, dulu.


Tanpa mereka sadari, semua yang mereka lakukan di depan rumah Jhony terlihat oleh sahabat mereka juga beberapa pengurus rumah.


Rina yang bisa mengerti bagaimana perasaan sahabatnya juga tampak sedih, berbeda dengan Siska yang mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Seolah emosinya terlampiaskan dengan hanya mengepalkan tangannya. 'Sepertinya dia memang jodohnya Jhony, hingga sekarangpun ia tetap bertahan meski sebentar lagi mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama. Semoga klian bisa bahagia selamanya...' menyerah, Siska mengaku kalah dengan cinta yang diberikan oleh Joy kepada Jhony.


"Sayang... bawa Joy masuk, sebentar lagi kit kan berangkat ke bandara." suara nyonya Riska akhirnya segera mengurai pelukan keduanya, Joy merasakan pipinya sedikit panas karena malu sebab mereka kepergok berpelukan oleh nyonya Riska.


"Se, selamat pagi momy... " Joy perlahan memberi salam kepada nyonya Riska yang sedang tersenyum menenangkan Joy.


Sebenarnya ia mengerti perasaan keduanya saat ini, ia hanya takut jika nantinya Jhony akan terlambat ke bandara.


"Pagi sayang, ayo kita masuk." nyonya Riska merangkul Joy dan membawanya masuk ke dalam rumah meninggalkan Jhony yang menatap hanya kedua wanita yang teramat ia sayangi.


'Momy tampak bahagia dengan Joy...' ia tersenyum melihat kedekatan keduanya, dan berharap semua akan tetap seperti itu selama tidak ada dia di sini.


Selesai memindahkan barang-barang yang akan di bawa, semuanya kini mulai masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk berangkat ke bandara.


Mereka berangkat menggunakan tiga buah mobil, satu mobil untuk membawa dua koper milik Jhony. Nyonya Riska, Joy dan Jhony berada dalam satu mobil sedangkan keempat sahabat mereka satuobil dengan Erick yang mengemudikan mobilnya.


Didalam mobil, Jhony tak hentinya menggenggam tangan Joy dan membawanya di atas pangkuannya. Sesekali ia memainkan tangan Joy dengan lembut.


Tatapan kosong mengisi mata kedua orang yang duduk bersebelahan, hati mereka kini berkecamuk memikirkan perpisahan nanti.


Dari tempat duduknya saat ini, nyonya Riska melihat ketegangan dan sedih dari wajah putranya dan juga Joy.


Nyonya Riska mengingat kembali percakapannya dengan Jhony tadi malam, saat Jhony kembali mengepak pakaiannya kedalam koper. Tatapannya sama semalam sama seperti tatapannya saat ini, kesedihan dan juga kekhawatiran tergambar jelas di sana.


"Kau tidak apa-apa kan nak?"


"Maksud momy?"


"Jika kau tidak sanggup pergi, tetaplah disini. Bukankah di sini juga banyak universitas yang bagus dan terkenal!"


"Tidak mom, aku hanya pergi sebentar saja. Tiga tahun... bukan waktu yang lama-"


"Tapi itu juga tidak singkat sayang, dalam waktu itu semua bisa saja berubah!"


"Maksud momy?"


"Ini... perasaan mu saat ini." nyonya Riska mengarahkan tangannya di dada Jhony.


Jhony menunduk, ia mengerti apa yang di ucapkan oleh nyonya Riska. Namun hatinya sudah mantap untuk belajar keluar negeri, dan ia juga yakin ia akan mempertahankan perasaannya kepada Joy.


"Tidak mom, aku sudah mengambil keputusan. Meskipun berat, aku akan berusaha. Saat kami saling percaya dan terus berhubungan, pasti semua akan baik-baik saja." keyakinanlah yang menguatkannya untuk keluar negeri, meneruskam cita-cita sang ayah.


"Mama akan selalu mendukung mu sayang, baik untuk pendidikan dan juga urusan pribadi dengan Joy." nyonya Riska memeluk putra semata wayangnya dengan erat, ia begitu bangga nya terhadap anaknya yang kian dewasa dalam segala hal.


"Terima kasih mom, momy adalah ibu paling hebat untuk Jhony."


"Kamu adalah anak momy yang hebat nak, karena ada kamulah momy bisa sekuat ini."


Pelukan yang memberi kekuatan kepada satu sama lainnya, ikatan ibu dan anak yang begitu erat lah yang membuat keduanya menjadi lebih kuat dalam melalui setiap masalah dalam kehidupan.


Nyonya Riska melihat jalinan tangan keduanya, senyum bahagia terukir di wajahnya. 'Semoga semua sesuai harapanmu sayang, kalian sangatlah serasi.' erat dan tak ingin terlepas atau melepaskan, itu yang terlihat jelas di sana.


"Akhh... tidak terasa hari ini sampai juga, semoga sukses teman." Erick, orang pertama yang memberikan pelukan perpisahan kepada Jhony.


