
***** di perjalan pulang dari rumah sakit.
"Lo bener kan nggak apa-apa?" tanya Widia.
"Iya, gue nggak apa-apa. Kan udah gue bilang, obatin di rumah aja juga bisa. Gawat banget pake ke rumah sakit segala. Cuma dikasi obat sedikit aja udah baik kan," ucap Dika sambil tetap fokus menyetir.
"Gue khawatir sama lo..." ucap Widia dengan nada sedih sambil menundukkan kepalanya.
"Hei, hei, jangan sedih gitu dong wkwkwk..."
Widia menatap malas pada Widia. "Orang lagi serius malah ketawa.
"Gue nggak suka lihat lo sedih, makanya gue ngajak lo ketawa."
"Gue takut lo kenapa-kenapa. Setelah semua masalah yang terjadi, gue takut kehilangan lo lagi..."
"Gue janji, gue nggak akan kenapa-kenapa. Gue nggak akan tinggalin lo..." ucap Dika dengan lembut.
**** di depan rumah Widia
"Gue pulang ya," ucap Dika yang masih berada di dalam mobil.
"Nggak, lain kali aja. Sekarang udah sore, gue mau kasi makan bebek-bebek gue. Makasih ya Nyet."
"Iya, hati-hati." Widia pun keluar dari mobil.
"Eh, Nyet..." ucap Dika.
Widia pun berbalik dan menghampiri Dika. "Apa?"
"Sampai lupa gue, tadi gue ajak Moza kesini, gue taruh dia dibelakang sama anjing-anjingnya Bryan. Gak apa-apa kan gue titip dia dulu? Besok gue kan kesini lagi."
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Gue kangen banget sama Moza, udah lama gue nggak lihat dia. Lo tenang aja, gue akan jaga dia."
"Oke, makasi ya Nyet."
"Iya, gue masuk dulu."
Dika memegang tangan Widia yang hendak pergi. "Oh, ya..."
"Apa lagi?"
"Gue cuma mau bilang, gambar lo bagus, lain kali buat yang banyak," ucap Dika sambil tersenyum menggoda Widia.
Widia yang merasa kesal langsung mencakar tangan Dika hingga terluka.
"Ouch... sakit!" ucap Dika sambil mengusap tangannya yang terluka.
"Awas lo bilang kayak gitu lagi!" Widia pun angsung pergi meninggalkan Dika dan masuk ke dalam rumah.
"Yah, ngambek. Nyet..." teriak Dika. Namun Widia tetap berjalan meninggalkan Dika.
"Widia, Widia... wkwkwk... Galak banget tu cewek," gumam Dika sambil tertawa dan mengusap tangannya yang terluka.
* * * * * * * * * *
Setelah selesai memberi makan bebek, Dika menyempatkan diri singgah ke salah satu kedai kopi, karena Dimas mengirimkannya pesan untuk membelikan Dimas kopi.
Baru saja Dika sampai di depan kedai, Dika sudah dihentikan oleh salah satu pegawai di kedai kopi tersebut.
"Eh, kamu!" ucap pegawai tersebut.
"Iya? ada apa?" ucap Dika yang kebingungan.
"Pak satpam... satpam..." teriak pegawai tersebut.
"Apa sih mbak?!" Dika menjadi semakin kebingungan karena pegawai tersebut tiba-tiba memanggil satpam.
Datanglah satpam menghampiri mereka. "Kamu!" ucap satpam dengan kaget. Satpam tersebut langsung menarik Dika dan mengamankannya.
"Eh! Ini ada apa?! Bapak udah nggak waras ya?! Main narik-narik saya aja!" ucap Dika.
Dika dipegang oleh 2 orang pegawai laki-laki sementara Satpam tersebut langsung menelepon polisi dan melaporkan bahwa ia menemukan pelaku pencurian.
"Heh! Gila! Siapa yang nyuri?!" teriak Dika sambil meronta-ronta.
Karena Dika terus meronta-ronta, salah satu pegawai menyuruh temannya untuk mengambilkan tali. Karena tinggal satu orang yang memeganginya, kesepatan itu pun digunakan Dika untuk melakukan perlawanan. Dika pun berhasil melakukan perlawanan dan kabur, namun karena teriakan pegawai tersebut, Dika kembali berhasil ditangkap oleh orang-orang.
"Salah saya apa?!" tanya Dika.
"Jangan pura-pura tidak tau, kamu tadi siang mencuri di depan kedai ini. Temen kamu yang tadi siang dimana?" ucap Satpam.
"Hah?! Bapak udah gila! Manamungkin saya mencuri!" tungkas Dika.
"Kalau kamu nggak salah, kenapa kamu berusaha kabur? Jangan mengelak, jelas-jelas saya ingat betul wajah kamu dan saya juga ingat, jaket kamu ini sama dengan tadi siang!"
Dika pun terdiam mendengar ucapan satpam tersebut. "Dimas? Apa mungkin Dimas orang yang satpam ini maksud? Orang yang wajahnya sama dengan gue cuma dimas, dan jaket ini juga punya Dimas. Tapi kenapa Dimas sampai mencuri?" batin Dika.
"Kenapa diam?!"
