
Siang harinya Widia dan Intan ke rumah Bryan untuk belajar bersama seperti yang mereka rencanakan tadi pagi di kantin.
"Yang bener ini rumahnya Bryan?. Bagus banget..." ucap Intan yang berdiri di depan rumah Bryan sambil melihat kagum rumah mewah bagaikan vila yang ada di hadapannya.
"Dari alamatnya sih ini Tan. Yuk kita masuk, Byan tadi WA suruh kita langsung masuk aja."
Merekapun memencet bell dan keluarlah satpam rumah itu.
"Wah Pak Abi ternyata masih jadi satpam ya," ucap Widia dengan mudahnya.
"Kok kamu bisa tau nama saya?."
"Iya Wid, kok kamu bisa tau sih?" tanya Intan yang heran.
"Duhh... gue keceplosan..." ucap Widia dalam hati.
"Hmm... itu... Bryan yang kasi tau pak. Kami temennya."
"Ohh temennya... Kalo gitu langsung masuk aja."
Merekapun masuk dan belajar bersama, disana juga ada Dimas yang sudah datang lebih awal.
Widia melihat-lihat sekeliling untuk mencari kakeknya atau Tuan Dharma. Namun dari tadi dia tidak melihat kakeknya. "Kakek dimana Bang?. Dari tadi Widia nggak lihat?."
"Kakek biasalah lagi dikantor, ntar aja jam 4an pulang. Perhatian banget kamu sama kakek."
"Widia kan cuma pengen tau aja bang..."
"Iya...iya... kalo gitu abang tinggal ke toilet dulu ya."
"iya bang."
"Kak Dimas suka hulk ya?," tanya Widia pada Dimas.
"Iya dari kecil aku suka hulk, kok kamu tau sih?."
"Ya tau lah kak, case HP kakak aja hulk, kotak pensil hulk, sampai cover buku kak Dimas juga hulk."
"Iya juga ya, kelihatan banget aku suka hulk... Oh ya, aku juga bawa coklat, ada lima lagi. Kalian mau nggak?." Dimas mengeluarkan coklat dari tasnya.
"Wah boleh kak, Widia suka banget sama coklat. Kak Dimas suka coklat ya?. Bawanya banyak banget."
"Iya, aku suka banget sama coklat, ini buat kamu." Dimas memberikan coklat pada Widia.
"Makasi ya kak."
"Iya... kalo ini buat Intan." Dimas juga memberikan coklat pada Intan.
"Makasi kak Dimas."
"Seneng banget rasanya dikasi coklat sama kas Dimas..." kata Intan dalam hati.
"Iya, sama-sama."
Dimas tidak sengaja menjatuhkan bukunya, kemudian dia membungkuk untuk mengambil buku tersebut. Kalung yang dipakai Dimaspun keluar dari dalam bajunya. Dimas memang selalu memakai kalung tetapi ia juga selalu tidak memperlihatkannya dan memakainya didalam baju. Widia yang melihat kalung Dimas bengong karena teringat akan sesuatu.
»»»»» Kilas Balik «««««
"Sini bawa coklat kamu!" kata seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun kepada seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang tak lain adalah Candra atau Widia waktu kecil yang sedang duduk di ayunan.
"Aku ngga mau!... Coklat ini punya aku!..."
"Emang aku perduli?." Anak tersebut langsung merampas coklat yang dibawa Candra.
"Hiks..hiks...hiks... itu coklat Candra... kembaliin!..."
"Dasar cengeng!. Sekarang coklat ini punya aku!" bentak anak nakal tersebut pada Candra.
"Jangan ganggu dia!" teriak seorang anak laki-laki berusia 7 tahun sambil membawa seekor anjing.
"Emang kamu siapa iku campur?!. Kamu itu lebih kecil, jangan berani-berani lawan aku!."
"Siapa bilang aku ngga berani sama anak nakal kayak kamu?."
Brukk...
Anak itu langsung mendorong si anak nakal hingga terjatuh. Anak nakal yang merasa tidak terima dirinya dikalahkan oleh anak yang lebih kecil, langsung bangun dan mendorong anak laki-laki itu hingga terjatuh.
Guk...guk...guk...guk...
Anjing yang tidak terima tuannya disakiti, langsung menggonggong anak nakal itu. Anak nakal itu kemudian kabur karena ketakutan.
"Makasi ya Moza..." ucap anak laki-laki itu pada anjingnnya sambil mengelus kepala anjingnnya.
