
3 tahun lebih sudah berlalu. Sampai saat ini Widia sama sekali belum bertemu dengan Bryan ataupun Dika.
Saat ini Widia sudah berkuliah. Kecintaannya terhadap seni, terutama dalam bidang menggambar membuatnya memilih jurusan kuliah di bidang seni rupa.
Setiap hari Widia selalu belajar dengan giat. Tak hanya dalam praktek, ia juga rajin mempelajari teori-teori melalui berbagai sumber termasuk membaca buku.
Ketika sedang fokus membaca buku, tiba-tiba ada seseorang yang memegang buku yang tengah dibacanya saat itu.
"Hai..." ucap orang tersebut sambil tersenyum.
Widia merasa sangat terkejut melihat orang yang kini berada di hadapannya. Sejenak ia terdiam kaku menatap orang tersebut.
"Adik kakak rajin banget belajarnya," ucap Bryan.
Seketika Widia langsung memeluk Bryan dengan sangat erat. Ia pun tak kuasa menahan tangisannya. Widia merasa begitu bahagia karena akhirnya ia dapat bertemu dengan orang yang selama ini sangat dirindukannya.
"Bang Iyan... Hiks hiks..." Widia pun semakin mempererat pelukannya.
Bryan juga memeluk Widia sembari mengusap kepala Widia. "Loh kok nangis?..."
Tangisan Widia semakin menjadi-jadi. Ia melepaskan semua kerinduan yang ia rasakan selama ini. "Hiks hiks hiks... Widia hiks... Widia kangen banget sama Bang Iyan hiks..."
"Abang juga kangen banget sama kamu. Udah, jangan nangis lagi. Sekarang kakak kan udah ada di sini. Maafin kakak karena kakak baru bisa pulang sekarang. Kamu kan tau sendiri kalau kakak sibuk kuliah, selain itu kakak juga sibuk ngurus perusahaan di provinsi C."
"Hiks.. hiks hiks..."
"Udah.. jangan nangis..." ucap Bryan sembari mengusap kepala Widia.
"Hiks hiks... Bang Iyan apa kabar?"
"Kabar kakak baik. Kalau kamu gimana?" ucap Bryan.
"Widia baik-baik aja. Hiks hiks... Kenapa Bang Iyan nggak bilang-bilang kalau mau pulang?" ucap Widia sambil menatap Bryan.
Bryan pun menghapus air mata Widia. "Kakak sengaja nggak kasi tau kamu, kakak mau kasi kejutan buat kamu. Sekarang kakak dapat libur 2 minggu. Jadi 2 minggu ini kakak akan temani kamu di sini."
"Pokoknya 2 minggu ini Bang Iyan nggak boleh kemana-mana. Bang Iyan harus sama Widia."
"Iya, kakak nggak akan kemana-mana."
"Janji?"
"Janji," ucap Bryan sambil tersenyum.
"Bryan, Widia, ayo makan siang. Kakek sudah menunggu di meja makan," ucap Bu Asih yang sudah berada di depan pintu.
"Iya bu," ucap Bryan dan Widia.
Bryan dan Widia pun ikut bersama Bu Asih ke meja makan.
"Bapak jam segini masih di kantor kan buk?" tanya Bryan.
"Iya, sekarang bapak masih di kantor. Seperti biasa sekitar jam 4 sore bapak baru pulang."
"Setelah ini Bryan mau cari bapak ke kantor. Bapak pasti kaget Bryan ada di sini."
"Bang Iyan juga nggak kasi tau bapak kalau bang Iyan udah pulang?" tanya Widia.
"Iya, kakak belum kasi tau bapak. Nanti setelah selesai mandi kakak akan langsung ke kantor. Anterin kakak yuk?"
"Siap bang," ucap Widia sembari memberikan hormat kepada Bryan.
Bryan pun tersenyum sembari mengacak-acak rambut Widia.
"Ah, Bang Iyan dari dulu kebiasaan suka rusak rambut Widia." Widia kemudian merapikan kembali rambutnya. Bryan pun hanya membalasnya dengan tertawa kecil.
"Widia sudah banyak berubah. Dia sekarang sudah lebih feminim, penampilannya sudah tidak tomboy lagi seperti dulu. Tapi dia tetap adik kecilku," batin Bryan sembari menatap Widia.
"Sekarang cara bicara Bang Iyan lebih sopan, dia lebih dewasa," batin Widia.
Setelah selesai makan dan mandi Bryan bersama Widia langsung pergi ke kantor untuk menemui Pak Wahyu. Sesampainya di kantor, Bryan dan langsung menuju ruangan Pak Arthama.
Karena saking senangnya Widia berjalan dengan langkah yang begitu cepat.
"Widia, jalannya pelan-pelan," ucap Bryan.
"Tapi Widia nggak sabar kasi tau bapak kalau abang udah pulang."
Sesampainya di depan ruangan Pak Arthama, Widia pun hendak mengetuk pintu, namun Bryan menghalanginya."
"Ada apa kak?" tanya Widia.
