
Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Disaat semuanya tengah tertidur, Aulia memilih untuk lari pagi.
Walaupun teman-temannya masih tertidur dan tidak ada yang mau ikut bersamanya, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Aulia untuk berolahraga pagi. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya menikmati udara segar di pedesaan yang tidak akan ia temukan lagi ketika kembali ke kota.
Aulia sangat senang bisa menikmati keasrian desa tersebut, ia dapat merasakan sejuknya udara pedesaan, mendengar merdunya suara kicauan burung yang saling bersahutan, menyaksikan secara langsung pemandangan hamparan tumbuh-tumbuhan hijau dengan diterpa sinar oranye mentari pagi yang membuatnya semakin indah. Selain itu, para penduduk desa yang sangat ramah dan murah senyum membuat Aulia semakin merasa nyaman berada di sana.
Tiba-tiba langkah Aulia terhenti ketika melihat Aldi.
"Aldi?" batin Aulia.
Aldi terlihat tengah menggendong kayu bakar dan ia juga berjalan bersama seorang kakek-kakek, mereka kemudian masuk ke halaman sebuah rumah. Aldi manaruh kayu bakar itu di depan rumah, ia kemudian mengobrol sejenak bersama kakek tersebut.
Aulia tersenyum sembari memperhatikan Aldi. "Aldi ternyata orangnya baik banget, kemarin dia nolong gue, sekarang dia bantu kakek itu bawa kayu bakar," batin Aulia.
Seketika senyuman Aulia berubah menjadi ekspresi datar ketika Aldi menatapnya dan menyadari keberadaannya. Aulia pun hanya bisa terdiam kaku di tepatnya.
"Ya ampun! Jangan-jangan Aldi tadi lihat gue senyum-senyum," batin Aulia.
Aldi kemudian menghampiri Aulia. "Wah, Aulia. Lo ngapain di sini?"
"Gue lagi jogging, kebetulan gue lewat sini dan lihat lo. Lo sendiri ngapain di sini?" ucap Aulia.
"Gue juga lagi jogging. Gue tadi nggak sengaja lihat kakek itu kesusahan bawa kayu, jadi gue bantu aja bawain kayu bakarnya. Gimana kalo kita jogging bareng aja?"
"Iya," ucap Aulia yang diakhiri dengan senyuman.
Entah kenapa bibir Aulia selalu ingin tersenyum ketika melihat Aldi.
Mereka berdua kemudian jogging bersama. Di sepanjang perjalanan, mereka selingkan dengan obrolan kecil yang membuat mereka menjadi semakin akrab.
Aulia merasa dirinya sangat senang berada di dekat Aldi, ia selalu tersenyum dan merasa bahagia bersama Aldi. Aulia juga dengan mudah dapat tertawa karena hal-hal kecil yang dilakukan oleh Aldi.
"Aulia orangnya ceria, dari tadi dia senyum terus," ucap Aldi dalam hati yang diakhiri dengan senyuman.
Karena lelah, mereka pun memilih untuk duduk beristirahat. Aulia memilih duduk di sebuah kursi kayu sementara Aldi memilih untuk duduk di sebuah pagar kecil.
"Kenapa duduknya di sana? Lo takut ya, ada yang cemburu kalo lo duduk di samping gue?" tanya Aulia.
"Ah, lo apaan sih? Siapa coba yang cemburu, gue nggak punya pacar."
"Jadi Aldi belum punya pacar," batin Aulia senang.
"Terus ngapain lo nggak mau duduk di sini?"
"Gue cuma gerogi aja deket lo," jawab Aldi.
"Hah?!"
"Astagaa.. Aldi gerogi deket gue. Jujur, gue juga gerogi deket sama Aldi," batin Aulia.
"Eh! Gue bilang apa sih?! Kenapa tiba-tiba gue jujur kalo gue gerogi! Bodoh banget," batin Aldi.
"Emm.. maksud gue..." ucap Aldi kebingungan. Karena sudah tidak bisa memikirkan alasan apapun, akhinya Aldi memilih untuk jujur. "Ya.. gue gerogi. Siapa coba, cowok yang nggak gerogi kalo deket sama cewek cantik dan ceria kayak lo." Aldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, lo bisa aja," ucap Aulia yang diakhiri dengan tawa kecil. Aldi pun juga hanya bisa tertawa.
"Gue bener-bener suka sama Aldi," batin Aulia.
...****************...
Sekitar pukul 11 pagi Sebagian dari mereka memutuskan untuk pergi memancing, dan sisanya yang tidak suka memancing memilih untuk jalan-jalan ke kebun teh di sekitar sana.
