Choco

Choco
Berdua



Sekitar pukul 19.00 Widia dan keluarganya kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Dika. Di perjalanan ke ruang rawat Dika mereka berpapasan dengan keluarga Pak Wardana yang baru saja menjenguk Dika dan sekarang ingin pulang. Mereka pun saling menyapa dan basa-basi sejenak.


Sesampainya di ruang rawat Dika, mereka berbincang-bincang sejenak dengan Pak Arthama dan Dika.


Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 Bryan, Kakek Dharma, Pak Wahyu, dan Bu Asih pun memutuskan untuk pulang, sementara Widia memilih menginap di rumah sakit untuk menemani Dika.


Karena sejak tadi siang Pak Arthama belum makan sama sekali, Pak Arthama pun pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya.


Kini hanya tinggal Widia dan Dika berdua. Terlihat Widia sedang duduk disamping Dika sembari bermain game di handphonenya. Sementara Dika hanya bengong menatap sekeliling ruangan secara bergantian. Dika pun akhirnya menatap Widia yang sedang asik bermain game.


"Giliran ada waktu berduaan, tapi ni anak malah main game," batin Dika.


"Nyet..." ucap Dika.


"Hmm..." balas Widia sambil tetap fokus pada handphonenya.


"Nyett..." ucap Dika lagi.


"Hmm..." Lagi-lagi Widia tidak menatap Dika dan tetap fokus bermain game di handphonenya.


"Kalo tangan gue nggak sakit udah gue ambil tu handphone," ucap Dika ketus. Dika kemudian mengalihkan pandangannya ke arah samping.


Widia yang menyadari bahwa Dika sedang kesal pun langsung mematikan layar handphonenya. "Eh, ngambek ni?..." tanya Widia diakhiri dengan senyuman bercanda.


Dika hanya diam dan tetap menghadap kearah samping. Widia pun memegang pipi Dika dan memaksa Dika untuk menghadap kearahnya. Dika pun langsung kembali mengalihkan pandangannya lagi kearah samping.


"Yah, ternyata bisa ngambek juga wkwkwk... Kenapa lo ngambek?" ucap Widia.


"Lagian, siapa suruh cuek?" ucap Dika yang terlihat masih merajuk.


Widia menghela nafas panjang, tiba-tiba Widia malah menyanyikan lagu Rizky Febian yang berjudul cuek. "Mungkin kau, tak pernah merasakan. Apa yang kulakukan di setiap pengorbananku. S'lalu jadi yang kau mau. Menjaga di setiap saat. Tapi kau tak melihatnya. Mana ada aku cuek. Apalagi gak mikirin kamu. Tiap pagi malam ku s'lalu. Memikirkan kamu. Bukalah pintu hatimu. Agar kau tahu isi hatiku. Semua perjuanganku. Tertuju padamu. Hu-uu-uu..."


Dika pun tidak bisa menahan senyumannya ketika mendengar Widia bernyanyi, terlebih lagi karena ia teringat saat dirinya menyanyikan lagu yang sama untuk Widia.


"Tuh kan senyum... Berarti tandanya udah nggak ngambek lagi kan?" tanya Widia sambil tersenyum.


"Gue masih ngabek..." balas Dika sok merajuk.


"Oke, ya udah, ya udah. Gue minta maaf, jangan ngambek lagi yaaa..." pinta Widia.


Namun Dika tetap diam dan tidak mau menatap Widia.


Cup...


Tiba-tiba saja secara sepontan Widia mencium pipi Dika. Dika merasa merinding dan seakan-akan ada sengatan listrik yang menyengat sekujur tubuhnya ketika Dika merasakan ciuman Widia di pipinya. Ini baru pertamakalinya orang lain selain mama dan papanya yang mencium dirinya. Sontak saja Dika memandang Widia dan matanya membesar karena kaget. Mereka pun saling bertatapan.


Dug.. dug.. dug...


Jantung Dika berdegup dengan kencang dan begitu juga dengan Widia yang juga merasakan hal yang sama.


"Barusan Widia cium gue?... Mimpi apa gue semalam?..." batin Dika yang sama sekali tidak menyangka Widia akan menciumnya.


"Sial*n! Gue tadi ngapain! Kenapa gue bisa reflek cium pipi Dika?! Widia bodoh! Widia bodoh!" batin Widia. Terlihat pipi Widia memerah karena malu.


