Choco

Choco
Pura-pura Digigit Anjing



Widia yang sedang mengerjakan PR, medengar ponselnya berdering. Ia menerima panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.


Widiapun mengangkat panggilan telepon itu. "Hallo, ini siapa?."


"Ini gue, Dika. Lo lagi ngapain?."


"Ooh, ternyata si Dika. Males banget gue. Pura-pura gak ada sinyal aja deh," pikir Widia.


"Hah... Apa?. Saya nggak dengar!."


"Gue Dika."


"Apa?. Siapa?. Sinyalnya jelek, saya nggak denger."


Karena Widia tidak mendengar suara Dika, Dika pun berteriak. "Dikaa... Dikaaaa..."


Secara spontan Widia menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengusap telinganya karena mendengar suara teriakan Dika yang begitu kencang.


"Gak waras tu bocah, teriak sekencang itu. Telinga gue jadi sakit," pikir Widia. Widia yang kesal lalu menutup teleponnya


Tuut... tuut... tuut...


Widia kemudian menaruh ponselnya di atas meja dan melanjutkan belajar. "Rasain lo, orang lagi belajar malah lo ganggu," gumam Widia.


"Masak sih nggak ada sinyal?. Perasaan gue lancar-lancar aja kok. Gue SMS aja deh," pikir Dika.


Dika : "Nyet, gue lagi beli nasi goreng deket rumah lo. Gue bawain kesana ya, sekarang gue otw****."


Widia yang membaca SMS Dika langsung membalasnya.


Widia : "Gak usah, lo jangan ke sini. Awas kalo lo berani kesini!."


Dika tidak menghiraukan SMS dari Widia dan ia tetap pergi ke rumah Widia.


*******


Dika yang baru sampai di depan rumah Widia tidak langsung masuk dan hanya berdiri di depan gerbang Widia, karena ada anjing yang menggonggong dirinya. Dia terus memanggil Widia dari depan gerbang, tetapi Widia tidak kunjung keluar, telepon dan SMSnya pun tidak dibalas. Tapi Dika tidak menyerah dan tetap diam di depan rumah Widia.


Widia yang mendengar anjingnya berisik, merasa tidak tahan. Ia pun keluar rumah melihat Dika.


"Lo ngapain sih?. Kurang kerjaan banget. Ganggu orang aja lo!" teriak Widia dari teras rumahnya.


"Gue bawain lo nasi goreng Nyet, kasi gue masuk dong." Dika mengangkat nasi goreng yang dibawanya.


"Lo pulang atau lo mau digigit sama si Mbrut?!."


"Apa? nama anjing lo Mbrut. Aneh-aneh aja lo Nyet, ha..ha..ha..." Dika tertawa karena mengetahui nama anjing Widia.


"Pake ketawa lagi, gue gak mau tanggung jawab kalo lo digigit anjing, pokoknya gue gak mau tau."


"Kalo gitu gue bilang ke ibu lo, kalo lo bandel. Tante... tantee... Widia tante..." teriak Dika.


"Percuma lo teriak, ibu gue lagi jualan di pasar. Dasar... tukang ngadu!. Sekarang gue mau masuk, temenin tuh si Mbrut." Widia meninggalkan Dika yang masih berdiri di depan gerbang.


"Nyet... Gue gak akan nyerah!. Jangan panggil gue DIKA, kalo gue gak bisa masuk!" teriak Dika.


Dikapun mengambil kayu sebagai senjata untuk melindungi dirinya dan ia berusaha masuk dengan memanjat tembok. Ia mengayun-nganyunkan kayu yang diambilnya tadi agar anjing itu menjauh. Tapi anjing itu malah melompat-lompat dan mengonggong semakin keras. Dika berusaha melindungi dirinya dan melawan, tetapi ia malah terpeleset dan terjatuh, nasi goreng yang dibawanyapun juga terjatuh berserakan. Beruntung anjing itu berhenti mengincar Dika, karena anjing itu memakan nasi goreng yang dibawa oleh Dika. Namun kaki Dika terluka dan mengeluarkan banyak darah, karena tergores ujung tembok yang runcing. (Sungguh perjuangan yang sangat dramatis🙄)


"Aduhh... Kaki gue... Tu anjing Mbrut pake makan nasi goreng gue lagi. Si Widia juga pake lepas ni anjing. Awas lo Nyet, gue kerjain lo," gumam Dika sambil memegang kakinya.


