Choco

Choco
Nonton Bareng



Terima kasih sudah mampir 🤗...


Selamat membaca 💕...


••••••••••••••••••••


Rombongan para murid kelas 10 IPA 1 yang baru datang dari ruang komputer, berjalan menuju kelas, begitu juga dengan Widia dan Intan. Dari arah yang berlawanan, terlihat Dika dan Restu berjalan sambil membawa ember dan pel.


"Dika pasti dihukum lagi..." batin Widia.


Widia memperhatikan Dika yang berjalan mendekat, beharap Dika akan menyapanya seperti biasa. Berbeda dengan Restu yang menyapa Widia dan Intan, Dika hanya berjalan begitu saja melalui Widia tanpa memperdulikannya.


"Kenapa tumben Kak Dika nggak nyapa kamu Wid?" tanya Intan.


"Gue juga nggak tau Tan..." jawab Widia.


"Apa ini gara-gara kejadian kemarin?... Gue sendiri yang suruh Dika ngejauhin gue,


seharusnya gue nggak bicara kayak gitu sama Dika," batin Widia.


Clara yang berada di belakang memperhatikan hal tersebut.


"Kayaknya Widia sama Kak Dika lagi berantem," batin Clara.


"Hai kak Dika..." sapa Clara dengan senyuman.


"Hmm... hai..." balas Dika dengan senyuman kecil dan langsung pergi.


"Aaa... Senyumnya Kak Dika," ucap salah seorang siswi.


"Kak Dika ganteng bangett..." ucap siswi lainnya.


"Heh!... Kak Dika itu pangeran bervespa putih gue!. Awas lo ambil-ambil!..." Ancam Monica pada dua orang siswi tersebut.


"Ish... apaan sih lo..." ucap siswi tersebut.


"Lo bilang apa Mon?!..." tanya Clara pada Monica.


"Hmm... iye deh, iya... punya lo... Tapi mau gimana lagi, Kak Dika ganteng bangettt..."


"Ya ampun Monicaa... terpesona sih terpesona, tapi jangan lebay kayak gitu!" ucap Rani.


"Yee... biarin... Tapi gue bener-bener iri sama lo Clara," ucap Monica.


"Nggak ada yang bisa nolak gue..." ucap Clara sombong sambil menatap Widia.


Widia yang dari tadi memang memperhatikan Clara langsung mengalihkan pandangannya. "Gue nggak boleh sedih..." batin Widia.


Sesampai di kelas karena belum ada guru, Widia duduk sambil menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan.


"Dika... kenapa lo diemin gue?... Dika... gue cuma suruh lo ngejauhin gue, bukan diemin gue... Dika... Dikaa... Dikaaa..." ucap Widia dalam hati.


Disisi lain Dika dan Restu sedang menerima hukuman membersihkan toilet karena tidak membuat PR.


"Duuh..." ucap Dika sambil menggosok alisnya.


"Lo kenapa Dik?" tanya Restu.


"Nggak tau nih, alis gue gerak mulu, kesel gue."


"Mana? coba gue lihat." Restu pun memperhatikan alis Dika.


"Eh, iya... Wkwkwkkwwk..."


Dika menatap malas pada Restu yang menertawainya. "Malah ketawa lagi lo..."


"Lucu aja gue lihatnya, wkwkwk... Tapi kata mama gue, kalo alis kita kedut-kedut, itu artinya ada yang bicarain kita atau ada yang kangen sama kita."


(Author : ternyata mitos semacam ini juga berlaku disini🙄)


Dika hanya tertawa mendengar ucapan Restu. "Huft... wkwkwkwkwk..."


"Yah, malah ketawa..."


"Wkwkwk... lagian lo ada-ada aja, masak bisa sih kayak gitu?... Bayangin aja coba, Justin Bieber, yang bicarain dia seluruh dunia. Masak terus alisnya kedut-kedut, kalo gitu, bisa-bisa seluruh badannya nggak bisa diem. Wkwkwkk... menderita banget jadi dia kalo kayak gitu... wkwkwkwk... Restu, Restu..."


"Wkwkwk... Iya juga sih..."


"Kenapa gue tiba-tiba inget Widia ya?" batin Dika.


Sementara itu Widia yang galau, masih menelungkupkan wajah di atas lipatan tangannya.


Intan yang melihat Widia dari tadi hanya diam mencoba mengajaknya berbicara.


"Widia..." ucap Intan sambil memegang pundak Widia.


