Choco

Choco
Kabar Buruk



Ketika Amel sudah sadar dari pingsannya, ia sudah berada di salah satu kasur pasien di ruang UGD. Amel langsung mencari Dika yang juga sedang berada di ruang UGD. Banyak Dokter yang sedang mengerumuni Dikaa, mereka saat ini masih sibuk menangani Dika.


Amel hanya bisa menyaksikan dari balik tirai. Air mata Amel pun menetes. "Maafin Amel kak, ini semua gara-gara Amel... Maafin Amel..." ucap Amel dalam hati.


...****************...


Kringg.. kringg.. kringg...


Terdapat panggilan masuk dari nomor tidak dikenal di handphone Pak Arthama. Pak Arthama pun segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


......................


...Via Telepon...


......................


"Selamat siang..."


"Selamat siang..." balas Pak Arthama.


"Kami dari rumah sakit A. Apa benar ini dengan Bapak Dipa Arthama? Ayah dari Dika Putra Arthama?"


"Iya, benar."


"Anak bapak, Dika Putra Arthama, saat ini sedang di rawat di rumah sakit kami karena mengalami kecelakaan."


Seketika mata Pak Arthama langsung membesar. "Apa?! Dimana dia sekarang? Kebetulan saya sekarang sedang berada di rumah sakit."


"Anak bapak sedang berada di ruang UGD saat ini."


"Baik, saya ke sana sekarang."


......................


"Ada apa om?" tanya Bryan.


"Om harus pergi sekarang. Kamu sama yang lainnya diam di sini dulu, temani Dimas."


"Baik om..." balas Bryan.


Pak Arthama pun segera menuju ruang UGD. Di depan ruang UGD, Pak Arthama melihat Amel. Sejenak mereka pun saling bertatapan.


"Amel?..." batin Pak Arthama. Pak Arthama memperhatikan pakaian Amel yang berisi bekas darah. "Apa dia ada hubungannya dengan kecelakaan Dika?"


"Papa?..." batin Amel.


Karena Pak Arthama tidak mempunyai banyak waktu, ia pun langsung masuk ke dalam ruang UGD. Dokter pun mengajak Pak Arthama berbicara dan menjelaskan semuanya.


Hati Pak Arthama begitu hancur saat mendengar penjelasan dari dokter mengenai keadaan Dika saat ini. Keadaan Dika sangat kritis, kemungkinan Dika untuk selamat juga sangat kecil. Dokter harus segera mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan Dika. Walaupun operasi tersebut sangat beresiko, tapi mau tak mau Pak Arthama harus memberikan persetujuan agar dokter dapat segera mengambil tindakan karena hanya dengan jalan tersebut lah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Dika.


Dika pun segera dibawa ke ruang operasi dan dokter pun langsung mengambil tindakan pada Dika. Pak Arthama kini duduk menunggu di ruang tunggu. Pak Arthama yang selalu berusaha tegar kini sudah tidak bisa menahan tangisannya. Pak Arthama menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, telapak tangannya pun sudah basah dengan air mata. Bagi Pak Arthama tidak ada yang lebih menyedihkan daripada menyaksikan kedua anaknya yang saat ini sedang berjuang melawan maut.


"Papa..." ucap Amel. Amel kemudian duduk di samping Pak Arthama.


Pak Arthama pun segera menghapus air matanya. "Kamu apa kabar?..."


"Papa nggak marah sama gue, bahkan dia nanyain kabar gue..." batin Amel.


"Akhir-akhir ini Amel punya banyak masalah pa. Papa gimana?" ucap Amel.


"Sama seperti kamu..."


"Maafin Amel pa..." Air mata Amel pun keluar, ia sangat menyesali semua perbuatan yang pernah ia lakukan. "Amel benar-benar menyesal, Amel salah. Amel minta maaf, maafin Amel pa..."


Pak Arthama pun mengusap kepala Amel.


"Papa mau kan maafin Amel?"


"Iya Amel... Biar bagaimanapun kamu sudah papa anggap seperti anak kandung papa sendiri. Seorang ayah pasti selalu memaafkan kesalahan anaknya. Dengan kamu menyadari kesalahan kamu saja sudah cukup bagi papa."


"Makasi pa..." Amel pun memeluk Pak Arthama.