Dika masuk ke dalam rumah dan memanggil Widia dengan suara yang memperihatinkan. "Widia... Wid..." Ia lalu berbaring di lantai dengan kakinya yang terluka dan terus mengeluarkan darah.


Widia yang mendengar suara Dika langsung keluar kamar. "Dik, lo kenapa bisa berdarah kayak gini?." Widia yang panik melihat begitu banyak darah keluar dari kaki Dika lalu menghampirinya dan memangku kepala Dika.


"Ha, hah... Kena lo Nyet," kata Dika dalam hati.


"Wid, gue digi-git an-jing, kayaknya an-jing lo rabi-es, kepa-la gu-gue pu-pu-sing." Dika berbicara terbata-bata dan dengan nafas yang lemah layaknya orang yang sedang sekarat.


"Dika, sekarang kita ke rumah sakit. Lo diem di sini, gue cariin bantuan." Widia yang kepanikan melihat Dika, matanya langsung berkaca-kaca.


Namun Dika melarang Widia pergi. "Ngga u-sah, kayaknya umur gu-gu-e udah gak la-ma la-gi."


"Dika, lo jangan ngomong kayak gitu, lo yang kuat Dik." Widia merasa begitu sedih sehingga dia tidak bisa membendung air matanya yang jatuh menetes semakin banyak.


Dika memegang wajah Widia dan berkata. "Gu-e sa-yang lo." Kemudian tangan Dika terjatuh dan ia langsung berpura-pura pingsan.


Widia yang melihat Dika pingsan semakin tidak bisa menahan air matanya dan ia juga memeluk Dika. "Dikaa... Bangun... Gue juga sayang sama lo, bangun Dika... Bangun..." kata Widia ditengah-tengah tangisnya.


Dika yang mendengar hal tersebut merasa senang dan tersenyum. Namun Widia tidak menyadari hal tersebut, karena ia sedang menangis dan memeluk Dika.


Tak lama kemudian anjing Widia, si Mbrut, masuk ke dalam rumah dengan menyeret sebungkus nasi goreng. Widia yang melihat anjingnya yang sedang makan nasi goreng merasa curiga, ia memperhatikan mulut anjingnya. Seketika Widia berhenti menangis, ia sadar bahwa ia sudah dikerjai oleh Dika karena ia melihat mulut si Mbrut yang tidak berisi bekas darah sedikitpun.


"Ehh!... Bangun lo Dik!. Gue tau lo bohong, gak usah pura-pura lagi." Widia melepas pelukannya dan memukul kaki Dika yang terluka.


Dika yang merasakan pukulan Widia langsung membuka matanya dan duduk. "Aduh... Sakit Nyet. Ini beneran luka tau. Tapi gue puas dapet ngerjain lo. Ha..ha..ha..." Dika yang berhasil mengerjai Widia merasa puas.


"Sakit ya?. Sakit?. Nih gue pijit nih, gue pijit." Widia memijit kaki Dika yang terluka.


"Duhh..duh..duh... Sakit, beneran sakit Nyet, ini luka asli, gue gak pura-pura." Kaki Dika yang dipijit oleh Widia terasa kesakitan dan mengeluarkan semakin banyak darah.


Widia terkejut melihat hal tersebut dan ia membantu Dika duduk di kursi. "Eh, beneran sakit ya?. Sorry, sorry, gue kira lo bohong. Lagian lo sih, bercandanya parah, bikin gue panik."


"Iya, maaf Nyet. Gue ngaku salah."


