
Terima kasih sudah mampir 🤗...
Selamat membaca 💕...
••••••••••••••••••••
Siang harinya Widia sendang duduk melamun di pinggir kolam renang di belakang rumahnya.
Bryan yang melihat adiknya duduk sedirian langsung menghampirinya dan duduk di samping Widia.
"Ngapain sendirian bengong disini?. Awas, ntar kesambet loh..." ucap Bryan.
"Lagi pengen aja bang..."
"Ooh..." ucap Bryan.
Terlihat Bryan sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri.
"Kayaknya bahagia banget lo bang..."
"Iya dong... abang dipilih lomba olimpiade matematika loh..."
"Emang kenapa?. Bang Iyan kan emang sering ikut lomba, tapi Widia nggak pernah lihat Bang Iyan sebahagia itu."
"Tapi kali ini beda, kali ini abang sama Bunga yang dipilih ikut lomba mewakili sekolah. Lusa abang udah mulai lomba, jadi abang berangkatnya besok. Lombanya itu 2 hari di luar kota. Abang jadi dapet berduaan terus sama Bunga," jelas Bryan sambil tersenyum.
"Adeh, pantesan bahagia banget."
"Entar aja jam 3 abang mau belajar bareng sama dia," ucap Bryan sambil tetap senyum-senyum sendiri.
"Dasar bucin..."
"Yee... biarin..."
"Widia boleh nanya sesuatu nggak bang?."
"Mau nanya apaan? bilang aja..."
"Abang inget nggak, kita waktu kecil sering main di taman?. Kita juga punya temen anak laki-laki, dia selalu bawa anjing sama bola."
"Ooo... makasud kamu Dika kan."
"Dika?..." ucap Widia bingung.
"Iya, Dika, masak kamu nggak tau kalo anak itu Dika sih?. Dika itu Choco, anak yang dulu sering main di taman bareng kita," jelas Bryan.
"Tapi bukannya Choco itu Kak Dimas?..."
"Nggak lah, masak Dimas. Dimas itu dari kecil anak rumahan," jawab Bryan.
"Ternyata Kak Dimas udah bohongin gue. Pantes aja gue selama ini ngerasa akrab sama Dika... Gue nggak mau cerita soal ini ke Bang Iyan, gue nggak mau ngerusak kebahagiaan Bang Iyan." batin Widia.
"Jadi Choco itu Dika..." ucap Widia.
"Yap, dari kecil tu bocah nggak pernah berubah..."
"Iya..." ucap Widia. Widia kemudian langsung berdiri dan hendak pergi.
"Eh... mau kemana?."
"Mau cari angin bang..." Widia pun kemudian pergi.
"Tu bocah main pergi-pergi aja..." gumam Bryan.
* * * * * * * * * *
Pukul 5 sore Bryan sudah pulang dari rumah Bunga. Di perjalanan pulang ia melihat dagang mie totok. Bryan pun teringat dengan Widia yang sangat suka makan mie totok, ia kemudian menyempatkan diri untuk singgah dan membeli 2 bungkus Mie.
"Widia pasti seneng gue beliin mie," gumam Bryan.
Sesampai di rumah, Bryan langsung mencari Widia, namun ia tidak melihat adiknya di rumah. Bryan pun sudah berkeliling rumah mencari Widia, namun tetap saja ia tidak menemukan Widia. Bryan akhirnya mencoba menelepon Widia, tetapi Widia tidak bisa dihubungi.
"Tu bocah kemana ya?. Mending gue makan duluan aja deh..." gumam Bryan.
Bryan kemudian memakan mie tersebut. Setelah Bryan selesai makan pun Widia belum juga datang, dan teleponnya masih belum bisa dihubungi.
"Kemana sih si Widia?. Kalo mienya didiemin lama-lama bisa nggak enak. Mending gue makan aja deh... Bryan, Bryan... siap-siap aja lo besok nggak bisa ke toilet," gumam Bryan.
Akhirnya Bryan memakan kedua bungkus mie tersebut sendirian.
"Ya ampun... mienya enak banget..." gumam Bryan.
Sampai Bryan selesai makan kedua bungkus mie tersebut, Widia belum juga datang.
"Tadi kata mama Widia udah pergi dari tadi. Kenapa sampai sekarang belum dateng ya? mana nggak bisa ditelepon lagi. Dia kemana sih?..." batin Bryan.
Bryan pun memutuskan untuk pergi mencari Widia. Bryan pergi ke taman untuk mencari Widia, tetapi Widia tidak ada disana. Bryan juga sudah ke rumah teman-temannya Widia, tetapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Widia.
Bryan kemudian menemui Dimas di rumahnya. Sesampai di kediaman keluarga Arthama Bryan tidak melihat Widia, ia hanya melihat Dimas sedang duduk menonton televisi.
"Lo tau nggak Widia dimana?. Gue telepon lo dari tadi nggak lo angkat-angkat," ucap Bryan.
"Hp gue masih di cas. Tadi pagi gue emang jalan sama Widia, tapi sekarang gue nggak tau Widia dimana. Emangnya ada apa?."