Widiapun langsung bangun. "Iya Tan..." ucap Widia lesu.


"Kamu nggak apa-apa kan?. Kok dari tadi diem aja?" tanya Intan.


"Iya, lo kenapa?" tanya Adit.


"Gue nggak apa-apa kok, cuma lagi pengen diem aja."


"Tapi muka lo lesu gitu," ucap Adit.


"Pasti gara-gara Kak Dika kan?" tanya Intan.


"Ih, siapa bilang? nggak lah," tungkas Widia.


"Bagus deh kalo nggak."


"Tapi, kalo emang si Dika yang ganggu lo, lo tinggal bilang aja ke gue. Gue akan langsung samperin dia, dan kasi dia pelajaran," ucap Adit.


"Masih aja lo belain dia," ucap Adit.


"Belain aja terus, bela..." ucap Intan.


"Nggaak... apaan sih," ucap Widia.


* * * * * * * * * *


Malam harinya Widia dan Bryan sedang asik menonton pertandingan sepak bola.


"Yeay gool..." teriak Bryan girang karena tim idolanya berhasil mencetak gol.


"Yaah... kok tim gue bisa kebobolan sih..." ucap Widia.


"Yeye... 1-0, tim abang nggak mungkin kalah,"


"Jangan sombong bang, baru juga mulai. Lihat aja nanti..."


Beberapa menit kemudian tim jagoan Widia berhasil membalikkan keadaan menjadi 1-3.


"Gooollll..." teriak Widia sembari melompat kegirangan.


"Ini... ya ampunn... kok bisa kalah sih?!" ucap Bryan kesal.


"Wah, gokil sih ini, gokil... Hahah... lo kalah taruhan bang, lo harus traktir gue jajan 1 bulan..."


"Masak kalah sih tim gue?!" ucap Bryan tidak percaya.


Teng... teng... teng...


Widia memukul kaleng biskuit sambil mengejek Bryan.


"Ye ye ye ye... Abang kalah... abang kalah... yo yo yo..."


"Iye iyee..." ucap Bryan kemudian memeluk kelapa adiknya.


"Tapi Widia lapernya sekarang..."


"Lah, ini udah jm 01.35, masih mau makan?"


"Iyaa... Tapi Widia gak pengen makanan d kulkas, maunya yang masih anget"


"Siapa yang mau masakin jam segini, ada-ada aja..."


"Keluar yok bang, naik motor... Besok kan libur..." rayu Widia sambil memeluk Bryan.


"Iya deh iyaa... abang paling nggak bisa nolak permintaan adek abang yang tersayang ini..."


"Uuh... Bang Iyan ganteng emang terbaik..." ucap Widia sambil mencubit pipi Bryan.


"Abang tau kalo abang imut, nggak usah pake cubit-cubit."


"Yah, pede banget..."


Bryang pun mengajak Widia naik motor dan mencari tempat makan. Widia yang dibonceng oleh Bryan, memeluk Bryan dengan erat dari belakang karena dingin.


"Meluknya erat banget..." ucap Bryan.


"Dingin bang... kenapa? nggak boleh ya?"


"Boleh lah, peluk lebih erat lagi juga boleh... Tapi awas aja kalo boncengan sama orang lain meluknya seerat ini!."


"Nggak lah bang, manamungkin Widia berani. Palingan Widia cuma boncengan naik motor sama tukang ojek, bapak, Bang Iyan, sama..." ucapan Widia tiba-tiba terhenti.


"Sama Dika kan," sambung Bryan.


"I-ya..."


"Ngomong-ngomong abang boleh nanya nggak?."


"Nanya apaan?."


"Kamu kenapa bisa pacaran sama Dimas?."


"Maksud abang apa?..."


"Abang tau, pasti sebenarnya kamu suka sama Dika kan?."


Widia hanya diam dan tidak merespon pertanyaan Bryan.


"Bang Iyan kok bisa tau sih..." batin Widia.


"Kok diem?..." tanya Bryan lagi.


"Nggak lah bang, itu cuma perasaan abang aja kali," tungkas Widia.


"Tapi dari yang abang perhatiin, abang ngerasa kamu suka sama Dika, bukan sama Dimas."


"Berapa kali sih Widia harus bilang, Widia emang nggak suka sama Dika..."


"Ya udah, iya... abang percaya. Asalkan kamu bahagia, abang juga ikut bahagia..."


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya yaa agar author jadi lebih semangat🤗...


Terima kasih 🙏💕