Choco

Choco
Marah



Krekk...


Bryan membuka tirai jendela sehingga cahaya mentari pagi menembus jendela kamar Widia, dan mengenai wajahnya yang sedang tertidur pulas. Widiapun membuka matanya, tetapi ia tidak langsung bangun, ia malah memalingkan badannya dan kembali melanjutkan tidurnya.


"Woi... bangun!..." Bryan menarik tangan Widia.


"Hmm... Paan sih lo bang, ganggu orang tidur aja," ucap Widia dengan suara khas bangun tidur.


"Lihat tuh, udah jam 8."


"Ya ampun..." Widia langsung bangun dengan panik dan mengambil handuk dan pakaian di lemari.


"Hupf... wkwkwkwk..." Bryan yang berhasil mengerjai Widia tertawa dengan puas.


"Bang😑... Lo ngerjain gue kan?!."


"Gampang banget bohongin lo, ini kan masih jam 7, wkwkwk..."


Widia memutar malas bola matanya. "Dasar lo bang."


"Yaelah jangan cemberut gitu kali." Bryan mengacak rambut Widia.


Widia hanya memalingkan wajahnya dengan ekspresi sok marah.


"Yah, pakek sok ngabek lagi..." goda Bryan.


Widia yang tidak bisa menahan senyum kemudian memperlihatkan senyuman di wajahnya.


Bryan kemudian memeluk Widia. "Akhirnya kita bisa akrab lagi kayak dulu."


Widiapun membalas pelukan Bryan. "Iya bang, Widia seneng banget..."


"Cepet siap-siap sana, terus nanti jangan lupa makan di bawah."


"Siap komandan." Widia memberikan hormat pada Bryan.


Bryan kemudian mencubit pipi Widia.


"Duh... bang, sakit tau," ucap Widia sambil mengusap pipinya.


"Ya udah, gue berangkat sekolah dulu ya."


"Kok pagi banget berangkatnya bang, udah makan?."


"Udah dong... Hari ini gue ada piket OSIS, abang kan ketua OSIS, jadi harus memberikan contoh yang baik."


"Gaya bener lo bang..."


"Yee... biarin..." Bryan kemudian meninggalkan kamar Widia dan berangkat sekolah.


"Seneng rasanya pagi-pagi udah bisa lihat Bang Iyan. Bisa tinggal bareng Bang Iyan, kakek, bapak, ibuk..." pikir Widia.


Selesai siap-siap Widia langsung turun ke bawah untuk makan bersama. Di meja makan sudah ada kakek, Pak Wahyu, dan Ibu Asih. Merekapun makan bersama, dan mereka juga sangat menikmati kebersamaan yang mereka kini rasakan.


Sekarang Pak Wahyu sudah tidak menjadi satpam lagi, ia kini bekerja sebagai pegawai di kantor Kakek Dharma. Awalnya Pak Wahyu menolak untuk bekerja di kantor Kakek Dharma, namun karena Kakek Dharma memaksa Pak Wahyu, akhirnya ia pun setuju. Selain itu pak Wahyu dulu juga pernah bersekolah mengambil jurusan ekonomi, namun karena biaya ia terpaksa harus berhenti kuliah, dan sekarang ia mulai menjutkan pendidikannya.


Sementara Bu Asih juga berhenti berjualan buah karena permintaan Kakek Dharma. Kini ia hanya membantu-bantu sedikit pekerjaan rumah, karena hampir semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh pembantu.


Kakek Dharma sudah menganggap Pak Wahyu dan Bu Asih seperti keluarganya sendiri. Bryanpun sudah menganggap Pak Wahyu dan Bu Asih sebagai orangtuanya.


*********


Seperti biasa Widia berangkat sekolah dengan naik angkot, sebenarnya kakek Dharma sudah menyuruh supir untuk menghantarnya tetapi ia menolak.


"Widia..." teriak Intan. Intan kemudian menghampiri Widia di depan gerbang.


"Tumben lo nyari gue kesini, biasanya lo nunggu gue di kelas."


"Ada yang mau aku ceritain sama kamu."


"Ya udah, cerita aja."


Intanpun menceritakan kejadian yang ia lihat di parkiran sekolah tadi.


»»»»» Kilas Balik «««««


"Dika..." teriak Restu. Restu kemudian menghampiri Dika yang baru memarkir motornya.


"Ketemu lagi kita," ucap Dika sambil melepaskan helmnya.


Plak, plak, plak...


Dika dan Restu melakukan tos persahabatan yang biasa mereka lakukan.


