Choco

Choco
Hutan



Saat ini Widia dan Clara masih berada di dalam hutan. Clara terus berjalan mencari jalan kembali namun ia tetap tidak berhasil.


"Tolong!.. Tolong!.. Widiaa.. Lo di mana? Siapapun Tolong!" teriak Clara.


Clara terus berjalan ke sana kemari sembari berteriak, namun ia tidak menemukan seorangpun, hanya ada pepohonan di sekelilingnya dan suara teriakkannya yang bergema.


Karena merasa lelah, ia pun memutuskan duduk beristirahat di sebuah batu besar.


Clara pun sampai menangis karena ketakutan. "Gue takut banget, mana gue nggak bawa handphone lagi. Gue mau pulang, gue mau pulang..."


Clara menangis sejadi-jadinya, jantungnya berdegup dengan kencang, kering dingin keluar dari tubuhnya, dan nafasnya pun naik turun tidak beraturan.


Sementara itu di sisi lain Widia terus berusaha mencari-cari keberadaan Clara.


"Claraa.. Lo di mana?.. Claraa.. Claraa..." teriak Widia.


"Clara ke mana sih? Handphone gue nggak ada sinyal lagi... Apa mungkin Clara sengaja ninggalin gue? Kalo sampai kayak gitu, kebangetan si Clara," batin Widia.


Widia kemudian memutuskan untuk terus berjalan walaupun ia mengetahui arah jalan yang akan ditujunya.


Namun sudah beberapa lama Widia berjalan, ia belum juga berhasil keluar dari hutan tersebut.


Widia menyenderkan badannya di sebuah pohon. "Sial*n! Gue bener-bener tersesat," gumam Widia.


Tiba-tiba Widia mendengar suara teriakan minta tolong yang terdengar sangat jelas, tentu saja itu merupakan suara Clara. "Tolong.. tolong..."


"Itu?! Suaranya Clara, nggak salah lagi, itu bener-bener suara Clara!" Widia kemudian bergegas mencari sumber suara itu.


"Claraa.. Clara..." teriak Widia.


Clara pun juga mendengar teriakkan Widia, dan ia merasa sangat senang akan hal tersebut.


"Widia!" batin Clara.


Mendengar suara Widia membuat Clara merasa lebih tenang, Clara segera menghapus air matanya kemudian ia berdiri.


"Widiaa..." teriak Clara.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua berhasil bertemu.


"Clara..." ucap Widia.


Clara langsung mengalihkan pandangannya ke samping, ia sangat senang dapat melihat Widia.


"Widia" Clara kemudian langsung menghampiri Widia.


Clara menggenggam tangan Widia. "Akhirnya gue bisa ketemu sama lo, gue takut banget Wid."


Widia melepaskan tangannya dari genggaman Clara. "Kenapa lo ninggalin gue?!" ucap Widia sedikit kesal.


"Gue, gue..." ucap Clara kebingungan. "Gue nggak ninggalin lo, tadinya gue mau cari lo, tapi gue kesasar."


"Gue nggak percaya, lo pasti sengaja ninggalin gue. Masak cuma balik dari semak-semak aja bisa kesasar."


"Lo kok malah jadi nuduh gue sih? Ngapain juga gue ninggalin lo, gue juga tersesat, gue takut sendirian."


"Bener juga Clara, ngapain coba dia ninggalin gue, dia sendiri aja nggak tau jalan... Ah, mending gue nggak usah berpikiran negatif, mungkin aja Clara jujur," batin Widia.


"Ya udah, maaf karena udah nuduh lo," ucap Widia.


"Makanya jangan main nuduh orang kalo nggak ada bukti. Gue nggak mungkin ninggalin lo. Gue sendiri aja nggak tau jalan, gue takut sendirian. Kita emang pernah berantem, tapi gue nggak sejahat itu, sampai mau sengaja ninggalin lo di hutan," oceh Clara.


"Iya, iya, gue kan udah bilang kalo gue percaya sama lo, dan gue juga udah minta maaf. Lo kenapa malah terus ngoceh kayak gitu? Kayak orang ketakutan."


"Ya.. gue cuma pengen jelasin sama lo, biar lo percaya. Gue nggak mungkin ninggalin..." ucapan Clara terpotong.


"Stop! Gue percaya sama lo, titik. Udah! lo nggak perlu ngoceh lagi. Mendingan kita cari jalan pulang, kita cari cara supaya bisa keluar dari hutan ini... Yuk, jalan."


Mereka pun kemudian kembali berusaha mencari jalan pulang.


"Lagian lo ada-ada aja, ngajak gue masuk ke hutan. Coba aja lo cari toilet, kejadiannya nggak akan seperti ini. Udah gue peringatin malah ngeyel, katanya lo pasti inget jalan, tapi apa buktinya? Kita malah tersesat kayak gini," ucap Widia.


