
Sekitar pukul 14.00 siang Aulia juga datang menjenguk Dika. Tak berselang lama disusul dengan kedatangan Bunga, Willy, Clara, Monica, Rani, Adit, dan Bintang. Karena kehadiran mereka semua, ruang rawat Dika menjadi sangat ramai. Mereka pun berbincang-bincang santai.
"Pstt..." bisik Dika kepada Adit.
"Apa?" tanya Adit.
"Tiba-tiba udah punya pacar aja..." ucap Dika sembari memandang Bintang yang sedang mengobrol dengan Widia dan Intan.
"Emang kalo gue punya pacar, gue harus laporan dulu gitu sama lo?"
"Nggak sih... Tapi bagus deh, saingan gue udah punya pacar. Gue bisa tenang sekarang," ucap Dika dengan nada bercanda.
"Matan saingan," ucap Adit juga dengan nada bercanda.
"Gila, kalo diingat-ingat lucu juga," ucap Dika yang diakhiri dengan tawa kecil.
Mereka berdua pun tertawa karena mengingat masa-masa saat mereka sering bertengkar.
"Kalian berdua ngapain ketawa-ketawa? Kayaknya bahagia banget hidup kalian," tanya Restu karena melihat Dika dan Adit tertawa.
"Yee... Biarin je orang bahagia," ucap Dika.
Tiba-tiba seorang perawat datang dan memecah keramaian diantara mereka. Seketika semua pun menjadi diam serta keadaan berubah menjadi sunyi.
"Mohon maaf, lebih baik beberapa dari kalian keluar. Tidak baik untuk pasien jika keadaan ramai seperti ini," ucap perawat tersebut.
"Tapi saya nggak apa-apa kok sust," ucap Dika.
"Tapi juga sudah memang merupakan peraturan rumah sakit yang membatasi jumah pengunjung," ucap perawat.
"Suster itu bener Dik. Lo juga perlu istirahat," ucap Willy.
"Kalau gitu kita pulang aja. Besok-besok kita kesini lagi," ucap Adit.
"Kak Dika..." ucap Monica.
"Iya?..." ucap Dika.
"Ya ampun, Kak Dika cuma bilang 'iya' aja bisa bikin gue meleleh dengernya," batin Monica.
"Kak Dika cepat sembuh, biar bisa sekolah lagi..." ucap Monica malu-malu.
"Iya, makasih ya," ucap Dika yang diakhiri dengan senyuman.
Monica pun juga tersenyum. "Ah, Kak Dika jangan senyum, Monica kan jadi meleleh..."
"Monica alay banget," batin Clara.
Dika hanya tertawa kecil sementara Widia menatap Monica dengan tatapan cemburu.
Monica pun sadar jika Widia terus-menerus menatapnya. "Lo santai aja Wid, gue nggak suka sama Kak Dika. Tapi gue cuma ngefans aja hehe..."
"Eh, nggak apa-apa, ambil aja," ucap Widia dengan nada bercanda.
"Ah, lo..." ucap Monica dengan nada bercanda.
"Kak Dika urusin tuh Widia, dia cemburu, wkwkwk..." ucap Monica kepada Dika.
"Iya, dia orangnya emang cemburuan, wkwkwk..." ucap Dika.
"Eh, nggak kok," tungkas Widia.
"Monica pulang dulu ya kak," ucap Monica kepada Dika.
"Lo pulangnya hati-hati, makasi ya udah datang," ucap Dika.
"Iya kak," ucap Monica kemudian pergi bersamaan dengan Clara dan Rani.
Semua pun akhirnya memilih pulang kecuali Widia dan Bryan.
"Kalian nggak pulang?" tanya Dika.
"Gue masih mau disini," jawab Widia.
"Gue terserah adek gue aja," ucap Bryan.
"Tapi kalian belum ganti baju, kalian masih pakai seragam sekolah," ucap Dika.
"Santai aja, lagian baru jam empat," ucap Bryan.
"Kita nggak apa-apa kan masih disini sust?" tanya Widia kepada perawat yang sedang mengganti infus Dika.
"Tidak apa-apa, jika pengunjungnya hanya dua orang masih diperbolehkan," ucap perawat. Karena perawat tersebut sudah selesai melakukan tugasnya, ia pun langsung pergi.
Disisi lain Clara, Monica dan Rani sedang berjalan menuju mobil sembari berbincang-bincang.
"Lo ngapain senyum-senyum?" tanya Clara karena melihat Monica senyum-senyum sendiri.
"Gue bahagia banget bisa ngobrol sama Kak Dika. Kenapa ya Kak Dika bisa seganteng itu? Dia mandi pakai sabun apa ya? Aaa... gue meleleh kalau inget senyumnya," ucap Monica yang masih senyum-senyum sendiri.
