
Di tengah teriknya matahari, Dika, Restu, dan seorang siswa lainnya berlari mengelilingi lapangan sekolah. Widia yang kebetulan lewat memperhatikan Dika dari jauh.
"Akhirnya Dika udah sehat, udah bisa sekolah lagi. Tapi kasihan banget harus lari di tengah lapangan panas-panas gini. Nggak kapok-kapok kena hukum tu bocah..." batin Widia.
Selain Widia, di sana juga ada beberapa siswi lainnya yang memperhatikan Dika yang sedang berlari, mereka tak lain adalah fans Dika.
"Ya ampun... Kak Dika ganteng banget..." ucap salah satu siswi.
"Gue selalu pengen lihat dia senyum, biar kelihatan gigi gingsulnya..." ucap siswi lainnya.
Dika membenarkan rambutnya yang sudah basah dengan keringat menggunakan tangan agar tidak menutupi matanya sambil tetap berlari.
"Iihh... Rambutnya itu loh, basah sama keringat, keren bangett..." ucap salah siswi lainnya.
Sejenak Dika mempelankan langkahnya karena sudah merasa lelah.
"Dikaa... jangan jalan!. Bapak suruh lari!" teriak Pak Ari yang sedang mengawasi para murid yang dihukum.
"Iya pak..." teriak Dika dan kembali berlari.
"Aaa... gigi gingsulnya..." teriak seorang siswi.
"Ish... ni ciwi-ciwi apaan sih, alay banget..." batin Widia.
"Ustt... Dika..." ucap Restu dengan nada rendah pada Dika yang berlari di depannya. Namun Dika tidak mendengar Restu yang memanggilnya. Akhirnya Restu mempercepat langkahnya dan kembali memanggil Dika. "Dika... Dika..."
"Hah... Paan sih?..." ucap Dika dengan nafas yang sudah ngos-ngosan.
"Itu, di selatan..." ucap Restu.
Dikapun menoleh ke arah selatan dimana Widia sedang berdiri memperhatikannya.
"Ya ampun, Dika ngelihat gue..." batin Widia. Widia langsung pergi karena Dika sudah menyadari keberadaannya.
"Tu bocah kenapa kabur?. Kayak ngelihat setan aja. Jangan-jangan si Onyet ada masalah lagi," batin Dika. Dika kemudian berlari keluar lapangan dan ingin mengejar Widia.
"Yah, si Dika... Dasar bucin..." ucap Restu dalam hati.
Pak Ari langsung memanggil Dika karena Dika berlari keluar lapangan. "Dikaa!..."
Dikapun menghentikan langkahnya. "Iya pak," ucap Dika.
"Kamu mau kemana?. Kamu mau kabur?!. Makanya bikin PR kalo nggak mau dihukum!."
"Nggak kok pak, saya cuma mau ke toilet pak."
"Toilet kan di barat, kamu kenapa ke selatan?. Jangan bohong kamu!."
"Saya... maksud saya..." ucap Dika yang terlihat bingung.
"Mau saya tambah hukuman kamu?!."
"Eh, jangan pak. Maaf pak, saya nggak bermaksud kabur kok."
"Cepat lari sekarang!."
"Baik pak..." Dikapun melanjutkan hukumannya berlari keliling lapangan.
"Mudah-mudahan si Onyet nggak kenapa-kenapa," batin Dika.
************
Jam istirahat, seperti biasa Widia dan Intan makan di kantin. Datang Dika dan Restu menghapiri mereka. Dika langsung duduk di samping Widia dan Restu duduk disamping Intan. Sama halnya seperti Widia dan Dika, Intan dan Restu sudah berbaikan karena masalah taruhan kemarin.
"Dika ngapain sih kesini?..." batin Widia.
"Lo tadi nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Dika.
"Maksud lo apa?."
"Tadi gue lihat lo buru-buru."
"Gue cuma mau ke perpustakaan aja."
"Ooh..."
"Dika..." ucap Aulia yang baru datang dan langsung ikut duduk disana.
"Wah kayaknya bakal ada drama lagi," batin Restu.
"Aulia?..." ucap Dika.
Aulia menatap Widia yang duduk di samping Dika. Widiapun menyadari bahwa Aulia memberikan isyarat untuknya agar pergi, Widia pun berdiri.
"Lo mau kemana?" tanya Dika.
"Gue mau ke perpustakaan," jawab Widia. Sebenarnya Widia tidak ingin pergi ke perpustakaan, itu hanya alasannya untuk pergi dari sana.
Dika pun juga ikut berdiri. "Gue ikut ya."
"Ternyata bener Dika suka sama Widia," batin Aulia.
"Nggak usah Dik, itu kan ada Kak Aulia," ucap Widia.
"Iya Dika, kita kan baru ketemu. Lagian lo mau ngapain ke perpustakaan?" ucap Aulia.
"Ya gue mau ke perpustakaan aja. Gue kan juga murid disini, nggak ada larangan untuk gue ke perpus."
"Gue mau belajar bareng Kak Dimas Dik. Semuanya, gue duluan ya... Yuk Tan," ucap Widia.
"I-ya..." ucap Dika.
"Kak Restu, semuanya, Intan duluan ya," ucap Intan.