Anak laki-laki itu kemudian menghampiri Candra yang masih menangis dan duduk di ayunan. "Kamu jangan nangis lagi ya."
"Hiks..hiks... tapi coklat Candra udah diambil... hiks..."
Anak laki-laki itu mengeluarkan coklat dari kantongnya. "Aku punya coklat juga, ini buat kamu aja."
"Beneran ini buat Candra?."
"Iya, ini buat kamu... Kamu suka coklat ya?."
Candra tersenyum dan menerima coklat dari anak laki-laki itu. "Iya... Candra suka coklat. Makasi ya kak."
"Iya sama-sama... Kita main kejar-kejaran yuk sama Moza, anjing aku."
"Ayok... Candra juga punya anjing di rumah, Candra suka main sama anjing."
Merekapun kembali duduk di ayunan setelah lelah bermain kejar-kejaran.
"Nama kakak siapa?" tanya Candra.
"Nama aku Di--" Belum selesai anak laki-laki itu bicara, Candra sudah memotong perkataannya.
"Gimana kalo Candra panggil kakak Choco?."
Anak laki-laki itu mengerutkan alisnya. "Choco?... Kok kayak nama anjing tetangga aku sih."
Candra tertawa. "Wkwkwk... bukan kak, maksud Candra bukan gitu... Candra panggil kakak Choco karena Candra suka coklat, Candra juga suka sama kakak."
"Kalo gitu gak apa-apa deh Choco... Kan itu kamu yang buat."
"Jadi Choco ya kak..." ucap Candra dengan senyuman manisnya.
"Iya..." jawab anak laki-laki itu juga dengan senyuman.
"Kakak selalu pake kalung ya?."
"Hmm... iya... kata mama, kalung ini cuma punya aku."
"Abang aku juga punya kalung, kalung itu juga dipake Bang Iyan sama keluarga aku aja. Tapi cuma aku yang ngga punya..." Telihat ekspresi sedih di wajah Candra.
"Kenapa Candra?."
"Aku juga ngga tau... Tapi aku punya yang lebih bagus, isi nama aku lagi." Candra menunjukkan gelang yang dipakainya.
"Waah... bagus banget..."
"Gelang ini Bang Iyan yang kasi, dia buat sendiri khusus untuk Candra. Nanti Candra mau buat 2 gelang, satu untuk Bang Iyan dan satu lagi untuk Choco."
"Beneran kamu mau buatin aku gelang?..."
"Ya udah kalo gitu, besok sore aku tunggu disini."
"Iya..." Candra kemudian berlari meninggalkan Choco.
"Jangan lupa..." teriak Choco.
"Iya..." jawab Candra sambil tetap berlari.
»»»»»»»»»»»«««««««««««
"Kenapa bengong Wid?" tanya Bryan yang baru datang.
"Ngga apa-apa bang... Oh ya, Bang Iyan temenan sama Kak Dimas udah lama?."
"Udah lah, kita temenan dari kecil. Kita satu sekolah waktu SD. Dari kecil Abang, Dimas, sama Dika sering main bola di taman."
"Pantesan kalian akrab banget."
"Iya Wid, kita ini udah kayak saudara Wid," jawab Dimas.
"Iya kak, kelihatan banget."
"Ternyata Di-- waktu itu Dimas. Kalung yang dipake Kak Dimas sama kayak kalung yang dipake Choco. Waktu itu Choco juga bilang dia satu sekolah sama Bang Bryan, dia juga suka hulk sama makan coklat... Dulu kita sering main di taman waktu sore. Nggak nyangka sekarang kita bisa ketemu lagi," pikir Widia.
"Oh ya, aku juga ada janji sama Willy. Aku tinggal dulu ya Widia, Intan, Bryan..."
"Iya kak," jawab Widia dan Intan.
"Iya Dim," jawab Bryan.
Ketika ingin pulang, Widia melihat kakeknya Bryan atau Kakek Dharma sedang duduk di sofa.
"Eh, Ada temennya Bryan..."
"Sore kakek..." Widia mencium tangan Kakek Dharma.
"Sore Kakek..." Intan menyalami tangan Kakek Dharma."
"Setelah 11 tahun akhirnya Candra ketemu sama kakek..." ucap Widia dalam hati.
"Kakek kelihatannya capek banget," ucap Widia.
"Iya nak, kaki kakek pegel banget."
