Choco

Choco
Membaik



Sore harinya dokter keluar dari ruang ICU tempat Dika dirawat.


"Bagaimana dengan anak saya dok?" tanya Pak Arthama.


Dokter tersenyum kepada Pak Arthama yang mengartikan sebuah pertanda baik.


"Keadaan pasien sudah membaik. Hanya karena berkat Tuhan keadaan pasien bisa membaik secepat ini."


Orang-orang pun menjadi lebih lega setelah mendengar ucapan dokter. Akhirnya senyuman pun dapat terukir kembali di wajah semua orang termasuk Widia.


"Syukurlah..." ucap semua orang.


"Terima kasih dokter," ucap Pak Arthama.


"Sama-sama pak. Saya permisi dulu..." ucap dokter kemudian pergi meninggalkan mereka semua.


Karena hari sudah hampir malam, Pak Wahyu pun mengajak Kakek Dharma pulang karena Kakek Dharma perlu istirahat untuk menjaga kesehatannya. Begitu juga dengan Pak Wardana, Intan, dan Adit yang juga memutuskan untuk pulang.


Keesokan paginya semua orang masih menunggu Dika di depan ruang ICU karena Dika masih belum dipindahkan ke ruang rawat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, selang dan mesin-mesin yang terhubung ke tubuh Dika pun satu persatu mulai dilepaskan. Akhirnya Dika dapat melewati masa-masa kritisnya, kini ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pak Arthama, Dimas, dan Widia pun menemani Dika di ruang perawatan sementara yang lainnya menunggu diluar.


Bryan menemui Widia di dalam ruang perawatan. "Dek, kita pulang ya. Nanti kita kesini lagi, dari kemarin kamu belum pulang dan makan, kamu juga harus sekolah, kemarin kan kamu udah nggak sekolah..." bujuk Bryan dengan lembut.


Widia menatap Dika sejenak kemudian ia menatap Bryan. Sebenarnya Widia masih sangat ingin menemani Dika di rumah sakit, akan tetapi yang dikatakan oleh Bryan memang benar, sudah dua hari Widia berada di rumah sakit dan ia pun juga harus bersekolah.


"Iya, benar kata Bryan, kamu harus sekolah, kemarin kan kamu sudah tidak bersekolah. Nanti setelah pulang sekolah kamu bisa kesini lagi, sekarang biar om sama Dimas yang menemani Dika. Lagipula kan sekarang keadaan Dika sudah membaik, kamu tenang saja," ucap Pak Arthama kepada Widia dan dibalas anggukan oleh Widia.


Karena keadaan Dika sudah membaik, Widia pun akhirnya mau untuk pulang.


Widia menghampiri Dika dan mencium tangan Dika. Widia mengelus tangan Dika sembari berkata, "Lo harus cepat sadar, lo harus cepat sembuh..."


Widia menghampiri Pak Arthama kemudian ia menyalami tangan Pak Arthama. "Widia pulang dulu ya om..."


Bryan pun juga menyalami tangan Pak Arthama. "Bryan pamit om..."


"Iya hati-hati," balas Pak Arthama.


Widia menatap Dimas, mereka berdua pun sejenak saling menatap satu sama lain. Walau Widia masih belum bisa memaafkan Dimas karena Dimas sudah membohonginya serta memfitnah Dika, tetapi disamping semua itu, biar bagaimana pun Dimas merupakan kakak kandung Dika, ia pun juga harus menghormati Dimas, Widia pun juga berpamitan kepada Dimas sebelum ia pergi. "Kak Dimas... Wi-Widia pamit dulu," ucap Widia dengan sedikit canggung.


"I-iya, hati-hati..." balas Dimas yang diakhiri dengan senyuman canggung.


Baru kali ini Widia dan Dimas kembali berbicara dengan baik-baik setelah mereka berdua mengakhiri hubungan mereka.


"Gue pulang Dim," ucap Bryan datar. Bryan pun sebenarnya masih kesal dengan Dimas, namun Bryan sedang tidak ingin berselisih dengan Dimas, ia pun lebih memilih menahan emosinya karena sekarang mereka masih sedang berada di rumah sakit dan keadaan baru saja membaik setelah kesedihan yang dialami orang-orang beberapa hari ini.