"Ngga mau gue, lo udah keterlaluan." Widia meninggalkan Dika pergi ke sebuah ruangan.


"Nyet, lo mau kemana?" tanya Dika, tetapi Widia tetap pergi dan tidak menghiraukan pertanyaan dari Dika.


Beberapa saat kemudian, Widia kembali membawa perban dan obat luka. Dia lalu duduk dan mengobati kaki Dika.


"Nyet, makasi ya udah obatin gue."


Mendengar perkataan Dika, Widia hanya diam dan tetap mengobati kaki Dika tanpa mempedulikan perkataan Dika.


"Nyet, lo masih marah ya?. Maaf, gue ngaku salah. Lo boleh marahin gue deh, lo boleh pukul gue lagi. Tapi jangan diemin gue dong."


"Iya... Gue maafin."


"Kenapa ya, gue gak bisa marah sama Dika," kata Widia dalam hati.


"Beneran? Lo maafin gue kan?."


"Iya... Gue maafin. Gue juga minta maaf sama lo, karena udah bikin luka lo tambah parah."


"Iya, gak apa-apa. Tapi..."


"Tapi apa?" tanya Widia.


"Yang lo bilang tadi itu serius kan?."


"Emang gue tadi bilang apa?." Widia pura-pura tidak ingat.


"Lo tadi bilang sayang ke gue kan?."


"Ngga, gue gak bilang gitu kok."


"Lo jangan bohong deh Nyet, tadi gue jelas-jelas denger lo bilang, kalo lo sayang sama gue. Mending lo jujur aja deh."


Terlihat senyuman lebar di wajah Dika. "Tuh kan... lo ngakuu..."


"Ngga, gue gak sayang sama lo kok!."


"Macak cihh?...."


"Sekali lagi lo bicara, gue perban mulut lo!."


"Iya deh, iyaa..."


"Nih, udah selesai, lo bisa pulang sendiri kan?."


"Bisa kok, tapi kalo lo mau anterin gue, juga boleh kok."


"Nggak, nggak pake anter-anteran. Sekarang lo berdiri langsung pulang, gue masih banyak PR."


"Iya, iya... Gue pulang sekarang." Dikapun berdiri tetapi ia masih tetap berada di sana dan tersenyum.


"Lah, kok masih gak pergi juga?. Cepet pulang sana!."


"Yang tadi lo serius kan bener sayang sama gue?."


"Lo, apaan sihh!!." Widia mendorong Dika keluar dan menutup pintunya.


"Sekali lagi makasi yaa... sayang..." kata Dika dari luar pintu


Widia yang bersender di belakang pintunya hanya tersenyum mendengar perkataan Dika.


*******


Malam harinya Widia duduk di depan rumah sambil senyum-senyum sendiri karena mengingat kejadian tadi siang, sampai-sampai dia tidak sadar ibu dan bapaknya baru pulang bekerja.


"Nak, kamu kenapa senyum-senyum?" tanya bapaknya.


"Yuk masuk, di luar dingin lho." Ibu Asih menepuk pundak anaknya karena Widia tidak menjawab pertanyaan bapaknya dan masih senyum-senyum sendiri.


Widia yang merasa pundaknya ditepuk, menyadari kedatangan ibu dan bapaknya. "Eh, ibu sama bapak udah pulang," jawab Widia yang kaget.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?. Jangan-jangan kamu punya pacar ya?" tanya Bu Asih.


"Ngga ah bu... ibuk, apaan sih." Wajah Widia memerah karena malu.


"Udah bu, jangan godain Widia kayak gitu. Ni bapak beliin kamu terang bulan rasa coklat, yuk kita makan sama-sama di dalam."


"Iya pak."


*******


Widia yang berbaring di tempat tidurnya tidak bisa tidur dan masih senyum-senyum sendiri karena memikirkan Dika. Ponselnyapun berdering di atas meja, ia duduk di atas kursi dan melihat panggilan vidio masuk dari Dika.


