Let See The True Love

Let See The True Love
115.



Kembali kekantor dengan keadaan berantakan membuat Rina menjadi pusat perhatian bagi rekan sekantornya. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh teman - temannya, namun tidak ada jawaban dari Rina yang menjelaskan keadaannya dengan benar.


"Rin, kamu kenapa? Kamu habis nangis? Kaki kamu juga berdarah Rin?" Cecar seorang teman yang duduk di sebelah Rina.


"Eng, enggak kenapa. A, aku ke toilet duu. Kalau ada yang cari tolong bilang aku ijin pulang ya kak."


"Baiklah Rin, hati - hati kaki mu pasti masih sakit."


Setelah itu, Rina dengan cepat berjalan ke toilet dengan membawa tasnya. Ia ingin seger pulang untuk menenangkan hati dan pikirannya saat ini.


Setelah hari keberangkatan Jhony, di hari itu juga hubungan Rina dan Harry mulai putus. Harry yang memberitahukan dirinya akan segera berangkat ke negara yang dituju oleh Jhony mendapat kemarahan dari Rina, karena ia terlambat menceritakan niatnya itu.


Alhasil hingga sekarang Rina tidak pernah sekalipun menerima panggilan telepon dari Harry, bahkan pesan - pesan yang dikirim oleh Harry tidak pernah ia balas.


Sambil memikirkan pertemuannya yang tidak terduga, Rina saat ini sedang berada di halte bus. Ia memilih untuk pulang ke rumah dan beristirahat, ia tidak akan bisa fokus untuk bekerja dengan pikiran kacau seperti ini.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sebuah bus yang menuju kearah rumahnya pun datanag. Tidak mau berlama – lama lagi, ia segera naik dan duduk di sebuah kursi penumpang untuk satu orang.


Ia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata, bulir air mata tampak mengalir dari kedua sudut matanya. Dengan cepat ia mengusap cairan bening yang membasahi kedua pipinya, ia menundukkan kepala diringi isak tangis pelan yang keluar dari mulutnya.


“Kenapa kau muncul kembali? Aku sudah hampir melupakanmu seutuhnya, mengapa?”


Saat merasakan tanginsannya semakin kencang, Rina membekap mulutnya sendiri agar tidak mengganggu penumpang lainnya.


Didalam kantor, Joy sedang ditahan oleh Harry. Ia diminta untuk menceritakan tentang Rina, dimana gadis yang selama tujuh tahun ada dalam pikirannya bekerja. Dan apakah gadis itu sudah terpenting bagi Harry saat ini.


“Kenapa kau tidak bertanya langsung kepadanya?” Bentak Joy.


“Tentu aku akan melakukannya, jika saja dia memberikan kesempatan untuk ku berbicara kepadanya.” Harry membalas perntanyaan Joy sama kerasnya.


“Lalu kenapa kau tadi diam saja? Kau yang salah Harry, kenapa tidak langsung minta maaf kepadanya tadi?” Wajah Joy sudah di penuhi amarah.


“Hah ... “ Harry meluapkan kekesalannya sambil mengusap wajahnya dengan sembarangan. Ia membanting tubuhnya di sofa panjang dalam ruangan tersebut.


Melihat Harry yang sangat frustasi, Joy merasa kasihan. Lagi pula, keduanya masih saling mencintai dan hanya karena jarak yang membuat mereka tidak bisa menerima keadaanya.


“Apa kau begitu mencintai Rina seperti dia mencintaimu?”


Harry mendongak mendapati pertanyaan dari Joy, seperti menemukan angin segar di padang gurun yang tandus. Namun kebingungan juga tergambar jelas dari ekspresinya.


“Aku tanya sekali lagi, dengarkan baik – baik pertanyaanku. Apa kau benar – benar mencintainya?”


Harry menatap lekat wajah Joy, dengan penuh kesungguhan ia mengangguk.


Joy melihat adanya kejujuran dari perkataan Harry, sahabat dari kekasihnya. Ia dapat merasakan bahwa Harry sangat mencintai sahabatnya Rina, namun sebenarnya dia tidak bisa melakukan banyak hal agar keduanya bisa kembali bersama.


“Baiklah, aku percaya sekarang. Tapi ... aku juga tidak bisa membantu banyak, dan juga ... sebenarnya Rina bekerja di sini. Tapi untuk sekarang dia sedang ijin, mungkin karena pertemuan denganmu tadi ia merasa butuh istirahat. Dan lagi lukanya cukup mengkhawatirkan.”


