
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi. Pak Wardana pun memutuskan untuk pulang dan akan bekerja. Pak Wahyu juga memilih untuk pulang mengecek keadaan Kakek Dharma dan ia pun juga harus bekerja, begitu juga dengan Bryan yang akan bersekolah.
Kini di rumah sakit tinggal Pak Arthama, Dimas, Widia, Bu Asih, Aulia, dan Bu Ami.
Dimas tidur terlentang di atas deretan kursi besi tanpa menggunakan jaket atau pun benda lainnya yang dapat menghangatkan dirinya, ia hanya menggunakan celana jeans dan baju kaos tipis yang dipakainya kemarin. Walaupun matanya terpejam, tapi pikirannya tetap terjaga. Ada banyak hal yang dipikirkan oleh Dimas, mungkin terlalu banyak, mulai dari rasa bersalah, penyesalan, kesedihan, dan lain sebaginya. Dimas sudah tidak mengerti apa yang ia pikirkan dan harus ia perbuat, rasanya ia sudah mati rasa, sampai-samapai Dimas yang sudah berbaring berjam-jam di kursi besi tersebut tidak dapat merasakan dinginnya besi-besi yang langsung bersentuhan dengan kulitnya.
Aulia kini tengah tertidur di panggkuan ibunya (Bu Ami) setelah semalaman ia menangis sembari terus menatap Dimas dengan tatapan kebencian.
Widia duduk sembari bersender di bahu ibunya (Bu Asih). Air matanya pun terus mengalir tak henti-henti, dalam hati ia terus berdoa kepada Tuhan agar Dika baik-baik saja.
Sementara itu di ruang ICU keadaan Dika semakin menurun, terlihat dokter seperti berkomunikasi dengan dokter lainnya lewat telepon. Pak Arthama pun terus mengelus kepala Dika sembari terus berdoa.
"Ya Tuhan, hamba mohon, selamatkanlah anak hamba..." ucap Pak Arthama dalam hati. Walaupun Pak Arthama berusaha sekuat mungkin untuk tegar, ia tetap tidak bisa membendung air matanya ketika melihat keadaan Dika yang semakin menurun. Pak Arthama pun menyeka air matanya yang terus keluar.
Beberapa saat kemudian datang 2 orang dokter lainnya. Pak Arthama pun diperintahkan untuk keluar dan dokter-dokter tersebut segera mengambil tindakan pada Dika.
Semua langsung menghampiri Pak Arthama ketika ia baru saja keluar dari ruang ICU. Terlihat mata Pak Arthama yang bengkak karena menagis, dan tentu saja itu bukan merupakan pertanda baik.
"Bagaimana keadaan Dika pa?" tanya Dimas.
"Di-Dika, keadaan Dika menurun," ucap Pak Arthama terbata-bata.
Mendengar ucapan Pak Arthama membuat semua orang menjadi semakin bersedih.
Widia dan yang lainnya pun melihat Dika dari luar melalui jendela, terlihat para dokter sedang sibuk menangani Dika.
"Selama ini lo selalu bikin gue ketawa, kenapa sekarang lo malah bikin gue sedih? Lo harus cepet sembuh Dika, lo nggak boleh kenapa-napa... Kehilangan lo sama aja seperti kehilangan gigi depan gue. Gue nggak akan pernah bisa tersenyum dengan sama lagi..." batin Widia.
"Gue bisa ikhlas kalau lo nggak bisa balas cinta gue. Tapi gue nggak akan pernah ikhlas kalau lo akan ninggalin kita secepat ini. Lo harus selamat Dika," batin Aulia.
Dimas yang sudah tidak sanggup melihat keadaan Dika hanya bisa duduk bersender di tembok sembari mendongakan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Lo nggak harus sehat Dika, gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri kalau sampai lo kenapa-napa. Maafin gue Dika," batin Dimas.
Sudah hampir satu jam akhirnya para Dokter pun keluar dari ruang ICU. Semua segera menghampiri dokter untuk meminta penjelasan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Pak Arthama.
"Keadaan pasien semakin menurun, kini keadaan pasien sangat kritis," jawab dokter.
"Tapi adik saya nggak akan kenapa-kenapa kan dok?!" tanya Dimas.