"Usstt... Kakak mau kasi kejutan buat bapak."
Bryan pun membisikan sesuatu kepada Widia dan Widia membalasnya dengan anggukan serta senyuman. Widia kemudian langsung masuk ke ruangan Pak Wahyu. Terlihat Pak Wahyu tengah sibuk bekerja melalui laptopnya.
"Widia? Ada apa kamu ke sini?" tanya Pak Wahyu.
"Ada yang mau ketemu sama bapak. Dia mau kerja di sini."
"Siapa?"
Bryan kemudian langsung masuk. Senyuman pun langsung terukir di bibir Pak Wahyu ketika melihat kedatangan Bryan.
"Bryan!" ucap Pak Wahyu. Pak Wahyu langsung menghampiri dan memeluk Bryan.
"Bapak..."
"Kapan kamu pulang?" tanya Pak Wahyu.
"Baru aja pak," jawab Bryan.
"Bryan baik-baik aja. Kalau bapak apa kabar?"
"Bapak baik."
"2 minggu ini Bryan akan tinggal di rumah, jadi Bryan bisa bantu-bantu bapak."
"Lebih baik kamu habiskan waktu kamu kali ini untuk berlibur atau istirahat. Kamu tidak perlu repot-repot bantu bapak."
"Iya, Bryan pasti akan liburan dan istirahat. Tapi kalau ada waktu kan nggak ada salahnya jika Bryan bantu-bantu bapak. Daripada Bryan diam nggak ngapa-ngapain."
"Kalau begitu kamu boleh bantu-bantu bapak. Tapi jangan lupa istirahat."
"Iya pak."
Karena sudah berada di kantor, hari itu Bryan langsung membantu Pak Wahyu. Sementara itu Widia harus pergi karena ia mengerjakan tugas di rumah temannya.
...****************...
Sore harinya Bryan pun pulang, namun ia tidak mendapati keberadaan Widia di rumah. Bryan kemudian menanyakan Widia kepada Bu Asih.
"Widia di mana buk?" tanya Bryan.
"Adik kamu masih belajar kelompok di rumah temannya."
"Jadi dia belum pulang."
"Baru aja sekitar 3 jam yang lalu adik kamu pergi, tapi kamu sudah sibuk nanyain dia. Palingan dia nanti malam baru pulang."
"Kerja kelompoknya sampai malam?"
"Iya, dia kerja kelompok di jalan Nusa Indah, waktu ke sana aja hampir 1 jam."
"Loh, kenapa kerja kelompoknya jauh banget? Dia ke sana sama siapa?"
"Dia diantar sama Pak Budi. Nanti juga dia dijemput."
"Kalau sampai malam kenapa ibuk nggak suruh pak sopir tungguin dia aja? Biar ada yang jagain dia. Nanti kalau dia kenapa-kenapa gimana?"
"Bryan, adik kamu bukan anak kecil lagi. Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu sama dia. Kamu ada-ada saja, masak suruh Pak Budi tungguin dia. Widia sudah biasa kerja kelompok, jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Jadi dia sering kerja kelompok sampai malam?"
"Iya, ibu yakin Widia bisa jaga diri. Lagipula ibu kenal sama teman-temannya Widia, mereka semua anak baik-baik."
"Tapi Bryan tetap khawatir. Nanti biar Bryan aja yang jemput dia."
"Kamu boleh jemput dia. Tapi kamu jangan terlalu berlebihan sama dia. Kamu tidak perlu khawatir, dia pasti baik-baik saja."
"Iya buk. Bryan masuk ke kamar dulu."
"Iya," balas Bu Asih.
Bryan kemudian masuk ke kamarnya. Saat ini pikirannya tidak bisa tenang, ia terus-menerus memikirkan Widia.
Karena terlalu larut dalam pikirannya, Bryan sampai-sampai tidak menyadari kedatangan kakek Dharma.
"Bryan..." ucap Kakek Dharma.
Bryan pun mengalihkan pandangannya pada Kakek Dharma. "Kakek..."
"Kamu pasti memikirkan adik kamu kan?"
"Iya kek. Bryan khawatir sama dia. Kenapa kakek biarin dia kerja kelompok sampai malam?"
"Bryan.. kamu tidak perlu khawatir, Widia pasti baik-baik saja. Dia sudah biasa kerja kelompok sampai malam. Lagipula dia keluar untuk belajar, bukan untuk main-main."
"Kakek sama saja seperti ibuk dan bapak."
"Kamu sudah melewatkan banyak hal selama ini. Widia bukan anak kecil lagi. Waktu berlalu begitu cepat, 3 tahun ini dia sudah banyak berkembang. Dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa."
"Tapi bagi Bryan dia tetap adik kecil Bryan."
Kakek Dharma pun tertawa kecil. "Nanti kamu juga akan mengerti. Kakek mau ke kamar dulu."
Kakek Dharma mengusap bahu Bryan kemudian Kakek Dharma pergi meninggalkan Bryan.
...°...
...°...
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...----------------...
...°...
...°...
...°...
...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...
...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......
...Terima kasih 🙏💕......