
Terima kasih udah mampir kak 😊...
Selamat membaca 💕...
••••••••••••••••••••••••
Setelah pertengkaran Dimas dan Dika tadi siang, Dimas seharian hanya berdiam diri di dalam kamar. Malam harinya Dika pun menemui Dimas.
Klek...
Dika membuka pintu kamar Dimas dengan hati-hati. Di dalam kamar terlihat Dimas yang sedang duduk fokus belajar di meja belajarnya.
"Bang..." ucap Dika.
"Ngapain sih lo kesini?!" tanya Dimas kesal, sambil tetap fokus menulis.
Dika pun duduk di pinggir kasur Dimas. "Gue cuma mau jelasin ke lo Dim, selama ini lo udah salah paham. Waktu kecil papa sama mama lebih perhatian sama gue karena gue nggak pernah bisa melakukan apapun dengan benar. Beda kayak lo, lo selalu bisa ngelakuin segala hal lebih baik dari gue, dan lo nggak terlalu perlu bimbingan, lo udah bisa ngelakuin apapun secara mandiri..." jelas Dika dengan halus.
Dimas menatap Dika dengan kesal. "Lo nggak perlu sok bijak kayak gitu!. Gue tau, lo sebenarnya juga benci sama gue, lo cuma pura-pura kan!. Manamungkin lo nggak dendam sama gue, setelah lo tau kalo gue yang selama ini bikin papa sama mama benci sama lo."
"Lo itu saudara gue Dim, abang gue. Gue nggak mungkin bisa benci sama lo."
Dimas berdiri dan menghampiri Dika. "Tapi gue benci sama lo!..." ucap Dimas dengan tegas sambil menatap Dika.
Dika pun juga ikut berdiri. "Gue minta maaf kalo selama ini gue ada salah sama lo bang... Gue akan lakuin apapun biar lo nggak benci sama gue lagi. Gue akan pastiin papa lebih peduli sama lo, gue akan jauhin Widia, gue akan berusaha lakuin apapun..."
Dimas menggelengkan kepalanya dan tersenyum menyeringai. "Cih... Nggak usah lo ngelakuin apapun!. Nggak usah lo pake sok-sokan ngalah kayak gitu!. Gue bisa buktiin kalo gue emang lebih baik dari lo. Ayo kita bersaing!."
"Gue nggak mau Dim, gue nggak mau bersaing sama lo, lo itu abang gue, kita ini saudara kembar Dim..."
"Banyak omong lo!. Keluar lo dari kamar gue!" bentak Dimas sambil menunjuk pintu keluar.
"Tapi..."
"KELUAR!" bentak Dimas lagi.
"Oke Dim." Dika pun keluar dari kamar Dimas.
BRAKK...
Dimas menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Gue nggak nyangka ternyata lo sebenci ini sama gue Dim..." batin Dika.
* * * * * * * * * *
Keesokan harinya jam istirahat Dimas dan Widia sedang makan di kantin. Dika yang kebetulan juga ada disana memperhatikan Dimas dan Widia dari belakang tanpa disadari oleh mereka berdua. Dimas dan Widia memang duduk berdua dalam satu meja, tetapi ada jarak yang cukup renggang diantara mereka berdua.
"Gue nggak pernah lihat lo akrab sama Dimas kayak lo akrab sama gue. Gue masih bingung kenapa lo mau pacaran sama Dimas. Gue ngerasa orang yang lo suka itu gue, karena gue juga ngerasain Nyet. Sampai sekarang gue masih suka sama lo. Seberapa keras gue berusaha ngelupain lo, gue nggak pernah bisa, karena perasaan itu nggak bisa dipaksa..." batin Dika.
"Selama gue sama Kak Dimas, gue ngerasa nggak pernah bisa jadi diri gue sendiri. Dia terlalu idealis buat gue. Kak Dimas beda banget, nggak seperti Choco yang gue kenal dulu. Tapi gue akan terus belajar buat suka sama Kak Dimas. Widia akan penuhi janji kita dulu kak..." ucap Widia dalam hati sambil memperhatikan Dimas yang sedang makan di sampingnya.
Dika pun beranjak meninggalkan katin karena ia sudah tidak sanggup melihat Widia bersama Dimas. Dika yang kebetulan lewat melihat Aulia sedang duduk sendiri di bangku, di halaman sekolah. Dika kemudian langsung menghampiri Aulia.