Setelah sejenak mereka saling bertatapan, karena malu, Widia pun mengalihkan pandangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ekh, hmm..." ucap Dika mencairkan suasana.


"Ternyata walau cuek, lo bisa kayak gitu juga ya. Mimpi apa gue semalam sampai lo cium gue wkwkwk..." ucap Dika sembari tertawa jahil.


"Iihh!... Apaan sih?!" ucap Widia yang terlihat masih malu.


"Nggak ada loh yang pernah cium gue selain mama sama papa gue. Bahkan gue nggak pernah kasi bibi, paman, tante, om, sepupu, dan keluarga gue yang lainnya buat cium gue, gue tonjok duluan mereka," ucap Dika yang diakhiri dengan senyuman bangga.


"Udahh.. lo nggak usah ngelak. Lo pasti sayang banget kan sama gue? Karenaa.. gue orang sepesial di hidup lo. Kalo nggak, manamungkin lo tiba-tiba cium gue."


"Nggak, gue nggak sayang sama lo, dan lo juga bukan orang sepesial bagi gue," tungkas Widia sok jutek.


"Manusia itu lucu ya. Mereka sayang sama orang yang mereka cintai tapi menolak untuk mengakui secara terang-terangan," ucap Dika.


"Nggakk..." balas Widia.


"Kalo orang sepesial di hidup lo bukan gue, emang siapa lagi hayoo?..."


"Nggak ada, bukan siapa-siapa," ucap Widia sok jutek.


"Semua orang pasti punya orang sepesial di dalam hidupnya... Dan orang itu di hidup gue adalah lo Widia..." ucap Dika sembari memandang Widia dengan tulus.


"Ya ampunn... Dikaa... Kenapa lo bisa romantis kayak gini sih? Gue jadi nggak tahan, rasanya gue pengen teriak sekencang-kencangnya, gue pengen lompat-lompat, gue pengen guling-guling karena saking senangnya," batin Widia.


Widia pun kini tidak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. Senyuman bahagia pun terukir di wajahnya. Dika yang melihat Widia tersenyum pun juga ikut tersenyum.


"Saat gue lihat lo tersenyum karena gue, itu adalah peristiwa sempurna yang tidak bisa gue deskripsikan melalui kata-kata," batin Dika.


"Lo tau nggak Nyet? Selama gue koma, gue mimpi kalo lo ngucapin banyak kata-kata romantis sama gue. Di salah satu mimpi gue, gue juga lihat lo merhatiin bintang-bintang dari jendela di kamar lo. Gue terbang, gue terbangg.. gue masuk ke kamar lo lewat jendela. Eh, gue nggak sengaja jatuhin foto gue yang ada di atas meja," ucap Dika.


Widia pun tertawa kecil karena mendengar ucapan Dika. "Kok lucu ya? Bisa kebetulan banget, kejadian yang diceritain sama Dika sama kayak kejadian malam itu." batin Widia.


"Eleh, palingan lo cuma mimpi aja kali," ucap Widia.


"Nggak.. gue ngerasa kejadiannya nyata banget." tegas Dika.


"Emangnya gue bilang apa hayo?..."


"Hmm.. ya.. yaa... Gue nggak inget, tapi yang gue rasain bener-bener nyata banget, kayak bukan mimpi," ucap Dika.


"Kalo udah yang namanya mimpi, ya, mimpi aja, nggak pake nyata-nyataan segala," ucap Widia.


"Ya.. iya sih..." ucap Dika.


"Makanya lo jangan pake koma segala. Bikin gue khawatir aja. Lo cepetan sembuh..."


Dika tersenyum simpul. "Makasi ya udah perduli sama gue. Gue sayang sama lo..." Dika diam sejenak. "Gue cuma pengen bilang satu hal, kalau bukan lo, maka nggak akan ada orang lain... I love you..."


Widia pun termenung ketika mendengar ucapan Dika. Widia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar karena kata-kata yang diucapkan oleh Dika sama persis dengan yang ia katakan kepada Dika sewaktu Dika masih koma.


"Kenapa bengong?" tanya Dika.


"Gue cuma terharu aja denger kata-kata lo. Gue sayang sama lo, I love you..." jawab Widia dan dibalas dengan senyuman bahagia oleh Dika.


BERSAMBUNG•••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...