
Sore harinya Widia tengah berada di taman tempat ia dan Dika biasa bermain sewaktu kecil. Ia berdiri sembari memegangi foto dirinya bersama Dika. Widia tak kuasa menahan tangisannya karena teringat kenangan saat dirinya bersama Dika.
"Gue kangen sama lo..." gumam Widia.
Widia menatap sekeliling. "Semuanya menginginkan gue sama lo, Dika..." batin Widia.
Keadaan terasa begitu sepi. Sinar jingga mentari pun sudah mulai tenggelam. Hujan yang turun beberapa saat yang lalu membuat genangan air di mana-mana. Hembusan angin pun membuat daun-daun jatuh berguguran. Widia memejamkan matanya sembari merasakan lembutnya hembusan angin yang menerpanya. Air mata pun seketika mengalir di pipinya.
Tiba-tiba Widia seperti merasakan kehadiran Dika di sekitarnya.
"Dika..." batin Widia.
Widia benar-benar merasakan kehadiran Dika. Perasaan tersebut terasa begitu nyata. Bahkan ia merasakan seperti Dika sedeng mencium keningnya.
"Jangan nangis..." terdengar suara Dika tepat di depan Widia.
Seketika Widia langsung membuka matanya. Samar-samar ia melihat bayangan Dika tepat berada di depannya. Widia pun mematung memandang Dika.
Foto-foto yang dipegang Widia pun satu persatu terjatuh dari genggamannya. Ia merasa antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang tengah dialaminya saat ini, akan tetapi ia benar-benar melihat Dika kini sedang berada di depannya.
"Dika..." ucap Widia.
Dika tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum sembari menatap Widia. Secara perlahan bayangkan Dika mulai memudar dan akhirnya menghilangkan bersamaan dengan tenggelamnya sinar matahari.
"Dikaa..." teriak Widia.
Mata Widia berkeliling mencari Dika yang kini sudah menghilang. Widia pun berlari mencari Dika keliling taman sembari memanggil nama Dika.
"Dikaa..."
...****************...
"Dikaaa..." teriak Widia. Widia pun langsung terbangun dari tidurnya. Peluh sudah membasahi wajah dan seluruh badannya. Nafasnya pun naik turun tak beraturan.
Widia mengusap wajahnya. "Ya ampun.. ternyata cuma mimpi..."
Widia pun berusaha mengatur nafas dan menenangkan dirinya. Ia kemudian meminum segelas air yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya.
"Perasaan gue jadi nggak enak... Baru aja satu hari gue pulang, tapi gue udah mimpiin Dika. Besok setelah pulang sekolah gue harus jenguk Dika," batin Widia.
...****************...
Dimas dan Dika berjalan-jalan di sebuah taman yang sangat indah. Taman tersebut terlihat begitu asri dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga indah bermekaran yang akan membuat siapapun akan terpesona menyaksikannya. Pemandangan tersebut begitu menakjubkan bak di surga. Dimas dan Dika menggunakan setelan pakaian yang serba putih. Terlihat senyuman terukir di wajah mereka, mereka merasa sangat senang karena akhirnya mereka dapat bertemu kembali.
Senyuman mereka semakin lebar ketika mereka juga melihat mamanya (Bu Ima) juga berada di sana. Bu Ima pun juga tersenyum menatap Dimas dan Dika.
"Mama..." ucap Dimas dan Dika.
Dimas dan Dika kemudian langsung berlari menghampiri Bu Ima. Mereka memeluk Bu Ima dengan sangat erat. Bu Ima pun mengusap kepala dari kedua anaknya.
"Akhirnya Dika bisa ketemu sama mama lagi," ucap Dika.
"Dimas sangat senang bisa lihat mama lagi," ucap Dimas.
"Mama sayang sama kalian berdua..." ucap Bu Ima.
Bu Ima tersenyum menatap salah satu anaknya, ia kemudian mencium kening anaknya. Bu Ima pun bergantian menatap anaknya yang lain sambil tersenyum, ia kemudian menggenggam tangan anaknya tersebut dan mengajak anaknya kembali berjalan bersamanya. Anaknya yang lain pun langsung mengikuti mereka berdua.