"Iya Tan," ucap Restu.
Widia dan Intan pun pergi dari sana.
"Ya udah Nyet, gue nggak akan ganggu lo," batin Dika yang menatap Widia berjalan pergi.
"Udah lah Dika, duduk aja lagi," ucap Aulia.
Dika pun kembali duduk. "Lo sekolah disini juga?."
"Iya, baru beberapa hari ini. Gue satu kelas sama Dimas... Katanya kemarin-kemarin lo nggak sekolah karena sakit mata ya?."
"Iya, sekarang udah nggak sakit lagi."
"Bagus deh kalo udah nggak sakit. Ngomong-ngomong ntar malem lo ikutan nggak?."
"Ikut apaan?."
"Kan ntar malem keluarga lo ngadain acara makan malam."
"Makan malan dalam rangka apaan?."
"Lah, lo nggak tau ya?. Ntar malem papa gue sama papa lo kan pulang dari luar negeri. Jarang-jarang loh mereka dapat di sini."
"Ooh... gue kira ada acara apaan," ucap Dika.
"Gue harus segera kasi tau papa, sebelum papa ke luar negeri lagi, biasanya papa cuma beberapa hari disini," batin Dika.
"Lo ikut kan?" tanya Aulia.
"Mereka ngobrol berdua aja, gue ngerasa kayak jadi butiran debu disini. Kenapa nggak bunyi aja sih lo bell..." batin Restu.
Kring... Kring... Kring...
Suara bell masuk kelas.
"Heheh... cepet banget doa anak soleh terkabul," batin Restu.
"Kenapa nggak ikut?" tanya Aulia lagi.
"Nggak pengen aja... Udah bell, gue ke kelas ya."
"Iya, gue juga mau ke kelas."
Mereka pun pergi menuju kelas masing-masing.
*** di perjalanan menuju kelas
"Lo nyadar sesuatu nggak sih?" tanya Restu.
"Nyadar apaan?."
"Kalo dilihat-lihat, kayaknya Aulia suka sama lo."
"Emang lo tau darimana?."
"Dari gerak-geriknya aja udah kelihatan kalo dia suka sama lo. Masak lo nggak nyadar sih kalo Aulia dari dulu suka sama lo."
"Sok tau lo... Gue sama Aulia udah kayak saudara sendiri, manamungkin dia suka sama gue."
"Yah, nggak percaya..."
****************
Sepulang sekolah Dika berpapasan dengan Widia dan Dimas di parkiran.
"Widia, Dimas..." ucap Dika.
"Dika..." ucap Widia dan Dimas.
"Lo ikut ntar malem?" tanya Dimas.
"Nggak bang. Kalo lo ikut Nyet?."
"Iya, gue ikut."
"Kita duluan ya," ucap Dimas.
"Iya..."
Dimas dan Widia pun pergi.
"Gue seneng walau cuma jadi temen lo Nyet. Semoga lo bahagia sama Dimas," batin Dika.
***************
Di perjalanan pulang, Dika menghapiri Aulia yang berdiri di depan sekolah.
"Aulia..." ucap Dika.
"Dika..."
"Lo kenapa diem disini?."
"Gue belum dijemput, nggak tau nih tumben telat."
"Gimana kalo ikut gue aja?."
"Boleh..."
"Yuk naik."
Aulia pun pulang bersama Dika.
********** di perjalanan pulang.
"Lo kenapa pake motor kayak gini sih?."
"Ya mau gimana lagi, gue cuma punya ini."
"Gue ada kok motor, lo bisa pinjem motor gue."
"Makasi ya, tapi nggak usah deh. Walaupun motor vespa ini bukan vespa matic dan cuma motor bekas, tapi motor ini hasil jerih payah gue sendiri. Gue udah sayang sama motor ini dan gue udah nyaman pake motor ini."
"Lo hebat ya Dik, udah bisa mandiri."
"Biasa aja kali."
"Walaupun Dika pake motor kayak gini, dia tetep keren di mata gue," batin Aulia.
**** sesampai di depan rumah Aulia.
"Makasi ya Dika," ucap Aulia.
"Iya sama-sama, gue duluan ya."
"Nggak mau mampir dulu?."
"Nggak usah, lain kali aja."
"Dika..."
"Ada apa?."
"Ada yang mau gue bilang sama lo."
"Ya udah, bilang aja."
"Dika, gue... gue... Gue sayang sama lo, kalo lo?..." ucap Aulia dengan malu-malu.
"Iya, gue juga sayang sama lo. Kita kan dari kecil udah bareng-bareng, gue udah anggap lo kayak saudara gue sendiri."
Aulia menatap Dika dengan kecewa.
"Udah beberapa kali lo nanya ini ke gue, lo nggak percaya sama gue?" ucap Dika.
"Gue nggak mau cuma jadi saudara lo, gue mau lebih dari itu. Lo nggak peka baget sih jadi cowok!." Aulia langsung berlari masuk kedalam rumah.
"Aulia..." teriak Dika, namun Aulia tidak menghiraukannya.
"Jadi bener yang dibilang Restu. Maafin gue Aulia, gue udah anggep lo saudara sendiri dan di hati gue sampai sekarang cuma ada Widia," batin Dika.
°
°
°
Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya, agar author lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...