
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dika masih berada di teras depan rumah menunggu kedatangan Pak Arthama dan Dimas.
Dika duduk sembari memainkan handphonenya, Dika membuka sosial media namun setiap saat matanya memperhatikan jam di handphonenya.
"Udah jam segini Papa sama Dimas belum pulang juga. Kenapa mereka lama banget sih?" gumam Dika.
Udara lama-kelamaan terasa semakin dingin dan suasana pun terasa sangat sepi. Hanya suara dari gemericik air di kolam ikan yang menemani Dika saat ini. Sesekali Dika memukul nyamuk-nyamuk yang menggigitnya.
Karena sudah terlalu lama duduk, Dika pun berdiri dan merenggangkan badannya. "Ughhh..."
Dika kemudian berjalan menuju pos satpam di depan rumah. Di sana terlihat satpam di rumah tersebut (Pak Eka) sedang duduk santai sambil memainkan handphonenya. Saking asiknya bermain handphone Pak Eka sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Dika.
Dika berdiri di belakang Pak Eka, diam-diam ia memperhatikan apa yang sedang Pak Eka cari di handphonenya. Terlihat Pak Eka tengah menonton perempuan s*xi berjoget di toktok. Dika pun menahan tawa karena melihat hal tersebut.
"Ekhhmm..."
Sontak saja Pak Eka menutup handphonenya karena mendengar suara Dika, ia langsung menoleh ke arah belakang.
"Wkwkwk... Asik banget nonton toktok, sampai-sampai saya dateng aja Pak Eka nggak sadar wkwkwk..." ujar Dika. Dika kemudian duduk di samping Pak Eka.
Hubungan diantara Dika dan Pak Eka memang sangat akrab, hal tersebut lantaran Pak Eka sudah lebih dari 1 dekade bekerja di rumah tersebut, selain itu sikap Dika yang memang rendah hati membuat Pak Eka tidak sungkan berinteraksi dengan Dika.
Pak Eka menatap malas kepada Dika. "Ah, Den Dika ngagetin saya aja."
"Pak Eka mah, hobinya nonton cewek-cewek bohay terus."
"Nggak masalah dong, kan nggak ada yang larang juga." Walaupun usia Pak Eka sudah tergolong matang, namun sampai saat ini Pak Eka belum juga menikah ataupun memiliki calon istri.
"Wkwkwk... Iya deh, iya. Jadi jomlo emang bebas."
Pak Eka kembali menghidupkan handphonenya dan menonton perempuan s*xi berjoget di toktok.
"Yah, cari gituan lagi," ucap Dika.
"Mau gimana lagi, nanggung. Maklumlah 37 tahun tidak tersalurkan Wkwkwk..."
"Wkwkwk.. yang sabar pak. Besok-besok kita jalan-jalan sekalian cari cewek."
"Terserah Den Dika aja lah," balas Pak Eka.
Dika berdiri dan hendak pergi meninggalkan Pak Eka yang masih asik dengan handphonenya.
"Mau kemana Den?" tanya Pak Eka.
"Ke depan, beli gorengan," ucap Dika sambil terus berjalan. Dika pun pergi membeli gorengan tepat di seberang jalan rumahnya.
Beberapa saat kemudian Dika kembali dengan membawa sebungkus gorengan. Mereka berdua pun duduk sembari memakan gorengan tersebut dengan ditemani musik dangdut kesukaan Pak Eka.
"Papa sama Dimas lama banget," ujar Dika.
"Iya, saya juga nunggu Bapak. Saya jadi nggak berani tidur."
"Pak Eka kalau capek, mau tidur, tidur aja. Nanti kalau papa datang saya bangunin."
"Nggak ah Den. Saya belum terlalu ngantuk juga."
"Kalau gitu biar bapak nggak bengong, bapak pijat punggung saya aja."
"Adeh, Den Dika kebiasaan minta dipijit. Tau aja kalau saya nggak bisa nolak permintaan Den Dika."
Dika pun membuka bajunya dan Pak Eka mulai mengoleskan minyak hangat lalu memijat punggung Dika.
"Ehhmm... Pak Eka emang jagonya kalau soal pijat-memijat."
"Tapi sayangnya cuma bisa pijat cowok aja."
