Choco

Choco
Menjenguk Dika



Sebelum pulang Widia menyempatkan diri untuk menanyakan keadaan Dika kepada Restu. Widia juga mengajak Intan mencari Restu karena memang Intan ingin sekalian pulang bersama Restu.


"Intan, Widia..." ucap Restu melihat kedatangan Widia dan Intan.


"Baru aja aku mau cari kamu. Nanti kita makan yuk?" ucap Restu pada Intan.


"Boleh kak," jawab Intam.


"Ekh hem, hem, hem... gue jadi obat nyamuk nih," ucap Widia.


"Makanya jangan ganggu kita wkwkk..." ucap Restu sambil tertawa kecil.


"Hush, Kak Restu apaan sih," tegur Intan.


"Bercanda doang... Ngomong-ngomong kamu dapet ranking berapa?" ucap Restu pada Intan.


"Intan rangking empat, kalo Kak Restu dapet ranking berapa?"


"Aku dapat ranking tiga," jawab Restu dengan senyuman bangga.


"Waah... Kak Restu hebat banget..." ucap Intan senang.


"Tapi rangking tiga dari belakang buakakakakak..." ucap Restu sambil tertawa terbahak-bahak.


Intan memandang malas pada Restu. "Kirain beneran rangking tiga..."


Widia tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Wkwkwk... Kak Restu, Kak Restu..."


"Kok bisa ranking tiga dari belakang? Kak Restu sih, nggak pernah belajar," gerutu Intan.


"Ya emang kemampuan aku cuma segitu," ucap Restu.


"Nggak je, emang Kak Restunya aja yang malas belajar," ucap Intan.


"Jangan ngomel-ngomel Tan, gue aja nggak marah-marah sama Dika, walaupun Dika dapet ranking lima dari belakang, yang penting kan udah berusaha," ucap Widia.


"Bener tuh kata Widia. Tapi jujur ya Wid, Dika banyak berubah semenjak ada lo. Dulu Dika selalu rangking paling bawah, seriusan, gue nggak bohong. Baru kali ini dia nggak jadi rangking satu dari belakang," ucap Restu.


"Ternyata Dika bener-bener udah berusaha... Tapi Kak Restu tau nggak kenapa Dika sekarang nggak sekolah? Dika nggak bisa dihubungi dari tadi pagi," ucap Widia.


"Akhirnya Widia nanya keadaan Dika. Maafin gue Wid, kemarin Dika nyuruh gue bilang ke lo kalau dia hari ini nggak sekolah karena bangun kesiangan. Padahal sebenarnya dia lagi sakit, Dika cuma nggak mau nyusahin lo Wid," batin Restu.


"Dika bangun kesiangan, makanya dia nggak sekolah," ucap Restu.


"Darimana Kak Restu tau? Dari tadi pagi Widia nggak bisa hubungi Dika, handphonenya nggak aktif," ucap Widia.


"Ee... Karena..." ucap Restu kebingungan.


"Karena kemarin malam Dika nelepon gue," ucap Restu dalam hati.


"Hmm... Dari mana Kak Restu bisa tau?" tanya Widia lagi.


"Hah?! Dari mana gue tau?..." ucap Restu kebingungan.


"Iya, dari mana kakak tau?" ucap Widia.


"Karena... karena mampir.. ya tadi pagi gue mampir ke kostnya Dika," ucap Restu.


Raut wajah Widia menunjukkan ekspresi kebingungan. "Kenapa nggak sekalian Kak Restu bangunin aja? Kan bisa berangkat sekolah bareng."


"Ya ampun sial*n!... Lo bilang apaan sih tadi?!... Dikaa... kenapa sih lo nggak kasi gue alasan secara detail? Sekarang kan gue jadi bingung mau bilang apa," batin Restu.


"Dika susah banget dibangunin... Gue buru-buru nih, gue duluan ya... Yuk Tan..." Restu langsung menarik tangan Intan dan mengajaknya pergi.


"Duluan ya Wid," ucap Intan.


"Iyaa..." balas Widia.


"Kayaknya ada yang aneh sama Kak Restu," batin Widia.