Widia, Intan, Aulia, Bunga, Bintang, Clara, Monica, dan Rani memilih untuk jalan-jalan ke kebun teh. Di sana mereka mengabadikan momen melalui foto dan video, selain itu mereka juga bercengkrama dengan penduduk di sekitar sana, bahkan mereka ikut membantu memetik daun teh.
Dari jauh Clara memperhatikan Widia yang tengah asik memetik daun teh, terlihat Widia sedang tertawa dan mengobrol bersama salah satu penduduk di sana.
"Beruntung banget Widia, punya keluarga kaya, punya kakak yang jadi idola di sekolah, bisa pacaran sama cowok ganteng dan keren kayak Kak Dika, selain itu Kak Dika juga tajir. Bahagia banget jadi dia. Ck! ternyata ada hidup sesempurna itu," batin Clara.
Clara kemudian menghampiri Widia. "Widia..."
Widia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Clara yang kini berdiri di sampingnya. "Ada apa?"
"Anterin gue ke belakang yuk, gue kebelet pipis."
"Emang Monica sama Rani di mana?" tanya Widia. Widia merasa bingung karena Clara yang biasanya jarang berbicara dengannya sebab perselisihan yang dulu pernah terjadi diantara mereka, kini tiba-tiba meminta bantuan kepadanya.
"Lo lihat kan? Mereka lagi asik foto-foto, mereka nggak mau nganterin gue," ucap Clara.
"Ya udah kalo gitu."
"Tumben Clara minta tolong sama gue. Tapi kenapa dia nggak minta tolong sama yang lain? Padahal masih ada Intan dan yang lainnya. Tapi ya udah lah, bagus deh kalo dia udah nggak judes lagi sama gue," batin Widia.
Widia pun berjalan mengikuti Clara. Widia merasa sedikit bingung karena Clara mengajaknya menuju hutan.
"Lo mau kemana sih Ra? Emang di sini ada toilet?" tanya Widia.
"Jauh kalo cari toilet, gue mau di tempat sepi aja."
"Terserah lo deh," ucap Widia.
Mereka terus berjalan ke tengah hutan. Clara berjalan sembari memakan kacang, di sepanjang perjalanan Clara membuang kulit kacang tersebut di tanah.
"Ra, di sini udah cukup sepi, di sini aja kenapa sih?" ucap Widia.
"Nggak ah, nanti kalo ada yang lihat gue malu. Kita jalan sedikit lagi ya."
Mereka kemudian kembali berjalan. Akhirnya mereka sudah benar-benar jauh masuk ke dalam hutan.
"Ra, gue nggak mau jalan lagi, kita udah jauh masuk ke hutan," ucap Widia.
"Lo tenang aja, gue inget kok jalannya."
"Nggak, gue nggak percaya sama lo. Iya kalo lo inget, kalo lupa gimana? Lo jangan aneh-aneh deh! Lo pilih kita berhenti atau gue akan balik?"
"Ya udah, lo tunggu gue di sini. Gue mau buang air di semak-semak itu. Nanti gue balik ke sini lagi," ucap Clara.
"Iya, cepetan."
"Iya, bentar doang. Lo jangan ngintip!"
"Siapa juga yang mau ngintip." Widia kemudian membalikan badannya.
Clara lalu pergi ke semak-semak tersebut. Namun Clara tiba-tiba malah berada jauh di belakang Widia. Dari jauh Clara memperhatikan Widia yang sedang menghadap ke arah sebaliknya.
"Bye Widia..." ucap Clara dalam hati.
Clara pun pergi meninggalkan Widia. Clara mengikuti kulit kacang yang tadi di buangnya, namun tiba-tiba ia merasa bingung di tengah-tengah perjalanan, kulit kacang yang ia buang tadi tidak ada.
"Sial*an! Kenapa bisa hilang sih?!" Bermodalkan ingatan seadanya, Clara terus berjalan mencari jalan kembali.
Sebenarnya Widia lah yang dengan iseng beberapa kali menendang kulit kacang yang Clara buang tadi.
Sementara itu Widia sedang duduk di bahawa pohon sembari menunggu kedatangan Clara.
"Clara kemana sih? Lama banget," gumam Widia.
Karena Clara tak kunjung kembali, Widia pun memutuskan untuk mencari Clara.
......................
...BERSAMBUNG...
......................
UP SETIAP :
SENIN & KAMIS
...°...
...°...
...°...
Sambil menunggu cerita ini update, yuk mampir ke cerita author yang lainnya judulnya "Berbeda"
Jangan lupa like, komentar, vote, dan ratenya ya, agar author jadi lebih semangat 🤗...
1 like dan komentar singkat dari para pembaca sangat berharga bagi Author 😊...
Terima kasih 🙏💕...