"Yah, jangan galau terus dong Pak Eka. Di bawa happy aja, besok aku cariin Pak Eka cewek deh wkwkwkwkk..."
"Emangnya cari cewek gampang apa? Tinggal mungut di jalan. Cari cewe itu susah Den, cari yang benar-benar tulus itu susah."
"Ngomong-ngomong dulu kenapa Pak Eka sampai putus sama pacar pak Eka?"
"Jadi gini Den..." Pak Eka pun menceritakan penyebab dirinya bisa putus dengan pacarnya dulu. Pak Eka putus dengan pacarnya karena pacarnya berselingkuh dengan laki-laki yang lebih mapan darinya.
Tin.. tin.. tin...
Suara dari clarkson mobil yang tepat berada di depan gerbang rumah.
"Ini pasti papa sama Dimas. Cepat bukain pintu gerbangnya Pak Eka," ujar Dika.
"Iya, ini pasti bapak."
Pak Eka pun segera membukakan pintu gerbang untuk mobil tersebut. Benar saja mobil itu merupakan mobil dari Pak Arthama. Dika segera menghampiri mobil tersebut. Keluarlah Pak Arthama dari dalam mobil.
"Kenapa baru pulang pa?" tanya Dika.
"Kamu tanyanya nanti saja di dalam."
"Iya," balas Dika singkat.
Pak Arthama kemudian berjalan ke sisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Dimas.
"Dimas.. Dimas..." Dengan pelan Pak Arthama berusaha membangunkan Dimas yang tengah tertidur.
"Hmm..." Perlahan Dimas mulai terbangun dari tidurnya.
"Bangun Dimas, kita sudah sampai di rumah."
Dimas pun keluar dari mobil. Dika begitu terkejut ketika melihat raut wajah Dimas yang begitu pucat.
"Pak Eka..." Teriak Pak Arthama.
Pak Eka pun segera menghampiri Pak Arthama. "Iya pak."
"Tolong masukkan mobil ke garasi." Pak Arthama memberikan kunci mobil kepada Pak Eka.
"Baik pak," balas Pak Eka.
Pak Arthama, Dimas, dan Dika pun masuk ke dalam rumah. Pak Arthama dan Dika langsung menghantarkan Dimas menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Dimas langsung berbaring di kasurnya. Dika pun duduk di pinggir kasur menemani Dimas sementara Pak Arthama terlihat sibuk memasukan obat-obatan yang baru didapat dari rumah sakit ke dalam kotak obat.
"Gimana keadaan lo?" tanya Dika.
"Apa kata dokter?"
"..." Dimas hanya diam tanpa menatap Dika.
"Dimas masih belum mau memberitahu Dika. Kamu tidak boleh terus-menerus menutupi semua ini dari Dika... Tapi kasihan Dimas, dia pasti terbebani dengan pertanyaan Dika saat ini," batin Pak Arthama.
Pak Arthama menghampiri Dika dan Dimas. "Sudah, jangan tanya kakak kamu terus. Biarkan dia istirahat."
Dika kemudian berdiri dan menghampiri Pak Arthama. "Kenapa baru pulang jam segini pa?"
"Maklumlah, kan jarak dari rumah sakit ke sini sekitar 2 jam. Selain itu..." Pak Arthama melirik Dimas sejenak. Dimas mengedipkan matanya seakan-akan memberikan persetujuan kepada Pak Arthama.
"Papa tadi juga cari rumah kontrakan."
"Rumah kontrakan? Buat apa pa?" Dika pun merasa sangat bingung akan hal tersebut.
"Mulai lusa, untuk sementara papa sama Dimas akan tinggal di sana karena Dimas akan rutin menjalani pengobatan di rumah sakit A."
"Apa?! Kenapa harus sampai pindah? Disini kan masih banyak rumah sakit. Memangnya Dimas menjalani pengobatan rutin apa? Dimas sakit apa sebenarnya?"
"Dimas sebenarnya..."
"Papa..." ucap Dimas memotong perkataan Pak Arthama.
"Biar Dimas aja," lanjut Dimas dan dibalas anggukan oleh Pak Arthama. Pak Arthama memberikan waktu untuk Dimas dan Dika untuk mengobrol berdua, ia pun keluar dari kamar Dimas.