"Papa senang bisa bertemu lagi sama kamu..."


"Amel juga senang bisa seperti ini lagi sama papa..."


Pak Arthama pun mengusap kepala Amel.


"Tadi dokter bilang apa pa? Kak Dika akan baik-baik aja kan?" tanya Amel.


"Jika Tuhan sudah merestui, Dika akan baik-baik saja. Semuanya terjadi atas kehendak Tuhan."


"Amel benar-benar takut... Ini semua gara-gara Amel pa. Amel nggak akan bisa maafin diri Amel sendiri kalau sampai Kak kenapa-kenapa..."


"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, ini semua sudah takdir. Yang terpenting sekarang kamu harus terus berdoa demi keselamatan Dika."


"Amel pasti selalu doain Kak Dika pa..."


"Kamu juga harus mendoakan kakak kamu, Dimas."


"Mendoakan Kak Dimas? Ada apa sama Kak Dimas?"


"Apa?! Kenapa Kak Dimas bisa ada di ruang ICU?"


"Dia mengidap kanker otak, dia habis dioperasi. Kondisinya saat ini sedang kritis."


Amel merasa sangat terkejut mengetahui fakta tersebut. "Ya Tuhan... Terus siapa yang menemani Kak Dimas saat ini?"


"Di sana sudah ada Bryan, Willy, dan teman-temannya yang lain... Papa benar-benar merasa hancur saat ini..." Pak Arthama pun sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


Amel pun mengusap pundak Pak Arthama untuk menenangkannya. "Papa yang kuat... Kak Dika dan Kak Dimas pasti baik-baik saja... Papa harus kuat, kita hadapi semua bareng-bareng."


"Iya, makasi Amel..."


"Iya pa..." balas Amel.


"Tapi bagaimana semuanya bisa terjadi? Kenapa Dika bisa kecelakaan?" tanya Pak Arthama.


"Tadi..." Amel pun menceritakan semua yang terjadi pada Pak Arthama. Dari awal ketika Dika menemukannya hingga sampai kecelakaan tersebut terjadi dan Dika dilarikan ke rumah sakit.


"Amel benar-benar merasa bersalah. Gara-gara menyelamatkan Amel, Kak Dika jadi seperti ini. Maafin Amel pa..."


"Sudah, sudah... Jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini bukan sepenuh salah kamu. Papa yang seharusnya minta maaf, gara-gara papa, selama ini kamu jadi menderita."


"Papa nggak perlu minta maaf. Semua itu salah Papa Dion."


"Sudah, lupakan saja. Sekarang kita mulai semuanya dari awal lagi..." ucap Pak Arthama dan dibalas anggukan oleh Amel.


"Sekarang kamu lebih baik pulang, ganti pakaian kamu. Nanti kamu bisa ke sini lagi. Papa akan segera suruh sopir buat jemput kamu."


"Tapi apa nggak terlalu lama kalau pulang? Jarak dari rumah ke sini kan jauh."


"Papa punya rumah di sini. Jadi kamu tidak perlu kembali ke kota X."


"Sejak kapan papa punya rumah di sini?"


"Baru beberapa minggu ini. Karena Dimas harus berobat rutin di sini, makanya papa beli rumah di sini."


Beberapa saat kemudian datanglah sopir menjemput Amel. Amel pun diajak pulang untuk berganti pakaian dan makan.


Kringg.. kringg.. kringg...


Handphone Pak Arthama berbunyi dan terdapat panggilan masuk dari Bryan.


......................


...Via Telepon...


......................


"Halo om," ucap Bryan.


"Halo Bryan," ucap Pak Arthama.


"Om sekarang di mana?


"Om di rumah sakit."


"Tadi ada staf rumah sakit yang mencari Om. Katanya ada keperluan untuk mengurus administrasi."


"Iya, iya, om ke sama sekarang."


......................


Pak Arthama pun segera menuju tempat Administrasi dam setelah itu Pak Arthama langsung ke ruang ICU.


...°...


...°...


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...----------------...


...°...


...°...


...°...


...Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya yang berjudul "Berbeda"...


...Jangan lupa dijadiin fav yaaa🤭......


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya agar author jadi lebih semangat 🤗......


...Terima kasih 🙏💕......