
Happy reading 💕...
•••••••••
Widia yang sedang berbelanja di minimarket melihat Willy di sana dan menyapanya. "Kak Willy ada di sini juga. Beli apa kak?."
Willy melihat Widia dengan ekspresi datarnya sejenak kemudian kembali melihat rak dan memilih belanjaan. "Beli cemilan."
"Widia duluan ya kak." Widia pergi ke kasir dan langsung pulang.
"Kak Willy sikapnya dingin banget, habis makan kulkas kali tu orang. Tapi hari ini panas baget, kalo bukan karena gak ada di warung, males banget gue beli coklat jauh-jauh ke minimarket," gumam Widia yang sedang berjalan di trotoar.
Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di samping Widia, orang itu membuka jendela mobil, dan orang itu tak lain adalah Willy. "Lo mau gue anter?" tanya Willy dengan ekspresi datarnya seperti biasa.
Widia menolak ajakan Willy dengan halus. "Ngga usah repot-repot kak, makasi. Rumah Widia udah deket kok." Widia kembali berjalan.
Willy tetap mengikuti Widia. "Naik mobil gue aja."
Widia yang merasa diikutipun berhenti. "Ngga usah Kak Willy, disana ada pangkalan ojek, Widia naik ojek aja."
Tin, tin, tin, tin, tin...
Suara mobil yang tidak bisa berjalan di belakang mobil Willy.
Tin, tin, tin, tin, tin...
Tin... Tin... Tin...
"Gue gak akan jalan!" ucap Willy.
"Maaf ya, pak... buk..." teriak Widia ke mobil di belakang mobil Willy sambil menganggukkan kepalanya meminta maaf.
"Ya udah deh, Widia ikut." Widia kemudian masuk ke mobil Willy.
"Rumah kamu di mana?" tanya Willy.
"Jalan Kamboja No. 8 kak."
"Dari tadi suasananya kaku banget. Kak Willy juga dingin banget, jadi bingung deh mau ngobrol soal apa," pikir Widia.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam tanpa berkata sepatah katapun. Beberapa saat kemudian sampailah mereka di depan rumah Widia.
"Makasi banyak ya kak Willy," ucap Widia yang masih berada di dalam mobil ditambah senyuman manisnya.
"Sama-sama."
"Kak Willy mau mampir?."
"Ngga usah."
"Ya udah kalo gitu, sekali lagi makasi ya kak." Widia kemudian keluar mobil dan berjalan masuk ke rumahnya.
"Widia..." teriak Willy yang baru keluar dari mobil.
Widia yang merasa dirinya dipanggil menghentikan langkahnya dan membalikan badannya. "Iya, ada apa kak?."
Willy menghampiri Widia. "Kalo kamu perlu bantuan, kamu jangan sungkan-sungkan minta tolong ke aku. Kalo aku sanggup, pasti aku bantu," ucap Willy dengan lembut dan diakhiri dengan senyuman.
"Lah, ini kok bisa lembut kayak gini bicaranya?" pikir Widia.
"Iya kak, kalo Widia perlu bantuan, Widia pasti minta tolong ke Kak Willy. Kak Willy kalo perlu bantuan juga, jangan sungkan-sungkan minta tolong ke Widia ya," balas Widia yang juga diakhiri dengan senyuman.
Willy menatap dalam mata Widia. "Aku boleh gak, anggap kamu sebagai adik?."
"Boleh kak, tapi ada apa kak?."
Willy hanya manatap Widia dan diam sejenak, lalu ia menjawab pertanyaan Widia. "Karena kamu mirip banget sama adik aku, Dinda. dia udah meninggal 2 tahun yang lalu karena leukemia.'' Willy menundukan kepalanya.
"Maaf ya kak, gara-gara aku Kak Willy jadi sedih," ucap Widia dengan wajah bersalah.
Willy menatap Widia. "Kamu gak perlu minta maaf, kamu ngga salah."