Dokter menggelengkan kepalanya pelan. "Sangat kecil kemungkinan pasien untuk selamat. Kini hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan pasien."
"Apakah saya boleh masuk dok?" tanya Widia.
"Demi keselamatan pasien, untuk saat ini tidak ada siapapun yang boleh masuk. Hanya ada dokter dan perawat yang menemani pasien di dalam," jawab dokter.
"Saya mohon lakukan yang terbaik untuk adik dok," ucap Dimas.
"Tentu, kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin."
"Baik dok," balas Pak Arthama.
"Saya permisi dulu," ucap Dokter kemudian pergi meninggalkan mereka.
Kini sudah tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain berdoa pada yang Kuasa untuk keselamatan Dika.
Beberapa saat kemudian datang Restu yang masih memakai pakaian sekolah. Begitu mengetahui keadaan Dika dari Bryan, tanpa pikir panjang Restu langsung pergi meninggalkan sekolah dan bergegas menuju rumah sakit.
Restu pun langsung menghampiri Widia. "Gimana keadaan Dika? Tadi di sekolah Bryan bilang Dika lagi dirawat di rumah sakit."
"Keadaan Dika sedang kritis kak," jawab Widia.
"Kenapa dia bisa kayak gini?" tanya Restu.
"Jawab Wid, kenapa dia bisa kayak gini?" tanya Restu lagi.
Bu Asih menatap Restu, Bu Asih menggelengkan kepalanya pelan untuk mengisyaratkan kepada Restu untuk tidak bertanya lagi, Restu pun merespon Bu Asih dengan menganggukkan kepalanya.
Restu segera melihat keadaan Dika dari luar melalui jendela. Terlihat Dika sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak selag dan beberapa perawat serta dokter yang menjaganya. "Lo kenapa sih Dika?" gumam Restu.
Restu pun duduk di samping Pak Arthama dan Dimas untuk menguatkan mereka.
Tak berselang lama, Willy pun juga datang. Willy juga mendengar kabar Dika melalui Bryan. Willy segera menghampiri Dimas dan Pak Arthama untuk menguatkan mereka. Willy pun juga memberikan dukungan kepada yang lainnya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, semua orang masih mengunggu dengan penuh harapan walau saat ini keadaan Dika belum sedikit pun menunjukkan tanda-tanda perubahan.
"Widia.. makan ya, dari tadi kamu belum makan. Ibu beliin makanan ya?..." ucap Bu Asih dengan lembut kepada Widia.
"Nggak bu, Widia nggak pengen makan," balas Widia.
Sudah beberapa kali Bu Asih membujuk Widia untuk makan, namun usahanya selalu sia-sia, Widia tetap menolak untuk makan walau cuma sepotong roti. Begitu juga halnya Aulia yang tidak mau makan walau pun Bu Ami terus berusaha membujuknya. Sementara Pak Arthama dan Dimas juga tidak memiliki nafsu makan sedikit pun, mereka hanya diam termenung dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba Pak Arthama mendengar perut Dimas yang berbunyi karena kelaparan. Pak Arthama pun berdiri dari samping Dimas kemudian beranjak pergi.
"Papa mau kemana?" tanya Dimas.
"Papa mau beli makanan, dari tadi semuanya belum makan," jawab Pak Arthama.
"Dimas lagi nggak pengen makan pa," balas Dimas.
"Tapi yang lain belum makan sama sekali, dan kamu juga harus makan," ucap Pak Arthama.
"Biar saya aja yang beli om, saya sekalian juga mau beli minuman," tawar Willy.
"Baiklah," balas Pak Arthama.
Willy pun berdiri dan beranjak pergi. Pak Arthama menghampiri Willy untuk memberikan sejumlah uang.
"Om minta tolong belikan semuanya ya," ucap Pak Arthama sembari menjulurkan sejumlah uang kepada Willy.
Willy mendorong tangan Pak Arthama. "Nggak usah om, saya ada uang kok om."
"Tidak bisa seperti itu," Pak Arthama memasukkan uang tersebut secara paksa ke saku Willy.
Willy pun akhirnya menerima uang Pak Arthama. Sebelum pergi Willy juga mengajak Restu bersamanya, karena tidak mungkin baginya membawa makanan sebanyak Itu sendirian. Untuk pertama kalinya Restu menjadi akrab dengan Willy.
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......