"Dari tadi siang adek gue belum pulang, teleponnya juga nggak bisa dihubungi, gue takut dia kenapa-kenapa."
"Astaga... yang bener lo Yan?. Kalo gitu kita cari dia sekarang," ucap Dimas panik.
Bryan dan Dimas kemudian langsung keluar rumah dan bergegas mencari Widia.
***** di mobil
"Lo udah cari ke rumah temen-temennya Widia?" tanya Dimas.
"Udah, gue udah cari dia kemana-mana, tapi gue belum nemuin dia."
"Lo ada berantem sama dia?"
Tiba-tiba Bryan teringat akan sesuatu, ia teringat dengan percakapannya dengan Widia tadi siang.
"Gue tau penyebabnya sekarang..." batin Bryan.
Bryan pun langsung meminggirkan mobilnya.
"Loh, kok berhenti?" tanya Dimas.
"Lo udah bohongin adek gue kan Dim?!" tanya Bryan dengan ekspresi serius.
"Maksud lo apa?" ucap Bryan Bingung.
"Lo udah ngaku-ngaku jadi anak yang dulu sering gue sama Widia ajak main di taman kan? lo ngaku-ngaku jadi Choco kan?."
"Kenapa Bryan bisa tau?..." batin Dimas.
"Gu-gue..." ucap Dimas yang kebingungan.
"Nggak usah ngelak deh lo!. Widia jadi sedih setelah gue bilang ke Widia kalo Choco itu Dika. Dia langsung pergi dan nggak balik sampai sekarang!."
"Gue nggak..."
"Keluar lo sekarang!" perintah Bryan dengan ekspresi marah.
Tanpa berkata apapun Dimas langsung keluar dari mobil Bryan.
Bryan langsung berjalan dengan kesal menghapiri Dimas. Seketika tangan Bryan dengan cepat melayang tepat ke perut Dimas.
Bug...
Bryan memukul perut Dimas dengan keras sampai-sampai Dimas terbaring karena kesakitan.
"Ahh... keterlaluan lo Yan!" ucap Dimas yang kesakitan sambil memegang perutnya.
Bryan kemudian mencengkram leher baju Dimas. "Keterlaluan lo bilang?. Lo yang keterlaluan!."
Bug... Bug...
Bryan yang marah kemudian memukul wajah Dimas berkali-kali. Dimas yang masih kesakitan pun tidak bedaya untuk melawan Bryan.
Orang-orang yang berada di sekitar sana pun langsung memegang Bryan dan mengamankan Dimas.
"Main pukul-pukul orang aja, saya bisa bawa kamu ke kantor polisi kalau begini," ucap seorang bapak-bapak.
"Udah pak, ini cuma salah paham. Saya bisa selesaikan masalah ini baik-baik sama temen saya," ucap Dimas.
"Lepasin tangan saya!." Bryan menepis tangan bapak-bapak yang memegangnya.
"Awas lo Dim!" ucap Bryan pada Dimas. Bryan kemudian langsung masuk kedalam mobil dan pergi untuk mencari Widia.
"Dika... iya, Dika..." gumam Bryan. Bryan kemudian langsung mengambil ponselnya.
Disisi lain Dika sedang mentraktir Restu makan untuk merayakan kemenangannya dan karena Dika mendapatkan hadiah mobil dari papanya.
"Gini dong... sering-sering lo traktir gue..." ucap Restu.
"Lo puas-puasin deh makan sekarang, mumpung gue lagi baik. Kapan lagi coba gue kayak gini..." ucap Dika.
Kring... kring... kring...
Handphone Dika berbunyi dan terdapat panggilan masuk dari Bryan. Dika pun langsung mengangkat telepon Bryan.
Dika : "Ada apa yan?."
Bryan : "Widia dari tadi siang nggak pulang Dik, dia juga nggak bisa dihubungi Dik."
Dika : "Yang bener?!."
Bryan : "Iya, Widia pergi setelah gue bilang kalo lo itu Choco."
Dika : "Bentar, bentar... maksud lo apaan sih?. Gue nggak ngerti..."
Bryan : "Ternyata Dimas selama ini bohongin Widia. Dia ngaku-ngaku ke Widia kalo dia itu Choco."
Dika : "Keterlaluan banget Dimas... Masalah itu kita sampingin dulu, sekarang yang terpenting kita cari Widia dulu."
Bryan : "Gue minta tolong ya Dik, bantuin cari Widia..."
Dika : "Pasti Yan, sekarang gue langsung cari Widia."
Dika kemudian langsung menutup teleponnya.
"Ada apa sih Dik?. Kelihatannya gawat banget," ucap Restu.
"Gue harus peri sekarang Res, ini penting banget." Dika kemudian langsung bergegas pergi.
"Tapi Dik..." ucap Restu, namun Dika sudah terlanjur pergi.
"Dika apa-apaan sih, dia yang ngajakin gue makan, malah dia yang ninggalin gue sendirian. Masak gue harus banyar makanan sebanyak ini sih. Kalo tau gue yang bakalan bayar, gue nggak mau makan sebanyak ini," gumam Restu.
°
°
°
Yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...