"Ni orang kenapa sih malem-malem nelepon?. Gue angkat nggak ya?... Mending jangan deh," pikir Widia.


Namun ponsel Widia terus-menerus berbunyi, dan akhirnya dia menyerah dan mengangkat panggilan vidio dari Dika.


"Beraninya Dika ganggu gue malem-malem, jangan salahin gue, kalo gue kerjain," pikir Widia.


"Nyet, lo kenapa sih lama banget angkat telepon gue?" kata Dika.


"A-pa nga-ga a." Widia berkata terbata-bata dan bergerak patah-patah seakan-akan sinyal ponselnya buruk.


"Lo kenapa sih nyet?" tanya Dika sambil melambaikan tangannya.


"A-pa e gu-e a." Widia tetap bersikap seolah-olah sinyalnya sedang buruk.


Dikapun percaya dan hampir saja menutup teleponnya. Tapi tiba-tiba Bu Asih lewat di belakang Widia dan terlihat berjalan lancar-lancar saja. Dika yang melihat hal tersebut sadar ia telah ditipu oleh Widia. Tapi Widia tidak tau hal tersebut, ia tidak menyadari ibunya yang lewat di belakangnya.


"Wah, berani-beraninya dia ngerjain gue, gue kerjain balik lo Nyet," kata Dika dalam hati.


"I Love Youu... Sayangkuu... Cintakuu..." Dika berteriak di telepon dengan sangat kencang.


"Ni bocah kenapa sih?" pikir Widia yang kebingungan. Namun Widia tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah terlanjur berpura-pura.


"Eh, nak Dika..." kata Bu Asih yang berdiri di belakang Widia.


Widia yang terkejut langsung menutup teleponnya.


"Eh, ibu... ibuk, kapan masuk ke kamar Widia?" tanya Widia dengan gugup.


"Udah dari tadi, ibu mau pinjam minyak hangat kamu. Kamu teleponnya udahan aja, ini udah malam. Pacaran boleh, tapi inget waktu," tegur Bu Asih.


"Ih... ngga kok bu. Siapa yang pacaran sama Dika, Widia ngga pacaran sama dia," jawab Widia dengan wajahnya yang memerah karena tersipu malu.


Ibu Asih mecubit pipi Widia. "Anak ibu ternyata udah gede, kamu ngga usah bohong."


"Ih, ibuu... Apaan sih..."


"Iya...iya... Sekarang kamu tidur gih, besok kan sekolah." Ibu Asih mengelus rambut anaknya dan pergi ke luar kamar Widia.


Widia yang kesal mengirimkan pesan ke Dika.


Widia : "Awas aja lo Dikaaaaaaaa!!!"


Dika : "Lo yang mulai duluan sih. Sekarang lo tidur gih, udah malam. Selamat malam💓"


Widia yang membaca pesan dari Dika hanya tersenyum. Ia menaruh ponselnya di sampingnya. Tapi ketika ia menaruh ponselnya di atas meja dan ingin tidur, ponselnya kembali berdering menandakan ada pesan masuk. Dia kembali menghidupkan layar ponselnya dan melihat pesan dari Adit.


Adit : "Hai Widiaa."


"Ngapain ya, Adit SMS malem-malem," pikir Widia. Widia yang penasaran langsung membalas SMS Adit.


Widia : "iya, ada apa Dit?"


Adit yang sudah mengetik pesan bahwa ia menyukai Widia, kembali menghapus nya. Karena ia masih ragu dan takut ditolak oleh Widia. Ia malah bingung dan menanyakan PR.


Adit : "PR Fisika halaman 22 kan Wid?"


Widia : "Iya Dit"


Adit : "Ok makasi ya, maaf ganggu malam-malam"


Widia : "Iya, gak apa-apa, sama-sama Dit"


Adit : "Iya Widia"


"Si Adit parah banget, udah larut malam kayak gini baru nanya PR. Pasti dia belum buat tuh," pikir Widia.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan share ya kak ✌️😊...


Terima kasih 🙏🤗♥