"Akhir-akhir ini lo gak pernah terlambat ya Dika," ucap Restu.


"Iya dong, gue kan mau jadi orang yang lebih baik. Tapi lo juga sama kan, gak pernah terlambat sekarang."


"Tapi semua juga sia-sia..." ucap Restu dengan lesu.


Dika mendorong pundak Restu. "Yah gak pake ilang semangat gitu kali. Gue tau lo kalah taruhan, udah 1 bulan nih... lo gak bisa deketin Intan kan."


"Pake ngejek lagi, lo juga sama gak bisa deketin Widia. Lo juga kalah."


"Tapi bedanya gue nggak pernah ilang semangat kayak lo... Ya udah gue duluan ya, mau bayar bon di katin."


"Anak sultan kok ngebon, heran gue."


"Suka-suka gue dong..." Dika kemudian pergi meninggalkan Restu.


Plakk...


Tiba-tiba Intan datang dan langsung menampar wajah Restu.


"Intan... Aku bisa jelasin semuanya." ucap Restu sambil memegang pipinya.


"Gak ada yang perlu dijelasin, Intan udah denger semuanya. Jadi selama ini Kak Restu deketin Intan cuma gara-gara taruhan!" bentak Intan.


Restu memegang pundak Intan. "Nggak gitu Intan..."


Intan menepis tangan Restu dan langsung berlari pergi.


"Intan..." teriak Restu. Restu kemudian mengejar Intan.


"Tunggu dulu Intan, aku bisa jelasin!." Restu kembali memegang tangan Intan.


"Lepasin Intan!." Intan menepis tangan Restu dan langsung pergi.


"Intan..." teriak Restu.


"Percuma gue kejar dia, dia nggak akan mau dengerin gue," gumam Restu.


»»»»»»»»»»««««««««««


"Jadi gitu ceritanya Wid," ucap Intan dengan ekspresi kecewa, terlihat matanya yang juga berkaca-kaca.


Memang beberapa minggu ini Intan sedang dekat dengan Restu. Dan ia juga sudah mulai menyukai Restu. Walaupun awalnya dia suka dengan Dimas, tapi ia sudah mengubur perasaannya, karena ia sadar Dimas tidak mungkin menyukainya. Namun setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya membuat ia kecewa dengan Restu.


"Udah Tan, lo jangan sedih. Air mata lo terlalu berharga buat cowok kayak dia," ucap Widia sambil mengusap pundak Intan.


"Iya Wid, aku nggak akan sedih lagi."


Sepanjang jam pelajaran Widia dan Intan terlihat murung dan tidak berbincang banyak hal seperti biasanya.


"Kalian berdua kenapa sih?, lesu banget," ucap Adit yang duduk di depan mereka.


"Nggak apa-apa Dit," ucap Widia.


"Kita cuma lagi nggak enak badan aja," ucap Intan.


"Kalian perlu gue anterin ke UKS?" tanya Adit.


"Nggak usah Dit," ucap Widia.


"Iya, kita nggak apa-apa kok."


"Ya udah kalo kayak gitu." Adit membalikan badannya dan kembali menghadap depan.


"Apa mungkin ya Widia sedih karena mau pindah dari sekolah ini, jujur gue juga sedih. Gue harus bantu dia..." pikir Adit.


"Widia kelihatan sedih, pasti gara-gara bentar lagi dia akan keluar dari sekolah ini. Gak sia-sia akting gue waktu itu..." ucap Clara dalam hati sambil memandang Widia.


Sewaktu jam istirahat pun Widia dan Intan hanya diam di kelas sambil memakan beberapa cemilan yang ada di tas mereka.


Sementara itu Restu yang sedang makan di kantin bersama Dika juga terlihat muram.


"Lo kenapa sih Res? dari tadi lesu bange," ucap Dika.


"Ada yang mau gue bilang ke lo Dik."


"Apaan?."


"Intan uda-" Belum selesai berbicara, perkataan restu dipotong oleh pengumuman.


"Diumumkan kepada seluruh anggota basket untuk berkumpul di aula secepatnya. Diulangi, kepada seluruh anggota basket untuk berkumpul di aula secepatnya."


"Gue ke aula dulu ya Res." Dika kemudian berdiri dan hendak pergi.


"Tunggu dulu Dik, gue belum selesai bicara."


"Udah... gue udah tau. Soal Intan kan, lo nggak perlu jelasin ke gue, lo yang sabar aja." Dika langsung pergi meninggalkan Restu.