"Iya," balas Dimas singkat.


Bryan, Widia, dan Bu Asih pun pulang, begitu juga dengan Aulia dan Bu Ami yang juga memutuskan untuk pulang. Kini di rumah sakit hanya tinggal Pak Arthama dan Dimas yang sedang menemani Dika.


Restu sebenarnya juga masih berada di rumah sakit, hanya saja saat ini ia sedang sarapan di kantin rumah sakit. Sejak kemarin Restu memang sama sekali belum pulang, bahkan ia tidak mandi dan masih memakai pakaian sekolah yang kemarin ia kenakan.


Sekitar pukul 07.00 pagi Restu masuk ke ruangan dimana tempat Dika dirawat.


"Lo masih disini?" tanya Dimas ketika melihat Restu membuka pintu.


Restu pun duduk disamping Dimas. "Iya..." jawab Restu dengan santai.


Dimas memperhatikan Restu yang sedang duduk disampingnya. "Gue kira lo udah pulang. Dari kemarin lo masih pakai baju sekolah, udah dekil, belum mandi lagi, pulang dulu sana."


"Mending gue cuma nggak mandi sehari doang. Lah, lo, udah dua hari belum mandi. Lo lebih parah dari gua," balas Restu.


"Biarin, suka-suka gue. Mending lo pulang sana, emangnya lo nggak sekolah?"


"Nggak, lo kan tau sendiri gue emang jarang sekolah," jawab Restu dengan santai.


"Nggak, gue lagi nggak pengen sekolah hari ini. Lagian kalo gue sekarang sekolah, gue harus buru-buru biar nggak terlambat."


"Ngapain lo takut terlambat? Lo kan udah biasa terlambat."


"Lo ngapain ngatur-ngatur hidup gue? Gue masih pengen disini," ucap Restu.


Perselisihan diantara Dimas dan Restu pun semakin memanas. Pak Arthama yang menyaksikan percekcokan diantara Dimas dan Restu pun segera menengahi mereka berdua.


"Sudah, sudah, kalian berdua ini malah ribut!" tegur Pak Arthama. Pak Arthama yang sudah pusing mendengar percecokan diantara Dimas dan Restu menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Seketika Dimas dan Restu pun langsung diam.


"Maaf pa..." ucap Dimas.


"Maaf om..." ucap Restu.


"Tapi memang benar yang dikatakan Dimas tadi, kamu harus pulang, kamu juga harus sekolah. Nanti setelah pulang sekolah kamu bisa kesini lagi jenguk Dika..." ucap Pak Arthama kepada Restu.


"Hmm.. baik om," balas Restu.


Restu menyalami tangan Pak Arthama. "Restu pamit dulu om..."


"Iya, hati-hati..." balas Pak Arthama.


"Gua duluan Dim," ucap Restu kepada Dimas.


"Iya," balas Dimas singkat.


Sebelum pulang Restu juga menghampiri Dika. Restu memandang Dika sembari tersenyum simpul. "Kalo nggak ada lo, gue jadi sedirian nerima hukuman di sekolah, lo harus cepat sembuh Dik. Biar kita bisa sekolah bareng-bareng lagi, kita kan teman seperjuangan..." ucap Restu kepada Dika yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Restu pun kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


"Dimas..." ucap Pak Arthama.


"Iya?" balas Dimas.


"Kamu juga harus pulang, kamu belum sarapan, dan kamu juga belum mandi. Nanti kamu bisa kembali kesini lagi."


"Tapi pa..." ucap Dimas terpotong.


"Kamu harus sarapan dan mandi dulu. Nanti kamu bisa kesini lagi jaga Dika, kita gantian jaga Dika," ucap Pak Arthama.


"Hmm.. iya pa. Nanti Dimas balik kesini lagi. Sekarang Dimas pulang dulu." Dimas menyalami tangan Pak Arthama.


"Iya," balas Pak Arthama.


Sejenak Dimas memandang Dika.


"Lo cepatan sadar Dik..." ucap Dimas dalam hati. Dimas pun kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


BERSAMBUNG•••••••


••••••••••••••••••••


°


°


°


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...