Choco

Choco
Doa



Meski pun makanan sudah datang cukup lama, tetap saja tidak ada yang mau makan, bahkan diantara mereka sama sekali tidak ada yang menyentuh makanan tersebut.


Pak Arthama pun mencoba menawari semuanya untuk makan. Pak Arthama kemudian membagikan nasi kotak beserta air mineral yang dibeli oleh Willy dan Restu tadi.


"Saya mohon, kalian makan dulu, saya tidak enak jika kalian sampai sakit..." bujuk Pak Arthama.


Semua menjadi merasa iba dan tidak enak melihat ekspresi memohon di wajah Pak Arthama. Semua akhirnya mau makan walau sebenarnya mereka semua saat ini tidak memiliki nafsu makan sedikit pun.


Pada siang harinya Kakek Dharma, Bryan, dan Pak Wahyu pun kembali datang ke rumah sakit. Tak berselang lama Pak Wardana pun juga datang yang disusul dengan kehadiran Intan, Adit, Clara, Monica, dan Rani. Mereka semua pun memberikan dukungan kepada Pak Arthama dan Dimas.


Clara, Monica, dan Rani memperhatikan keadaan Dika dari luar melalui jendela kecil, terlihat Dika masih terbaring tidak sadarkan diri di dalam ruang ICU dengan didampingi oleh seorang dokter dan beberapa perawat.


"Ya ampun.. gue nggak tega lihat pangeran tampan bervespa putih gue kayak gitu," ucap Monica. Monica pun meneteskan air matanya karena ia merasa kasihan melihat keadaan Dika. Walau pun Monica selama ini mengagumi Dika dengan cara yang terkesan alay, tetapi air mata yang ia keluarkan memang tulus karena ia benar-benar tidak tega melihat keadaan Dika.


"Uusstt! Sifat alay lo mulai kambuh lagi. Kita lagi di rumah sakit, bisa nggak tenang?!" tegur Clara kepada Monica.


Rani menggelengkan kepalanya heran. "Kebiasaan banget lo!" tegur Rani kepada Monica.


"I-iya, maaf..." ucap Monica.


"Untung aja gue pacaran sama Kak Willy bukan sama Kak Dika. Rugi juga kalo pacaran sama orang ganteng tapi ujung-ujungnya bisa ditinggal mati," batin Clara.


Saat ini semua hanya bisa diam dan menunggu kabar dari dokter. Mereka semua pun terus saling menguatkan satu sama lain.


Restu terlihat seperti membicarakan sesuatu kepada Intan, beberapa saat kemudian mereka berdua berdiri dan hendak beranjak pergi.


"Kalian mau kemana?" tanya Widia kepada Intan dan Restu.


"Kita mau berdoa ke tempat ibadah," jawab Restu.


"Gue ikut," ucap Widia.


"Gue juga ikut," ucap Willy diikuti oleh beberapa orang lainnya.


Mereka pun pergi ke tempat ibadah untuk mendoakan Dika, semetara Pak Arthama dan Dimas memilih tetap menunggu Dika di depan ruang ICU.


Setelah mereka selesai berdoa, mereka pun segera kembali ke rumah sakit. Namun Clara, Monica, Rani, dan Adit memilih untuk pulang lebih awal.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 14.10, terlihat seorang dokter keluar dari ruang ICU tempat Dika dirawat.


"Bagaimana keadaan anak saya dok," tanya Pak Arthama.


Dokter menghela nafas panjang. "Pasien samasekali masih belum menunjukkan tanda-tanda perubahan. Tapi kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin."


"Boleh saya lihat keadaan Dika dok?" tanya Widia.


Dokter terlihat sedang berfikir sembari menatap Widia.


"Saya mohon dok..." pinta Widia.


"Baiklah, tapi saya minta jangan sampai melakukan tindakan yang akan membahayakan pasien," balas Dokter.


Mendengar persetujuan dari dokter membuat Widia merasa sangat senang karena dirinya akan segera dapat melihat Dika secara langsung. "Baik dok, terima kasih dokter," ucap Widia.


"Baik, saya permisi dulu," ucap dokter kemudian pergi meninggalkan mereka.


Di dalam ruang ICU suasana terasa sangat sunyi, hanya suara dari mesin-mesin yang memecahkan keheningan disana.


Tit.. tit.. tit...


Widia duduk di samping Dika sembari memperhatikan Dika yang tengah terbaring koma dengan jarak yang sudah ditentukan. Sebenarnya Widia sangat ingin menyentuh Dika, namun apalah daya, demi keselamatan Dika ia harus bisa menahan keinginannya tersebut.


"Cepat sembuh Dika, gue kangen lo ngejek gue pake sebutan Onyet. Gue kangen lo ngomel-ngomel sama gue karena gue cuma main video game dan nggak mau bersihin kamar. Gue kangen kelucuan lo... Gue tau gue bukan yang terbaik, tapi gue janji, gue akan berjuang seumur hidup gue untuk mencoba memperlakukan lo lebih baik daripada orang lain. Karena gue nggak ingin kehilangan lo," ucap Widia dalam hati di tengah-tengah tangisnya kepada Dika yang masih tak sadarkan diri.


Sementara itu diluar orang-orang hanya bisa diam dan berharap menunggu kabar baik dari dokter.


Dimas duduk dengan tatapan kosong, namun sesekali air matanya kembali keluar.


"Maafin gue Dika, selama ini gue udah jahat sama lo..." ucap Dimas dalam hati. Air mata Dimas pun kembali menetes.


"Lo yang kuat Dim. Lo harus yakin Dika pasti akan baik-baik aja," ucap Willy sembari mengelus pundak Dimas untuk menenangkannya.


"Gue ngerasa bersalah banget sama Dika. Gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri kalau Dika sampai kenapa-kenapa," Dimas berusaha untuk tegar, ia menyeka air matanya yang terus menerus keluar.


"Lo nggak boleh berpikiran buruk, adik lo pasti bakalan sembuh." ucap Willy dan dibalas anggukan oleh Dimas.


"Dulu lo benci banget sama Dika, sekarang lo baru sadar kalau Dika sebenarnya sangat berarti dalam hidup lo. Penyesalan itu memang selalu datang diakhir," batin Willy.


Dimas memutuskan untuk menyempatkan diri berdoa ke tempat ibadah sebab tadi dirinya tidak ikut karena menjaga Dika. Di tempat ibadah Dimas tak henti-hentinya berdoa demi keselamatan Dika. Dimas yang sudah sangat lelah akhirnya tertidur di tempat ibadah.


Di sisi lain sudah hampir satu setengah jam Widia menemani Dika di ruang ICU. Widia pun dihampiri oleh seorang dokter.


"Demi kenyamanan pasien, anda lebih baik tunggu di luar saja. Biar saya dan para perawat yang menjaga pasien disini," ucap dokter.


"Hmm.. baik dok. Tapi saya mohon beri waktu sebentar lagi," balas Widia.


"Baiklah..." ucap dokter kemudian kembali duduk di kursinya.


Widia sedikit mendekat pada Dika, ia pun berbisik di telinga Dika. "Lo harus sembuh Dika, gue akan selalu tunggu lo. Gue cuma pengen bilang satu hal, jika bukan lo, maka nggak akan ada orang lain... I love you..." Widia pun kemudian keluar dari ruang ICU.


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga oil bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...