"Widia pijit ya kek?."
"Ngga usah repot-repot nak."
"Ngga apa-apa kek..." Widia langsung memijit kaki kakek Dharma.
"Senyum anak ini mirip banget sama Candra. Aku ngerasa seperti dipijit sama cucuku," pikir Kakek Dharma.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya kakek Dharma sambil menatap Widia yang sedang memijit kakinya.
Widia memandang kakek. "Maksud kakek apa?..."
"Kakek ngerasa deket sama cucu kakek..." jawab kakek Dharma dengan wajahnya yang terlihat sedih.
Mendengar perkataan kakek membuat Widia terharu. "Mungkin ini cuma perasaan kakek aja... Maaf kek, Widia permisi dulu..." Widia meninggalkan rumah Bryan, ia takut tidak bisa menahan air matanya jika terlalu lama bersama dengan kakeknya.
"Widia..." Bryan mengejar Widia.
"Widia... Saya juga permisi kek." Intan juga ikut mengejar Widia.
Bryan dan Intan mengejar Widia sampai di depan gerbang.
"Kamu kenapa tiba-tiba pergi Wid?" tanya Bryan.
"Widia cuma keinget sesuatu ajak Bang... Udah sore, Widia lupa kasi makan anjing di rumah. Widia pulang dulu, makasi ya Bang," jawab Widia yang kemudian langsung pergi.
"Widia..." ucap Bryan.
"Intan juga pulang dulu ya kak, makasi ya kak Bryan."
"Iya sama-sama."
"Widia kenapa ya, kayak ada yang aneh," gumam Bryan.
*********
Malam harinya Widia berbaring di kasurnya sambil memikirkan kejadian tadi siang.
"Maafin Candra kek... Candra cuma nggak mau bikin kakek susah lagi, Candra sayang kakek..." ucap Widia dalam hati. Tanpa disadari air mata mengalir membasahi pipinya.
Ibu Asih membuka pintu kamar Widia. "Widia kenapa tumben tidur jam segini ya?" pikir Ibu Asih yang melihat anaknya tidur lebih awal dari biasanya.
"Widia... Kamu kenapa sayang?. Sakit ya?." Ibu Asih berjalan mendekati Widia. "Eh, kamu kenapa nangis nak?."
"Buk..." Widia memeluk ibunya.
"Kamu kenapa..." Ibu Asih mengelus rambut anaknya.
"Bu... Widia tadi ke rumah Bang Iyan... Widia akhirnya ketemu sama kakek..."
"Kamu udah ketemu sama Bang Iyan kakak kamu dan kakek kamu?."
"Iya buk... Widia seneng ketemu mereka, Widia bersyukur Bang Iyan sama kakek sampai sekarang baik-baik aja... "
"Syukurlah nak... sekarang rencana kamu apa?... Ibu ikhlas kok kalo kamu kembali ke keluarga kamu, asalkan kamu bahagia ibu juga bahagia, ibu yakin bapak juga akan bahagia..." Air matapun mengalir di pipi Ibu Asih. Sebenarnya Ibu Asih belum ikhlas jika melepaskan anaknya, ia sangat menyayangi Widia walaupun Widia bukan anak kandungnya. Ia selalu berharap yang terbaik untuk anaknya, dan apapun rela ia lakukan untuk Widia.
"Ibu jangan bilang gitu... Widia akan tetep tinggal sama ibu sama bapak... Widia tau kakek sama Bang Iyan baik-baik aja, itu udah cukup... Widia gak mau nyusahin kakek lagi..."
"Kamu jangan bilang gitu nak, kakek kayak gitu pasti ada sebabnya... Kamu anak baik, Ibu sayang kamu nak..."
"Widia juga sayang ibuk... Makasi ya buk..."
"Iya sayang... Kamu berhenti nagis..."
"Ibuk juga berhenti nagis... Maafin Widia buk..." Widia mengusap air mata ibunya.
"Kamu nggak perlu minta maaf... Ibu nggak nagis lagi kok sayang... Kamu tidur gih, besok kan sekolah."
"Iya buk... Ibuk temenin Widia tidur disini ya."
"Iya sayang..."
Bu Asih kemudian menemani Widia tidur.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kak 🤗...
Maaf jika banyak kesalahan dalam novel ini. saya baru pertamakali membuat novel, jadi mohon pemaklumannya kakak😊...
Terima kasih 🙏💕...