Dimas pun bangun dan duduk di pinggir kasur dan Dika kemudian duduk di samping Dimas.
"Lo kenapa sebenarnya? Bilang ke gue..." ucap Dika dengan pelan.
"Gue.. gu-gue sakit kanker otak," ucap Dimas dengan kepalanya yang tertunduk.
Bola mata Dika membesar, ia merasa sangat saget dengan pengakuan Dimas, seketika dadanya seperti dihantam saat mendengar ucapan Dimas. "Apa? Lo jangan..." ucapan Dika terpotong.
"Gue nggak bohong, gue jujur," balas Dimas.
Sesaat Dika hanya bisa terdiam menundukkan kepalanya, ia berusaha berusaha menerima dan mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Dimas. Jantung Dika berdegup dengan kencang dan nafasnya pun naik turun tak beraturan.
"Udah sejak kapan?" tanya Dika.
"Beberapa bulan ini."
Dika menatap Dimas, terlihat kekecewaan dan amarah terpancar dari mata Dika. Sementara itu Dimas sedikitpun tidak melirik Dika, ia hanya menundukkan kepalanya dan menatap ke arah lantai."
"Kenapa lo selama ini nggak kasi tau gue? Kenapa lo baru bilang sekarang?" ucap Dika dengan nada yang mulai marah.
Dimas pun akhirnya menatap Dika. "Gue nggak pengen buat lo khawatir. Selama ini gue udah sering nyusahin lo."
"Gue ini saudara lo Dim!"
"Gue nggak pengen buat lo sedih Dika..."
"Tapi gue akan lebih sedih kalau lo nggak kasi tau gue."
"Gue nggak tega kasi tau lo..."
"Gue berhak tau Dim!" bentak Dika.
"DIKA!" bentak Pak Arthama yang kini berada di depan pintu.
Dika menatap Pak Arthama dengan penuh amarah. "Papa sama Dimas sama aja!"
Tanpa berkata apa-apa lagi Dika langsung pergi meninggalkan kamar Dimas. Dimas pun berusaha mengejar Dika namun Pak Arthama menghalanginya.
"Sudah, biarkan dia menenangkan dirinya dulu," ucap Pak Arthama.
Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.30 malam, Dika saat ini sedang berada balkon untuk menenangkan diri. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, ia hanya termenung menatap langit malam dengan tatapan kosong.
"Dika..." ucap Pak Arthama membuyarkan lamunan Dika. Dika sejenak melirik Pak Arthama kemudian ia kembali menatap ke arah langit. Beberapa saat mereka tidak saling bicara, keadaan diantara mereka pun terasa hening.
"Pa..." "Dika..." ucap Dika dan Pak Arthama secara bersamaan.
"Papa duluan," ucap Dika.
"Kamu saja duluan."
"Pa, Dika minta maaf karena udah marah sama papa dan Dimas. Emang nggak seharusnya Dika bentak Dimas kayak tadi."
"Tidak apa-apa, papa bisa mengerti... Tapi asal kamu tau, Dimas hanya tidak ingin membuat kamu merasa sedih. Dia tidak tega memberitahu kamu, dia sangat sayang sama kamu. Tolong pahami dia..."
"Iya pa... Tapi mengenai penyakit Dimas. Apa kata dokter pa?"
"Dimas, dia harus menjalani pengobatan rutin karena sakit yang dideritanya sudah.. sudah parah. Penyakitnya sudah pada stadium 4. Sudah sangat terlambat untuk memulai pengobatan. Kemungkinan untuk dia bisa sembuh sangat kecil." Seketika mata Pak Arthama berkaca-kaca.
Dika hanya bisa terdiam mendengar ucapan Pak Arthama. Dadanya terasa sesak mendengar penjelasan dari Pak Arthama, dia samasekali tidak menyangka hal tersebut akan terjadi pada kakaknya.
"Ini semua salah papa. Papa terlalu sibuk bekerja sehingga papa tidak memperhatikan dia. Andai saja papa tau lebih awal, semuanya pasti tidak akan seperti ini." Pak Arthama menatap ke arah atas agar air matanya tidak jatuh.
"Papa jangan menyalahkan diri papa sendiri..." ucap Dika sembari memegang pundak Pak Arthama.
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......