"Dasar tu bocah," gumam Restu.


*********


Kring... kring...


Suara bel pulang sekolah berbunyi. seperti murid-murid yang lainnya, Widia dan Intan membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Gue duluan ya Wid, Tan," ucap Adit pada Widia dan Intan.


"Iya," ucap Widia dan Intan.


"Kamu jangan lesu gitu dong Wid, kamu kan yang bilang ke aku buat jangan sedih. Tapi sekarang malah kamu juga sedih."


"Hmm... iya Tan."


Plak...


Clara memukul meja Intan hingga Intan kaget. Widia menatap Clara dan teman-temannya dengan kesal.


"Lo beresin buku lama banget, gue tunggu lo di parkir, awas kalo lo lama, gue tinggal lo!" ancam Clara pada Intan.


"I-iya Clara..."


"Lo lagi, apa lo lihat-lihat gue kayak gitu!" ucap Clara pada Widia.


Widia hanya memalingkan wajahnya dan kembali membereskan bukunya. Ia lebih memilih tidak memperdulikan Clara dan teman-temannya, karena ia sedang malas bertengkar dengan Clara dan teman-temannya. Clara dan teman-temannya pun meninggalkan Widia dan Intan.


Setelah selesai membereskan buku, Intan pergi ke parkir untuk pulang bersama Clara, sementara Widia menunggu angkot di depan sekolah.


Sewaktu berjalan menuju parkir Intan berpapasan dengan Dimas. Sambil berjalan, Dimas menyapa Intan dengan senyuman.


"Ya ampun... tadi Kak Dimas ganteng banget. Idaman banget, siapa coba yang nggak kagum sama cowok kayak dia?" ucap Intan dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


Saat Widia sedang menunggu angkot, Dika menghampirinya dan menawarkan tumpangan.


"Nyet, yuk naik," ucap Dika yang sedang duduk di atas motor.


Widia hanya menatap Dika dengan tatapan kesal, Widia kemudian langsung pergi dari sana.


Dika yang melihat Widia pergi merasa kebingungan. "Tu bocah kenapa sih?..." Dika kemudian langsung mengejar Widia.


Dika berhasil mengejar Widia dan menghalangi jalan Widia. "Lo kenapa sih?."


Widia hanya menatap Dika dengan kesal dan kemudian ingin pergi, namun Dika kembali menghalanginya.


"Lo mau kemana?. Lo belum jawab pertanyaan gue tadi."


"Mulai sekarang lo jauhin gue!" bentak Widia.


"Tapi Wid..."


"Udah Dika, lo jangan ganggu dia lagi!" ucap Dimas yang baru datang.


Dimas langsung memegang tangan Widia dan mengajaknya pergi.


Setelah beberapa jauh Dimas menghentikan langkahnya. "Widia... ada sesuatu yang mau aku bilang ke kamu," ucap Dimas sambil menundukkan kepalanya.


"Ya udah, bilang aja kak."


Dimas kemudian menghembuskan nafasnya dan menatap Widia dengan serius. "Sebenarnya aku suka sama kamu... Kamu mau nggak jadi pacar aku?..."


Widia diam sejenak kemudian menjawab pertanyaan Dimas. "Kak Dimas masih inget janji kita waktu kecil?."


"Hmm... iya... aku ini Choco..."


"Ternyata kak Dimas masih ingat," pikir Widia.


"Ternyata Kak Dimas masih ingat. Jadi jawaban Widia, iya kak, Widia mau..." ucap Widia sambil tersenyum.


Terlihat ekspresi senang di wajah Dimas. "Makasi ya Widia, aku senengg... banget. Gimana kalo kita makan-makan buat rayain hari ini?."


"Iya kak, Widia mau."


Dimaspun mengajak Widia masuk ke mobil dan mencari tempat makan.


"Maafin gue ya Wid, gue udah bohong sama lo. Gue tau lo sebenarnya nggak benar-benar suka sama gue, tapi cepat atau lambat gue akan buat lo suka sama gue," ucap Dimas dalam hati.


"Kenapa ya gue nggak ngerasa apa-apa waktu Kak Dimas nembak gue?. Nggak kayak sama Dika... tapi gue kecewa banget sama lo Dika... Tapi gue yakin seiring berjalannya waktu, gue akan suka sama Kak Dimas," ucap Widia dalam hati.


°


°


°


Jangan lupa like, komentar, dan ratenya ya kakak 🤗...


Terima kasih 🙏💕...