"Lo mau kemana?"
"Gue mau ikut sama kalian..."
"Lo harus tetap tinggal."
"Tapi gue mau ikut kalian. Gue nggak mau pisah sama lo dan mama..."
Air matanya pun langsung keluar, ia langsung memeluk saudaranya tersebut dengan erat. "Gue sayang sama lo... Dengerin gue baik-baik. Lo harus kembali. Waktu lo masih panjang..."
"Tapi lo jangan pergi..."
Ia kemudian melepaskan pelukannya. "Gue harus pergi..."
"Gue mohon, jangan pergi..."
"Gue udah capek, gue udah muak sama semuanya. Gue mau istirahat, gue harus pergi..." Ia kemudian berjalan menuju cahaya.
Ucapnya sembari tetap berjalan. Air matanya pun kembali keluar, namun ia tetap harus pergi.
"Tunggu..." Ia pun hendak mengejar saudaranya namun Bu Ima langsung menghentikannya dan memegang tangannya.
Bu Ima menatap anaknya sembari tertawa kecil. "Kalian berdua tidak pernah berubah..."
"Mama sayang sama kamu... Tapi kita tidak bisa sama-sama lagi. Tempat kamu bukan di sini..." Bu Ima kemudian mengusap kepala anaknya lalu ia berjalan menuju cahaya.
Seketika badannya terasa kaku, ia sangat ingin mengejar mama dan saudaranya namun kakinya samasekali tidak dapat digerakkan. "Jangan pergi..."
"Jangan pergiii..."
Kini mereka berdua benar-benar hilang di dalam cahaya tersebut.
...****************...
Tiiittt....
Karena melihat monitor hanya menunjukkan garis lurus, Pak Arthama pun langsung memberitahu dokter dan perawat yang ada di ruang ICU. Pak Arthama kemudian di suruh keluar dari ruang ICU. Dengan segera dokter langsung memeriksa pasien.
Dokter menatap perawat sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tolong catat waktunya..." ucap dokter dan dibalas anggukan oleh perawat.
Dokter kemudian keluar untuk menemui Pak Arthama dan Amel.
"Bagaimana anak saya dok?" tanya Pak Arthama.
"Anak bapak sudah meninggal dunia. Maaf pak, kami sudah melakukan yang terbaik..." ucap Dokter.
"Kakak..." ucap Amel. Seketika air mata Amel langsung keluar.
Pak Arthama pun juga tidak bisa menahan tangisannya. Pak Arthama kemudian menghapus air matanya yang terus menerus keluar, hatinya begitu hancur saat ini. Pak Arthama berusaha untuk tidak menangis, ia sadar biar bagaimanapun ia harus kuat dan ikhlas menerima semuanya.
Pak Arthama pun memeluk Amel yang sedang menangis histeris.
"Aa aa a... Papa.. aa.. Kakak.. aa.. a... Kakak pa..."
"Ikhlaskan kakak kamu. Kamu harus bisa menerima semua ini. Ini semua sudah takdir..." ucap Pak Arthama.
...****************...
Kini acara pemakaman sudah selesai. Terlihat tanah makam masih basah dengan taburan bunga-bunga segar di atasnya. Orang-orang pun masih banyak yang menangis, mereka belum bisa mengikhlaskan kepergian orang yang begitu mereka cintai. Hujan pun turun seakan-akan turut menangis. Pak Arthama berdiri menatap makam anaknya.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menghadiri pemakaman anak sendiri..." ucap Pak Arthama dalam hati. Pak Arthama pun menyeka air matanya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis.
"Orang datang dan pergi, ini adalah hidup..."
Pak Arthama kemudian berjongkok sembari mengusap batu nisan anaknya. "Sebenarnya papa masih ingin berada di sini. Tapi maafkan papa, papa harus ke rumah sakit sekarang. Papa pasti akan merindukan kamu, sangat merindukan kamu..." ucap Pak Arthama.
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......