Widia mengambil sebuah coklat dari kantong belanjaannya dan memberikan coklat itu pada Willy sambil tersenyum. "Kak Willy, Widia punya coklat, tolong diterima ya. Katanya coklat bisa bikin kita bahagia loh."
Willypun menerima coklat dari Widia. "Makasi ya Widia," ucap Willy dengan senyuman.
"iya, sama-sama kak. Kalo gitu Widia masuk rumah dulu ya kak, sekali lagi makasi ya tumpangannya."
Willy mengacak halus rambut Widia. "Iya, sama-sama. Kamu jangan bilang makasi terus dong, kayak sama siapa aja." Willy tertawa.
Widia juga ikut tertawa.
*******
"Eh Widia ngapain ke sini?" tanya Ibu Asih yang melihat kedatangan Widia menemuinya sedang berjualan buah di pasar.
"Widia mau bantu ibu jualan," jawab Widia.
"Emangnya kamu ngga ada PR?."
"PR Widia udah selesai bu, Widia juga udah selesai bersih-bersih rumah kok."
"Ya udah, kalo gitu kamu bantu ibu jualan aja."
Ketika Widia sedang membantu Bu Asih berjualan, ia melihat Dika dan menghampirinya.
"Widia?... Dunia ini emang sempit ya," kata Dika yang melihat Widia menghampirinya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Widia.
"Suka-suka gue dong."
"Lo pasti ngikutin gue kan..." ucap Widia dengan ekspresi curiga.
"Gue itu emang suka sama lo, tapi sekarang gue ngga ngikutin lo. Gue ke sini cuma mau jual bebek."
Widia tertawa mendengar pengakuan Dika. "Wkwkwk... Jualan bebek?. Emang lo dapet bebek dari mana hah?... Gak percara gue sama lo."
Dika memandang malas Widia. "Ya gue pelihara lah, kalo lo gak percaya tanya aja sama Bang Ali yang jualan bebek potong di kios paling selatan."
"Emang gue kurang kerjaan apa nanya gituan."
"Trus lo sendiri ngapain di sini?."
"Gue bantu ibu gue jualan."
"Emang Ibu lo jualan di mana?"
Widia menunjuk ke kios ibunya. "Tuh ibu gue."
"Oh iya, gue kok gak pernah sadar sih kalo ibu lo jualan di sini." Dika kemudian berjalan menuju kios ibunya Widia.
"Eh... Lo mau kemana?" tanya Widia. Namun Dika tidak menghiraukan Widia dan tetap berjalan menuju kios Bu Asih.
"Siang buk," sapa Dika kemudian menyalami tangan Ibu Asih. "Dika kok baru tau ibuk jualan di sini?" lanjut Dika.
"Iya nak Dika, ibu baru jualan di pasar ini. Pantes aja tadi Widia ninggalin ibuk, ternyata dia nyari kamu."
"Ih ibuk apaan sih..." Widia memandang malas ibunya.
Dika tersenyum dan berkata. "Iya buk, tadi Widia nyari saya. Katanya suruh bantu ibu jualan."
"Ngarang aja lo Dik." Widia mendoyor kepala Dika.
"Widia kok gak sopan gitu sih," tegur Ibu Asih kepada Widia.
"Ngga apa-apa buk, udah biasa kok... Jadi Dika boleh bantu ibu jualan kan?."
"Boleh dong... Kamu kan calon mantu ibu, masak gak boleh."
"Ibuu..." ucap Widia dengan wajahnya yang memerah karena malu.
"Wah ini calon mantunya buk?. Ganteng banget... kayak artis-artis di TV," kata ibu-ibu yang sedang berbelanja di kios Ibu Asih
"Kalo calon mantu yang kayak gini, saya mah juga mau bukk... Bisa dipamerin ke ibu-ibu arisan," sahut ibu-ibu pembeli lainnya.
"Ah ibu-ibu ini bisa aja," kata Dika ke ibu-ibu pembeli.
"Ibu-ibu ini kok malah muji Dika sih... Jadi besar kepala ni bocah," kata Widia dalam hati.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kak😊...
Terima kasih 🙏🤗❤️