
Sekitar pukul 12 siang, Dika, Dimas, Bryan, Restu, Willy, Adit, Aldi, Widia, Intan, Bunga, Aulia, Bintang, Clara, Monica, dan Rani sudah sampai di villa milik keluarga Arthama.
Villa tersebut merupakan villa yang cukup besar dan dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas mewah, terdapat kolam renang yang luas, halaman yang luas, bioskop mini, dan masih banyak lagi, selain itu lokasinya yang terletak di lingkungan pedesaan yang asri menambah kesempurnaan villa tersebut.
Dimas membuka jendela mobilnya. Ketika melihat Dimas, satpam di villa tersebut langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda menyapa, Dimas pun juga membalasnya dengan senyuman. Satpam tersebut langsung membukakan pintu gerbang.
Dimas menghentikan mobilnya di depan satpam. "Terima kasih pak."
"Sama-sama tuan Dimas," balas Satpam tersebut.
Dimas dan yang lainnya kemudian masuk ke dalam villa.
"Gila! Besar juga villa keluarganya Kak Dika," batin Clara.
Tak hanya Clara yang takjub melihat villa tersebut, yang yang lainnya pun juga berpikiran sama seperti Clara.
Sesampainya di dalam, mereka disambut oleh Bu Astri, Bu Astri merupakan orang kepercayaan keluarga Arthama untuk menjaga villa tersebut.
Bu Astri langsung menghampiri Dimas, Dika, dan yang lainnya. Bu Astri tersenyum kepada Dimas, Dika, dan yang lainnya, merekapun juga tersenyum kepada Bu Astri.
"Selamat datang Tuan Dimas, Tuan Dika. Semua kamar sudah dibersihkan," ucap Bu Asih.
"Terima kasih bu," ucap Dimas dan Dika.
"Mari saya antar," tawar Bu Astri.
"Nggak usah bu, biar saya aja yang kasi tau di mana kamar mereka. Bu Astri lanjutin aja pekerjaan ibuk," ucap Dimas.
"Baik kalau begitu, saya permisi dulu," Bu Astri kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Dika, lo anterin cewek-cewek ke kamar di selatan," ucap Dimas kepada Dika, Dika pun membalasnya dengan anggukan.
"Kalo cowok-cowok, kita kamar di utara," ucap Dimas.
Dimas bersama Bryan, Restu, Willy, Adit, dan Aldi kemudian pergi menuju kamar di utara. Sementara Dika menghantar yang lainnya ke kamar di selatan.
Karena ada 7 kamar, kamar-kamar tersebut dibagi menjadi 4 kamar untuk laki-laki sementara 3 kamar untuk perempuan.
Siang itu mereka habiskan waktu untuk merapikan barang-barang mereka.
Sementara sore harinya mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke air terjun.
Karena lokasi air terjun tersebut cukup dekat dengan villa, merekapun memilih untuk berjalan kaki. Walaupun harus merasakan kelelahan karena melewati jalan setapak dan sedikit masuk ke dalam hutan, usaha mereka terbayar dengan keindahan air terjun tersebut. Air terjun yang tidak terlalu besar dan dengan arus yang tidak terlalu deras yang memungkinkan orang-orang untuk mandi di sana. Air terjun tersebut terlihat sangat asri dengan airnya yang sangat bersih dan jernih, terlebih lagi dengan pelangi yang nampak cukup jelas melengkung semakin menambah keindahan air terjun tersebut.
Mereka tidak perlu membayar untuk masuk ke area air terjun tersebut karena air terjun tersebut belum dibuka sebagai tempat wisata, di sana hanya terlihat beberapa penduduk lokal yang sedang mandi, memancing, dan lain sebagainya.
Dika, Bryan, Restu, Adit, dan Aldi memilih untuk berenang, dengan mudah mereka bisa akrab dengan anak-anak yang juga sedang mandi di sana, bahkan mereka juga bermain bersama anak-anak tersebut.
Sementara Dimas dan Willy memutuskan untuk duduk santai di pinggir air tersebut sembari menikmati teh hangat yang dijual oleh penduduk di sekitar sana. Sedangkan yang lainnya memilih untuk mengabadikan momen melalui jepretan kamera.
Karena saking asiknya berfoto, Aulia sampai kehilangan fokus sehingga menyebabkan dirinya terpeleset.
"AULIA!!..." teriak teman-temannya.
Aldi yang berbeda di dekat lokasi Aulia terjatuh, dengan sigap langsung menolong Aulia.
Aulia yang merasa syok dan takut hanya bisa memejamkan matanya sembari memeluk Aldi dengan erat.
Perlahan Aulia mulai membuka matanya, samar-samar ia memperhatikan wajah Aldi yang sangat dekat dengan pandangannya.
"Aldi..." batin Alia.
Akhirnya mereka berhasil sampai ke pinggir sungai, beruntung Aulia berhasil selamat dan tidak ada luka sedikitpun.
Aulia memperhatikan Aldi yang tengah mengusap wajah dan rambutnya yang basah oleh air. Kini Aulia dapat dengan jelas memperhatikan wajah Aldi.
"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Aldi.
"Gue nggak apa-apa.. makasi ya," ucap Aulia.
"Sama-sama," balas Aldi.
Teman-temannya yang lain kemudian langsung menghampiri dan menenangkan Aulia.
...****************...
Sekitar pukul 6 sore semuanya sudah kembali ke villa. Ketika semuanya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ada yang menyempatkan diri dengan untuk mandi ataupun sekedar santai dengan handphone mereka, sementara di rooftop Dimas seorang diri tengah berdiri sembari menatap matahari yang mulai tergelam.