Widia pun memutuskan untuk segera mencari Dika ke kosnya. Sesampainya di sana, Widia langsung masuk ke kamar Dika karena pintu kamarnya tidak terkunci. Benar saja Dika yang sedang sakit tengah tertidur sambil memakai selimut tebal.


Widia langsung duduk disamping Dika. "Ya ampun Dika, Lo sakit? Kenapa nggak kasi tau gue?" ucap Widia panik.


"Maaf, gue nggak sempat buka handphone," ucap Dika sambil tetap tertidur.


"Gue cuma nggak mau bikin lo khawatir," batin Dika.


"Lo udah ke dokter?" tanya Widia.


"Udah dimakan?"


"Udah..." ucap Dika sambil tetap memejamkan matanya.


"Serius kan? Nggak bohong?"


"Iyaa..."


"Kenapa sampai bisa sakit lagi?" tanya Widia.


Dika hanya diam dan tetap memejamkan matanya tanpa merespon pertanyaan Widia.


"Lo kehujanan lagi ya? Gue tau, lo pasti kehujanan lagi kan sepulang dari warnet? Sekarang musim hujan, lo jangan bohong lagi."


"I-iya..."


"Tuh kan, lo sih, keras kepala banget."


"Iya, gue salah... Tapi jangan ajak gue debat ya Wid, kepala gue lagi sakit..." pinta Dika dengan lembut.


"Gue temenin lo disini ya..."


Dika pun bangun dan duduk. "Maaf udah ngerepotin lo..."


"Dika... gue sama sekali nggak ngerasa direpotin." ucap Widia dengan lembut.


"Gue minta maaf..."


"Kali ini minta maaf buat apa lagi?" tanya Widia.


"Lo pasti udah lihat rangking gue kan, maaf ya udah bikin lo kecewa."


"Kali ini gue nggak kecewa sama lo, gue malah bangga sama lo. Lo udah berusaha melakukan yang terbaik dan lo udah berusaha jadi lebih baik, itu aja udah lebih dari cukup bagi gue.... Kak Restu udah cerita semuanya ke gue," ucap Widia.


"Makasi ya udah mau sabar dan pengertian sama gue... Gue jadi semangat juga gara-gara ada lo..."


"Lo nggak perlu bilang makasi..."


Dika menatap Widia kemudian memegang tangannya. "Gue cinta sama lo... Gue ngak ingin kehilangan lo karena hidup gue jadi lebih baik semenjak gue ketemu sama lo..." ucap Dika dengan lembut.


Mendengar perkataan Widia membuat sudut bibir Widia naik membetuk senyuman lebar. "Plis... Dika... Jangan terlalu romantis kayak gitu, gue jadi meleleh..."


"Gue kan emang romantis, bakat gue emang alami, nggak bisa dirubah lagi," ucap Dika sambil tersenyum bangga.


"Adeh, lagi sakit aja banyak gaya... Sekarang lo tidur aja, gue akan temenin lo disini. Sekalian gue mau ngurus Moza, pasti dia udah berhari-hari nggak mandi."


"Wkwkwk... lo tau aja..."


"Iya lah, dari jauh aja udan kecium baunya."


"Widia pun segera memandikan dan memberi makan anjingnya (Moza)


Sejak hari itu Widia datang setiap hari menjenguk dan merawat Dika sampai Dika kembali sehat. Mereka pun menjalani hari-hari seperti biasa dan menghabiskan waktu bersama seperti belajar, mengurus bebek, merawat anjing mereka (Moza), dan lain sebagainya.


Walaupun hubungan Dika dengan Pak Arthama dan Dimas belum membaik, Dika selalu berusaha bangkit dan menjalani hari-hari seperti biasa, setidaknya masih ada Widia dan teman-temannya yang mendukungnya dan membuatnya bersemangat.


Pak Arthama selama ini selalu diam-diam memantau keadaan Dika. Sesungguhnya hati Pak Arthama sangat ingin mempercayai Dika, akan tetapi semua bukti yang ada sudah menunjukkan bahwa Dika telah bersalah. Pak Arthama juga sebenarnya sangat ingin berbaikan dan memaafkan Dika, hanya saja diantara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah dan mereka masih dibatasi dengan egonya masing-masing.


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...