"Saya tadi cuma panik. Bu-bukan saya yang mencuri pak..."
"Jangan bohong kamu!"
Beberapa saat kemudian datanglah polisi. Karena Dika sudah berusia lebih dari 18 tahun, Dika pun diproses hukum.
"Sial! Sial! Sial!..." gumam Dika sambil memukul-mukul tembok.
"Diem!" teriak salah satu tahanan.
Dika pun berhenti memukul-mukul tembok. Dika membaringkan dirinya di lantai sambil menenangkan pikirannya. Tak lama setelah itu, datanglah seorang polisi.
Polisi tersebut membukakan sel. "Dika, kamu bebas."
"Saya?" tanya Dika.
"Iya."
Dika pun dikeluarkan dari dalam sel dan dihantarkan bertemu dengan pak Arthama yang sudah menunggunya. Dika diajak pulang oleh Pak Arthama, namun Pak Arthama tidak berbicara sepatah katapun dengan Dika, hanya ada kekesalan yang terlihat di matanya.
"Papa marah sama Dika?..." tanya Dika.
"Jelas papa marah! Kamu udah malu-maluin papa! Papa juga harus keluar uang banyak agar korban mau mencabut tuntutannya sama kamu! Memang uang yang papa kasi selama ini ke kamu kurang?!" ucap Pak Arthama dengan kesal sambil tetap fokus menyetir.
"Dika nggak nyuri pa!" tungkas Dika.
"Jangan bohong kamu!"
"Gue harus bilang apa ke papa? Apa gue jujur kalo Dimas yang lakuin semua ini? Kenapa Dimas tega banget nuduh gue? Dimas..." ucap Dika dalam hati.
Sesampainya di rumah, Pak Arthama keluar dari mobil dengan kesal, ia membanting pintu mobil dengan sangat keras. Dika pun keluar menyusul papanya.
"Dika udah bilang pa, Dika nggak nyuri."
"Kamu nggak usah bohong! Mana ada maling ngaku!"
"Papa harus percaya sama Dika, bukan Dika yang nyuri!"
"Terus kalau bukan kamu siapa lagi?!"
"Dika nggak tau pa..."
"Udahlah pa, Dika nggak akan pernah kapok. Sekali anak nakal tetep anak nakal. Dari dulu dia cuma bisa cari gara-gara. Gara-gara dia, mama jadi meninggal," ucap Dimas yang baru datang.
"Jaga ucapan lo Dim!" bentak Dika.
"Emang benar kan yang gue bilang," sahut Dimas.
"Gue nggak nyangka lo sebenci ini sama gue. Salah gue apa sama lo? Tega banget lo Dim..." batin Dika.
"Asal papa tau! Orang dibalik ini semua adalah Dimas! Dimas yang udah tuduh Dika," ucap Dika.
"Enak aja lo lempar kesalahan lo sama gue!"
"Kenapa sih, lo benci banget sama gue?!" Dika yang sudah sangat emosi, menghampiri Dimas dan memukulnya. Terjadilah pertarungan antara Dimas dan Dika.
Pak Arthama langsung melerai Dimas dan Dika yang sedang bertengkar. "Sudah! sudah! Kalian berdua malah ribut, bikin papa tambah pusing!"
"Papa lihat sendiri kan, Dika yang pukul Dimas duluan."
"Dimas yang udah tuduh Dika pa!"
"Kamu jangan mengelak, sudah jelas-jelas kamu pelakunya. Kamu jangan malah nuduh Dimas!" ucap Pak Arthama.
"Dika nggak bohong pa! Papa harus percaya sama Dika."
"Kamu pikir papa akan percaya?! Kamu udah bikin papa malu! Papa malu kalau sampai ada yang tau keluaga Arthama masuk penjara karena mencuri. Sebenarnya papa nggak pengen bebasin kamu, biar aja kamu terima hukuman kamu!"
"Ooh! Jadi papa lebih mentingin nama baik keluarga daripada Dika. Oke pa! Kalau papa pikir Dika cuma malu-maluin, Dika akan pergi pa." Dika langsung menuju kamarnya dan mengambil barang-barangnya.
Pak Arthama hanya diam menatap Dika memasuki kamarnya.
"Tenang aja pa, Dika cuma bawa barang- barang Dika aja. Suatu saat nanti papa akan nyesel karena nggak percaya sama Dika!" Dika pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Arthama.
Pak Arthama hanya bisa diam menatap Dika berjalan meninggalkan rumah. Pak Arthama merasa bingung, Dika yang memang terbukti bersalah, tidak mau mengakui kesalahannya, tapi disisi lain, ia takut kejadian di masa lalu terulang kembali, ia pernah melakukan kesalahan dengan tidak mempercayai Dika. Sesungguhnya hati Pak Arthama sangat ingin mempercayai Dika, namun semua bukti yang ada sudah menunjukkan bahwa Dika telah bersalah. Sementara itu terlihat wajah Dimas yang menunjukkan senyuman jahat.
"Akhirnya gue berhasil bikin papa benci sama Dika lagi..." ucap Dimas dalam hati.
•••••••••••••••
BERSAMBUNG
°
°
°
°
°
Sambil nunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💕...