"Aulia..." ucap Dika. Dika lalu duduk di samping Aulia.
"Dika?..."
"Kenapa duduk sendiri di sini?" tanya Dika.
"Hmm... gue cuma lagi pengen sendiri aja," jawab Aulia.
"Ngomong-ngomong gue mau minta maaf soal yang waktu itu..."
"Minta maaf soal apaan?" tanya Aulia pura-pura tidak mengerti.
Dika mentap dalam Aulia. "Gue udah anggap lo kayak saudara gue sendiri. Gue minta maaf, gue nggak bisa kasi lo lebih dari itu. Tapi seperti yang gue bilang, gue benar-benar sayang sama lo..."
"Lo nggak perlu minta maaf. Gue ngerti, perasaan itu nggak bisa dipaksa..." ucap Aulia sambil tersenyum pada Dika.
"Tapi gue akan tetap terus berusaha buat dapetin hati lo," batin Aulia.
"Makasi ya Aulia..."
"Sama-sama Dika..."
* * * * * * * * * *
Siang harinya Widia sedang bermain bersama salah satu anjing peliharaan Bryan yang benama Rex di halaman belakang rumah.
Widia melemparkan sebuah bola karet. "Ayo Rex, ambil!..."
Guk... guk... guk...
Anjingnya yang memang sudah merupakan anjing yang terlatih, langsung berlari mengambil bola tersebut dan mebawakan bola itu kembali pada Widia.
"Nih, makan Rex..." Widia memberikan sebuah biskuit anjing pada Rex. Rex pun langsung memakan biskuit tersebut.
Guk... guk... guk...
Rex menggonggong karena merasa senang.
Ting...
Suara WA masuk dari ponsel Widia.
Ting... Ting...
Kembali ada WhatsApp yang masuk.
Widia kemudian langsung memeriksa ponselnya dan terlihat ada WA masuk dari Dimas.
Dimas : "P"
Dimas : "P"
Dimas : "Kamu sibuk nggak hari ini?"
Widia pun segera membalas WA dari Dimas.
Widia : "Nggak juga kak, ini Widia lagi main sama anjingnya Bang Iyan"
Dimas : "Kita ke pantai yuk Wid, jalan-jalan"
"Tumben banget Kak Dimas ngajak jalan. Gimana ya?... Tapi gue lagi nggak pengen jalan-jalan," batin Widia.
Widia : "Lain kali aja ya kak, Widia lagi nggak pengen kemana-mana"
Dimas : "Ayolah Wid, sekali-sekali"
Widia : "Tapi kak Dimas emangnya nggak sibuk?"
Widia : "Kata Bang Iyan dia lagi rapat OSIS, Kak Dimas nggak ikut?"
Sudah beberapa menit namun Dimas tidak kunjung membalas WA Widia.
"Kenapa Kak Dimas balesnya lama banget ya?. Mungkin aja nggak jadi, bagus deh kalo gitu," gumam Widia.
Ting..
WA masuk dari Dimas.
Dimas : "Kan nggak semua OSIS yang ikut rapat, sekarang aku lagi nggak ikut rapat"
Dimas : "Gimana? mau kan? mau ya, plisss..."
"Bagaimanapun gue harus belajar buat suka sama Kak Dimas. Ini baru pertamakalinya Kak Dimas ngajakin jalan, biasanya dia sibuk terus. Lebih baik kali ini gue terima aja deh ajakan Kak Dimas..." batin Widia.
Widia : "Iya kak, Widia mau"
Dimas : "Aku jemput jam 4 ya"
Widia : "Iya kak"
Dimas : "Ingat ya jam 4, jangan sampai lupa. Aku nggak akan WA lagi, aku langsung kesana"
Widia : "Oke Kak Dimas"
Dimas : "😘💓"
"Sejak kapan sih Kak Dimas bisa manis kayak gini," gumam Widia. Terlihat sudut bibir Widia naik membentuk senyuman kecil.
Widia : "😊"
Dimas : "😳"
"Kak Dimas, Kak Dimas..." gumam Widia sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya heran.
°
°
°
Jangan lupa like komentar dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
Terima kasih 🙏💓...