
Kini 1 bulan sudah berlalu, semuanya berjalan seperti biasa. Namun hubungan Dika dengan Dimas dan Pak Arthama belum juga membaik. Dika tetap tinggal di kos, selain memelihara bebek, ia juga kembali bekerja di warnet. Akhir-akhir ini Dika jarang sekolah, jikalau ia sekolah, ia sering datang terlambat. Dika juga jarang membuat PR dan ia juga sering tidur di kelas seperti dulu, oleh sebab itu ia sering mendapat hukuman di sekolah.
Karena sekarang hari Minggu, Widia menyempatkan diri untuk menjenguk Dika. Ketika sampai di depan kamar Dika, Widia melihat seseorang berusaha mengintip Dika dari jendela. Widia tetap memperhatikan orang tersebut dari belakang. Ketika orang tersebut berbalik, ternyata orang itu adalah Pak Arthama.
"Om?..." ucap Widia.
"Ustt..." Pak Arthama berjalan mendekati Widia. Pak Arthama kemudian mengajak Widia keluar dari lingkungan kos tersebut.
"Om ngapain di depan kamar Dika? Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya Widia.
"Om masih belum bicara dengan Dika. Perasaan om nggak enak, om khawatir sama dia, makanya om kesini..."
"Saya yakin, sebenarnya om pengen banget baikan sama Dika kan?"
"Iya... Sebenarnya om nggak percaya kalau dia melakukan hal itu."
"Saran saya om harus lebih percaya sama Dika. Saya yakin semua ini pasti cuma salah paham."
"Tapi semua bukti sudah menunjukkan kalau dia bersalah... Bagaimana keadaan Dika akhir-akhir ini?"
"Dika kayak dulu om, dia jarang sekolah, kalau sekolah datang terlambat, sering tidur di kelas, jarang buat PR. Mungkin dia capek karena harus kerja di warnet dan ngurus bebek-bebeknya. Dia nggak pernah mau nerima bantuan dari saya, dia selalu berusaha kelihatan baik-baik aja dan nutupin semuanya," jelas Widia.
"Kamu sering kesini kan?"
"Iya om, saya sering kesini. Sekarang saya mau jenguk Dika karena kemarin dia nggak sekolah. Sekalian bawain beberapa buku buat dia karena sebentar lagi mau UTS."
"Om titip Dika sama kamu. Satu lagi, jangan bilang kalau om kesini."
"Baik om..."
"Terima kasih Widia, om pergi dulu..."
"Iya om..."
Pak Arthama mengusap kepala Widia kemudian langsung pergi.
Tok... Tok... Tok... Tok... Tok...
Widia mengetuk pintu kamar Dika.
"Dika... Dika... Dika..." ucap Widia sembari tetap mengetuk pintu.
Karena tidak ada respon dari Dika dan pintu kamarnya tidak terkunci, Widia pun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar Dika. Di dalam kamar terlihat Dika sedang tertidur pulas.
"Dika... Dika... Dika..." ucap Widia sambil menepuk pelan pundak Dika.
"Hmm... Eh, lo Nyet... Pagi banget udah kesini..." Dika terbangun dan kemudian duduk.
"Udah jam sebelas, masih aja lo bilang pagi..."
Widia memegang dahi Dika. "Ya ampun, panas banget, lo sakit?"
"Gue cuma nggak enak badan aja."
"Udah ke dokter."
"Belum"
"Kalo gitu kita ke dokter sekarang."
"Nggak usah, minum obat aja sembuh. Gue ada obatnya di lemari."
"Kenapa bisa sakit sih?"
"Mungkin gara-gara kemarin kehujanan pas pulang dari warnet..."
"Kan udah gue bilang, jangan kerja. Keras kepala banget sih..."
"Tapi mau gimana lagi."
"Kan udah gue bilang, kalau lo butuh apa-apa tinggal minta ke gue. Kalo lo nggak mau minta, lo pinjem sama gue, nanti lo bisa kembaliin..."
"Iya, iya..."
"Ya udah, lo istirahat aja dulu. Biar gue buatin bubur biar lo bisa makan obat."