"Bisa diem nggak sih?! Gue juga nggak tau kejadiannya bakalan kayak gini," balas Clara.


...****************...


Di sisi lain, Intan mulai menyadari jika sedari tadi Widia tidak ada. Intan kemudian menanyakan kepada teman-temannya yang lain, namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Widia. Intan malah mendapat kabar dari Monica dan Rani yang mengatakan jika mereka sedari tadi sedang mencari Clara.


"Ke mana sih Widia sama Clara?" tanya Intan.


"Lo udah coba telepon mereka?" tanya Bunga.


"Aku udah telepon, tapi nggak ada sinyal," jawab Intan.


"Sekarang kita cari aja mereka dulu, kita tanya-tanya sama penduduk di sekitar sini, siapa tau ada yang lihat mereka," ucap Rani.


"Ya udah, sekarang kita mencar aja carinya biar cepet," ucap Intan.


Mereka pun kemudian berpencar mencari Widia dan Clara.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore, namun Widia dan Clara belum juga berhasil keluar dari hutan. Mereka terus berjalan, Widia mematahkan beberapa ranting yang dilewatinya sebagai pengingat.


Widia pun menghentikan langkahnya. "Apa?"


Clara menunjuk ke sepasang jejak kaki sepatu manusia yang sebagian ditutupi oleh rerumputan. "Itu, lihat, ada jejak kaki. Berarti ada orang di sekitar sini, kita pasti udah deket ke pemukiman." Senyuman bahagia pun terukir di wajah Clara.


Sama halnya seperti Clara, Widia pun juga merasa sangat senang. "Wah, iya."


Seketika senyuman Widia menghilang saat melihat ranting patah di dekat jejak kaki tersebut.


"Ra..." ucap Widia.


Clara menjadi bingung karena melihat ekspresi Widia yang tiba-tiba berubah. "Kenapa?"


Widia kemudian mendekati jejak kaki tersebut. Widia menginjak jejak kaki tersebut untuk mencocokkannya, ternyata benar saja, ukuran jejak kaki tersebut sama persis dengan kakinya.


"Udah gue duga... Ini jejak kaki kita, dari tadi kita cuma muter-muter. Ranting ini." Widia menunjuk ranting yang patah tersebut. "Tadi gue yang patahin ranting ini."


Karena merasa kecewa, Clara menendang semak-semak di dekatnya. "Arrggh!..." teriak Clara.


"Mendingan lo jangan buang-buang tenaga buat marah-marah," tegur Widia.


Widia kemudian duduk untuk melepaskan penatnya, Clara pun duduk di samping Widia.


"Udah mau sore," gumam Clara. Clara teringat jika ia masih memiliki sisa kacang, ia kemudian mengambil sebungkus kacang dari kantongnya lalu segera memakan kacang tersebut. "Ya ampun, gue laper banget," ucap Clara sembari memakan kacang.


"Bagi dong Ra, gue juga laper."


"Nggak bisa, gue sendiri aja masih kurang."


"Dikit doang," pinta Widia.


"Sekali nggak, tetep nggak!"


Widia akhirnya hanya bisa menelan ludahnya ketika melihat Clara memakan kacang tersebut.


...****************...


Di sisi lain, Intan, Aulia, Bunga, Bintang, Monica, dan Rani sampai saat ini belum berhasil menemukan kebenaran Widia dan Clara. Mereka pun akhirnya menemui Dika dan yang lainnya untuk memberitahukan hal tersebut.


Karena Dika dan yang lainnya belum kembali ke villa, mereka kemudian mencari Dika dan yang lainnya ke sungai tempat memancing.


"Mereka ngapain ke sini?" tanya Adit melihat kedatangan teman-teman perempuannya.


"Gue juga nggak tau," ucap Dika.


"Tapi Widia di mana?" batin Bryan.


"Ada apa?" tanya Willy kepada teman-teman perempuannya.


"Kenapa kelihatan panik banget?" tanya Dimas.


"Clara sama Widia hilang!" ucap Aulia panik.


"Apa?!" ucap Willy kaget.


"Widia?!" ucap Dika.


"Kenapa bisa?!" tanya Adit.


"Kenapa Widia bisa hilang?!" tanya Bryan dan Aldi.


"Kita juga nggak tau," ucap Aulia.


"Tadi kita jalan-jalan ke kebun teh, tapi tiba-tiba Widia sama Clara hilang. Kita udah cari kemana-mana tapi nggak ketemu," ucap Intan.


"Kita cari mereka sekarang!" Dika langsung pergi dan diikuti oleh yang lainnya.


Mereka pun juga sudah menghubungi tim penyelamat, sembari menunggu kedatangan tim penyelamat, mereka mencari Widia dan Clara di sekitar kebun teh dengan dibantu oleh warga.


......................


...BERSAMBUNG...


......................


UP SETIAP :


SENIN & KAMIS


...°...


...°...


...°...


Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"


Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...


1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...


Terima kasih 🙏💕...