"Nggak terasa, waktu berlalu begitu cepat... Gue nggak tau sampai kapan gue bisa bertahan. Sekarang setiap detik sangat berharga bagi gue," batin Dimas.
Mata Dimas mulai berkaca-kaca karena memikirkan penyakitnya. Ia menatap ke atas agar air matanya tidak keluar. Namun ketika Dimas berkedip, air matanya mulai mengalir di pipinya.
Seberapa kuat Dimas berusaha untuk menahan air matanya, tetap saja ia menangis, hanya ada air mata di setiap kedipannya. Terus menerus Dimas menghapus air matanya yang juga terus menerus keluar. Untuk menenangkan dirinya, Dimas menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dimas mencoba untuk menghitung agar pikirannya dapat teralihkan.
"1, 2, 3, 4, 5..." ucap Dimas dalam hati.
Hanya ada sinar mentari yang mulai meredup serta hembusan angin yang kian semakin dingin menemani Dimas.
Tiba-tiba ada seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun menghampiri Dimas.
Dimas menatap perempuan tersebut yang menurutnya asing.
"Tuan Dimas," sapa perempuan tersebut sembari tersenyum.
"Ibu siapa? Pengurus baru ya?" tanya Dimas.
Dimas mengalihkan pandangannya ke arah bawah.
"Papa sampai cari perawat buat jaga gue," batin Dimas.
"Jika tuan perlu apapun, tuan bisa panggil saya," ucap Bu Dini.
"Iya, sekarang Bu Dini bisa pergi, saya mau sendiri dulu."
"Baik, kalau begitu saya permisi." Bu Dini kemudian pergi meninggalkan Dimas.
...****************...
Malam harinya mereka makan bersama. Berbagai macam hidangan memenuhi meja makan yang besar tersebut. Semua hidangan tersebut sudah pasti enak karena dimasak langsung oleh koki yang memang sudah lama bekerja di villa tersebut. Namun ditengah-tengah berbagai macam hidangan enak tersebut, ada semangkuk sup sayuran dengan kuah yang bening dan terlihat hambar.
Mereka semua pun menikmati berbagai macam makanan yang dihidangkan. Tentu saja tidak ada yang tertarik bahkan menyentuh sup sayur yang terlihat hambar tersebut. Namun ketika semua memilih memakan menu enak yang disajikan di meja, Dimas malah memilih hanya memakan sup sayur tersebut. Bukan tanpa alasan Dimas melakukan hal tersebut, semua itu Dimas lakukan karena ia harus menjaga pola makannya agar penyakitnya tidak bertambah parah.
Dika yang berada di samping Dimas merasa heran dengan menu yang kakaknya pilih.
"Lo kenapa cuma makan sayur aja? Lo udah kurus, jangan diet," ucap Dika.
"Gue sekarang vegetarian, gue cuma mau menjalani pola hidup lebih sehat aja," ucap Dimas.
"Nggak apa-apa kali, semua makanannya juga sehat-sehat. Nih, makan yang banyak."
Dika menaruh sepotong ayam goreng di piring Dimas namun Dimas segera mengembalikan ayam goreng tersebut ke piring Dika.
"Ih, lo lihat kan minyaknya banyak banget. Gue nggak mau."
"Yakin nggak mau?" tanya Dika.
"Yakin, gue cuma mau makan sayur, makan-makanan yang sehat. Nggak kayak lo, semua dimakan."
"Eleh, emang gue raksasa apa, semua dimakan."
"Yee.. emang," balas Dimas.
...****************...
Kini malam sudah larut, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 dini hari. Ketika Dimas terbangun, ia melihat kasur di sebelahnya dan Dika tidak ada di tempat tidurnya. Dimas kemudian memutuskan untuk ke toilet dan sekalian mencari Dika.
Dimas mendapati Dika yang sedang duduk di teras sembari mendengarkan musik. Dimas kemudian duduk di samping Dika.
"Lo belum tidur?" tanya Dika.
"Gue tadi ke toilet. Lo sendiri ngapain di sini?"
"Gue cuma mau lihat bintang, di sini bintang kelihatan lebih jelas daripada di kota."
"Iya," balas Dimas.
Mereka berdua pun memperhatikan bintang sembari mendengarkan musik.
Dika menatap Dimas yang duduk di sampingnya. "Dim..."
Dimas pun juga menatap Dika. "Ya?"
"Ini pertama kalinya kita duduk bareng kayak gini. Jujur, gue bahagia banget."
Dimas tersenyum sembari menatap bintang. "Walaupun semua ini sangat indah, suatu saat nanti semua ini harus berakhir."
Dika merasa heran karena Dimas tiba-tiba berkata seperti itu. "Maksud lo?"
"Setiap orang dalam hidup kita akan memiliki hari terakhir bersama kita. Dan kita bahkan nggak pernah tahu kapan itu akan terjadi," ucap Dimas.
"Iya, gue tau itu. Tapi kenapa tiba-tiba lo ngomong kayak gitu?"
"Emm.. maksud gue, di dunia ini nggak ada yang abadi... Tapi, asal lo tau, hubungan persaudaraan diantara kita nggak akan pernah berakhir bahagia."
Dika menjadi sangat bingung sekaligus terkejut akan ucapan Dimas. "Maksud lo? Kenapa nggak akan berakhir bahagia?"
"Karena persaudaraan kita nggak akan pernah berakhir," ucap Dimas yang diakhiri dengan senyuman.
Dika pun juga tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
......................
...BERSAMBUNG...
......................
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...