"Ya gue emang dari lahir udah kayak gini. Lo tau sendiri kan gue dari dulu emang kayak gini," ucap Monica.
"Lo suka sama Kak Dika?" tanya Clara kepada Monica.
"Huh, gue ngefans sama Kak Dika," jawab Monica.
"Gimana kalo gue bantu lo buat dapetin Kak Dika?" tanya Clara.
"Hah?" ucap Monica bingung.
"Iya, gue bantu lo sampai bisa jadi pacarnya Kak Dika. Selain gue, Rani juga akan bantu lo. Iya kak Ran?" ucap Clara.
"Iya, kita pasti bantu lo," ucap Rani.
"Nggak usah, gue nggak mau. Gue emang ngefans sama Kak Dika, tapi gue nggak cinta sama dia. Gue cuma mengagumi kegantengannya aja, Kak Dika belum sampai ke hati gue," ucap Monica.
"Tapi lo bisa dapetin Kak Dika dan disisi lain gue juga bisa balas dendam sama Widia," ucap Clara.
"Nggak, nggak, gue tetep nggak mau. Lagian salah Widia sama lo apa sih? Setelah lama kenal Widia, gue sadar, dia itu orang baik, dan dia nggak pernah ganggu kita. Lo itu cuma iri aja sama dia Ra," ucap Monica.
"Ish, gue nggak pernah iri sama Widia," tungkas Clara.
Monica tersenyum heran. "Ck!"
"Lo kenapa berubah sih?" tanya Rani.
"Gue nggak berubah, gue cuma belajar lebih banyak aja," jawab Monica.
"Dikasi kesempatan bagus malah nggak mau," ucap Clara.
"Kenapa nggak lo aja yang ngejar Kak Dika? Lagian dulu kan lo yang suka sama Kak Dika. Atau jangan-jangan sekarang lo masih suka sama Kak Dika? Dan lo cuma terpaksa nerima cintanya Kak Willy?" tebak Monica.
"Jangan sok tau lo!" tungkas Clara.
"Sebenarnya gue setuju sama ucapan Monica. Karena gue juga ngerasain hal yang sama," batin Rani.
Ketika Dimas kembali ke ruang rawat Dika, ia mendapati Bryan dan Widia masih berada disana. Suasana diantara Dimas, Widia, dan Bryan pun terasa sangat canggung. Mereka berempat hanya diam tanpa berbicara satu sama lain. Beberapa kali Dika berusaha memecah suasana dengan mengajak mereka mengobrol. Namun baru beberapa perbincangan keadaan kembali menjadi hening.
"Gue nggak nyamam banget ada Dimas," batin Bryan.
"Dek, pulang yuk. Udah sore, kita ganti baju dulu, setelah itu kita balik kesini lagi," ucap Bryan kepada Widia.
Widia menganggukkan kepalanya. "Iya bang."
"Dika, gue pulang dulu ya. Nanti gue pasti kesini lagi," ucap Widia.
"Gue pulang Dik," ucap Bryan.
"Iya..." balas Bryan.
Bryan dan Widia pun beranjak pergi.
"Bryan, Widia..." ucap Dimas untuk mencegah Bryan dan Widia pergi.
Bryan dan Widia pun menghentikan langkahnya dan Dimas pun menghampiri mereka.
"Gue.. gue mau minta maaf sama kalian. Terutama sama lo Widia," ucap Dimas dengan rasa bersalah.
"Iya kak, Widia udah lupain semuanya," ucap Widia diakhiri dengan senyuman.
"Makasi banyak Wid," ucap Dimas.
"Santai aja kak, nggak usah bilang makasi kak," balas Widia.
Berbeda dengan Widia yang sudah memaafkan Dimas, Bryan hanya menatap Bryan tanpa berkata sepatah kata pun.
"Gue tau gue banyak salah sama lo. Tapi gue mohon maafin gue. Gue akan lakuin apa pun biar lo mau maafin gue," ucap Dimas. Terlihat raut wajah Dimas yang menunjukkan rasa penyesalan.
"Kayaknya Dimas benar-benar menyesal. Dengan dia mau berusaha untuk berubah aja udah cukup. Gue nggak pantes terus-terusan marah sama dia," batin Bryan.
Bryan pun merasa tidak tega melihat raut wajah Dimas. "Iya Dim."
"Widia tau bang, Bang Iyan bukan orang yang berhati keras. Bang Iyan pasti maafin Kak Dimas," batin Widia.
"Makasi banyak Yan," ucap Dimas.
"Gue juga minta maaf kalau selama ini gue ada salah sama lo."
"Lo nggak usah minta maaf, lo nggak ada salah sama gue," ucap Dimas.
"Gue duluan, nanti gue kesini lagi."
"Iya..." balas Dimas.
Bryan dan Widia pun kemudian pergi.
BERSAMBUNG••••••••