"Ga usah repot-repot, biar gue aja yang buat..." Dika berdiri dan hendak menuju dapur.
"Wajah udah lemah, lemas, letih, lelah, lesu, lapar gitu pake sok-sokan mau masak. Istirahat nggak!"
"Hmm... Semua aja lo sebutin... Iya deh, iyaa..." Dika kembali berbalik ke kasurnya dan kembali tidur.
Beberapa saat kemudian Widia datang dengan membawa obat dan semangkuk bubur. Widia membangunkan Dika dan mengajaknya makan. Sembari makan mereka berbincang-bincang ringan.
"Lo kemarin kenapa nggak sekolah?" tanya Widia.
"Gue bangun kesiangan..."
"Kebiasaan banget..."
"Iya, besok-besok gue akan berusaha bangun lebih awal."
"Selalu aja bilang kayak gitu."
"Iya, kali ini gue janji..."
"Awas!"
Widia menatap malas pada Dika. "Nyenyenye... Bibir lo mirip moncong lele..."
"Biar kayak moncong lele, tapi lo pengen cium kan..." goda Dika sambil tersenyum.
"Ngarep..."
"Tapi lo pernah gambar-gambar tetang gue, itu apa coba?"
Bug...
Widia yang merasa kesal memukul lengan Dika dengan cukup keras.
Dika mengusap lengannya yang dipukul oleh Widia. "Aw... sakit banget..."
"Sekali lagi lo ungkit-ungkit tentang itu lagi, awas lo!" Widia berpindah duduk di sudut ruangan menjauhi Dika.
"Yah, ngambek wkwkwk..."
Setelah selesai makan Widia langsung mencuci piring dibantu oleh Dika.
"Hachuu... Hachuu..." Tiba-tiba Dika bersin beberapa kali.
"Udah gue suruh istirahat malah ngeyel..."
"Iya, ini bentar lagi juga selesai."
Prank...
Dika tidak sengaja memecahkan piring.
"Tuh kan, udah gue bilangin. Wajah lo udah pucet gitu masih maksa cuci piring."
"Gue nggak apa-apa."
Dika hendak membersihkan pecahan piring tersebut namun dilarang oleh Widia.
"Udah, udah... Biar gue aja. Lo tidur sana," ucap Widia.
"Ini nggak apa-apa..."
"Istirahat nggak!" Widia menatap Dika dengan tatapan penuh ancaman.
"Iya, iya... Nggak usah melotot juga kali, serem. Wkwkwk..." Dika kemudian kembali tidur.
"Bisa-bisanya Dika tetep bercanda," gumam Widia sambil tersenyum.
Tidak beberapa lama datang Widia yang sudah selesai mencuci piring.
"Makasi ya..." ucap Dika.
"Sama-sama... Ini, gue kemarin pinjemin lo beberapa buku di perpustakaan, bentar lagi kan UTS." Widia mengambil beberapa buku dari dalam tasnya dan menaruh buku-buku tersebut diatas meja.
"Nggak usah repot-repot kali..." ucap Dika.
"Lagian gue nggak akan ada waktu buat belajar," ucap Dika dalam hati.
"Lo harus belajar, lo udah kelas 12 sekarang. Jangan kerja lagi."
"Iya, gue akan usahain belajar..."
"Awalnya gue kesini mau ngajak lo belajar bareng. Eh, lo nya lagi sakit... Lo tidur aja, gue disini jagain lo sambil belajar," ucap Widia sambil tetap fokus pada bukunya.
"Iya..." Kini mata Dika sudah mulai berat dan ia sangat ingin memejamkan matanya.
"Ngomong-ngomong kandang bebek lo siapa yang ngurus?"
"Restu..."
"Sebaiknya lo temui papa lo, gue yakin sebenarnya dia pengen banget baikan sama lo. Kesampingkan dulu gengsi lo itu..."
"..."
"Semua ini kan cuma salah paham, lo bisa bicarain baik-baik sama papa lo..." ucap Widia lagi.
Widia melirik ke arah Dika karena Dika tidak merespon ucapannya. "Yah... Ternyata udah tidur."
BERSAMBUNG•••••••
••••••••••••••••••••
°
°
°
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...