Let See The True Love

Let See The True Love
109.



Hari yang yang di takutkan oleh Joy dan Jhony akhirnya tiba, keberangkatan Jhony ke Amerika. Sesuai rencana, Joy akan ikut mengantarkan Jhony hingga ke bandara. Tetapi pada akhirnya dia sendiri yang merasa keputusannya untuk ikut ke bandara sudah salah, karena sepertinya akan sangat berat baginya melepas kepergian kekasihnya itu.


Joy sudah bangun sejak setengah jam yang lalu, tepatnya di pukul lima lewat tiga puluh menit oleh dering alarm yang sengaja ia pasang semalam. Sejak terbangun dari tidur, ia mengingat kembali jika ini adalah hari keberangkatan Jhony dan mulai merasa gelisah. Sisa dari tangis semalam measih berbekas, matanya tampak bengkak dan sedikit sipit. Semua terjadi karena semalam pada saat Jhony berpamita kepada kedua orang tuanya, lelaki itu juga mengatakan keinginannya untuk bersama Joy dalam arti bersama dalam kehidupan pernikahan. Meskipun terdengar ambigu karena ucapan itu di ucapkan oleh anak lelaki yang baru saja lulus SMA, namun berhasil membuat air mata Joy lolos mengalir membasahi kedua pipinya hingga ke dagu. Tangisannya berlanjut mendengar kata demi kata yang menyentuh hati keluar dari mulut Jhony, perasaan di cintai memenuhi memorinya hingga saat ini. Mama Silvi yang melihat Joy menangis hingga sesegukan merangkul bahu Joy dan memeluknya erat, memberikan kekuatan kepada putrinya yang hatinya sangat lah sedih sekarang.


"Apa aku tidak usah ikut ke bandara saja ya? Bagaimana kami bisa berpisah tanpa ada rasa sedih!" menatap layar ponsel yang tersaji foto mereka berdua di sana.


Di dalam galeri ponselnya yang begitu bnyak foto mereka berdua, Joy terus melihat secara bergantian foto-foto di sana. Kenangan-kenangan indah mereka tersimpan rapih di sebuah album. Suara ketukan di luar pintu kamar pun terdengar, di ikuti suara mama Silvi yang memanggil pelan nama Joy.


"Sebentar ma... " sambil menyahuti panggilan mama Silvi, Joy segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.


"Sayang, kamu baru udha bangun?"


"Hu um... " Joy bergumam sambil mengangguk kepalanya.


"Enggak siap-siap? Kamu jadi kan nganterin Jhony?" Joy tampak ragu untuk menjawab pertanyaan sang mama, tetapi akhirnya ia mengangguk tanda 'iya' untuk menjawab pertanyaan mama Silvi.


Mama Silvi tersenyum, melihat adanya keraguan di raut wajah Joy tadi dapat ia simpulkan bahwa putrinya merasa sulit untuk melepas kepergian Jhony. Ia juga mengerti perasaan seperti itu, terkadang ia bahkan di tinggal kerja keluar kota oleh papa Joy untuk beberapa hari.


Meski hanya beberapa hari, itu sudah membuatnya sulit melewati hari-hari tanpa sang suami.


"Baiklah, mama tinggal ke dapur dulu ya sayang."


"Iya ma." setelah mama Silvi berlalu meninggalkan kamarnya, Joy menutup kembali pintu kamar dan berjalan ke kasur merebahkan kembali tubuhnya di sana. Rasanya tidak ingin waktu berlalu, namun juga tidak mungkin waktu berhenti. Ia kemudian duduk di tepi kasur menepuk beberapa kali pipinya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi, dan bersiap-siap.


Di kediaman Siska, ia sudah bersiap hendak ke rumah Jhony. Meski tidak mengantar hingga ke bandara, setidaknya ia ingin mengucapkan salam perpisahan di rumah Jhony. Sebenarnya Erick menawarkan duri untuk menjemputnya dirumah, tetapi ia lebih memilih untuk pergi sendiri karena Erick dan yang lainnya akan mengantar hingga ke bandara.


Pukul enam lewat lima belas menit.


"Pa, Siska ke rumah Jhony dulu ya pa!"


"Iya nak, supir akan mengantarmu ke sana. Benar bukan?"


"Iya pa, Siska nggak akan lama perginya pa." sebelum pergi, Siska menautkan pipi nya ke pipi ayahnya.


Didalam mobil, Siska lebih banyak memandang keluar jendela mobil. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Sebenarnya dari kemarin ia merasa ragu, apakah akan menyampaikan salam perpisahan atau tidak. Karena hubungan nya dengan Jhony yang kian menjauh, karena kesalahannya itu membuat hubungan persahabatan yang terjalin sejak mereka masih di taman kanak-kanak mulai retak.


Sampai sekarang pun ia seakan merasa gamang, apakah persahabatan itu masih ada atau sudah menjadi kenangan belaka. Siska menghela nafasnya kasar dan tanpa ia sadari pak supir yang sedang mengemudi mendengarnya.