“Benarkah? Dibagian mana dia bekerja di kantor ini? Dan, dan lagi dimana dia tinggal saat ini? Saat aku mendarat disini, yang pertama aku cari adalah rumahnya yang dulu. Tapi disana sudah kosong, aku bertanya kepada tetangga sebelah tetapi mereka sama sekali tidak tahu tentang Rina.”


“Ya ... selama tujuh tahun, sudah banyak yang berubah Harry. Semua tidak lagi sama, sebuah masalah besar menimpa keluarga Rina. Ayahnya mengalami kecelakaan mobil dan koma cukup lama, sebelum ... beliau meninggal dunia.”


“Apa?” Wajah Harry pucat seketika, kepalanya terasa berdenyut.


“Beberapa bulan setelah keberangkatanmu, ayah Rina kecelakaan mobil. Saat itu Rina benar – benar hampir hancur, ditambah dengan ayahnya yang koma selama satu tahun. Dia bahkan hampir putus sekolah, ia memilih kerja paruh waktu untuk melunasi biaya rumah sakit ayahnya. Tidak hanya itu, dia bahkan mengurungkan niatnya untuk kuliah.”


“Arghhh... “ Kemarahan pada dirinya sendiri semakin besar, rasa kesal menghujam hingga kejantung. Sakit yang ia rasakan kini tidak sebanding apa yang dirasakan Rina. ”Aku begitu bodoh, bagaiaman bisa aku meninggalkannya sendiri seperti itu, sungguh bodoh bodoh bodoh...”


Teriakan Harry mengundang perhatian karyawan diluar kantor Joy, mereka semua mengarahkan pandangan ke dinding kaca berharap dapat melihat kekacauan apa yang terjadi didalam.


“Tenanglah Harry, kita berada di kantor. Kau masih punya kesempatan untuk meminta maaf, dan berdoalah semoga Rina mau mendengarkanmu.”


Beberapa saat kemudian, Harry sudah mulai tenang. Sudah cukup lama ia berada di ruangan itu, Joy teringat dengan kehadiran Harry yang tiba – tiba didalam kantor namun tidak ada security yang menahannya masuk.


“Sebentar, Harry apa yang kau lakukan disini? Maksudku, biasanya tidak ada yang boleh masuk sampai keruangku tanpa ada ijin dan janji denganku!”


“Hah... Kau ini baru sadar.” Harry berdiri dari duduknya tadi, ia berjalan mendekat ke meja kerja Joy. “Memang benar yang kau katakan, tapi tidak ada yang bisa menentang kemauan anak dari pemilik perusahaan ini.”


Harry berbali dan berjalan kedepan Joy yang masih mencerna ucapannya tadi.


“Aku pergi dulu... “ Tangannya sudah memegang gagang pintu, namun ia kembali berbalik melihat Joy. “Bersiaplah menyambut kekasihmu.” Membuka pintu dan menutupnya kembali, semua orang memperhatikannya saat keluar dari ruangan itu.


Joy yang baru tersadar dengan cepat berlari dan membuka pintu, tanpa sadar ia berteriak cukup kencang sehingga menarik perhatian beberapa orang disana.


“Hei... Tunggu... apa maksudmu tadi?”


Tidak ada jawaban dari yang diteriaki, ia hanya mengangkat tangan dan melambai diudara. Akhirnya Joy mendengus dengan kesal dan mengoceh sendiri, ia sebenarnya merasa malu karena sudah mengganggu fokus kerja rekan sekantornya. Ia kemudian menundukkan kepala sebentar kepada beberapa orang yang masih memperhatikannya, meski jabatannya kini lebih tinggi dari mereka. Namun itu bukanlah alasan untuk bersikap tidak sopan.


Joy masuk kedalam ruangannya, menutuppintu namun dengan pikiran yang masih mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh Harry.


"Sebenarnya apa yang mau dia katakan tadi, 'bersiap menyambut kekasihku'. Apa jangan - jangan... " Joy menggelengkan kepalanya "Tidak, tidak mungkin dia pulang tanpa memberikan kabar. Benar, Harry pasti hanya bercanda."


Joy kembali mengurus berkas - berkas yang berserakan di atas mejanya, kerjaan menumpuk yang harus ia kerjakan membuatnya kembali fokus untuk bekerja.