"Terima kasih, Rick."


"Satu lagi." mengurai pelukannya sejenak. "Jaga kesehatan Jhon."


"Tentu..." Erick kembali menarik Jhony kedalam pelukannya, dan menepuk bahu sahabatnya itu.


Erick bukan sosok yang mudah mengungkapkan perasaannya terhadap sahabatnya atau lawan jenisnya, tapi untuk kali ini dia berusaha mengungkapkan kepada Jhony apa yang di pikirkannya.


Setelah itu, giliran Harry yang memberikan salam perpisahan kepada Jhony.


"Semoga selamat sampai tujuan bro, jangan khawatir sebentar lagi aku menyusul." melirik ke arah Rina sejenak, gadis itu tidak dapat mendengar apa yang di ucapkan oleh Harry karena jarak mereka cukup jauh. Sebenarnya jadwal keberangkatan mereka sama, namun Harry masih belum memberi tahu kepada Rina soal kepergiannya ke luar negeri.


"Tentu, tapi bagaimana bisa kau belum memberi tahukan kepadanya tentang rencanamu?"


"Aku hanya bingung harus dari mana mengatakannya bro, dan juga... ini memang cukup berat untukku... "


"Hei... itu sama berat untuknya... Apa kau pikir dia akan mudah menerimanya?" Jhony sebenarnya agak kesal mendengar ucapan Harry. "Dengarkan aku, lebih cepat kau beritahu dia akan lebih cepat menerimanya. Jadi lebih baik, setelah ini kau beri tahu padanya. Jangan sampai kau menyesal nanti, saat dia merasa bahwa dia tidak berarti apa-apa untukmu sehingga kau tidak memberitahunya lebih cepat." wajah Harry memucat membayangkan apa yang di ucapkan oleh Jhony, ia pun menyadari semua yang di ucapkan oleh Jhony benar adanya.


"Kenapa lama sekali, gantian dong. Joy bahkan belum memberikan salam perpisahan." Rina merengek sambil menarik kemeja yang di kenak oleh Harry.


"Haha... iya sayang, terkadang kalau kami sudah bersama suka lupa waktu dan tempat." Harry dengan cepat merubah ekspresinya, dan tersenyum aneh pada Rina.


"Boleh aku duluan yang memberikan salam perpisahan?" Siska menyela pembicaraan Rina dan Harry.


Rina seakan terbawa emosi dan hendak melampiaskannya, ia mengalihkan pandangannya bergantian antara Siska dan Joy. Saat matanya dan Joy saling bertabrakan, Joy mengangguk pelan menandakan bahwa ia setuju jika Siska terlebih dulu memberi menyampaikan salam perpisahannya.


Rina akhirnya memberi jarak, Joy pun mengalihkan perhatiannya kepada nyonya Riska dan mengajaknya berbicara.


Erick melihat tatapan sendu dari Siska saat menatap Jhony. Waktu yang masih cukup panjang, mereka sengaja datang satu jam lebih awal dari jadwal keberangkatan, agar mereka bisa memberikan salam perpisahan kepada Jhony.


"Sampai jumpa Jhon, dan maaf kan segala kesalahan ku sebelumnya. Sebenarnya... aku ragu apakah kamu mau memaafkan aku atau enggak, tetapi aku berpikir ini kesempatan terakhirku meminta maaf kepadamu. Kita mungkin... tidak akan bertemu lagi, jadi tolong maafkan ku." Siska menyesali perbuatannya dulu yang berusaha memisahkan hubungan antara Joy dan Jhony.


"Tentu Sis, kamu kan sahabat aku. Aku tidak akan mengingat masalah itu lagi, jadi bersemangatlah untuk melanjutkan pendidikanmu. Ok!" Jhony berusaha menghibur Siska yang tampak sedih, ia menatap lekat wajah sahabatnya yang kini mulai menitikkan air mata.


"Tentu, semoga sukses dan jaga hati kamu hanya buat dia." Siska menunjuk ke arah Joy, yang sedang membelakingi mereka berdua.


"Pasti Sis... " Jhony mengangkat kedua jempolnya, ia menghapus air matanya dengan segera.


"Ayo bergabung dengan mereka."


"Sudah selesai pamitannya?" suara nyonya Riska terdengar ketika mereka sudah berdiri di dekat sana, kemudian keduanya mengangguk mantap.


Joy menatap Jhony dengan tatapan yang sulit diartikan, jangtungnya berdegub begitu kencangnya. Tangannya dan kakinya twrasa begitu dingin, sekuat tenaga ia menahan kristal bening dipelupuk matanya.


Tanpa aba-aba, Jhony langsung meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Seketika air matanya terjatuh dan isak tangis mulai terdengar, Jhony mengecup beberapa kali puncak kepala Joy yang kini berada dalam pelukannya.


.


.


.


stay save readers😘


tolong di bantu like, fav vote dll nya ya..


terima kasih😉