"Non, kenapa? Apa ada masalah?" pak supir yang merasa khawatir langsung menanyakan kepada Siska.


"Ah... tidak pak, tidak apa-apa." Siska menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pak supir yang terlihat khawatir kepadanya.


'Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku... lebih tepatnya hatiku tidak menentu dan ada keraguan untuk ke rumah Jhony kan?' Siska.


"Maaf nona, saya hanya sedikit khawatir."


"Tidak perlu meminta maaf pak."


Pak supir tersenyum sambil melihat wajah Siska dari kaca spion yang tergantung di atas dashboard mobil.


Setelahnya mereka melalui perjalanan dalam keadaan diam, dan hanya suara deru mobil yang terdengar.


Kedua orang sahabat Jhony sudah berada di kediamannya saat ini, keduanya tampak sibuk membantu menurunkan koper yang akan di bawa oleh sahabatnya itu.


"Apa yang kau bawa di dalam kopermu Jhon, kenapa berat sekali?"


"Kau pikir apa lagi yang akan di bawa si kutu buku ini Rick? Apa kau baru mengenal dia?"


"Dasar lamban!" seru Harry, dengan nada mengejek.


"Ya, ya... mr. perfect terserah apa kata mu saja." merasa apa yang di katakan sahabatnya itu benar, ia hanya bisa pasrah.


"Kau ini lucu sekali Rick." jadilah Erick bahan tertawa Harry.


"Mau sampai kapan kalian bercanda seperti itu!" suara Rina terdengar ketika mereka sudah sampai di tangga terakhir di bawah.


"Sudahlah Rina, kamu seperti enggak kenal mereka saja. Haha... "


Rina diminta Jhony untuk ikut mengantar ke bandara, sebab Jhony takut ketika Joy sendirian dan sedih kedua sahabatnya tidak bisa menenangkannya. Jadilah ia meminta Harry untuk sekalian menjemput Rina dan ikut mengantar hingga ke bandara.


Sebuah mobil berhenti didepan rumah Jhony, Seorang gadis turun membawa sebuah paperbag dari dalam mobil.


Siska masuk ke dalam rumah karena pintu depan yang sengaja di buka lebar. Keempat orng tadi berhenti dari candaan mereka ketika melihat seseorang masuk.


"Siska?" Ericklah yang pertama menyadari bhwa orang yang masuk adalah sahabat mereka Siska.


Ketiga pasang mata lainnya menatap kemana arah tatapan Erick tertuju. Seketika raut wajah Jhony berubah melihat Siska, ia tidak berfikir bahwa Siska akan datang.


"Maaf, apa aku mengganggu?" ia ragu untuk melangkah masuk, karena menyadari tatapan tak suka dari Jhony.


Tidak hanya Jhony, bahkan Rina dan Harry yang sudah tahu bagaimana kelakuan Siska akhir-akhir ini membuat mereka jadi tidak begitu menyukainya.


"Tidak... masuklah Sis." suara Erick kembali terdengar, ia juga tidak menyadari tatapan tidak suka dari yang lain terhadap Siska.


Siska berjalan mendekati Jhony, dan mengulurkan paperbag yang ada di tangannya.


"Ini untuk mu, Jhony. Ini sebagai salam perpisahan dari ku." kata-kata yang sudah ia rangkai menjadi sia-sia, karena ia tidak sanggup mengucapkannya bahkan kalimat maaf pun sangat sulit keluar dari mulutnya.


Menatap sejenak uluran paperbag di depannya, ia pun meraih nya.


"Terima kasih, sebenarnya kau tidak perlu repot-repot."


"Tidak, ini bukan apa-apa." Siska tersenyum kaku, bingung harus mengucapkan apa lagi.


Suara deru mobil mengalihkan perhatian mereka selanjutnya, sehingga suasana canggung tadi berubah. Jhony meletakkan paperbag yang di sodorkan Siska tadi di atas meja, dan berjalan menuju pintu rumah untuk memastikan bahwa yang datang adalah Joy.


Mata Siska melihat paperbag yang tadi ia berikan kepada Jhony kini sudah di atas meja, ia pun memejamkan matanya untuk sejenak menghilangkan kepedihan di hatinya.


Jhony tersenyum senang melihat orang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi keluar dari mobil yang berhenti tepat di depan nya sekarang ini. Ia sengaja meminta seorang supir menjemput Joy kemari, ia bahkan sudah berjalan menghampiri Joy yang akan melangkah menuju pintu rumah dimana dia berdiri tadi.


"Aku pikir kamu enggak akan datang!"


"Mana mungkin aku membiarkanmu pergi begitu saja." ucapan Joy terdengar lirih di telinga Jhony.


Ia menyadari bahwa gadis nya ini sedang menahan rasa sedih yang teramat, begitupun yang ia rasakan sedih, sakit, dan tidak rela.


.


.


.


stay save readers😉😘